seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
Kapsul Laras membelah kanopi hutan yang memutih dengan kecepatan tinggi, menciptakan jalur kehancuran di antara dahan-dahan rapuh yang kehilangan nyawa. Saat kaki-kaki penopang kapsul menghantam tanah yang terasa seperti abu, Laras segera melompat keluar. Di depannya, menara hitam itu berdiri seperti luka terbuka di tengah hutan.
"Paman Aan, kau menangkap ini?" bisik Laras melalui komunikator di helmnya.
"Visual sangat buruk, Lar. Ada badai statis di sekitarmu," suara Aan terdengar jauh dan terputus-putus. "Tapi sensor radiasi menunjukkan bahwa menara itu tidak hanya menghisap Arca, ia memuntahkan limbah frekuensi yang bisa menghanguskan saraf manusia dalam radius satu kilometer. Bagaimana kau masih bisa berdiri?"
Laras menatap telapak tangannya. Pendaran biru dari sinkronisasi di Palung Jawa tadi masih menyelimuti kulitnya seperti lapisan pelindung tipis. "Jantung di bawah laut masih melindungiku, Paman. Tapi ini tidak akan lama."
Laras berlari menuju gerbang dasar menara. Di sana, ia tidak menemukan tentara, melainkan deretan drone penjaga yang bergerak dengan presisi dingin. Sebelum drone itu sempat mengunci sasaran, sebuah ledakan energi menghantam mereka dari arah samping.
Laras menoleh dan tertegun. Di balik semak-semak yang meranggas, muncul sekelompok orang dengan pakaian compang-camping namun dipersenjatai dengan senapan elektromagnetik rakitan. Pemimpin mereka, seorang wanita paruh baya dengan bekas luka bakar di wajahnya, memberi isyarat agar Laras mendekat.
"Siapa kalian?" tanya Laras waspada.
"Sisa-sisa yang mereka lupakan," jawab wanita itu, suaranya parau. "Kami adalah buruh tambang yang mereka tinggalkan saat Konsorsium runtuh. Mereka tetap di sini, di bawah tanah, melanjutkan eksperimen gila ini. Kami menyebut mereka 'The Hollow'."
"Kenapa kalian membantuku?"
Wanita itu menunjuk ke arah menara. "Karena jika benda itu mencapai kapasitas penuh, bukan hanya hutan ini yang mati. Dia akan mengirimkan lonjakan balik ke Astra Mawar untuk menjatuhkan kalian dari langit. Mereka ingin menjadi satu-satunya pemilik cahaya."
Bersama kelompok pemberontak itu, Laras menyusup ke dalam menara melalui saluran pembuangan panas. Di dalamnya, suasana terasa sangat kontras dengan Astra Mawar yang hangat. Menara ini dingin, penuh dengan suara mesin yang berdenyut kasar dan cahaya ungu yang menyakitkan mata.
Di pusat ruangan, Laras melihatnya: Jantung Arca buatan. Benda itu terperangkap dalam sangkar magnetik, dipaksa untuk berputar melebihi batas kemampuannya. Di depannya, seorang pria tua dengan jubah teknisi yang bersih duduk tenang di depan konsol, seolah-olah sedang memimpin simfoni kematian.
"Kau terlambat, Putri Aryo," ucap pria itu tanpa menoleh. "Kau memberikan kehidupan pada dunia yang tidak layak mendapatkannya. Aku hanya mengembalikan segalanya pada keteraturan yang seharusnya."
"Menghisap nyawa planet ini bukan keteraturan," tantang Laras, tangannya meraba piston di lehernya. "Itu adalah pencurian."
Pria itu berdiri, menoleh dengan senyum tipis yang dingin. "Aryo selalu terlalu emosional. Dia pikir Arca adalah teman. Bagiku, ini adalah alat bedah. Dan sekarang, aku akan mengoperasi Bumi untuk membuang 'kanker' harapan yang kau tanam."
Tiba-tiba, suara Dio meledak di komunikator Laras, bercampur dengan suara dentuman meriam. "Lar! Jakarta dalam bahaya! Mereka melepaskan gas pemutus sinyal! Pandu dan warga mulai bertumbangan! Kau harus matikan sumbernya sekarang!"
Laras menatap Jantung buatan yang berputar gila itu. Ia tahu ia tidak bisa mematikannya dengan kode biasa. Benda ini dirancang untuk menolak harmoni.
"Arsitek," bisik Laras dalam hati. "Kau bilang aku harus menjadi dirigen. Jika aku tidak bisa menyelaraskannya, apakah aku bisa... menghancurkannya dengan frekuensi yang berlawanan?"
"Risikonya adalah kehancuran total di titik ini, Laras," suara Sang Arsitek bergema. "Tapi itu akan memutus rantai kendali mereka atas Jakarta."
Laras melangkah maju, bukan menuju konsol, melainkan menuju sangkar magnetik itu sendiri. Ia melepaskan piston ayahnya dan menggenggamnya erat, membiarkan energi biru dari tubuhnya mengalir sepenuhnya ke logam tua itu.
"Ini untuk setiap mekanik yang hanya ingin memperbaiki dunia, bukan menguasainya!" teriak Laras sambil menghantamkan piston itu ke inti sangkar magnetik.
Cahaya ungu dan biru bertabrakan, menciptakan ledakan resonansi yang melemparkan semua orang di ruangan itu. Di saat yang sama, di Jakarta, gas hitam yang menyelimuti kota tiba-tiba memudar saat frekuensi pengendalinya lenyap.
Ledakan itu tidak menghasilkan api, melainkan kehampaan suara yang memekakkan telinga. Gelombang kejut frekuensi murni menyapu ruangan, memadamkan cahaya ungu yang menyakitkan mata dan menggantinya dengan pendaran putih yang dingin. Laras terlempar ke dinding kristal, napasnya tersengal saat ia melihat menara hitam itu mulai bergetar hingga ke fondasinya.
Pria tua di depan konsol itu berteriak, namun suaranya tertelan oleh dengungan Arca yang kini mengamuk tanpa kendali sangkar magnetik. Inti buatan itu retak, melepaskan energi yang selama ini ia hisap kembali ke tanah Amazon dalam satu lonjakan masif.
"Laras! Keluar dari sana!" suara Dio pecah di komunikator, tertutup oleh gangguan statis. "Jakarta sudah bersih, frekuensi mereka mati total, tapi sensor orbit menunjukkan menara itu akan runtuh secara molekuler!"
Laras berusaha bangkit, pandangannya kabur. Ia melihat wanita pemberontak tadi merangkak menuju pintu keluar sambil menarik rekan-rekannya yang pingsan. Laras meraih piston ayahnya yang kini retak di lantai, lalu dengan sisa tenaganya, ia berlari menuju lubang pembuangan tempat ia masuk.
Tepat saat ia melompat keluar dari dasar menara, struktur raksasa itu meluruh. Bukan runtuh seperti bangunan beton, melainkan terurai menjadi debu hitam yang langsung terserap oleh tanah yang kini mendadak subur karena kembalinya energi kehidupan.
Laras jatuh tersungkur di atas rumput yang mulai menghijau kembali dengan kecepatan yang mustahil. Ia terengah-engah, merasakan bumi di bawah telapak tangannya bergetar pelan, seolah sedang bernapas lega.
"Lar? Laras, jawab aku!" suara Pandu kini terdengar, cemas namun penuh kelegaan.
"Aku di sini, Ndu," bisik Laras, menatap langit Amazon yang kini tidak lagi memutih. "Menaranya sudah hilang. Bagaimana Jakarta?"
"Mereka menyerah, Lar. Begitu sinyal komando dari pusatmu mati, tentara bayaran itu kehilangan arah. Dio sedang mengamankan sisa teknologi mereka. Tapi Lar... orang-orang di sini... mereka melihat perisai perak di langit tadi bergetar saat kau menghantam menara itu. Mereka sadar sekarang."
"Sadar tentang apa?"
"Bahwa kau tidak berbohong. Bahwa apa yang terjadi padamu, terjadi pada planet ini. Mereka melihatmu menderita di layar publik saat frekuensi itu terganggu. Kebencian mereka... itu menguap begitu saja saat mereka merasakan sakit yang sama."
Laras menyandarkan kepalanya di batang pohon yang baru saja kembali hidup. Di sampingnya, Sang Arsitek Andromeda muncul kembali, kali ini dengan wujud yang hampir menyerupai Aryo, namun dengan mata yang tetap bercahaya bintang.
"Kau telah memberikan pelajaran yang keras bagi mereka, Laras," ucap Sang Arsitek. "Koneksi bukan hanya tentang berbagi kekuatan, tapi tentang berbagi kerapuhan. Sekarang, Bumi tidak lagi memiliki rahasia di antara penghuninya."
Laras menatap piston tua di tangannya yang kini tak lagi berfungsi sebagai kunci, melainkan hanya sebongkah logam saksi sejarah. "Ini bukan akhir, kan? The Hollow masih punya sisa-sisa di luar sana. Dan Hegemony masih mengawasi dari orbit."
"Tentu saja tidak," jawab Sang Arsitek sambil memandang ke arah bintang-bintang yang mulai terlihat di langit senja Amazon. "Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah galaksi ini, ada sebuah planet yang tidak bisa ditaklukkan hanya dengan menghancurkan tentaranya. Kalian harus dihancurkan bersama-sama, atau tidak sama sekali. Dan itu adalah pertahanan yang paling menakutkan bagi mereka."
Laras memejamkan mata, membiarkan kehangatan Arca dari tanah Amazon memulihkan luka-lukanya. Di orbit, Astra Mawar bersinar seperti permata, sementara di Jakarta, lampu-lampu biru kembali menyala, kali ini bukan sebagai tanda otoritas, melainkan sebagai detak jantung kolektif sebuah peradaban yang baru saja benar-benar lahir.
"Paman Aan," panggil Laras pelan ke komunikatornya.
"Ya, Laras?"
"Siapkan protokol baru. Kita tidak akan menyebutnya 'Penjaga' lagi. Mulai sekarang, kita adalah 'Ekosistem Astra'. Dan beritahu Dio, jangan sentuh kopi dingin itu. Kita punya banyak pekerjaan untuk memperbaiki Bumi... secara manual."
Suara tawa khas Dio terdengar di latar belakang, bercampur dengan suara bising bengkel yang sibuk. Di bawah langit yang kini sepenuhnya milik mereka, Laras menyadari bahwa meskipun mekanik tidak bisa menciptakan keajaiban, mereka selalu tahu cara menjaga agar keajaiban itu tetap berjalan.