NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Pagi itu terasa terlalu tenang.

Arcelia Virellia berdiri di depan cermin kamar, menyisir rambutnya perlahan. Seragamnya sudah rapi. Tas sudah siap. Tapi pikirannya belum benar-benar beres.

Kalau memang ini melibatkan Selena… berarti aku sedang berjalan di atas garis tipis.

Ia menarik napas panjang.

Di luar kamar, suara langkah Bang Kaiven terdengar. Disusul suara Elvarin yang setengah berlari menuju kamar mandi. Rutinitas rumah tetap sama. Dan justru itu yang membuat Arcelia ingin melindunginya lebih keras.

Meja makan pagi terasa lebih sunyi dari biasanya. Papa Alveron membaca laporan di tablet dengan ekspresi serius. Mama Mirella menuangkan teh, sesekali melirik suaminya.

“Papa,” Arcelia akhirnya membuka suara.

Papa Alveron mengangkat pandangan.

“Kalau ada yang menyebarkan rumor… apa perusahaan bisa melacak sumbernya?”

Bang Kaiven langsung menoleh.

Mama Mirella berhenti menuang teh.

Papa lveron meletakkan tabletnya pelan.

“Bisa Kak,” jawabnya tenang. “Tapi butuh waktu. Dan bukti kuat.”

Arcelia mengangguk.

“Kenapa kamu tanya begitu Sayang?” tanya Mama Mirella lembut.

“Cuma penasaran Ma.”

Ia tidak bisa mengatakan lebih dari itu.

Belum.

Di sekolah,

Suasana terasa sedikit berbeda. Beberapa siswa berbisik saat Arcelia lewat. Tidak terang-terangan mengejek. Tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.

Kaelion Ravert berjalan di sampingnya.

“Komentar di blog itu bertambah,” katanya tanpa menoleh.

“Aku tahu.”

“Gaya tulisannya sama?”

“Semakin jelas.”

Mereka berhenti di depan kelas. Kaelion menatapnya singkat.

“Kau akan konfrontasi?”

“Belum.”

“Kau menunggu apa?”

“Kesalahan.”

Jam istirahat.

Arcelia duduk di perpustakaan, membuka kembali blog tersebut. Dan di sanalah ia menemukannya.

Artikel baru.

Judulnya lebih provokatif.

Isinya lebih berani.

Dan ada satu kalimat yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Perusahaan yang dibangun dari citra keluarga harmonis sering kali menyembunyikan retakan di dalamnya."

Retakan.

Kata itu.

Arcelia pernah mendengarnya.

Selena menggunakan kata yang sama kemarin di kantin.

“Semua orang berpura-pura.”

Retakan.

Kata yang sama.

Ia membuka komentar pertama.

Dan lagi-lagi, akun anonim yang sama.

Terlalu cepat.

Terlalu terarah.

Ini bukan kebetulan.

Sore itu,

Arcelia sengaja tidak langsung pulang. Ia menunggu di parkiran sekolah. Dan seperti yang ia duga, Selena keluar dengan langkah tenang.

“Menungguku?” tanya Selena ringan.

Arcelia tidak berputar-putar. “Kamu punya blog?”

Selena tertawa kecil. “Banyak orang punya blog.”

“Yang membahas bisnis keluargaku.”

Hening tipis.

Selena mendekat satu langkah. “Kamu menuduhku?”

“Aku bertanya.”

Selena menatapnya lama.

Lalu tersenyum.

“Kamu pintar, Arcelia. Tapi kadang kepintaran membuat orang terlalu yakin pada kesimpulannya.”

“Kamu belum menjawab.”

“Dan kamu belum punya bukti.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa emosi.

Tapi jelas.

Arcelia tidak membalas. Karena Selena benar tentang satu hal, ia belum punya bukti yang tak terbantahkan.

Selena melangkah melewatinya.

“Kalau kamu ingin bermain di dunia orang dewasa, Arcelia… pastikan kamu siap dengan konsekuensinya.”

Langkahnya menjauh.

Arcelia berdiri diam.

Tangannya mengepal pelan. Bukan karena marah. Tapi karena ia sadar, Selena tidak menyangkal. Ia hanya menantang.

Malamnya,

Suasana rumah terasa lebih tegang. Papa Alveron pulang lebih larut. Bang Kaiven berbicara pelan dengan papanya di ruang kerja. Arcelia berdiri di lorong, mendengar samar-samar.

“…ada pihak yang mendorong dewan untuk audit ulang.”

“Siapa?”

“Belum jelas. Tapi arah tekanannya konsisten.”

Audit ulang.

Itu bukan rumor kecil lagi. Itu langkah serius.

Arcelia masuk kembali ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur.

Pikirannya penuh.

Kalau Selena benar terlibat… apakah ini hanya permainan sekolah?

Atau—

apakah keluarga Ravert memang punya kepentingan lebih besar?

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Kaelion.

Kaelion:

Selena pulang larut malam ini. Dia jarang seperti itu.

Arcelia menatap layar beberapa detik.

Arcelia:

Kamu curiga?

Balasan datang cepat.

Kaelion:

Aku tidak suka ketidakjelasan.

Arcelia tersenyum tipis.

Ia juga.

Ia berdiri, berjalan ke balkon kamar. Udara malam kembali dingin seperti beberapa hari lalu. Lampu kota berkilau di kejauhan. Kalau ini permainan… maka aku tidak boleh hanya bertahan.

Ia menatap langit gelap.

Retakan itu mungkin kecil.

Tapi jika dibiarkan, ia bisa menghancurkan semuanya. Dan Arcelia Virellia tidak akan membiarkan keluarganya runtuh karena permainan tersembunyi.

Besok—

ia akan berhenti hanya mengamati.

Besok—

ia mulai menyerang balik.

Besoknya datang lebih cepat dari yang Arcelia Virellia harapkan.

Ia hampir tidak tidur.

Pukul lima pagi, ia sudah duduk di meja makan dengan rambut masih sedikit basah setelah mandi. Aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruangan. Mama Mirella bergerak pelan di dapur, sementara Papa Alveron sudah berpakaian rapi, siap berangkat lebih awal.

“Kamu bangun duluan lagi Dek?,” komentar Bang Kaiven sambil duduk di kursinya.

“Aku cuma tidak bisa tidurBang,” jawab Arcelia jujur.

Papa Alveron menatap putrinya sebentar. “Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanya langsung saja Kak, jangan memendamnya.”

Kalimat itu membuat Arcelia terdiam sesaat.

Ia ingin. Tapi belum waktunya.

“Aku cuma ingin tahu… audit ulang itu seberapa berbahaya?”

Hening tipis.

Papa Alveron menyandarkan punggungnya. “Kalau kita bersih, audit bukan ancaman. Tapi yang berbahaya adalah opini publik sebelum hasilnya keluar.”

Arcelia mengangguk pelan.

Opini.

Narasi.

Itu yang sedang dimainkan.

Di sekolah,

Arcelia tidak langsung menuju kelas. Ia menuju ruang IT. Ruangan itu hampir kosong di pagi hari. Ia membuka salah satu komputer dan mengakses kembali blog anonim itu. Kali ini, ia tidak mencari pola tulisan. Ia mencari koneksi. Server awal memang publik. Tapi akun anonim itu sempat melakukan kesalahan kecil.

Login tanpa VPN selama beberapa menit. Cukup untuk meninggalkan jejak lokasi lebih spesifik.

Area perumahan elit.

Bukan jauh dari rumah keluarga Ravert.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Apakah ini kebetulan lagi?

Tidak.

Terlalu banyak kebetulan tidak lagi disebut kebetulan.

Jam istirahat,

Arcelia sengaja menemui Kaelion di lapangan belakang. Suara bola basket memantul

duk

duk

duk

dari kejauhan.

“Aku menemukan lokasi aksesnya,” kata Arcelia tanpa basa-basi.

Kaelion berhenti berjalan.

“Di mana?”

“Dekat rumahmu.”

Angin seolah berhenti sebentar. Ekspresi Kaelion tidak berubah banyak. Tapi rahangnya sedikit menegang.

“Kau yakin?”

“Tidak seratus persen. Tapi cukup kuat untuk dicurigai.”

Hening panjang.

“Kalau itu Selena…” suara Kaelion lebih rendah dari biasanya, “…kau sadar apa artinya?”

“Artinya ini bukan cuma soal bisnis.”

Kaelion mengangguk pelan. Ia terlihat sedang menahan sesuatu.

“Kalau kau mau, aku bisa memeriksa dari sisi rumah.”

Arcelia menatapnya.

“Itu keluargamu.”

“Dan kau juga akan menjadi bagian dari keluargaku.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Arcelia terdiam beberapa detik. Situasi mereka terlalu rumit untuk dibahas secara emosional sekarang.

“Kita butuh bukti yang tidak bisa dibantah,” katanya akhirnya.

Sore hari,

Sesuatu terjadi. Blog itu kembali mengunggah artikel baru. Tapi kali ini, isinya berbeda. Bukan menyerang bisnis Virellia. Melainkan menyerang pribadi Arcelia. Menuduhnya memanfaatkan hubungan dengan Kaelion demi keuntungan keluarga.

Tangannya sedikit gemetar saat membaca.

Ini bukan lagi strategi bisnis.

Ini personal.

Dia mulai panik. Karena hanya orang yang merasa terancam yang menyerang secara langsung.

Ponselnya bergetar.

Kaiven.

Kaiven:

Kamu lihat artikel baru?

Arcelia:

Iya.

Balasan datang cepat.

Kaiven:

Ini sudah keterlaluan.

Beberapa detik kemudian, panggilan masuk.

Arcelia mengangkatnya.

“Biarkan aku yang tangani,” suara Bang Kaiven terdengar tegas.

“Jangan.”

“Kamu adikku.”

“Aku bukan anak kecil.”

Hening sebentar.

“Kalau kita bereaksi terlalu keras, justru mereka menang,” lanjut Arcelia. “Biarkan dia merasa aman dulu.”

Bang Kaiven menghela napas panjang di ujung sana.

“Kamu benar-benar mirip Papa.”

Arcelia tersenyum kecil.

Malamnya,

Arcelia duduk di kamar dengan laptop terbuka. Ia tidak membalas. Tidak memberi klarifikasi publik. Tidak membuat drama. Sebaliknya, ia menyusun semua bukti dalam satu folder.

Jejak login.

Pola tulisan.

Waktu unggah.

Dan satu hal baru, alamat IP yang sempat muncul saat VPN mati beberapa menit sore tadi.

Itu bukan sekadar area perumahan.

Itu koneksi pribadi.

Dan nama penyedia layanan terdaftar atas,,,,

Ravert Residence.

Jantung Arcelia berdetak keras.

Ini belum cukup untuk publik. Tapi cukup untuk konfrontasi tertutup. Ia bersandar di kursinya. Menatap layar dalam diam. Kalau ini benar Selena… maka dia baru saja membuat kesalahan fatal. Karena menyerang Arcelia secara pribadi bukan hanya menyakiti, tapi juga membuka celah. Dan Arcelia Virellia bukan tipe yang membiarkan celah itu terlewat.

Besok—

ia tidak akan bertanya lagi.

Ia akan membawa bukti.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!