"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Yang Tidak Biasa
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca kamar VIP dengan cerah, seolah-olah ikut merayakan kepulangan Pak Bramantyo. Ameera sedang sibuk merapikan pakaian ayahnya ke dalam koper kecil saat pintu kamar terbuka.
Ia mengira itu adalah perawat yang akan membawakan kursi roda, namun jantungnya hampir melompat keluar dari tempatnya saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Liam berdiri di ambang pintu. Tidak ada jas putih dokter yang biasanya tersampir di bahunya. Kali ini, ia mengenakan kemeja katun berwarna biru navy dengan lengan yang digulung hingga ke siku, dipadukan dengan celana kain berwarna gelap yang pas. Ia tampak jauh lebih santai, namun kewibawaannya justru semakin terpancar.
"Assalamualaikum," sapanya dengan suara yang rendah namun mantap.
"Waalaikumsalam," jawab Ameera pelan, tangannya mendadak kaku saat memegang lipatan baju ayahnya. "Dokter Liam? Bukannya jam kunjung baru dimulai nanti siang?"
Liam melangkah masuk, namun seperti biasa, ia tetap menjaga jarak aman. "Hari ini aku mengambil cuti setengah hari. Aku ke sini untuk mengantar kalian pulang sampai ke rumah."
Ameera tersentak. Kepalanya mendongak refleks, matanya membelalak. "Mengantar kami? Tidak perlu, Liam. Sopir rumah sudah dalam perjalanan ke sini. Lagipula, bukankah kau punya... keluarga yang harus kau urusi?"
Kata keluarga itu diucapkan Ameera dengan penekanan yang sedikit pahit, bayangan wanita cantik dan bayi ganteng itu kembali menari-nari di pikirannya.
"Tidak apa-apa, Ameera. Sopir mu sudah dihubungi oleh ibumu untuk tidak perlu menjemput. Aku ingin memastikan Pak Bramantyo sampai di rumah dengan posisi duduk yang benar dan merasa nyaman selama perjalanan," jelas Liam tenang.
"Tidak, Liam. Itu terlalu merepotkan. Kau sudah menyelamatkan nyawa ayahku, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin berutang budi lebih banyak lagi," tolak Ameera dengan nada yang sedikit tegas, meskipun sebenarnya hatinya meronta karena ingin dekat dengan pria itu. Ia hanya tidak ingin hatinya semakin hancur jika harus melihat Liam lebih lama lagi.
Ameera melirik ibunya, berharap sang ibu akan membela penolakannya. Namun, ibunya justru tersenyum manis, seolah sudah merencanakan ini semua.
"Ameera..." suara berat Pak Bramantyo menyela dari atas tempat tidur. Beliau sudah duduk dengan rapi, tampak jauh lebih segar.
"Ayah?"
"Biarkan Nak Liam mengantar kita. Ayah merasa jauh lebih tenang jika ditemani oleh dokter yang mengoperasi Ayah. Lagipula, Liam sudah seperti keluarga sendiri bagi kami selama seminggu ini. Jangan keras kepala, Nak. Hormati tawaran baiknya," ucap Pak Bramantyo dengan nada yang lembut namun tidak bisa dibantah.
Ameera menggigit bibir bawahnya. Jika ayahnya sudah bicara seperti itu, ia tidak punya pilihan lain. Ia melirik Liam yang masih berdiri tenang. Pria itu sedikit menunduk saat tatapan mereka bertemu sesaat, namun ada sebuah kilat tipis di matanya yang sulit diartikan, seperti sebuah kemenangan kecil yang ia simpan sendiri.
Akhirnya, mereka berjalan menuju parkiran. Liam dengan sigap membantu Pak Bramantyo duduk di kursi depan mobil SUV hitamnya yang sama dengan yang pernah membawa Ameera ke pesantren setahun lalu. Ameera duduk di kursi belakang bersama ibunya.
Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi namun penuh ketegangan bagi Ameera. Aroma parfum kayu cendana milik Liam memenuhi kabin, membangkitkan memori lama saat ia pertama kali belajar menutup kepala dengan selendang.
Ameera menatap punggung Liam dari belakang. Pria itu menyetir dengan sangat tenang, sesekali berbicara ringan dengan ayahnya tentang pantangan makanan dan pentingnya istirahat. Ameera terus teringat pada foto bayi di ponsel Liam.
Apakah bayi itu sedang di rumah bersama ibunya? Apakah Liam sedang memikirkan mereka saat ia mengantarku? Pikiran itu terus berputar seperti gasing di kepala Ameera.
Ia merasa ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam mobil ini. Liam tampak sangat santai, seolah tidak ada beban, sementara Ameera merasa sedang duduk di atas bara api. Ia ingin bertanya, namun lidahnya terasa kelu. Ia merasa tidak berhak mencampuri urusan pribadi sang dokter.
Namun, satu hal yang Ameera sadari, meski hatinya diliputi kecemburuan yang hebat, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sangat aman saat berada di dekat Liam. Seolah-olah selama Liam ada di sana, tidak akan ada badai yang mampu menyentuhnya.
"Kita sudah sampai," ucap Liam pelan saat mobil memasuki gerbang rumah mewah Ameera.
Ameera menarik napas panjang. Ini saatnya, pikirnya. Setelah ini, aku harus benar-benar melupakannya dan fokus pada Al-Qur'an ku. Tapi ia tidak tahu, bahwa di dalam rumah itu, sebuah kejutan lain sudah menantinya, dan rahasia tentang anak dan istri Liam akan segera terkuak dengan cara yang paling tidak terduga.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰