Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: DI BALIK TIRAI PERMAISURI
Matahari pagi yang menyentuh puncak-puncak salju Himalaya tampak lebih redup dibandingkan cahaya yang memancar dari dalam The Blood Fortress. Di dalam aula utama yang kini telah direnovasi dengan sentuhan emas dan kristal surya, suasana tidak lagi terasa dingin dan mengancam seperti saat Arkan pertama kali membangunnya. Ada kehidupan yang berdenyut di sana—bukan hanya energi darah yang haus akan perang, melainkan kehangatan yang dibawa oleh presensi Liora.
Liora berdiri di balkon aula, menatap hamparan awan yang membeku di bawahnya. Gaun sutra putihnya berkibar lembut, dan di dahinya, simbol matahari kecil bersinar samar sebagai tanda bahwa kekuatannya telah menyatu sempurna dengan jiwanya. Di sampingnya, berdiri sosok yang dulunya adalah musuh besar: Alice Pendragon.
Alice tidak lagi mengenakan seragam kebanggaan keluarga Pendragon atau zirah Hunter Kelas S dari Inggris. Ia memakai pakaian pelayan berwarna hitam sederhana dengan lencana tetesan darah di dadanya. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak tenang, namun matanya yang biru selalu menunduk setiap kali ia berbicara.
"Nona Liora, sarapan pagi dan esensi Sanguine untuk stabilisasi energi Anda sudah siap," ucap Alice dengan nada suara yang sangat patuh.
Liora menoleh, memberikan senyum tipis yang tulus. "Terima kasih, Alice. Kau tidak perlu seformal itu padaku. Kita dulu adalah teman sekelas, ingat?"
Alice gemetar sedikit. "Itu adalah masa lalu di mana saya terlalu bodoh untuk menyadari posisi saya, Nona. Saya berhutang nyawa pada Sovereign, dan saya berhutang permohonan maaf pada Anda atas apa yang saya lakukan di asrama malam itu."
Liora menghela napas. Ia teringat bagaimana Arkan hampir menghancurkan Alice jika bukan karena permohonannya. Arkan membiarkan Alice hidup sebagai bentuk "hukuman yang berguna"—menjadikannya pengelola logistik di benteng dan mata-mata untuk urusan diplomatik WHA yang masih tersisa.
Di ruang kerja pusat, Arkan duduk di depan meja obsidian besar. Ia tidak lagi memakai kacamata penyamarannya. Wajahnya yang tegas dan mata merah delimanya menatap ribuan dokumen holografik yang dikelola oleh Julian.
"Ayah, WHA telah mengirimkan petisi resmi," Julian melaporkan sambil memutar bola kristal informasinya. "Mereka meminta izin untuk mendirikan 'Kedutaan Besar Manusia' di kaki pegunungan ini. Mereka ingin bernegosiasi tentang pembagian sumber daya energi dari inti Abyss yang kita ambil dari jenderal-jenderal itu."
Arkan mendengus dingin. "Mereka menyebutnya negosiasi, tapi sebenarnya mereka hanya ingin meminta jatah gratis karena ekonomi dunia yang kau hancurkan minggu lalu belum pulih sepenuhnya."
"Benar, Ayah. Namun, Seer menyarankan agar kita menerima petisi ini," Julian menambahkan. "Bukan untuk memberi mereka energi, tapi untuk menjadikan mereka 'petugas kebersihan' di perbatasan. Jika kita membiarkan mereka di kaki gunung, monster-monster Abyss kelas rendah yang melarikan diri dari pembersihan kita akan menjadi urusan mereka. Kita bisa menghemat tenaga para bawahan untuk misi yang lebih besar."
Arkan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. "Ide yang bagus. Izinkan mereka membangun kedutaan, tapi dengan satu syarat mutlak: Liora yang akan memimpin delegasi kita. Aku ingin dunia melihat bahwa 'Cahaya' adalah wajah publik kita, sementara 'Darah' tetap menjadi pedang di belakang mereka."
Sore harinya, Arkan menemui Liora di ruang meditasi. Ia melihat Liora sedang mencoba mengendalikan bola cahaya emas kecil di tangannya.
"Kau ingin aku menjadi pemimpin diplomatik?" tanya Liora terkejut setelah mendengar rencana Arkan. "Arkan, aku bahkan belum lulus SMA! Bagaimana aku bisa bicara dengan presiden atau jenderal-jenderal itu?"
Arkan mendekat, memegang pundak Liora. "Kau bukan lagi siswa SMA Gwangyang yang harus takut pada ujian, Liora. Kau adalah Solar Empress. Kau memiliki aura yang membuat mereka tidak berani berbohong di depanmu. Alice akan membantumu dengan protokol formalnya, dan Bastian akan berdiri di belakangmu sebagai pengawal. Tidak ada yang akan berani menyentuhmu."
Liora menatap mata Arkan, mencari keyakinan. "Kenapa bukan kamu sendiri?"
"Karena dunia masih takut padaku, Liora," Arkan tersenyum pahit. "Jika aku yang turun, mereka akan menganggapnya sebagai intimidasi. Tapi jika kau yang turun, mereka akan melihat harapan. Aku butuh mereka tetap tenang sementara aku mempersiapkan langkah untuk memasuki The Heart of Abyss—pusat dari segala bencana ini."
Liora akhirnya mengangguk. "Baiklah. Jika itu bisa membantumu, aku akan melakukannya. Tapi kamu harus berjanji, jangan melakukan hal berbahaya sendirian lagi."
Minggu berikutnya, upacara pembukaan "Kedutaan Besar Perbatasan" diadakan di lembah bawah Himalaya. Ribuan kamera jurnalis dari seluruh dunia berkumpul. Untuk pertama kalinya, Crimson Eclipse muncul secara resmi tanpa kabut atau bayangan yang menutupi.
Liora turun dari langit menggunakan portal cahaya, didampingi oleh Bastian yang mengenakan zirah perang hitam yang mengintimidasi dan Alice yang berjalan dengan anggun sebagai asistennya. Dunia terdiam melihat kecantikan dan kewibawaan Liora.
"Kami, Crimson Eclipse, tidak datang untuk menguasai kalian," suara Liora dipancarkan ke seluruh dunia melalui sistem Julian. "Kami di sini untuk memastikan bahwa kiamat tidak akan pernah sampai ke pintu rumah kalian lagi. Namun, kerja sama ini memiliki harga: kepatuhan mutlak pada zona larangan terbang mana yang telah ditetapkan Sang Sovereign."
Di kejauhan, di puncak benteng yang tak terlihat oleh manusia, Arkan berdiri menatap prosesi itu.
'Satu langkah lagi menuju stabilitas dunia,' batin Arkan.
Namun, di tengah pidato Liora, Elara (Seer) mendadak menarik jubah Arkan. Matanya yang merah silang bergetar hebat. "Tuan... ada sesuatu yang salah. Di dalam barisan diplomat manusia... ada satu orang yang tidak memiliki detak jantung."
Arkan menyipitkan matanya. Melalui penglihatannya sendiri, ia memindai kerumunan. Benar. Di barisan belakang delegasi Amerika, berdiri seorang pria berjas rapi, namun di dalam nadinya bukan darah yang mengalir, melainkan cairan hitam pekat yang dingin.
'Itu adalah "Mimic" tingkat SSS,' desis Arkan. 'Abyss telah mengirimkan pembunuh bayangan untuk menghancurkan upacara ini.'
'Bastian! Hana! Siaga satu!' Arkan memberi perintah melalui Blood-Link.
Pertempuran diplomatik yang baru saja dimulai akan segera berubah menjadi pertumpahan darah. Abyss tidak akan membiarkan cahaya matahari Liora bersinar terlalu lama, dan Arkan harus bertindak sebelum Liora menyadari bahwa ada maut yang sedang tersenyum ke arahnya dari jarak sepuluh meter.