Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trik Licik
Dari arah ledakan itu mucul seorang perempuan dengan pakaian khasnya yang berwarna hitam dan rambut yang di kuncir tinggi. Dean dan Arlo saling tatap saat mengetahui siapa yang datang saat itu.
"Mami Zurra, Tante Zurra!" teriak Dean serta Arlo bersamaan.
Tora yang lehernya di cengkeram Zurra melototkan matanya karena merasakan kesakitan yang luar biasa. Dia tak menyangka jika Zurra akan ada di sana.
Zurra sudah menyeringai menatap Tora yang ketakutan saat melihatnya. Sedangkan Zurra yang memandang Tora ketakutan malah semakin senang karena jelas dia akan bersenang senang sekarang.
"Kenapa wajah lo ketakutan begitu? Apa lo mulai takut dan nggak nyangka kalau gue juga bakalan ikut bermain bersama putri kembar gue dan juga pasangannya masing masing?" tanya Zurra pada Tora.
Brukkk....
Zurra melempar Tora ke lantai di tengah tengah berjatuhannya puing puing bangunan akibat ledakan yang di timbulkan tadi. Tapi Zurra tak merasa khawatir atau takut dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Tora akan bangkit berdiri tapi Zurra tak memberinya kesempatan untuk berdiri lagi.
Duak.... Brakkkk...
Tendangan kaki Zurra melayang mengenai wajah dan badan Tora yang membuat Tora terpental ke belakang dan menabrak reruntuhan di belakangnya.
Uhukkkk....
Tora memuntahkan banyak cairan kenthal dari mulutnya tapi Zurra tak membiarkannya begitu saja.
Dia menambahkan kembali pelajaran pada Tora. Zurra tak memberinya ampun karena dia sudah sangat kesal dengan apa yang di lakukan Tora saat ini. Belum lagi Tora juga mempunyai usaha yang lain yaitu perbudakan para manusia.
"Lo kira dengan nyodorin anak lo yang nggak jelas itu bakal bikin gue ninggalin suami gue? Apa lo pikir karena gue dan Altezza lama tak terjun langsung di dunia bawah kami berdua akan lupa jika kami harus tetap mempertahankan apa yang kami punya?"
Zurra kembali menyerang Tora membabi buta dan Blarrrrr......
Suara ledakan kembali terdengar dari arah yang dekat dengan Zurra yang membuat Dean panik.
"Mami, ayo buruan pergi dari sini. Selesaikan semuanya dengan cepat!" teriak Dean pada Zurra.
Zurra yang memang mengetahui jika gedung itu semakin hancur segera menyelesaikan semuanya.
Dia membuat Tora semakin babak belur dan tanpa ampun dia menghilangkan semua yang ada pada Tora.
Dean serta Arlo yang melihat itu meneguk ludahnya kasar karena mereka melihat beringasnya Zurra saat ini bahkan di usia Zurra yang sudah tak muda lagi Zurra masih bisa bertarung seperti itu.
Dan terakhir mereka melihat sesuatu yang menggelinding ke arahn mereka berdua yang membuat mereka berdua berjingkat ngeri.
"Astaga, udah kayak bola aja glinding ke sana kemari," ceplos Arlo sambil bergidik ngeri.
Begitu juga dengan Dean yang tak menyangka jika Zurra masih sama gilanya dengan yang dulu jaman masih muda.
"Mami masih aja gila kayak dulu," celetuk Dean pelan.
Zurra segera menghampiri Dean serta Arlo dan mengajak mereka segera pergi dari gedung yang sudah mulai hancur itu.
"Dalam hitungan ke tiga, kita semua keluar dari sini!" ucap Zurra denga cepat.
Otak Dean dan Arlo nampak loading tapi sedetik kemudian mereka tersadar dengan membelalakan mata mereka bahwa Zurra sudah tak ada di depan mereka berdua saat ini.
"Sial... mami kapan perginya!" umpat Dean sambil berlari.
Dan saat mereka berdua sampai di depan Zurra sudah berdiri bersedekap dada di sana melihat Arlo serta Dean dengan pandangan mengejek.
"Kalian lambat sekali, padahal kalian masih muda, kenapa otak kalian lemot sekali!" ejek Zurra lagi.
"Astaga, mami tahu kan kalau tadi kami masih kaget dengan barang yang ngegelinding tadi? Jadi ya bukan salah kami juga mi."
Dean menyela apa yang Zurra katakan dan Zurra sendiri hanya mencebikkan bibir bawahnya mendapat jawaban dari calon menantunya itu. Zurra kemudian memindai area itu karena banyak polisi yang datang kesana untuk mengamankan banyak orang. Dan dari kejauhan dia melihat putri kembarnya yang tengah berlari ke arahnya dan di belakangnya ada Altezza yang berjalan santai mengikuti mereka.
"Mami....." teriak si kembar V secara bersamaan.
Zurra sudah membentangkan kedua tangannya untuk menyambut putri kembarnya yang berlari ke arah Zurra.
Greb....
Zurra memeluk erat kedua putrinya dan mengusap pelan kepalanya.
"Kerja bagus anak anak, terima kasih sudah menyelesaikan semuanya dengan baik." ucap Zurra pada kedua putrinya.
Altezza mengamati sekitarnya dan segera mengajak pergi keluaranya jika tidak ingin menjadi sorotan banyak orang yang ada di sana.
"Ayo, kalau sudah selesai bermainnya kita pulang. Jangan sampai semuanya melihat ke arah kita," ajak Altezza pada Zurra.
Valen dan Ale melepaskan pelukan mereka pada Zurra dan berbalik ke arah Dean serta Arlo. Mereka mengerutkan keningnya karena melihat kekasih mereka masing masing nampak keringatan padahal mereka tak melakukan apa apa saat itu.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Valen bingung ke arah Dean dan juga Arlo.
"Hahhh, itu sayang, mami tadi ninggalin kami di sana..." tunjuk Dean pada reruntuhan gedung yang sudah hancur semuanya itu.
"Hah?"
Mulut Valen menganga mendengar jawaban Dean begitu juga dengan Ale tapi tak lama mereka berdua tertawa terbahak yang membuat Dean serta Arlo saling tatap bingung. Apa yang salah dengan mereka berdua, sehingga Valen dan Ale menertawakan mereka berdua.
"Apa ada yang salah sama aku sayang?" tunjuk Dean pada dirinya sendiri.
Valen mengangguk, "Tentu saja salah, kalian kan jarang banget latihan akhir akhir ini dan otak kalian penuh dengan berkas kantor jadi ya wajar kalau kode yang mami kasih aja nggak bisa langsung kalian tangkap 'kan?" ucap Valen.
Valen mengedikkan bahunya acuh dan melewati Dean begitu saja untuk menyusul sang papi yang sudah lebih dahulu pergi dari sana. Ale yang melihat sang kakak pergi juga ikut menyusulnya, dan mereka mengobrol sambil berjalan meninggalkan Dean serta Arlo yang melongo melihat tingkah si kembar V itu.
Tapi kemudian mereka menghela napas dan memilih mengikuti mereka dari belakang. Sementara Zurra hanya berjalan santai melihat kedua putrinya dan pasangan mereka tumbuh dengan baik.
"Gue nggak nyangka kalau mereka sudah sebesar itu dan juga mempunyai kemampuan yang di luar perkiraan gue, "batin Zurra sambil terus mengamati kedua putrinya dan juga Dean serta Arlo yang berjalan dengan bercanda.
Mereka berempat tidak terlihat seperti baru saja menangani sebuah masalah, dan malah terlihat seperti sedang bermain bersama.
Mereke berenam sampai di mansion lebih cepat dan segera masuk ke dalam kamar mereka masing masing untuk membersihkan diri mereka.
Sementara itu di dalam kamar Zurra, Altezza sedang memeluk Zurra sambil menciumi leher istrinya itu.
"Sayang, masih marah hmmm..." Rajuk Altezza pada Zurra.
Zurra saat ini tengah membersihkan wajahnya setelah dia membersihkan dirinya di kamar mandi.
"Alll, lepasin dulu, aku sedang pakai skin care," dumel Zurra pelan.
Altezza melepaskan pelukannya pada istrinya dan kemudian dia beranjak pergi untuk duduk di sisi ranjang. Dia memerhatikan Zurra dari kejauhan dan masih saja dia selalu terpesona dengan istrinya itu. Dia masih saja selalu jatuh cinta lagi dan lagi pada Zurra.
Zurra yang merasa di perhatikan hanya tersenyum tipis, dia tahu apa yang ada di pikiran Altezza setiap kali memandangnya seperti itu.
"Al, aku tahu aku cantik dan aku tahu kamu tambah cinta sama aku." goda Zurra sambil mengedipkan sebelah matanya dari arah cermin.
Altezza yang mendengar perkataan istrinya tertawa terbahak, tentu saja Zurra hapal sekali dengan nya karena mereka sudah lama hidup bersama. Lima belas tahun lebih mereka hidup bersama jadi sudah pasti mereka sudah hapal satu sama lain.
Altezza menepuk pelan ranjang yang ada di sampingnya dan menyuruh Zurra untuk duduk di sana. Zurra pun menurut dengan apa yang suaminya mau.
Altezza mengusap lembut pipi Zurra yang meskipun sudah berumur tapi masih sangat halus dan kencang. Zurra sangat pandai merawat diri dan menjaga dirinya agar selalu membuatnya senang. Dan itu berhasil membuat Altezza semakin mencintai dan menggilai Zurra.
"Kamu sengaja ya kasih mereka misi?" tanya Altezza.
"Hmmm, sebagian besar benar, dan karena mereka tambah dewasa sudah waktunya mereka bisa berdiri sendiri. Bukannya tahun depan Valen dan Ale juga sudah minta di nikahkan? Kalau di tunda terus takut kita bakal punya cucu lebih cepat," celetuk Zurra absurd.
Altezza menghela napasnya panjang, " Astaga sayang, ya nggak usah di sebutin juga. Lagian aku tahu mereka akan jaga diri dengan baik," sahut Altezza santai.
Altezza sudah menaruh kepalanya di paha Zurra sebagai alasnya dan Zurra dengan senang hati mengusap lembut surai milik Altezza yang nampak memanjang.
"Bukan nggak percaya sama anak anak sayang, tapi kamu tahu sendiri kalau akan ada banyak orang yang usil nantinya. Ya, apalagi jika Dean serta Arlo semakin mumpuni dalam mengelola perusahaan mereka, sudah jelas akan banyak trik licik untuk mendapatkan mereka," ucap Zurra lagi.
Kali ini Altezza setuju dengan apa yang di katakan Zurra, dia juga memikirkan apa yang akan terjadi nantinya saat kedua caln menantunya akan semakin sukses. Pasti akan banyak godaan dan ujian nantinya.
"Kita bicarakan nanti sama mereka, tapi sebelumnya malam ini aku minta jatah makan malamku sampai pagi,"
to be continued...