Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.
Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.
Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Tingkat Kelima Tempering Tubuh
Musim panas membara, mentari menggantung tinggi di cakrawala, menyiram bumi dengan gelombang panas yang nyaris tak tertahankan. Dalam derasnya waktu yang tak pernah menunggu siapa pun, satu bulan berlalu hampir sekejap mata—seolah hanya helaan napas dalam perjalanan panjang takdir.
Selama satu bulan itu, tanpa sepengetahuan siapa pun, Lin Zhantian kembali menyelinapkan setetes demi setetes cairan spiritual jimat batu ke dalam ramuan obat Lin Xiao. Tindakannya sunyi, tersembunyi, namun sarat tekad. Ia memahami bahwa kebangkitan ayahnya adalah fondasi dari segala ambisi dan perlindungan keluarga mereka.
Di bawah pengaruh ajaib cairan tersebut, luka lama yang telah menggerogoti tubuh Lin Xiao selama bertahun-tahun akhirnya benar-benar pulih. Rona pucat yang dulu melekat bak bayangan kematian kini sirna tanpa sisa. Wajahnya kembali tegas, sorot matanya kembali tajam, dan aura vitalitas yang dulu sempat padam kini menyala lagi seperti bara yang dikipasi angin musim semi.
Namun bukan hanya Lin Xiao yang mengalami perubahan.
Selama bulan yang sama, kemajuan Lin Zhantian sendiri melesat bagai naga yang terbang menembus awan. Dengan bantuan cairan spiritual jimat batu dan kerja keras tanpa kompromi, sensasi gatal dan nyeri dari dalam tulangnya semakin hari semakin kuat. Rasa itu menusuk, menyiksa, seolah-olah tulangnya sedang ditempa palu raksasa dari dalam.
Di balik rasa sakit itu tersembunyi kegembiraan yang sulit diungkapkan.
Ia tahu—saat itu hampir tiba.
Ia akan menembus Tingkat Kelima Tempering Tubuh.
---
Di dalam gua pegunungan yang sejuk, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar, Lin Zhantian menjalani latihan yang nyaris melampaui batas manusia biasa.
Tubuhnya bertumpu hanya pada dua jari yang menekan tanah berbatu. Kedua kakinya terangkat sejajar dengan permukaan tanah, seluruh berat tubuhnya ditopang oleh kekuatan dua jari tersebut. Otot-ototnya menegang, urat-uratnya menonjol seperti naga kecil yang merayap di bawah kulit.
Napasnya berat.
“Hu… hu…”
Keringat membanjiri tubuhnya, membasahi pakaian hingga menetes ke lantai gua, membentuk genangan kecil. Setiap naik-turun tubuhnya adalah perjuangan melawan batas terakhir tenaga yang tersisa.
Setengah jam berlalu.
Akhirnya, kekuatan itu runtuh.
“Buk!”
Lengannya melemah, tubuhnya ambruk ke tanah. Ia terbaring dengan dada naik-turun hebat, setiap hela napas terasa seperti menghirup api. Seluruh sel dalam tubuhnya seolah berteriak protes atas penyiksaan tanpa henti.
Namun Lin Zhantian menggertakkan giginya.
Dengan sisa kehendak yang tersisa, ia bangkit tertatih, tanpa melepas pakaian, lalu menjatuhkan diri ke dalam kolam batu.
“Plung!”
Begitu tubuhnya menyentuh cairan kolam, gelembung-gelembung merah pucat bermunculan, lalu menembus pori-porinya tanpa ampun. Cairan spiritual itu meresap seperti ribuan jarum lembut, menyusup ke setiap inci tubuhnya.
Ia mengapung terlentang, tak lagi memiliki tenaga selain untuk bernapas.
Tubuhnya yang tadi memberontak kini berubah menjadi rakus. Setiap sel, setiap serat otot, menyerap cairan itu dengan keserakahan tak terkendali. Rasa lelah yang melumpuhkan perlahan digantikan oleh gelombang kehangatan dan kekuatan baru.
Namun tepat ketika ia hendak meregangkan tubuhnya—
Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat.
Rasa sakit yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya meledak dari dalam tulangnya. Seperti bor tajam yang menusuk dan menggiling inti kerangkanya, rasa itu menyebar dalam sekejap ke seluruh tubuh.
Rahangnya mengatup keras.
Namun di balik kesakitan itu, sorot matanya justru dipenuhi kegembiraan liar.
Ia tahu.
Inilah saatnya.
Terobosan yang ia nantikan sebulan penuh akhirnya tiba!
Rasa sakit itu berlangsung singkat—hanya sekitar lima menit—namun setiap detiknya terasa seperti penyiksaan abadi. Dalam proses itu, tulang-tulangnya perlahan berubah. Ia bisa merasakan kepadatannya meningkat, kekuatannya mengeras, daya tahannya menguat.
Lalu, tiba-tiba—
Rasa sakit itu lenyap.
Sebagai gantinya, ledakan energi memenuhi tubuhnya.
Lin Zhantian melompat keluar dari kolam, mendarat ringan di tanah. Ia menegakkan tubuh, dan suara “retak-retak” nyaring terdengar dari dalam tubuhnya—tulang dan sendi yang berderak dalam harmoni kekuatan baru.
Tubuhnya tampak sedikit lebih tinggi, lebih kokoh, lebih berisi.
Tanpa menunggu, ia langsung memulai Tinju Tongbei.
“Pa! Pa! Pa!”
Gema demi gema memecah kesunyian gua. Sembilan suara berturut-turut menggema tajam, lebih berat dan lebih dalam dibanding sebelumnya.
Pada gema kesembilan, tinjunya menghantam batu besar.
Retakan langsung menjalar di permukaan batu.
Ia tersenyum lebar.
Tingkat Kelima Tempering Tubuh—kekuatan dan ketahanan tubuhnya kini jauh melampaui sebelumnya.
Namun ia tidak berhenti.
Hatinya tiba-tiba tergerak.
Ia memejamkan mata.
Alih-alih menarik kembali tinjunya, ia membiarkan energi dalam tubuhnya mengalir. Ia merasakan kekuatan itu berputar di antara otot dan tulang, bergetar dalam irama aneh yang halus.
Tubuhnya berayun sangat tipis, hampir tak terlihat.
Kulit di bawah pakaiannya bergelombang samar.
Semua ototnya seakan dipanggil untuk bersatu, mendorong lapisan demi lapisan tenaga menuju satu titik—lengannya.
Energi itu memadat.
Menekan.
Menghimpun.
“Pa…”
Suara itu sangat pelan.
Namun mengandung kekuatan yang dalam dan berat.
Matanya terbuka!
Tinjunya melesat.
“BOOM!”
Batu besar di hadapannya tidak hanya retak—ia meledak berkeping-keping, serpihannya beterbangan ke segala arah.
Lin Zhantian terdiam.
Matanya membelalak menatap kehancuran di hadapannya.
Kekuatan itu…
Setara dengan seni bela diri Tingkat Tiga kelas rendah!
Gema Kesepuluh Tinju Tongbei.
Akhirnya ia berhasil menguasainya sepenuhnya.
Ia tertawa pelan, napasnya berat namun penuh kegembiraan. Kini ia mengerti mengapa gema kesepuluh begitu sulit dicapai—karena kekuatan yang terkandung di dalamnya sungguh melampaui bayangan.
Dalam pikirannya terlintas wajah Lin Hong yang dahulu begitu angkuh.
Jika kini mereka bertemu lagi, dengan Gema Kesepuluh ini, ia tak lagi akan berada di bawah bayang-bayang siapa pun.
Namun senyumnya perlahan memudar saat ia menoleh ke kolam batu.
Setelah penggunaan selama ini, cairan yang telah diencerkan mulai menunjukkan tanda-tanda melemah. Efeknya tidak lagi sehebat sebelumnya.
Ia mengernyit.
Jika ingin menembus Tingkat Keenam Tempering Tubuh—tahap paling krusial dalam fondasi kultivasi—ia harus menggunakan cairan spiritual murni tanpa pengenceran.
Tingkat Keenam adalah gerbang.
Di sanalah benih Yuanli akan terbentuk.
Tanpa benih itu, seseorang belum benar-benar melangkah ke jalan kultivasi sejati.
Dengan tatapan serius, Lin Zhantian mengeluarkan botol transparan dari dadanya. Di dalamnya, hampir setengah botol cairan merah pekat berkilau lembut di bawah cahaya redup gua.
Melihat jumlah yang cukup itu, sudut bibirnya akhirnya terangkat.
Jalan di depan mungkin penuh bahaya.
Namun fondasinya kini kokoh.
Dan suatu hari nanti—
Langit Qingyang akan menyaksikan kebangkitan seekor naga yang selama ini berlatih dalam kesunyian.