Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama pagi Dara Tidak masak
Disisi lain bundanya Dara sedang bertanya kepada ayah Aska tentang keadaan putrinya.
"Ayah, apakah ayah sudah telepon Dara dan bertanya tentang keadaan Dara?" Tanya bunda Siska bunda Dara.
"Sudah bund, Dara berkata dia disana Alhamdulillah baik- baik saja. Saat ayah telpon Dara tadi, dia sedang rebahan dikamar bund" ucap ayah Aska sembari tersenyum.
"Syukurlah, kalau keadaan putri bunda baik- baik saja" ucap bunda Siska sedikit merasa lega walaupun merasakan masih ada perasaan yang mengganjal.
"Lagian kenapa sih bund. Tumben bunda se panik itu kepikiran kak Dara?" Tanya Riza yang mendengarkan percakapan orangtuanya tadi.
"Enggak tau Riz. Sudah beberapa hari ini bunda tidak bisa merasa tenang. Tiba- tiba saja kepikiran kakakmu. Apalagi feeling bunda selalu benar jika menyangkut keluarga" jawab bunda Siska dengan perasaan sedih.
"Bunda jangan khawatir, aku akan menyuruh beberapa orang kepercayaan untuk membantu memantau kondisi kak Dara" jawab Riza yang membuat kedua orangtuanya menganggukkan kepala tanda setuju akan keputusan sang anak.
Bukan karena tidak percaya. Takutnya Dara selama ini menutupi apa yang terjadi dan enggan untuk bercerita kepada keluarganya.
"Ayah setuju, siapa tau kakak mu menutupi sesuatu tentang kita. Jika kita mendapatkan kabar buruk kita langsung menjemput kakakmu dan segera membawa pulang kemari" ucap ayah Aska dengan tegas.
"Iya ayah, nanti aku usahakan untuk secepatnya mendapatkan kabar tentang kak Dara. Semoga Memang benar kak Dara diperlakukan baik oleh keluarga mas Bagas" jawab Riza yang berfikir positif tentang kakaknya.
.
.
.
Pagi harinya di kediaman keluarga Bagas dikagetkan dengan teriakan ibu Dewi.
"Dar... Apa- apaan kamu jam segini belum ada masakan sama sekali" teriak Bu Dewi yang sangat menggelegar didalam rumah.
"Kenapa sih Bu tiap pagi selalu teriak- teriak, malu Bu sama tetangga" ucap Bagas sembari membenahi seragam kerjanya.
"Dimana istrimu? Lihat meja makan jam segini masih kosong" jawab bu Dewi yang membuat Bagas menoleh kearah meja makan. Alangkah kagetnya Bagas.
"Loh,, gak seperti biasanya Dara jam segini belum masak. Padahal didalam kamar gak ada. Malah aku kira sedang masak di dapur" ucap Bagas.
"CK.. sudah numpang tidak tau diri lagi" guman Bu Dewi.
"Terus gimana ini? Udah jam 7, masak aku sarapan di kantor lagi" ucap Bagas bingung yang takut uangnya berkurang.
"Udah kamu sarapan di kantor aja dari pada telat" ucap ibu Dewi.
Mau tidak mau akhirnya Bagas pergi kekantor dengan keadaan perut kosong. Sedangkan Bu Dewi berjalan dengan malas menuju kompor untuk masak.
"Aduh ini kenapa bumbu dapurnya habis semua. Bagaimana bisa masak kalau begini. Dasar menantu kurang ajar, sudah miskin, numpang dirumah orang, tidak tau diri lagi" guman Bu Dewi sambil mencari bumbu dapur.
Karena bumbu dapur yang tersisa tinggal garam akhirnya Bu Dewi memutuskan untuk membeli nasi bungkus di depan rumahnya.
.
.
.
Di sisi lain Dara pagi- pagi sekali sudah keluar dari rumah. Dara saat ini sedang berada di pasar untuk membeli sarapan pagi untuk dirinya. Dara sengaja tidak memasak dan membersihkan rumah, dia sudah merasa lelah setiap Dara minta uang selalu dibilang boros, ditilep buat jajan, dan masih banyak lagi.
Dara di pasar tidak sendiri dia mengajak Riska untuk sarapan bersama selain itu juga membahas tentang pembuatan cafe baru. Ya Dara memutuskan untuk membuat cafe baru dengan tema yang berbeda.
"Hallo Bu boss, apakah sudah lama menunggu?" Tanya Riska yang baru datang.
"Enggak, baru lima menitan" jawab Dara sambil melihat jam di handphone nya
"Btw, mau sarapan apa ini, tumben ngajak sarapan di pasar, biasanya pagi- pagi seorang Dara yang rajin ini sedang berkutat didapur dan beres- beres rumah" goda Riska.
"lagi pengen sarapan di luar. Sarapan apa ya enaknya... Gimana kalau sarapan mie ayam bakso aja mau gak Ris?" ajak Dara mengajak makan mie ayam bakso.
"Oke,, ayo kita ke tukang mie ayam" ajak Riska sebari mencari warung mie ayam. Sesampainya tempat yang dituju Riska dan Dara mencari tempat duduk yang kosong. Lalu memesan mie ayam bakso.
"Ris,, menurut kamu gimana kalau kita buat cafe baru dengan tema yang berbeda dengan cafe yang ada didaerah ini ?" Tanya Dara yang meminta pendapat kepada Riska
"Ide bagus itu.. tapi mau buat dimana?" tanya Riska.
"Coba kamu cari tanah yang dijual di daerah kota yang tempatnya strategis dan usahakan pinggir jalan raya" ucap Dara.
"Oke,, Bu bos, BTW cafe baru mau tema apa?" Tanya Riska.
"Kalau temanya cafe kekinian modern tapi untuk harganya menengah kebawah jadi untuk anak pelajar maupun mahasiswa bisa kalau mau ngopi atau mengerjakan tugas di cafe kita tapi tidak membuat kantong mereka terkuras" kata Dara yang memberi usulan .
Obrolan mereka berhenti karena mie ayam bakso yang mereka pesan sudah sampai. Tapi disela- sela makan mereka masih melanjutkan obrolannya.
"Bagus juga idemu ,,, tapi kalau harganya murah berarti untung yang kita dapat sedikit. Tau sendiri harga tanah yang tempatnya strategis mahal belum lagi bayar pajaknya kemungkinan balik modal nya lama" ucap Riska yang memberi tahu resikonya.
"Ya gak papa, biar semua orang bisa merasakan, untung sedikit asal berkah gak masalah" ucap Dara.
"Oke,, aku masih penasaran Dar, kenapa kamu tiba- tiba ngajak sarapan di pasar gak biasanya loh" tanya Riska kepada Dara yang langsung membuat nafsu makannya menurun.
"Seperti yang aku ceritakan kemarin, masih soal nafkah. Seharusnya hari ini waktunya mas Bagas ngasih uang belanja, tapi tadi malam aku minta gak dikasih malah dia bilang aku boros, aku tilep buat jajan lah ya karena gak dikasih uang belanja aku ya gak masak. Udah capek aku ngalah terus Ris makanya aku keluar dari rumah pagi- pagi biar gak ada yang tau " ucap Dara lesu.
"Kurang ajar itu si Bagas, kalau ketemu mau aku hajar itu orang. Ngasih uang belanja cuma 600 ribu udah gitu juga di monopoli sama ibunya. Eh giliran minta uang lagi malah dikata boros" gerutu Riska yang geram.
"Aku udah selesai makan ini. Ayo pulang, mau lihat drama apa lagi yang dibuat ibu mertua. Kemarin waktu Sampek rumah waktu buka pintu disambut dengan piring terbang nanti apalagi ya" ucap Dara sambil tertawa.
"Hah, piring terbang?, Gilak kali mertua mu Kay, kayaknya harus dianter kerumah sakit jiwa. Orang masuk rumah di ingetin buat ucap salam lah ini malah disambut piring melayang. Bisa jadi nanti kamu pulang di sambut sapu terbang" sahut Riska yang langsung membuat Dara semakin tertawa.
"Kalau sapu terbang udah mirip nenek sihir tapi bener sih eh tapi ini bukan nenek sihir tapi nenek peyot" ucap Dara sambil mengusap air mata yang keluar karena ketawa.
"Ha ha ha, udah kamu pulang sana, aku mau langsung ke cafe" kata Riska.
"Iya, aku pulang dulu, jangan lupa kamu cari tanah yang strategis, assalamualaikum" pamit Dara
Dara pulang dengan jalan kaki sesampainya di rumah
"Dari mana kamu pagi - pagi bukanya masak malah keluyuran, dasar mantu gak tau diri" ucap Bu Dewi dengan mata melotot.