NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Ini Sekolah atau Rumah Hantu?

Chapter 3 : Sekolah Sihir

Pulau Havenload – Malam Hari

Pemandian air panas Havenload berkilau seperti cermin raksasa di bawah cahaya bulan. Uap tipis naik perlahan, membawa aroma batu mineral dan kayu basah. Lentera-lentera kristal biru menggantung di dahan pohon mekanik di sekeliling kolam, berkedip pelan seperti kunang-kunang buatan. Air beriak plok… plok… saat tiga tubuh merendamkan diri.

Selena bersandar di pinggir kolam, rambut marun panjangnya terurai di pundak. Ia mengikatnya ulang dengan gerakan malas, lalu melirik ke arah sosok di seberang kolam.

Chika.

Yang… masih memakai helm knight.

Hanya kepalanya yang muncul dari air. Helm besi dengan bulu merah itu mengapung miring, memantulkan cahaya bulan. Uap panas menabrak pelindung wajahnya hingga terdengar bunyi tik… tik… seperti hujan kecil.

Selena menghela napas panjang.

“Chika? Kamu bodoh, ya?”

Chika mengangkat kepalanya sedikit, helmnya berbunyi klek.

“Tidak… aku pintar!”

Marianne, yang duduk di sisi lain kolam sambil mengaduk air dengan kaki, menyipitkan mata.

“Aku curiga… otakmu pernah kena palu pas kecil.”

Chika menoleh ke Marianne, air muncrat kecil dari gerakannya.

“Memangnya kenapa?”

Selena menunjuk helm itu dengan jari.

“Kau lagi apa sekarang?”

“Berendam.”

“Terus?”

“Ya… berendam.”

Selena memijat pelipisnya.

“Kenapa kau pakai helm knight di pemandian?!”

Chika mengangkat bahu, helmnya berdecit.

“Kebiasaan seorang knight.”

Marianne menutup wajah dengan satu tangan.

“Ini bukan kebiasaan, ini gangguan.”

Chika mendecak.

“Ehh… kamu jahat banget, deh.”

Uap makin tebal. Terdengar bunyi plung… plok… dari tetesan air di bebatuan. Selena mencondongkan tubuh ke depan, tatapannya serius… terlalu serius.

“Chika. Lepas helm itu. Kalau tidak…”

Chika langsung kaku.

“Kalau tidak…?”

“Nanti kutu rambut akan mengisap darah kepalamu.”

Suasana hening sedetik.

Lalu—

“HAH?!”

Chika berdiri setengah, air muncrat ke segala arah.

“ITU PASTI ULAR KAMU, SELENA! KAMU KAN VAMPIR!”

Selena memukul permukaan air dengan telapak tangannya, SPLASH!

“Yang aku bilang tadi KUTU, bodoh! Serangga! Bukan aku!”

Marianne tertawa kecil, menutup mulutnya.

“Knight takut kutu… luar biasa.”

Chika gemetar, memegang helmnya.

“I-iya iya… kali ini saja…”

Dengan bunyi klek… krrrkk…, helm itu terlepas.

Air panas memantulkan rambut panjang Chika yang selama ini tersembunyi. Rambut pirang pucatnya jatuh basah di punggung, sedikit terikat di satu sisi dalam kepangan yang longgar. Uap menyelimuti wajahnya, dan untuk pertama kalinya, wajah Chika terlihat jelas tanpa besi menutupi: mata hijau jernih, ekspresi polos, dan pipi yang agak memerah karena panas.

Chika menatap pantulan dirinya di air.

“Wah… jadi begini ya rambutku…”

Ia menarik sedikit kepangannya, memiringkan kepala.

“Hmm… aku punya rambut…”

Selena dan Marianne menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata bersamaan, datar, tanpa emosi.

“Sudah… keterlaluan tololnya.”

Chika menoleh, tersenyum lebar.

“Hehe.”

Angin malam berembus lembut, membuat lentera kristal berdenting kecil. Ting… ting…

Marianne menyandarkan punggung ke batu, menatap langit Havenload.

“Besok kita ke sekolah sihir. Tempat penuh hantu, anomali, dan orang aneh.”

Selena melirik Chika.

“Dia cocok di sana.”

Chika berkedip.

“Kenapa?”

“Kau tidak sadar diri.”

Chika tenggelam sedikit ke dalam air, cuma matanya yang muncul.

“Oh…”

Air kembali tenang. Uap naik perlahan. Di kejauhan, mesin Havenload berdengung rendah hmmmm…

Dan di pemandian kecil itu, tiga Hero berendam…

satu vampir, satu ilmuwan,

dan satu knight yang baru sadar dia punya rambut.

...----------------...

Uap hangat dari pemandian masih menempel di rambut dan kulit mereka ketika Chika, Selena, dan Marianne berjalan menyusuri jalan kayu Havenload menuju penginapan Vivi. Malam terasa sejuk; mesin-mesin pulau melayang berdengung pelan seperti napas raksasa yang sedang tidur. Lampu-lampu kristal biru di sepanjang jalan berayun lembut, memantulkan bayangan kaki mereka di papan kayu yang agak basah.

Begitu pintu penginapan dibuka—

KREEEKK…

Aroma daging panggang langsung menyerbu hidung.

Di atas meja makan kayu bundar, tersaji beberapa piring besar steak daging yang masih mengepul. Minyaknya berkilau keemasan, dan saus cokelat pekat mengalir pelan di sisi piring.

Chika langsung duduk tanpa basa-basi.

“MAKAN!!”

Garpu menancap, pisau mengiris, dan dalam dua detik—

“Enak banget!!” Chika mengunyah sambil tersenyum lebar. “Makhluk ciptaan Kaden ternyata bisa masak juga ya!!”

Di dapur, Vivi masih membelakangi mereka sambil mengelap wajan. Senyumnya tetap sama—lebar dan menutup mata.

“Iya… karena aku hidup selama seribu tahun. Kalau tidak bisa masak, aku sudah mati keracunan masakan sendiri.”

Selena duduk perlahan di kursi, menyandarkan punggung, lalu menatap Vivi.

“Kaden… pahlawan masa lalu itu… Vivi, apa kau benar-benar tidak tahu keberadaannya sekarang?”

Gerakan Vivi terhenti sesaat. Bunyi kain lap berhenti menggesek wajan.

“Untuk sekarang ini… tidak.”

Suasana sempat hening, hanya diisi suara Chika mengunyah:

nyam nyam nyam… kruk…

Tiba-tiba—

“Pahlawan Kaden: tidak terlacak.”

Suara MK.99 muncul begitu saja dari sudut ruangan. Robot itu berdiri kaku seperti patung, matanya menyala biru dingin.

Chika berhenti mengunyah.

“Hm… penasaran banget, deh…”

Marianne menusuk steaknya dengan garpu, lalu menoleh ke Chika.

“Hei, Knight Botak—”

“Aku tidak botak.”

“—Havenload sekarang mau ke mana?”

Chika menelan makanannya, lalu menggaruk pipi.

“Gak tahu sih… Vivi bilang Hero Sword-ku bereaksi ke arah sekolah sihir.”

Ia melirik ke sudut ruangan. Princes sudah tertidur di kursi, pipinya menempel di meja, mulutnya sedikit terbuka, dan masih memegang sendok.

Chika tersenyum kecil.

“Besok aku cuma ngajak Princes ke sana. Kalian jaga Havenload.”

Marianne mengangguk sambil mengangkat kunci pas dari sakunya.

“Yoi. Sekalian aku lanjutin perakitan Robot Teatan-ku. Aku mau pasang tangan keempat, biar bisa garuk punggung sendiri.”

Selena mengangkat gelas berisi darah invader yang dihangatkan.

“Mungkin aku akan kembali sebentar ke dunia iblis… ke kota Demonshire. Aku ingin bicara dengan Putri Priscilla.”

Vivi meletakkan piring bersih di rak.

“Aku akan mengawasi MK yang sedang membangun bangunan baru di Havenload. Dan Chika…”

Ia menoleh, senyumannya sedikit lebih serius.

“Yang terpenting… kau harus bertahan di sana sambil membawa Hero ketiga.”

Chika mengangkat ibu jari.

“Iya dong!”

Lalu, karena Chika sekarang tidak memakai helm knight, semuanya berubah jadi aneh.

Marianne menatap rambut pirang Chika yang masih setengah basah.

“Rambutmu… aneh.”

“Kenapa?”

“Kelihatan seperti sapu lantai bangsawan.”

Selena ikut menimpali.

“Setidaknya sekarang kita tahu kau bukan mesin.”

Chika menyentuh rambutnya sendiri.

“Oh… iya ya. Rasanya dingin.”

Ia lalu mencondongkan badan ke Princes yang tidur.

“Princes… rambutku dingin.”

Princes setengah sadar.

“Dingin itu… jahat…”

Lalu langsung tidur lagi.

MK.99 tiba-tiba berkata,

“Analisis: tanpa helm, ekspresi Chika meningkat 47% lebih bodoh.”

Chika menunjuk MK.99.

“ITU PENGHINAAN.”

Vivi tertawa kecil sambil menuang minuman ke gelas.

“Knight tanpa helm… ternyata jauh lebih ribut.”

Marianne bersandar di kursinya.

“Besok sekolah sihir, ya? Tempat penuh hantu, murid aneh, dan profesor gila.”

Selena menatap Chika.

“Cocok.”

Chika berkedip.

“Kenapa?”

“Karena kau tidak normal.”

Chika menghela napas panjang, lalu mengambil potongan steak terakhir.

“Kalau begitu… aku akan menaklukkan sekolah hantu dengan perut kenyang.”

Di luar jendela, mesin Havenload berdengung lebih kuat, perlahan berputar arah menuju tujuan berikutnya.

Huuuuuuummmm…

Dan di dalam penginapan kecil itu, rencana besar dibuat…

dengan wajah berminyak saus steak,

rambut basah tanpa helm,

dan masa depan penuh hantu yang menunggu mereka.

...----------------...

Keesokan harinya, malam turun di Sekolah Sihir seperti selimut hitam yang berbau debu buku tua dan dupa pelindung. Bangunan utama berdiri tinggi dengan jendela-jendela runcing, cahaya lilin menari di balik kaca buram. Angin malam menggeser tirai-tirai tipis di lorong, membuatnya swoosh… swoosh… seperti bisikan.

Di lobi pertama, patung-patung penyihir berdiri berjajar, wajahnya retak-retak dimakan usia. Jam dinding raksasa berdetak terlalu keras.

Tok… tok… tok…

Chika melangkah masuk sambil memeluk Hero Sword erat-erat, helm knight masih terpasang.

“Aku… aku tarik lagi perkataanku tentang menaklukkan sekolah hantu…”

Princes di sampingnya memegang ujung scarf merah Chika. Matanya berkaca-kaca.

“Chika… pulang yuk… aku takut…”

Chika langsung menepuk dada.

“Tenang, Princes! Ada aku yang selalu ada di sisimu!”

Padahal lututnya sendiri bergetar halus.

Mereka berjalan ke meja administrasi. Di sana duduk seorang gadis muda berkacamata bulat, rambutnya dikuncir rapi, sedang mencatat sesuatu di buku besar.

“Selamat datang…” katanya ramah. “Wah! Kau knight dari Kerajaan Gurial Tempest, dan ini… Princes kecil dari Gurial Tempest, ya?”

Chika tersenyum kikuk.

“Iya, hehe… jadi aku mau nanya…”

“Nanya apa, Kesatria?”

Chika menelan ludah.

“Di sini… ada hantu nggak?”

Gadis itu menjawab ringan seolah membahas cuaca.

“Iya. Dan mereka setiap hari bergentayangan.”

Chika dan Princes langsung menegang. Bahu mereka naik bersamaan.

“Ya… setidaknya…” Chika mencoba tersenyum. “Mereka tidak menyerang kita, kan…?”

Belum sempat Princes mengangguk—

“HANTU! HANTU MENYERANG KITA!!”

Sekelompok murid sihir berlari dari lorong sambil teriak-teriak, jubah mereka berkibar. Buku dan tas jatuh berceceran.

Chika dan Princes refleks berteriak bersamaan.

“AAAAAA!!”

Mereka meloncat dan menyelip ke bawah meja administrasi bersama gadis berkacamata. Murid-murid lain ikut menyusup sampai bawah meja penuh kaki dan tas.

Chika meringis.

“Eh, sempit!”

Gadis berkacamata mendesis.

“Diam! Jangan berisik!”

Di depan meja, muncul lima hantu berbentuk siswa sekolah, seragam mereka transparan, mata kosong berpendar biru pucat. Mereka melayang perlahan, lantai membeku di bawah bayangan mereka.

Semua yang bersembunyi menggigil.

Princes tiba-tiba mengendus.

“Hi… hi… hi—”

“HACHOO!!”

Lima hantu langsung menoleh serempak.

Princes menutup mulut.

“MAAF!! AKU NGGAK SENGAJA BERSIN!!”

Hantu-hantu itu melayang mendekat. Udara jadi dingin, napas terasa seperti kabut.

Tiba-tiba—

WIIIIIIIIING—

Cahaya hologram kuning menyala di udara, membentuk lingkaran aneh dengan simbol-simbol sihir bercampur mekanik. Bunyi melengking seperti nyamuk raksasa memenuhi ruangan.

SREEEEET—

Satu hantu tersedot ke dalam cahaya itu, tubuhnya terurai seperti asap.

“APA ITU?!”

DOR! DOR! DOR!

Seseorang berdiri di tengah lobi, memegang pistol canggih berwarna coklat dengan laras transparan berisi cahaya kuning. Setiap tembakan menghasilkan lingkaran cahaya yang menyedot hantu-hantu satu per satu.

“Target netralisasi: selesai.”

Dalam hitungan detik, semua hantu lenyap.

Gadis itu menurunkan senjatanya, mengangkat kacamata bulat di wajahnya dengan jari telunjuk, menatap ke arah bawah meja.

“KALIAN BERISIK BANGET KAYAK GORILA, TAU?!”

Chika, Princes, dan murid-murid keluar perlahan dari bawah meja.

Chika menatap pistol itu dengan mata berbinar.

“Wah! Kamu bisa nyedot mereka semua! Itu keren!”

Gadis itu mendengus.

“Kau aja yang penakut.”

Chika terasa seperti ditampar kenyataan.

“…oh.”

Gadis itu memutar senjatanya.

“Udah ya, kalian semua. Aku lagi memperbaiki pistolku.”

Dua gadis iblis kembar muncul di sampingnya, bertanduk kecil, kulit kemerahan, mata kuning.

Gadis itu berkata,

“Tina, Tinasya. Ayo kita selesaikan penelitian kita.”

“Siap, Beatrix,” kata mereka bersamaan.

Mereka bertiga berjalan masuk ke lorong gelap.

Tanpa disadari Chika, Hero Sword di pinggangnya bergetar pelan.

HUUUMM…

Chika dan Princes terpaku menatap punggung gadis itu.

Chika menoleh ke murid sihir di dekatnya.

“Eh… kalian tahu siapa nama gadis itu?”

Seorang murid berbisik.

“Itu Beatrix.”

Murid lain menambahkan,

“Ilmuwan aneh. Tidak bisa sihir, tapi bikin senjata buat nangkap hantu.”

Yang lain menyeringai.

“Dan… dia rasis.”

Chika mengernyit.

“Rasis?”

“Iya,” kata murid itu. “Dia selalu bilang orang kuat itu kayak gorila.”

Princes menatap Chika.

“…Chika?”

Chika tersenyum polos.

“Kalau aku disebut gorila… itu pujian, kan?”

Dari lorong jauh, suara Beatrix terdengar samar.

“GORILA BERBAJU BESI JANGAN NGINTIP PENELITIAN ORANG!”

Chika membeku.

“…eh.”

...----------------...

Lorong tempat Beatrix menghilang masih bergetar samar oleh cahaya senjatanya yang tadi. Udara di sana berbau ozon dan debu kapur sihir, seperti habis ada petir kecil meledak di dalam gedung. Lampu kristal di dinding berkedip-kedip, tik… tik… seolah ikut gugup.

Chika dan Princes berdiri di mulut lorong itu, menatap ke dalam kegelapan.

“Dia masuk situ…” gumam Chika, helmnya sedikit miring karena tadi terbentur meja.

Princes memeluk lengannya sendiri.

“Lorongnya kayak mulut naga… gelap banget…”

Seorang murid laki-laki dengan topi penyihir kebesaran mendekat, wajahnya pucat.

“Ma… maaf, Kesatria… atas apa yang dikatakan Beatrix barusan…”

Chika menoleh, lalu menyentuh pipinya sendiri seolah baru sadar.

“Jadi… aku secantik ini dibilang gorila, ya…”

Princes langsung menggenggam tangan Chika erat-erat, matanya serius sekali.

“Tidak, Chika! Kamu cantik banget! Kekuatanmu aja yang kayak gorila!”

Chika terdiam.

“…itu hinaan… atau pujian?”

Matanya berkaca-kaca, lalu ia menangis kecil sambil tersenyum bodoh.

“Huuu… makasih, Princes…”

Para murid saling pandang, bingung apakah ini momen haru atau aneh.

Chika mengusap matanya dengan ujung sarung tangan besi.

“Tapi… kenapa sih ada banyak hantu di sekolah ini?”

Seorang murid perempuan menjawab pelan, suaranya gemetar.

“Kami juga belum tahu pasti… kenapa setiap murid yang mati selalu bergentayangan… dan… setiap bulan… ada murid yang tiba-tiba menghilang…”

Suasana jadi berat. Angin dari lorong berdesir dingin, membawa suara jauh seperti langkah kaki: tap… tap… tap…

Chika mengepalkan tangan.

“Seram, ya… tapi aku akan membantu sekolah ini.”

Murid itu terbelalak.

“Be… benarkah?”

Chika mengangguk mantap.

“Iya. Mana mungkin aku membiarkan orang hilang di sini. Mereka pasti dalam bahaya.”

Princes mengangguk keras sampai topinya hampir jatuh.

“Iya, Chika! Kamu benar!!”

Beberapa murid langsung bertepuk tangan kecil, walau masih ketakutan.

Mereka pun mulai menyusuri lorong berikutnya. Dindingnya penuh lukisan penyihir yang matanya terasa mengikuti mereka. Lantai batu memantulkan suara langkah: klok… klok… klok…

Di ujung lorong, mereka menemukan pintu besi besar dengan ukiran rune. Di depannya ada ruangan kecil berisi balok-balok batu raksasa dan lantai penuh simbol.

“Ini… teka-teki pintu,” gumam salah satu murid. “Kalau salah dorong batu… jebakan aktif.”

Chika mendekat ke balok batu sebesar lemari.

“Dorong batu? Itu mah gampang.”

Ia mendorong satu balok.

GROOOOM…

Balok bergeser… dan tiba-tiba dari langit-langit keluar anak panah sihir.

“AAAA!”

Chika refleks memutar tubuh, menangkis dengan Hero Sword.

TING! TING! TING!

Princes bersembunyi di balik jubah Chika.

“Ini gampang di mana, Chika?!”

Chika berkeringat.

“…aku lupa mikir dulu.”

Mereka mencoba lagi, kali ini memperhatikan simbol lantai. Princes menunjuk satu rune berbentuk bintang.

“Yang itu… kayak di buku sihir…”

Chika mendorong balok ke simbol itu.

KLIK.

Pintu besi bergetar.

GROOOONNNGG…

Perlahan terbuka, mengeluarkan kabut dingin.

Chika menelan ludah.

“Kalau di balik pintu ini ada hantu…”

Princes menatapnya.

“Kita lari bareng.”

Chika tersenyum.

“Deal.”

Mereka melangkah masuk, tanpa tahu bahwa di dalam sana, sesuatu sedang menunggu—dan mungkin… murid yang hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!