"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Kael terdiam cukup lama, kerutan di keningnya menebal, sepertinya cowok itu sedang berpikir keras.
"pak.." panggil mahiya meringis, perutnya terasa melilit.
"bisa nggak kita bicara lagi nanti, saya lapar"
Kael tersadar, melirik arloji di tangan kanannya. Sudah waktunya makan siang rupanya.
"ikut aku.." perintahnya, pria itu berdiri melangkah ke arah pintu.
"kemana?"
Wajah mahiya kebingungan, tapi dia juga langsung berdiri.
"kita bicarakan sambil makan siang, tapi sebelum itu saya harus ijinkan kamu ke kepala perawat dulu, kamu nggak usah masuk lagi setelah ini"
"pak.." mahiya pengen protes, tapi pria itu sudah hilang di balik pintu, mau nggak mau mahiya berlari mengejarnya.
"pak kael.." panggil mahiya lagi, setelah dia berada di samping pria itu, matanya masih membelalak protes
"nggak bisa gitu dong pak, ntar saya bermasalah dengan senior dan yang lainnya"
"siapa yang akan berani cari masalah sama calon istri direktur rumah sakit ini"
Kael tetap melangkah, tanpa menoleh pada mahiya yang tersentak kaget. Langkah kaki cewek itu sontak terhenti, wajahnya pias.
"ayoo, mahiya, katanya kamu lapar!"
Tergeragap mahiya, berlari kecil mengejar langkah panjang kael yang sudah berada di dalam lift menunggunya.
"aku pasti jadi bahan gosip nih" gumam mahiya pelan, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dibalik jilbab hitamnya itu.
"gimana aku jelasin ke abi dan ummi?" keluhan mahiya terdengar lagi, walau itu seperti ditujukan untuk dirinya sendiri, kael tetap bisa mendengarnya.
"tenang saja mahiya, urusan orangtuamu, itu urusan saya"
Mahiya menoleh, tapi kembali memalingkan wajahnya.
"saya harap bapak nggak serius, saya masih pengen kuliah pak, belum kepengen jadi seorang istri"
"saya akan tetap mengijinkan kamu kuliah, mahiya!"
"hhhhhhhh..." dengus mahiya keras, kepalanya mendadak pusing.
Nih cowok kesambet apa sih, mahiya nggak habis pikir. Masa' cowok setampan dia nggak punya pacar, trus ngajak kawin kek ngajak kondangan lagi.
Tetiba mata indah mahiya membola, senyum penuh arti kelihatan mecurigakan di ujung bibirnya.
"heummm" kepalanya manggut-manggut sambil senyum usil.
'mungkin dia butuh aku untuk menutupi orientasi seksnya..hihhh' tiba-tiba mahiya bergidik ngeri,
Kepalanya menoleh, menatap tak percaya cowok tampan yang berdiri di sampingnya. Sepertinya kael sedang dalam sebuah obrolan, bibir seksi pria itu tersenyum manis.
"hiiihhh.." mahiya bergidik lagi, membayangkan kael sedang berchat mesra dengan pasangannya.
"kamu kenapa?" kael mengerutkan keningnya heran, melihat gadis itu yang kelihatan geli bergidik.
"pak kael.., bisa nggak kita bicarain ini serius, pernikahan itu bukan permainan loh pak, bisa kualat kita kalau mempermainkan ibadah seumur hidup itu" ujar mahiya, gadis itu bersidekap menghadapkan tubuhnya ke arah kael, menunjukkan wajahnya yang serius.
"kita kan emang mau bicarain ini, mahiya. Dan jangan ngomong sembarangan begitu, siapa juga yang mau mempermainkan pernikahan" jawab kael santai, ekspresinya seperti biasa, datar.
Mahiya terdiam, nggak tahu mau ngomong apa lagi,benaran nggak habis pikir dia, mengapa cowok ini memilihnya dari banyak perempuan yang ada di rumah sakit.
Di bangsal perawat bejibun cewek cantik, dan tentu saja sudah dewasa, atau pria ini penyuka daun muda, mahiya melirik dengan sudut matanya. Gadis itu mengetuk-etuk dagunya dengan jari telunjuk, bibirnya juga ikut monyong-monyong.
"ehh.."
Mata mahiya mendelik, celingukan keheranan.
"lah pak, katanya mau ngijinin saya ke nurse station, kok kita udah di sini aja"
"saya sudah suruh rifki, kamu pulang jam berapa?, saya juga udah minta rifki untuk beresin barang kamu dan di antarkan keruangan saya, nanti selesai shift kamu"
Kael melangkah menuju mobil hitam yang terparkir di depan parkiran khusus staf rumah sakit. Mahiya yang masih memakai seragam perawat lengkap dengan cap di kepalanya, mencuri perhatian beberapa staf yang lewat.
Mahiya terburu-buru masuk ke dalam mobil, melihat rombongan perawat yang menatapnya sambil bisik-bisik, jujur mahiya langsung merasa risih.
"kamu suka kisah cinderella nggak mahiya?"
"hah?, apa pak?" mahiya menoleh, matanya memicing penuh tanya.
"barusan bapak nanya apa?"
Kael yang sedang fokus, belum menjawab. Pria itu sedang mengamati persimpangan yang sedikit padat, mungkin karena jam makan siang, jalanan lumayan ramai.
"tadi saya tanya, kamu suka kisah cinderella nggak?"
Kael melirik mahiya yang langsung menggeleng,
"nggak pak, saya sukanya merida, saya nggak suka kisah perempuan yang cuman ngandelin kecantikannya doang"
Kael manggut-manggut, tapi yah gitu wajahnya tetap datar, mahiya nggak bisa membaca ekspresi wajah tampan di sampingnya itu.
"tapi hari ini, kamu akan berperan sebagai cinderella gimana?"
"maksud bapak?" mahiya mengerutkan keningnya, gadis itu tak paham maksud direkturnya itu.
"setelah makan siang, saya akan ajak kamu belanja, karena malam nanti keluarga saya pengen ketemu kamu"
Mahiya terkejut, dengan mata indahnya yang mendelik tak percaya. Bibirnya yang mungil tapi sensual itu melongo, raut wajah mahiya mirip kek kambing ompong, tapi bedanya dia tetap cantik.
"hemmm.." kael berdehem, memecah sesuatu yang mencekat di tenggorokannya, bisa-bisanya dia terpana tadi, terpana oleh seorang gadis cilik.
"pak.. Jadi seriusan nih?" mahiya menatap lekat kael yang tersentak.
"trus saya gimana nanti?, aduh pak kok bapak nambahin beban hidup saya aja sih"
"heiii, apa kamu bilang?, beban hidup?, saya?"
Kael kesal dikatain beban, dengan tangannya sebelah memegang setir mobil, bolak-balik menoleh protes, wajah tampannya gelap.
Mahiya yang tahu salah ngomong, ikutan gelisah, mana tuh cowok jadi nggak fokus nyetirnya,
"pak..lihat depan, saya masih pengen hidup"
"kamu jelasin apa maksud beban itu tadi, mahiya"
"siap.." sahut mahiya cepat, nyengir kuda sambil menghormat kek upacara bendera, kael memalingkan wajahnya, senyumnya tertahan di bibirnya yang mengatup.
Kael memarkirkan mobilnya di depan sebuah warung makan lesehan, mahiya mengernyitkan keningnya heran. Melihat latar belakang keluarga besar pria ini, ternyata kael cukup sederhana dan merakyat.
Mahiya mengikuti kemana langkah kael, pria itu menuju ke sebuah saung yang terletak paling ujung. Rumah makan itu memang menyediakan saung-saung, jadi kesannya seperti lagi di pedesaan.
"kamu mau makan apa?" tanya kael, saat pelayan datang yang membawa daftar menu.
"samain kek bapak aja deh, yang penting mah makan, saya omnivora pak"
Kael tersenyum, ternyata mahiya bukan tipe gadis yang jaim, kael menyerahkan pesanannya.
"mahiya..!"
"ya pak!" sahut mahiya, kepalanya masih celingukan mengamati sekitarnya.
"bagaimana tawaran saya tadi?, saya serius mengajak kamu menikah!"
Mahiya menarik nafas dalam-dalam, kini wajahnya terlihat serius.
"saya masih 19 tahun pak, kalaupun menikah, secara kesehatan saya belum boleh melakukan hubungan suami istri"
Kael hampir tersedak, air minum yang baru diteguknya muncrat dan membasahi lengan bajunya.
Matanya menatap tak percaya gadis yang duduk di depannya, berbicara santai hal seperti itu, tanpa risih.
Kael menerima tissu yang gadis itu ulurkan, dia mengusap bibirnya yang basah.
"emang kamu belum pernah begituan?"
"astaghfirullah pak.." mahiya berseru kaget, kepalanya menggeleng-geleng tak terima.
"jelek-jelek gini, saya masih perawan loh pak, fresh belum pernah pacaran"
Kael hampir terbahak, melihat ekspresi mahiya yang keberatan, tapi jujur kael kaget. Masih adakah zaman sekarang gadis yang masih menjaga kesuciannya, tapi melihat mata mahiya, kael tahu gadis itu jujur.
"siapa yang bilang kamu jelek?"
Kael kaget, mulutnya langsung mengatup. Mahiya malah cengir-cengir nggak karuan, mata cantiknya malah kedip-kedip kek lampu taman, bukannya tersipu malu, gadis itu malah nyengir kek kuda.
Kael menggeleng nggak habis pikir, sepertinya mahiya bukan cewek kebanyakan, rada somplak.
Bersambung..