Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Pelayan yang Dihina
Hujan rintik membasahi halaman Akademi Pedang Awan Biru ketika Lin Feng membawa keranjang besar berisi pakaian kotor para murid dalam. Tangannya merah karena air dingin, punggungnya sakit karena membungkuk sejak subuh, tapi ia tidak mengeluh. Mengeluh tidak akan mengubah apapun.
"Hei, sampah!"
Lin Feng menghela napas. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya. Suara arogan itu sudah terlalu familiar.
"Aku bicara padamu Lin Feng!" Zhao Ming, seorang murid dalam Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Ketiga, berjalan mendekat dengan lima temannya. Senyum mengejek terpasang di wajahnya.
"Apa kamu tuli sekarang? Atau Akar Spiritual Kekacauan-mu juga merusak pendengaranmu?"
Teman-temannya tertawa. Lin Feng kemudian meletakkan keranjang dan membungkuk sopan. "Maaf, Kakak Senior Zhao. Saya sedang fokus membawa cucian. Ada yang bisa saya bantu?"
"Fokus?" Zhao Ming mendengus. "Untuk apa pelayan sampah sepertimu butuh fokus? Oh tunggu, aku lupa, kamu masih bermimpi menjadi kultivatorkan?"
Teman teman Zhao Ming banyak yang tertawa terbahak-bahak. Lin Feng mengepalkan tangannya, tapi tetap menjaga ekspresi wajahnya yang tenang. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak ia menjadi pelayan di akademi ini. Sepuluh tahun dihina, direndahkan dan dijadikan bahan lelucon.
Tapi ia tetap bertahan. Karena di sinilah ia bisa belajar, bahkan hanya dengan mengamati dari kejauhan, bahkan hanya dengan membaca buku-buku lama yang dibuang ke gudang oleh akademi.
"Dengarkan baik-baik Lin Feng," Zhao Ming melangkah lebih dekat, qi-nya mulai mengalir membuat udara di sekitarnya bergetar.
"Aku muak melihat wajahmu di akademi ini. Kamu tahu kenapa? Karena kamu mengingatkanku bahwa orang sampah sepertimu masih bisa masuk ke akademi terhormat ini. Itu sangat memalukan."
"Kakak Senior Zhao..."
"Diam!" Zhao Ming mendorong dada Lin Feng, membuatnya tersandung ke belakang. Keranjang cucian yang dipegang nya terjatuh, pakaian-pakaian yang sudah dicuci sebelumnya berserakan di tanah.
"Kamu pikir kamu layak berbicara denganku?"
Lin Feng menatap pakaian-pakaian yang sudah ia cuci sejak pagi, kini kotor kembali. Sesuatu di dadanya terasa sakit, bukan karena sakit fisik tapi karena kelelahan. Kelelahan dari kehidupan seperti ini.
"Minta maaf sekarang juga," perintah Zhao Ming. "Berlutut dan minta maaf karena telah menodai akademi ini dengan kehadiranmu."
Keheninganpun terjadi diantara mereka. Lin Feng mengangkat kepalanya menatap langsung ke mata Zhao Ming. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun ia berkata, "Tidak."
Ekspresi Zhao Ming seketika berubah menjadi marah. "Apa kau bilang?"
"Aku bilang tidak." Lin Feng berdiri dengan tegak, meskipun jantungnya berdetak lebih kencang. "Aku tidak akan berlutut. Bukan untukmu dan bukan untuk siapapun."
"Sekarang Kau berani ya.!" Zhao Ming mengangkat tangannya, seketika qi petir berkumpul di telapak tangan nya. "Sepertinya kau butuh pelajaran tentang menghormati yang lebih kuat!"
"Zhao Ming!"
Suara dingin memotong ketegangan di antara mereka. Seorang gadis cantik berpakaian biru langit berjalan mendekat. Rambut hitamnya diikat tinggi, mata tajamnya menatap Zhao Ming dengan marah.
"Senior Bai!" Zhao Ming segera menarik qi-nya kembali, dan membungkuk dengan hormat. "Aku hanya..."
"Hanya apa? Menggertak seorang pelayan?" Ucap Bai Yun melirik ke arah Lin Feng sekilas sebelum kembali ke Zhao Ming. Bai Yun adalah salah satu jenius murid dalam, yang sudah berada di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Keenam.
"Bukankah kamu punya hal yang lebih berguna untuk dilakukan? Atau mungkin kultivasimu sudah begitu sempurna sehingga kamu punya waktu untuk bermain-main?"
Wajah Zhao Ming memerah. "T-tidak, Senior Bai. Aku... aku akan kembali berlatih."
"Bagus." Bai Yun melipatkan tangannya. "Dan Zhao Ming? Jika aku mendengar kamu mengganggu pelayan lagi, aku akan melaporkanmu ke Tetua Feng. Beliau sangat tidak menyukai murid yang menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah."
Zhao Ming menggertakkan giginya tapi tidak berani membantah. Dengan satu pandangan benci terakhir pada Lin Feng, ia pergi bersama teman-temannya.
Lin Feng membungkuk pada Bai Yun. "Terima kasih, Kakak Senior Bai."
"Tidak perlu berterima kasih." Bai Yun menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tapi Lin Feng... kenapa kamu masih bersikeras bertahan di sini? Dengan Akar Spiritual Kekacauan mu, kamu tidak mungkin bisa berkultivasi. Kenapa tidak mencari kehidupan lain? Menjadi seorang pedagang, atau petani, atau apapun yang tidak akan membuatmu dihina setiap hari?"
Lin Feng terdiam. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa sepuluh tahun lalu, ia bersumpah di depan makam keluarganya yang dibantai bahwa ia akan menjadi kultivator, bahwa ia akan menemukan pembunuh mereka, bahwa ia akan membalas dendam?
Bagaimana ia bisa bilang bahwa meninggalkan akademi ini berarti meninggalkan satu-satunya harapannya, bahkan jika harapan itu setipis benang yang akan putus kapan saja?
"Mungkin Karena aku keras kepala," jawab Lin Feng akhirnya, dan tersenyum pahit. "Terlalu keras kepala untuk menyerah."
Bai Yun menatapnya lama, lalu menghela napas. "Keras kepala memang baik. Tapi jangan sampai keras kepala membunuhmu." Ia kemudian berbalik untuk pergi, tapi tiba tiba ia berhenti.
"Oh ya Lin Feng. Perpustakaan tingkat bawah butuh dibersihkan malam ini. Tetua Shen yang bertugas sedang sakit, jadi kamu harus melakukannya sendiri. Kunci sudah di kantor pengurus."
"Baik, Kakak Senior."
Setelah Bai Yun pergi, Lin Feng berjongkok dan mulai mengumpulkan pakaian-pakaian kotor itu kembali. Tangannya gemetar karena amarah yang ia tahan.
'Sepuluh tahun,' pikirnya.
'Sepuluh tahun dan aku masih di sini, masih lemah, masih tidak berguna.'
💪💪💪💪