Gavin terpaksa menikah dengan Ayana, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya membawa semua barang yang seharusnya untuk acara resepsi.
Ayana merupakan asisten pribadi pilihan ibunya yang baru bekerja selama tiga bulan. Selama itu pula mereka tak pernah akur dan selalu berselisih paham. Bagaimana saat mereka menikah nanti?
Ayana sering tak ada di kamarnya setiap malam Minggu, dan Gavin mulai meras penasaran dengan jati diri Aruna. Siapakah dia sebenarnya? karena selain suka mendebatnya, Ayana juga pintar bela diri.
Bagaimana kisah Gavin dan Ayana? terus ikuti ceritanya ya kak... 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin-Ayana 14
Gavin benar-benar terpukul dengan kenyataan yang dia terima. Wanita yang selama ini dia cintai dan agungkan, nyatanya adalah tak lain dari seorang wanita yang licik. Dia tak ingin percaya dengan semua bukti yang dia terima. Namun semuanya terlihat jelas dan itu semua bukanlah rekayasa. Bahkan di antar banyak pria ada juga video mesra Vania bersama dengan salah satu teman Gavin.
"Sial-an! Aku tak ingin percaya semua itu, Vania! Di mana kamu? Aku harus bertemu dan membicarakan semuanya! Kamu berhutang penjelasan padaku!" teriak Gavin dengan suara lirih menahan perih di dalam hatinya.
Mami dan papinya pasti akan tertawa saat melihat Gavin mengetahui semua kebusukan Vania. Wanita yang selalu dia agungkan dan puji di depan keduanya karena kedua orang tuanya selalu menolak hubungannya dengan Vania. Dan kini semuanya sudah terjawab alasan keberatan dari keduanya karena Vania bukanlah wanita baik-baik yang pantas di jadikan pendamping hidup olehnya. Namun sekarang dia juga malah menyeret Ayana ke dalam masalahnya. Hanya karena kesal saat melihat Ayana menahan tawa, Gavin mengira kalau Ayana mentertawakan dirinya yang gagal menikah.
Waktu menunjukkan lebih dari pukul sebelas malam dan Gavin masih terjaga. Kepalanya terasa sangat pusing, hatinya porak-poranda. Dia merasa dadanya sesak dan berjalan menuju balkon untuk mencari ketenangan. Angin malam menghembus ke wajahnya. Dia memejamkan mata merasakan udara malam yang khas. Berharap mendapatkan ketenangan.
"Bukannya itu Ayana? Mau kemana dia mengendap-ngendap keluar dari dalam rumah tengah malam begini? Dia bawa motor besar miliknya juga. Apa dia mau kabur?" ujar Gavin saya melihat Ayana menuntun motor besarnya tak jauh dari rumah mereka. Tak lama dia menyalakan mesin motornya dan pergi menjauh dari sana. Gavin mengerutkan keningnya dan segera keluar dari dalam kamar, berlari menuju kamar Ayana. Memastikan jika yang keluar tadi malam adalah Ayana.
"shit! Ternyata malah di kunci dari dalam kamarnya! Memang dia fikir aku akan masuk ke kamar dia dan berharap kami bisa melewati malam pertama seperti pengantin baru apa!" omel Gavin.
"Kalau dia benar-benar pergi, dia harus minta izin padaku! Aku kan suaminya dan dia adalah istriku! Dia tentunya harus meminta izin kalau pergi kemana-mana kan? Tapi apa benar itu Ayana?" ujar Gavin mondar mandir di depan kamar Ayana yang tak jauh dari kamarnya. dia terlihat gelisah saat mengetahui kamar Ayana di kunci.
"ck! Kenapa kamu malah mikirin dia? Bodo amat dia mau ngapain juga! Bukan urusanku ini! Tapi dia sekarang istriku kan? Ah sial! Kenapa kepala aku malah makin pusing mikirin Ayana juga?" umpat Gavin dan memutuskan kembali ke dalam kamarnya.
Sedangkan di tempat lain, orang yang di lihat Gavin memanglah Ayana, istrinya. Dia pergi menuju ke sebuah markas tempat dirinya bekerja selama ini.
"Selamat malam Nona ..." sapa mereka, Ayana mengangguk pelan.
"Kenapa terlambat?" tanya suara bariton di sebelah Ayana membuat dia melirik ke arahnya.
"Maaf bang! Duniaku seperti terombang-ambing sekarang. Aku terjebak dalam pernikahan iseng karena ulah Gavin yang menunjuk aku menjadi istri pengganti karena istrinya kabur membawa uang beserta semua perhiasannya!" ujar Ayana menekuk wajahnya dan menjatuhkan bobot badannya di sofa.
"Apa? Kenapa bisa? Lalu rencana yang sudah kita susun bagaimana? Apa semuanya akan kamu cancel? Lagian kenapa kamu mau? Kamu bisa menolaknya dan kabur kan?" tanya pria itu kaget.
"Abang tahu sendiri aku tak bisa menolak permintaan Bu Tanisa dan Pak Evan apalagi mereka selama ini sudah berjasa dalam hidupku! Ah aku pusing! Rencana kita akan tetap berjalan, namun mungkin aku akan mengubah waktu menyesuaikan dengan keadaan aku yang bisa kabur dari rumah. Aku yakin juga pernikahan aku dan dia tak akan bertahan lama! apalagi tadi aku sudah mendapatkan bukti semua kebohongan dan keburukan dari Vania dan juga keluarganya. Mungkin hanya tinggal tunggu waktu saja bicara kepada kedua orang tuanya. Lagi pula dia menikahi ku karena asal tunjuk kesal saat aku menahan tawa," jawab Aruna.
"Semoga saja seperti itu! Ini ada tugas untukmu, dan aku yakin pria ini ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuamu! Kita bisa mulai dari orang ini. Kebetulan ada klien yang menginginkan dia terbaring lemah, bukan mati!" ujar pria itu menunjukan berkas lengkap seorang pria yang akan menjadi target Aruna sekarang.
"Apa Abang Ren yakin jika dia ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuaku?" tanya Ayana sedikit ragu.
"Lihatlah biodatanya, dulu pria ini pernah bekerja bersama dengan kedua orang tuamu. Aku yakin dia itu sesuatu mengenai yang terjadi kepada mereka. Karena dari data yang gampang dapat setelah kematian kedua orang tuamu satu tahun kemudian dia mendapatkan uang yang banyak dan mendirikan perusahaan sendiri. Mencurigakan kan? Kalu kamu ingin tahu lebih banyak lagi, cari tahu sendiri!" jawab Pria yang Ayana panggil Bang Ren.
"ck! Kebiasaan!" kesal Ayana mencebik, Ren malah tertawa terbahak.
"Apa kamu yakin tak akan jatuh cinta kepada pria itu? Apalagi kamu satu ruang dengannya?" tanya Ren saat Ayana malah pergi ke tempat menembak.
Jika Ayana datang ke tempat latihan menembak artinya dia sedang membutuhkan fokusnya kembali. Ren tahu betul Ayana seperti apa.
"Kenapa Abang tanya begitu?" Tanya Ayana. Ren malah mengangkat kedua bahunya.