Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Tangannya terangkat sedikit untuk menerimanya, tapi ingatan akan pesan kakek Zeno. "Bantu orang tanpa pamrih, Abram. Tapi jika mereka mampu, terimalah apa yang mereka berikan, itu adalah bentuk rasa hormat mereka. Jangan pernah mengambil dari orang yang tidak mampu."
"Apakah ibu orang kaya?" tanya Abram tiba-tiba, membuat seluruh keluarga Sinta terdiam. Mereka saling memandang, tampak khawatir.
Mata ibu Maya memeriksa wajah Abram seolah ingin memahami maksud pertanyaan itu. Dia takut jika dia bilang "kaya", Abram akan meminta lebih dari amplop ini. Mereka sudah kehabisan Rp 150 juta selama pengobatan Maya keliling rumah sakit, uang hasil penjualan sawit dan tanah milik ayah Sinta.
Tapi di bandingkan itu, kesembuhan Sinta adalah yang utama. Abram adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat putri bungsunya sadar, setelah beberapa dokter spesialis menyerah.
"Kami bukan berasal dari orang kaya," kata ibu Maya akhirnya, suara nya gemetar. "Tapi kalau uang ini tidak cukup, kami punya sebidang tanah dengan luas 20x20 meter di pinggir kota, dekat danau. Apa Anda mau menerimanya?"
Abram segera menggelengkan kepala. "Ah, bukan itu maksud saya, bu. Jika Anda tidak punya uang untuk membayarnya, maka ambil kembali uang ini. Saya tidak bisa menerima uang dari orang yang benar-benar membutuhkannya."
Wajah ibu Maya membaik. Mata nya berkaca-kaca, dan dia mengucek mata nya dengan sapu tangan. "Ya ampun, kamu baik sekali! Tidak apa-apa, terimalah uang ini. Ini adalah sebagian kecil dari biaya pengobatan Sinta selama ini. Tolonglah diterima sebagai bentuk untuk menghargai kami."
Abram ragu-ragu sebentar, kemudian menerima amplop itu. Tangan nya gemetar, ini adalah pertama kalinya dia menerima uang sebesar itu dari orang lain. "Maaf ya bu, saya terima uangnya."
"Ngomong-ngomong. Apa kamu sudah menikah?" tanya ibu Maya tiba-tiba, tanpa basa-basi
Abram terkejut. Pertanyaan itu keluar begitu tiba-tiba. Wajahnya memerah.
Dia tidak pernah membayangkan ada orang yang membahas pernikahan dalam situasi ini. Hanya semalam, dia hampir kehilangan nyawa saat menyelamatkan Sinta dan sekarang ibu Rania menanyakan tentang pernikahan?
"Saya... belum, bu," jawab Abram sambil menggenggam amplop itu lebih erat. Dia menoleh ke Dokter Rahmat, yang sedang menyusun alat medis dengan tenang, seolah tidak mendengar pertanyaan itu.
Ibu Maya tersenyum tipis, pandangannya melirik Sinta yang berdiri di samping ayahnya dengan wajah merah muda akibatkan kelegaan. "Kalau begitu, bagaimana dengan Sinta? Sudahkah dia punya pasangan?" tanyanya lebih lanjut.
Abram bingung. Mengapa ibu Maya tiba-tiba membahas soal pernikahan? Dia hanya menyelamatkan putrinya dari kematian
"Anak ibu baik-baik saja, bu. Saya hanya melihat dia saat dia sadar," jawab Abram polos. Ia mengalihkan pembicaraan dan pura-pura tidak tahu ucapa bu Maya.
Sang ayah, Bapak Hidayat, yang selama ini diam, tiba-tiba membuka suara. "Kami melihat bagaimana Anda mendekati Sinta di ruang gawat darurat. Mata Anda penuh perhatian, dan ketika dia koma, Anda tidak ragu untuk memberikan pertolongan. Kami merasa... ada yang istimewa antara Anda berdua."
Abram tertegun. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada 'sesuatu' yang terlihat oleh keluarga Sinta.
Dia hanya berpikir untuk membantu, seperti yang dia lakukan setiap kali ada orang yang membutuhkan.
Ingatannya kembali pada pesan kakek Zeno: "Bantu orang tanpa pamrih, Abram. Ketika kamu membantu, biarlah itu seperti air hujan yang jatuh ke tanah, ia memberi manfaat tanpa meminta balas."
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya