NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun yang Sama

Setengah jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah bangunan mewah bernama Javaland. Tempat itu memiliki halaman belakang yang luas, lengkap dengan pemandian air panas, taman, dan kolam renang. Pintu utamanya dijaga petugas keamanan selama dua puluh empat jam.

“Ikut aku.”

Setelah turun dari mobil, Renatta langsung memimpin jalan. Mereka bergegas menuju sebuah kamar tidur.

Di dalam kamar mandi pribadi, Maureen terlihat sedang berendam di dalam bak mandi yang penuh dengan bongkahan es. Dia masih mengenakan setelan bisnisnya.

Wajahnya memerah, pandangannya kabur, dan napasnya terdengar berat. Setiap kali dadanya naik turun, permukaan air ikut beriak.

“Nona Wiraningrat, Kamu kenapa?” Hans mendekat.

Namun begitu menyadari bahwa Maureen tidak mengenakan apa pun di balik setelannya, dia sedikit tertegun. Awalnya tidak terlalu terlihat, tetapi ketika kain pakaiannya perlahan basah oleh air, beberapa bagian kulitnya mulai tampak samar.

Sebagai pria normal, Hans tentu sulit mengalihkan pandangan dari wanita secantik Maureen dalam keadaan seperti itu.

“Pak Rinaldi … Anda datang .…” Maureen membuka matanya yang buram dan berbicara dengan susah payah. “Tubuhku panas banget. aku haus … dan sakit … Rasanya dadaku kayak terbakar. Cepat … tolong cek apa yang terjadi .…” katanya sambil mengulurkan pergelangan tangannya.

Hans mengamati sebentar dan langsung menemukan masalahnya.

“Nona Wiraningrat, kalau aku gak salah, Kamu sepertinya kena obat. Dan ini jenis afrodisiak yang cukup kuat.”

“Omong kosong! Siapa yang berani ngasih obat ke kakak aku?” bentak Renatta.

“Terus aku harus gimana sekarang, Pak Rinaldi?” tanya Maureen dengan lemah.

“Walau ini kasus khusus, masih bisa diobati. Tapi kita harus pindahin Kamu ke tempat tidur dulu. Susah buat ngasih perawatan kalau Kamu tetap di bak mandi ini.” Hans memberi isyarat agar dia berdiri.

Maureen mengangguk dan berusaha bangkit. Namun baru saja melangkah keluar dari bak mandi, kakinya terpeleset dan tubuhnya jatuh ke arah Hans.

Secara refleks, Hans langsung menahan tubuhnya. Tangannya terulur untuk menopang Maureen, dan tanpa sengaja menyentuh payudaranya.

Maureen merasa seolah tubuhnya tersambar petir. Pada saat itu, keduanya langsung membeku di tempat.

Pikiran Hans kosong, sementara ekspresi Maureen terlihat gelisah. Bulu matanya bergetar, napasnya tersendat. Rasa panas di dalam tubuhnya justru semakin membesar.

Tanpa peringatan, Maureen membuka bibirnya dan mengangkat kepala, lalu mendekat untuk mencium Hans.

“Eh! Kalian lagi ngapain sih di siang bolong? Gak malu apa?” teriak Renatta dari pintu ketika melihat pemandangan itu.

Dia menutup wajahnya dengan tangan, tetapi matanya yang penasaran tetap mengintip dari sela-sela jari. Tanpa sadar, dia terus memperhatikan mereka berdua yang sedang berciuman.

“Maaf, aku gak sengaja.” Hans langsung sadar dan buru-buru mendorong Maureen menjauh. Wajahnya terlihat canggung. Semuanya terjadi terlalu cepat sampai dia tidak sempat berpikir.

“Nggak apa-apa. Salah aku juga. Obatnya mungkin terlalu kuat, jadi aku benar-benar gak bisa ngontrol diri,” jawab Maureen dengan nada lembut.

Saat berbicara, dia melirik Renatta dengan kesal, diam-diam mengutuk adiknya yang sudah merusak kesempatan langka untuk mendekati seorang pria.

Renatta seharusnya bisa saja pergi. Kenapa harus teriak segala?

Maureen dalam hati langsung memutuskan akan memotong uang saku Renatta bulan ini.

“Renatta, bantu kakakmu tiduran di tempat tidur,” kata Hans.

“Hmph! Ya jelas aku bantu. Kamu kira aku bakal biarin Kamu manfaatin dia lagi?” Renatta memutar matanya, lalu menahan Maureen yang masih kesal dan membawanya ke tempat tidur.

“Nona Wiraningrat, tolong lepas kemeja Kamu lalu berbaring tengkurap,” tambah Hans.

“Hah? Dasar mesum! Kamu mau ngapain?” Renatta langsung marah.

“Jangan salah paham. Aku harus pakai metode tusuk jarum buat ngeluarin racun dari tubuh kakakmu. Kalau nggak, kondisinya bakal makin parah sampai dia benar-benar kehilangan kendali,” jelas Hans dengan sabar.

“Serius? Kamu gak nakut-nakutin aku, kan?” Renatta menatapnya dengan curiga.

“Ngapain aku bohong soal hal beginian?” Hans tampak tidak percaya.

“Baiklah. Kali ini aku percaya. Tapi Kamu harus membelakangi kami. Jangan ngintip!” kata Renatta memperingatkan.

“Oke.” Tanpa banyak bicara, Hans langsung berbalik.

“Maureen, pakai bra kamu. Jangan sampai dia macam-macam,” kata Renatta sambil menyerahkan bra kepada kakaknya.

“Ah … perhatian banget kamu, Renatta,” suara Maureen terdengar tertahan.

“Nggak usah berterima kasih. Sini aku bantu.” Dengan wajah puas, Renatta membantu Maureen memakainya.

Setelah itu, Maureen meliriknya dan berkata, “Kayaknya Kamu bisa keluar sekarang. Jangan ganggu Pak Rinaldi waktu dia ngerawat aku.”

“Nggak bisa! Kalau dia macam-macam sama Kamu gimana? Aku harus ngawasin dia!” Renatta langsung menolak.

Sudut mata Maureen berkedut. Dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa menghadapi adiknya yang terlalu lurus seperti ini. Nanti dia harus memberi pelajaran pada gadis itu.

“Hey, Rinaldi. Sekarang Kamu boleh lihat,” kata Renatta akhirnya.

Setelah mendapat izin, Hans pun berbalik.

Maureen berbaring tengkurap dengan patuh. Punggungnya yang halus dan putih terbuka. Garis pinggul, pinggang, dan lehernya membentuk lekuk yang nyaris sempurna.

“Ngapain bengong? Cepat kerjain!” teriak Renatta dari samping sambil menatap Hans tajam.

Hans kembali menenangkan diri. Dia mengeluarkan jarum-jarumnya, lalu duduk di tepi tempat tidur dan mulai merawat Maureen.

Meskipun afrodisiak itu cukup kuat, sebenarnya tidak terlalu sulit ditangani setelah penyebabnya diketahui. Masalahnya hanya satu, tubuh Maureen terlalu menggoda. Ditambah ekspresinya yang memerah dan gelisah, jantung Hans sempat berdegup lebih cepat.

Untungnya, Hans memiliki konsentrasi yang sangat baik. Dia hanya fokus pada titik-titik penting agar tidak terpengaruh oleh pesona Maureen.

Sekitar lima belas menit kemudian, Hans menghela napas panjang dan mencabut semua jarum dari punggung Maureen.

“Nona Wiraningrat, racun di tubuhmu sudah bersih. Sisa efek obatnya bisa Kamu keluarkan dengan minum air putih lebih banyak.”

“Terima kasih sudah membantuku, pak Rinaldi.” Maureen tersenyum malu.

Di wajahnya yang sempurna masih tersisa pesona yang menggoda. Seperti anggur manis yang memabukkan.

“Maureen, cepat pakai kemejamu!” Renatta langsung membungkus kakaknya dengan rapat, seolah takut ada orang yang akan memanfaatkannya.

“Nona Wiraningrat, afrodisiak yang dipakai buat membius Kamu sangat mirip dengan racun yang dulu dipakai buat meracuni kakek kamu. Dari penilaian aku, kemungkinan besar pelakunya orang yang sama,” kata Hans tiba-tiba.

“Pantas aja aku merasa ada yang aneh.” Maureen mengangguk pelan sambil berpikir.

“Kalau dibiarkan terus begini, kejadian seperti ini bisa terulang lagi. Buat mencegahnya, kita harus cari tahu siapa dalangnya secepat mungkin,” saran Hans.

“Kamu punya rencana, Pak Rinaldi?” tanya Maureen.

“Aku harus ngerti situasinya lebih dulu. Aku harap kamu gak keberatan kalau aku ..…”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!