Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang Terlalu Nyata
Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester 2 Universitas Satya Buana. Tingginya cukup menjulang untuk ukuran Indonesia, 180 cm, senyum semanis es cendol dengan mata kharismatik. Ceile.
Dengan tongkrongan standar foto model begitu, agak mengherankan dia belum punya gandengan. Tongkrongannya ke kampus kalau nggak hujan bukan kaleng-kaleng, Kawasaki Ninja. Tapi kalau sedang hujan, dia naik mobil yang nggak kalah keren, sebuah sedan tua Toyota Soluna warna silver.
Apakah pernah ada cewek yang gonceng di Kawasaki Ninjanya? Nggak tahu. Yang sudah pasti, emaknya yang sering minta dianterin ke minimarket di depan kompleks rumahnya.
Masak nggak ada satu pun cewek yang hinggap di hati Randy? Nggak tahu juga. Yang jelas status Randy masih jomblo. Kalau malam Minggu, dia lebih senang ke pelosok-pelosok mengambil berbagai foto unik sesuai hobinya yang kadang bisa dijual di Shutterstock.
“Mosok yang difoto daerah kumuh, penjual cilok, atau tukang ngumpulin ranting melulu sih yang difoto?” goda Tatia, anak semester 2 Fakultas Ekonomi.
“Kamu nggak laku dijual di Shutterstock, Tat,” jawab Randy bercanda. “Aku belum nemu platform yang laku keras kalau jual foto cewek cakep kayak kamu.”
“Walah, gombal,” balas Tatia. “Aku di-make-up jadi penjual cilok dan ditawarin ke Shutterstock aja deh.”
“Hehehe, nggak kuat bayar tukang make-up-nya,” balas Randy sambil makan arem-arem di kantin.
“Sini aku fotoin. Judul fotonya bisa ‘Fotografer Lagi Makan Arem-arem’,” Yuli ikut nimbrung.
“Jangan, nanti malah jadi meme viral, hehehe,” jawab Randy cuek sambil tersenyum yang bikin cewek-cewek di kantin pada pesan minuman dingin karena kepanasan. “Aku cabut dulu ya, mau ke Tanah Abang, cari foto-foto eksotis di sana.”
“Ikut,” kata Tatia.
“Serius, jangan, Tat,” jawab Randy. “Beneran nanti susah njagain kamu, apalagi kamu lagi pakai rok mini gitu.”
Tatia cuma cemberut, dan Randy segera mengemasi tasnya yang berisi senjata wajibnya, kamera DSLR serta beberapa lensa, lalu langsung menuju parkiran, mengambil motornya, dan segera meluncur ke Tanah Abang.
Sesampainya di Tanah Abang, Randy langsung in action di medan perangnya itu, mengambil foto-foto di beberapa spot di daerah tersebut.
Dilihatnya seorang anak perempuan kira-kira lima belas tahun yang sedang menggendong adiknya yang berumur lima tahunan. Keduanya tampak dekil, berjalan menyusuri rel di Tanah Abang. Dengan lensa tele-nya, dari kejauhan Randy mengambil beberapa foto kedua anak itu dan tampak puas melihat hasilnya. Setelah itu, dia berlari ke arah kedua anak itu.
“Dik, ini roti buat kalian,” sapa Randy sambil mengeluarkan dua roti manis yang tadi dia beli di minimarket depan kompleks rumahnya. “Kalian kelas berapa?”
“Terima kasih, Om. Saya kelas sembilan, Om,” kata anak yang lebih tua. “Sedangkan adik saya ini belum sekolah.”
“Jangan panggil Om dong, berasa tua dan nanti ada yang salah paham. Panggil Bang aja,” kata Randy. “Tapi kenapa jalan-jalan di tengah rel begini? Kalau tahu-tahu ada kereta lewat dan nggak kedengaran bagaimana?”
“Hey!” Tiba-tiba obrolan mereka terputus. Ada seorang yang berteriak kepada mereka dengan nada tidak ramah. “Ngapain kamu di sini, Boy?”
“Saya lihat-lihat daerah sini, barangkali ada yang menarik, Bang,” kata Randy yang kelihatannya sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
“Sudah bayar tiket belum?” tanya orang tersebut dengan raut muka intimidatif. Randy melihat tatapan orang di sekitar mengarah padanya, termasuk kedua bocah tadi. “Nonton bioskop aja bayar, apalagi nonton tempat ini.”
“Ini, Bang, ada rokok buat Abang,” kata Randy, mengeluarkan sebungkus rokok yang masih disegel dari tasnya. Randy tidak merokok, tapi dia selalu membawa beberapa pak rokok untuk menghadapi situasi seperti ini.
“Yang gua tanya tiket, bukan rokok!” kata orang itu dengan nada yang makin tinggi.
“Bang Randy!” panggil seseorang. Randy segera menoleh, rupanya Mat Pelor, temannya di daerah itu. “Sedang apa di sini, Bang? Sudah lama nggak ke Tanah Abang?”
“Mat Pelor, apa kabar?” balas Randy sambil menjabat tangan kawannya itu. “Gonta-ganti, Bang. Kadang Tanah Abang, Bantar Gebang, Matraman, kadang juga ke Cilamaya. Baru hari ini kepikiran mau ke Tanah Abang. Sudah lama nggak ke sini.”
“Dan sedang ada masalah sama si Adi?” tanya Mat Pelor.
“Ah, nggak ada kok, Bang,” kata Randy. “Cuma ngobrol-ngobrol biasa.”
Adi yang disebut-sebut cuma bisa meneguk ludah dan mukanya sedikit memucat. Ternyata anak kota ini teman akrab Mat Pelor, preman yang ditakuti di daerah sini.
“Di, lu mau ngompas saudara gua ini?” tanya Mat Pelor dengan nada mengancam Adi.
“Enggak kok, Bang,” kata Adi ketakutan. “Abang ini cuma ngasih rokok ini ke gua.”
“Oh ya, ada oleh-oleh rokok buat Abang nih,” kata Randy sambil mengeluarkan lagi sebungkus rokok untuk Mat Pelor.
“Oh, terima kasih, Bang,” jawab Mat Pelor. “Kalau ada yang ganggu-ganggu di sini, sebut aja Mat Pelor.”
“Ya sudah, Bang. Aku terusin lihat-lihat dulu, keburu malam,” kata Randy sambil menjabat tangan Mat Pelor, Adi, dan kedua anak itu. “Bang Adi, nanti aku kirimin tiket bioskopnya, ya.”
Adi cuma bisa terdiam sambil mulutnya ternganga. “Hati-hati, Bang. Dan tiket bioskopnya nggak usah repot-repot.”
Randy tersenyum dan segera meneruskan petualangannya di Tanah Abang.
Sampai rumah, Randy segera mandi dan sibuk memilih foto-foto terbaik untuk diunggah ke Shutterstock, lalu baru keluar kamar ketika jam makan malam tiba.
Usai makan malam, Randy terbenam dalam tugas-tugas kuliahnya sampai larut malam, sekitar jam sebelasan, hingga akhirnya menguap. Ia lalu membaca pesan-pesan WhatsApp yang masuk dan membaca berita sebentar sebelum menutup matanya dan tertidur.
Dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan seorang kakek di sebuah hutan dengan pepohonan lebat, air terjun yang cantik dan biru. Langit tampak cerah dan ada pelangi.
“Randy, cucuku,” kata seorang kakek bertelanjang dada dan mengenakan sarung warna cokelat dengan keris di punggung serta ikat kepala putih. “Aku adalah Ki Suromenggolo, kakek buyutmu yang hidup ratusan tahun lalu.”
Randy hanya bisa berdiam diri dan ternganga. “Kek.”
“Pada masa aku hidup, aku adalah tabib yang termasyhur,” kata Ki Suromenggolo dengan suara serak sambil mengacungkan jarinya ke langit. “Warisan kesaktian ini akan aku serahkan padamu sebagai keturunanku. Pergunakanlah untuk kebaikan.”
Belum sempat menjawab, tiba-tiba ada suara petir yang sangat keras di tengah cuaca cerah saat itu. Tak lama disusul kilatan cahaya berwarna putih yang menyambar jari Ki Suromenggolo yang tengah menunjuk ke langit. Menyusul, kedua kepalan tangan kakek itu dibungkus asap putih tebal.
Tanpa mengeluarkan suara, Ki Suromenggolo memasukkan kedua gumpalan asap putih itu ke dalam mulut Randy yang ternganga melihat kejadian di hadapannya. Dadanya terasa hangat setelahnya, serasa digosok pakai minyak GPU, tapi ini dari dalam.
Setelah memasukkan asap itu, tiba-tiba raga Ki Suromenggolo hilang begitu saja. Hanya terdengar suara, “Randy, cucuku. Pergunakanlah ilmu ini dengan baik.”
Begitu suara itu menghilang, Randy segera terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya masih berada di dalam kamarnya, bukan di hutan seperti dalam mimpinya.
“Mimpi rupanya,” katanya sambil keluar menuju toilet untuk pipis. “Tapi mimpi itu begitu nyata, mimpi paling nyata yang pernah aku alami.”
Jam di ponsel Randy masih menunjukkan pukul 03.25 pagi. Masih terlalu pagi, tapi Randy sudah tidak bisa tidur lagi. Dia lalu menyalakan komputernya dan melihat beberapa foto yang masih layak diunggah ke Shutterstock. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Randy segera mandi dan berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah jam 07.00 pagi.
Pak Sugiono, dosen Kalkulus 1 dengan kacamata tebalnya yang jarang senyum dan berkumis tebal itu masuk. Tanpa bicara sepatah kata pun, dia mengeluarkan buku kalkulus dari tasnya dan segera menulis materi kuliah pagi itu di papan tulis.
Tapi tiba-tiba dada kirinya terasa sakit. Dia langsung memegangi dada kirinya dan berjongkok di lantai. Spontan, beberapa mahasiswa berlari menolong Pak Sugiono, termasuk Randy.