Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Arka dan Aruna sudah sampai di tempat yang di tuju dan ternyata lokasi terakhir ponsel Elia berada di salah satu penginapan bintang tiga. Walau agak membingungkan, namun Aruna pun turun dan mengikuti langkah Arka yang perlahan mulai memasuki penginapan itu.
Arka menyebutkan salah satu nomor kamar di penginapan itu, lantas langkah kakinya terdengar begitu mantap dan mengarah ke sana. Aruna sudah seperti seorang anak kecil yang hanya nengekor saja, tanpa bertanya apapun__keduanya sudah berada di dalam lifht dan keduanya sama-sama saling diam tanpa mengatakan apapun.
“Eumm mas Arka.“Panggil Aruna yang benar-benar tak tahan untuk mengeluarkan suaranya, pria itu lalu menoleh dan mendapati rambut istrinya sudah acak-acakan, tapi bukan urusan Arka sih. Makanya pria itu pun membiarkannya saja.
“Di sini lokasi tempat terakhir kak Elia?.“Tanyanya, Arka mengangguk, sorot matanya terlihat lelah dengan garis hitam yang berada tepat di bawah matanya__orang sepintas pun tahu, kalau Arka terlihat kurang istirahat atau bahkan sudah tidak tidur selama beberapa hari.
“Iya.“Jawabnya singkat, sebetulnya sejak di tengah perjalanan, Arka merasakan kepalanya pusing berkunang-kunang, hanya saja pria itu memaksakan diri untuk tetap sampai ke kota tujuannya__tentu, ia tak mau sampai kehilangan Elia, walau pun belum tentu juga ada Elia di kota ini.
“Mas Arka..“Pekik Aruna tatkala melihat tubuh Arka sempoyongan. Lifht masih berjalan dan tujuan mereka di lantai empat, lebetulan juga di dalam lifht itu tidak ada siapapun, kecuali mereka berdua__Arka sendiri sudah merasakan kepalanya semakin berat, keringat mengucur hebat dari seluruh tubuhnya dan tubuhnya terasa begitu lemah, hingga kedua tangannya pun memegangi pegangan yang ada di dalam lifht, Aruna yang panik pun refleks memegangi tubuh Arka, walau rasanya percuma saja mengingat tubuh Arka yang lebih besar darinya. Meski begitu Aruna tetap setia di sana dan takut kalau sampai Arka kenapa-kenapa.
BUGHHH
Tubuh Arka jatuh sepenuhnya pun dengan kesadarannya yang sudah hilang begitu saja dan Aruna hanya bisa berteriak memanggil nama Arka sambil menangis__di tengah kekalutannya, Aruna pun memencet tombol darurat di lifht dan mengatakan pada pihak keamanan kalau suaminya pingsan.
Lift terbuka di lantai tiga dan Aruna sudah di sambut dengan tiga security, lalu ketiga security itu membantu Aruna untuk membawa Arka dari sana.
****
Saat kedua matanya terbuka. Di saat itulah Arka melihat cahaya silau dari lampu yang membuat matanya berkedip beberapa kali, sampai pria itu memutuskan untuk memutar haluan dan memilih menyampingkan tubuhnya, akan tetapi di saat proses itu, Arka merasakan kepalanya masihlah pusing hingga refleks pria itu mengerang kesakitan.
“Arhghh..“Ucapnya dan karena itulah yang membuat Aruna yang tidur di samping tubuhnya pun terbangun, refleks Aruna menoleh lalu mendapati sang suami yang tengah mengerang kesakitan.
“Mas Arka.“Panggilnya lembut, di daat itulah Arka berhenti mengerang lalu tatapannya beralih pada sosok wanita yang notabennya sebagai istrinya dan saat ini sedang menatapnya dengan tatapan aneh, dia terlihat sendu sekaligus mengkhawatirkannya.
Hal yang terduga pun terjadi. Di mana refleks Aruna menubrukan tubuhnya pada Arka dan seolah tak peduli tubuh kecilnya menindih tubuh Arka yang sednag terbaring, sesak dan cukup tak nyaman. Apalagi kepala Arka masihlah pusing, Arka ingin mendorong tubuh Aruna, namun gerakannya terhenti tatkala mendengar sebuah isak tangis dari wanita itu.
Aruna menangis? Tapi kenapa?
“Aruna..“
“Mas Arkkkaaa hiks hiks.“Ujar Aruna tanpa tahu malu dan tetap menangis di dada Arka, bahkan pria itu merasakan pakaian yang di pakainya basah karena air mata Aruna.
Sial, dengan begini bahkan Arka bisa merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dadanya, ya. Walaupun mereka terlapisi pakaian, tapi cukup jelas dan cukup membuat Arka tak nyaman, sebab refleks otaknya berpikir yang iya-iya.
Ayolah, bagaimana pun Arka ini pria normal yang punya naluri__dan, ini tidak benar dan ini tidak baik bagi kesehatannya.
“Eum, Runa tubuh saya sa..kit.“Tukasnya dengan mamalingkan wajahnya ke samping, Aruna pun menghentikan tangisnya lalu menuruti apa yang Arka katakan dengan sedikit meringis canggung.
“Ah maaf mas, saya cu..man terlalu khawatir saja.“Tukasnya gelagapan dan tanpa berani menatap Arka secara langsung, Arka mendengus. Walau begitu tak bisa di pungkiri, hatinya berdesir, ada sesuatu yang ia rasakan dan ini aneh__hubungannya dengan Elia memang bisa di katakan cukup romantis, akan tetapi seumur-umur pun Arka tidak merasakan sensai di tangisi seperti ini. Yang lebih seringnya Arka yang selalu membujuk Elia yang marah, ngambek bahkan tiba-tiba tidak ada kabar. Ya, begitulah. Sebab memang cinta Arka lebih besar dari cinta Elia.
Sedang Aruna.. dia adalah wanita asing yang notabennya adik Elia dan punya prilaku yang bertolak belakang dengan Elia. Terlihat tak peduli, tapi sebetulnya peduli, pintar masak, tidak banyak protes, terlihat kuat walau sebetulnya rapuh, terbukti saat di mana di kamarnya. Tiba-tiba wanita itu menangis histeris dan tidak mengatakan apapun__hidup bersama Aruna bisa di katakan cukup baik, dia adalah partner yang cukup bisa mengimbangi Arka.
Sedang Elia sendiri. Dia itu manja, seenaknya, cantik juga, tidak bisa masak dan selalu ingin di ratukan. Walau begitu, terlepas dari sikap positif dan negatifnya, Atka sangat mencintainya. Bukan bermaksud membandingkan, hanya saja menurut Arka seperti itu.
“Mas Arka kecapean dan tadi dokter bilang mas dehidrasi, makanya mas harus di rawat beberapa hari di sini.“Aruna memberitahu dan membuat Arka terbelalak kaget. Dia dehidrasi, wajar juga. Karena selain kecapean, Arka stres dan Arka kurang minum juga. Arka boleh kelihatan jagoan, tetapi tidak dengan imunnya yang memilih menyerah.
“Terus untuk penginapan itu, bagaimana Runa?.“Tanya Arka dengan tatapan tajam seperti biasa, lama-lama Aruna pun terbiasa dan tak takut lagi__jika pertama Aruna akan menganggap Arka itu bengis dan tak berperasaan, tapi lama-lama ia mulai paham. Kalau memang Arka sudah begini dari pabriknya.
“Saya sudah ke sana dan saya hanya menemukan ponsel ini saja, mas.“Tukasnya, Aruna pun menyerahkan sebuah ponsel yang cukup familiar di mata Arka. Ponsel milik sang kekasih dan Santi betul tentang informasinya soal ponsel, tetapi tidak dengan si pemiliknya.
“Saya juga sudah bertanya pada resepsionis. Dan betul kalau Kak Elia berada di kamar sana sekitar satu minggu yang lalu mas, namun bukan atas nama Kak Elia tapi__.“Terlihat Aruna menunduk, kedua matanya bergulir ke kanan dan kiri, bibir dalamnya di gigitnya dari gelagatnya. Wanita itu jelas menunjukan sebuah kebimbangan.
“Katakan Aruna!.“Jelas Arka, di saat itulah Aruna mengangkat wajahnya dan mata mereka saling bertatapan lekat, Entah kenapa, tapi Arka seolah merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Atas nama Yanto, mas.“Lanjutnya dan wkspresi wajah Arka pun berubah mengeras, tatapan lebih tajam, jakunnya naik turun dan urat-urat di lehernya terlihat begitu jelas, Arka marah bahkan sangat marah sekali. Yanto? Siapa pria itu? Apa dia selingkuhan Elia alias yang menbuat Elia hamil dan membawanya kabur? Tapi kenapa bisa? Sedang selama ini, Elia terlihat mencintainya. Ya, walaupun tetap kadar cinta Arka yang lebih besar, tapi setidaknya wanita itu mau di lamar olehnya dan keduanya juga sudah merencanakan pernikahan, walau berakhir gagal.
Tarikan tangan yang di lakukan Aruna, membuat tubuh Arka membatu, pria itu kaget saat merasakan sebuah rasa hangat yang melingkupi tangannya, Aruna tanpa ragu sedikit pun menarik tangan Arka dan menggenggamnya lembut, tatapannya tegas dan lembut secara bersamaan. Arka bak di hipnotis untuk beberapa saat__ternyata dari jarak sedekat ini, Aruna terlihat sangat cantik sekali. Tanpa sadar, sudut-sudut bibirnya terangkat dan membuat garis lengkungan indah di sana.
“Mas Arka..“Panggil Aruna dan seketika itu juga Arka mendapat kesadarannya lalu refleks menarik tangannya dari genggaman Aruna dan membuat wanita itu terlihat menatapnya dengan sorot mata kecewa.
“Tinggalkan saya, saya mau istirahat dulu.“Usir pria itu halus, Aruna benar-benar di buat sedih dengan pengusiran halus dari suaminya__padahal Aruna hanya bermaksud menghibur saja, tanpa niatan apapun..
Aruna hanya bersimpati dengan Arka dan merasa kasihan dengan pria itu, kakaknya begitu kejam sekali. Padahal Arka adalah pria baik, tampan juga dan terlebih sangat mencintanya. Tapi kenapa bisa-bisanya malah hamil anak pria lain dan kabur dnegan pria lain?
“Yaudah, kalau ada apa-apa panggil saya ya, mas.“
Arka mengangguk dan Aruna keluar dari kamar itu dengan berjalan gontai.
Tubuh itu sudah tak terlihat lagi dan membuat Arka menghela nafas lega. Ada apa ini? Harusnya Arka sakit hati dengan informasi yang ia dapat kan? Tapi yang Arka rasakan malah sebaliknya, ia biasa saja. Walau tak di pungkiri ada kemarahan yang ia rasakan terhadap Aruna, tetapi saat tangannya tertaut dengan Aruna tadi, hati Atka berdesir hebat.
Sialan, ada apa ini sebenarnya?