NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang Tidak Pernah Datang

Hari itu, semua orang mengatakan aku perempuan paling beruntung di dunia.

Gaun putih yang kupakai terasa ringan, tapi jantungku berdetak jauh lebih berat dari seharusnya. Di depan penghulu, dengan satu tarikan napas mantap dan suara yang tidak sedikit pun bergetar, Kautshar Brawijaya mengucap ijab kabul.

Sah.

Satu kata yang mengubah seluruh hidupku.

Aku kini adalah istri dari lelaki yang kupanggil Ashar.

Tepuk tangan dan takbir bersahutan. Ibuku menangis. Aku pun ikut menitikkan air mata, bukan karena ragu, tapi karena tak percaya semuanya berjalan begitu cepat.

Lima bulan lalu, kami hanyalah dua orang yang sering berbincang tentang hal-hal sederhana. Tentang buku, pekerjaan, rencana hidup. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada janji manis. Tidak ada status pacaran.

Tiba-tiba saja, di bulan kelima kedekatan kami, ia datang bersama ibunya, adiknya, kakeknya, juga paman dan bibinya.

Mereka duduk rapi di ruang tamu rumah sederhana kami.

Membicarakan pernikahan.

Tidak ada prosesi lamaran panjang. Kedua keluarga sepakat langsung menikah. Satu bulan kemudian, aku sudah duduk di pelaminan.

Semuanya terasa seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.

Resepsi berlangsung khidmat. Ashar berdiri di sampingku dengan wajah tenang yang sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Ia tidak banyak tersenyum, tapi tatapannya lembut. Tangannya beberapa kali menggenggam jemariku ketika tamu-tamu mulai terlalu ramai.

Sentuhan kecil itu cukup membuatku tenang.

Malamnya, kami berangkat ke Pangandaran.

“Biar kamu bisa lihat laut malam,” katanya pelan di mobil.

Hanya itu.

Tidak ada rayuan. Tidak ada janji nakal seperti yang sering kuceritakan dari teman-temanku yang sudah menikah.

Perjalanan cukup jauh. Aku bersandar di kursi penumpang, sesekali melirik wajahnya yang fokus menyetir.

Sekarang aku istrimu, batinku.

Tapi mengapa rasanya seperti aku masih belum sepenuhnya mengenalmu?

Hotel yang kami tempati menghadap pantai.

Angin laut membawa aroma asin yang menenangkan. Langit malam bertabur bintang, dan debur ombak terdengar seperti musik latar yang sempurna untuk malam pertama.

Malam pertama.

Kata itu saja sudah membuat wajahku panas.

Sejak keluarga kami sepakat akan menikahkan kami bulan depan, aku sudah banyak belajar.

Membaca. Mencari tahu. Bertanya pada teman yang sudah lebih dulu berumah tangga.

Apa yang harus kulakukan.

Apa yang tidak boleh kulakukan. Bagaimana menjadi istri yang baik.

Aku menjaga diriku selama ini. Tidak pernah membiarkan lelaki mana pun menyentuhku lebih dari batas sewajarnya. Bukan karena aku kuno. Tapi karena aku ingin menyerahkan semuanya kepada suamiku.

Dan malam ini… seharusnya adalah malam itu fikirku.

Aku keluar dari kamar mandi dengan piyama panjang yang sengaja kupilih—tidak terlalu terbuka, tapi cukup anggun. Rambutku kubiarkan terurai.

Ashar sedang duduk di tepi tempat tidur, menatap layar laptopnya.

“Sudah selesai?” tanyanya tanpa menoleh ke arahku.

“Sudah,” jawabku pelan.

Ia mengangguk, lalu berdiri.

“Kamu pasti capek. Seharian berdiri.”

Aku tersenyum. “Sedikit.”

Ia berjalan ke arahku. Jantungku mulai berdetak tidak karuan.

Sekarang, mungkin.

Namun yang terjadi justru di luar dugaan.

Ia hanya menyentuh bahuku pelan. “Istirahatlah. Besok kita lihat pantai dan jalan-jalan pagi.”

Lalu ia berbaring di sisi tempat tidur, membelakangiku.

Aku terpaku beberapa detik.

Mungkin dia malu, pikirku.

Aku ikut berbaring.

Menunggu.

Berharap ada gerakan lanjutan. Sentuhan. Pelukan. Apa pun.

Namun yang kudengar hanya napasnya yang perlahan berubah teratur.

Ia tertidur.

Aku menatap langit-langit kamar hotel yang temaram.

Malam pertama kami… berlalu begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!