NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Us

---

Tiga minggu setelah USG pertama, rumah nomor 7 mulai berubah penampilannya.

Bukan perubahan fisik—cat pagar masih sama, tanaman hias di teras masih tertata rapi. Tapi di ruang tamu, di meja kerja Mario, di samping tempat tidur, bahkan di kamar mandi, ada pemandangan baru: tumpukan buku.

Judul-judulnya beragam. "Panduan Lengkap Kehamilan", "Baby Care for New Dads", "The Expectant Father", "Nutrisi Ibu Hamil", "Persiapan Persalinan", "Merawat Bayi Baru Lahir". Ada yang berbahasa Indonesia, ada yang berbahasa Inggris. Ada yang baru, ada yang bekas—dibeli dari toko buku online dan marketplace.

Jane menggeleng-geleng kepala setiap kali melihat suaminya tenggelam di antara buku-buku itu.

"Mas, kamu itu kebanyakan baca," protes Jane suatu sore, saat menemukan Mario sedang membaca buku sambil memegang alat tulis, membuat catatan di buku kecil.

"Tidak ada yang namanya kebanyakan baca, Sayang." Mario menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. "Ini penting. Aku harus siap."

"Siap buat apa? Anaknya masih di perut."

"Iya, tapi nanti cepat lahir. Terus aku harus tahu cara gendong yang benar, cara memandikan, cara mengganti popok, cara menyuapi, cara membedakan tangisan lapar sama tangisan capek..."

"Mas, Mas, Mas." Jane mendekat, duduk di samping Mario. "Semua itu nanti bisa dipelajari pelan-pelan. Nggak harus hafal sekarang."

Mario akhirnya menoleh. "Jane, aku nggak mau jadi ayah yang kagok. Aku nggak mau pas anak kita lahir, aku cuma bisa bengong nggak tahu harus ngapain."

Jane tersenyum, tangannya mengusap rambut suaminya. "Mas, kamu itu calon ayah terbaik. Tapi ingat, kita punya banyak guru di sekitar sini."

Mario mengerjapkan mata. "Guru?"

"Iya. Om Endy, Om Elgi. Mereka udah punya pengalaman. Kamu bisa belajar dari mereka."

Mario diam sejenap, lalu tersenyum. "Bener juga. Kenapa aku nggak kepikiran, ya."

"Karena kamu sibuk baca buku."

Mereka tertawa bersama. Mario memeluk Jane, merasakan hangatnya tubuh istrinya.

"Makasih, Sayang. Makasih udah sabar sama aku."

"Ya elah, Mas. Ini baru awal. Masih panjang perjalanan kita."

---

Keesokan harinya, Sabtu pagi, Mario sudah siap dengan misi barunya: belajar langsung dari ahlinya.

Ia berjalan ke rumah nomor 11, tempat Endy dan Soo Young biasa menghabiskan akhir pekan dengan berkebun. Endy sedang menyiram tanaman di halaman depan ketika Mario datang.

"Om Endy, permisi," sapa Mario.

Endy menoleh, tersenyum. "Mario? Silakan, Nak. Ada apa pagi-pagi?"

Mario agak canggung. "Om, saya mau minta tolong. Boleh minta waktunya sebentar?"

"Tentu. Duduk dulu." Endy meletakkan selang air, mengajak Mario duduk di teras. Soo Young yang mendengar suara mereka keluar membawakan dua gelas es teh.

"Ada apa, Nak?" tanya Endy setelah mereka duduk.

Mario menghela napas. "Om, saya... saya mau belajar jadi ayap yang baik. Jane bilang saya bisa belajar dari Om. Om kan udah pengalaman."

Endy tersenyum lebar. "Wah, jadi ini tentang calon jabang bayi?"

"Iya, Om." Mario mengeluarkan buku catatan kecil dari saku celananya. "Saya bahkan bawa catatan. Boleh tanya apa aja?"

Endy terkekeh. "Boleh banget. Tapi Mario, jadi ayah itu nggak bisa dipelajari dari buku atau tanya orang doang. Kamu harus jalani sendiri."

"Iya, Om, saya tahu. Tapi setidaknya saya mau punya gambaran."

Endy mengangguk. "Oke. Tanya aja apa yang mau kamu tahu."

Dan mulailah sesi tanya jawab itu. Mario bertanya tentang segala hal: dari persiapan persalinan, cara memilih rumah sakit, tanda-tanda kontraksi, sampai hal-hal kecil seperti cara memandikan bayi dan cara menggendong yang benar. Endy menjawab dengan sabar, sesekali bercerita tentang pengalamannya dulu saat Soo Young hamil.

"Dulu waktu Soo Young hamil, aku juga panik," cerita Endy. "Apalagi dia orang Korea, keluarganya jauh. Aku harus jadi segalanya buat dia."

"Om paniknya gimana?"

"Ya panik biasa. Takut salah, takut nggak bisa. Tapi aku inget pesen orang tua: jadi ayah itu bukan soal sempurna, tapi soal hadir. Hadir buat istri dan anak."

Mario mencatat dengan serius. "Hadir, ya, Om?"

"Iya. Nggak usah jadi ayah super. Jadi ayah yang ada aja. Yang mau denger, mau bantu, mau belajar. Itu sudah cukup."

Mario mengangguk-angguk. "Makasih, Om. Ini sangat membantu."

"Masih banyak, Nak. Tapi pelan-pelan aja. Nanti kalau ada yang mau ditanya lagi, datang aja. Rumah ini terbuka buat kamu."

---

Dari rumah Endy, Mario melanjutkan perjalanan ke rumah nomor 9. Elgi sedang bermain bola dengan Rafa di halaman depan. Rafa berlari ke arah Mario.

"Om Mario! Om Mario! Main bola!" teriak Rafa.

Mario tertawa, menggendong Rafa sebentar. "Maaf, Ra, Om lagi ada urusan sama Ayah Rafa dulu. Nanti main, ya."

Elgi mendekat. "Ada apa, Bro? Kok keliatan serius?"

Mario menurunkan Rafa, menyuruhnya main sebentar lagi. "Gue mau minta saran, Gi. Soal jadi ayah."

Elgi tersenyum. "Udah mulai panik, ya?"

"Bukan panik, sih. Lebih ke... pengen siap."

"Masuk, yuk. Ngobrol santai."

Mereka duduk di ruang tamu. Elgi mengambil dua botol air mineral dari kulkas.

"Jadi, apa yang mau lo tanya?" tanya Elgi.

"Gue baca banyak buku, Gi. Tapi kata Jane, gue harus belajar dari yang udah pengalaman juga. Lo kan udah punya Rafa."

Elgi mengangguk. "Iya. Dan gue juga dulu kayak lo. Baca sana-sini, ikut seminar parenting, bahkan sampe beli kursus online."

"Terus?"

"Terus pas Rafa lahir, semua teori itu luntur." Elgi tertawa. "Buku bilang bayi harus tidur jam 7 malem. Rafa malah nangis sampe jam 12. Buku bilang jangan panik kalau bayi demam. Rafa demam pertama, gue langsung bawa ke UGD padahal cuma panas dikit."

Mario ikut tertawa. "Jadi buku nggak berguna?"

"Nggak gitu. Buku tuh kayak peta. Tapi perjalanannya tetep harus lo jalani sendiri. Peta cuma ngasih gambaran, nggak bisa ngalamin medannya buat lo."

Mario merenung. "Terus gimana cara jadi ayah yang baik?"

"Lo nanya ke gue?" Elgi tersenyum. "Gue aja masih belajar setiap hari. Tapi satu hal yang gue pelajari: jadi ayah itu tentang konsistensi. Tentang hadir setiap hari, meski capek. Tentang maafin diri sendiri kalau salah. Tentang terus belajar."

"Sama kayak Om Endy bilang."

"Om Endy udah ngasih wejangan?"

"Iya. Dia bilang, jadi ayah itu soal hadir."

Elgi mengangguk. "Om Endy itu panutan kita semua. Lihat aja cara dia sama Tante Soo Young. Itu contoh nyata."

Mario diam, meresapi semua nasihat itu. Ia merasa sedikit lebih tenang, meski masih banyak yang belum tahu.

"Gi, makasih, ya."

"Sama-sama, Bro. Kapan-kapan kalau butuh apa-apa, tinggal teriak. Kita di sini."

---

Sepulang dari rumah Elgi, Mario mampir ke rumah nomor 3. Jisoo sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Amora bermain di sampingnya dengan boneka-boneka kesayangan.

"Mba Jisoo, permisi," sapa Mario.

Jisoo menoleh, tersenyum. "Mas Mario? Ada apa?"

"Saya mau tanya sesuatu, Mba. Boleh?"

"Tentu. Amora, main di depan dulu, ya. Sebentar."

Amora mengangguk, berlari ke halaman depan. Jisoo mengelap tangan, lalu duduk di kursi taman.

"Ada apa, Mas?" tanya Jisoo.

Mario duduk di sampingnya. "Mba, saya mau minta perspektif. Mba kan udah punya pengalaman melahirkan dan membesarkan Amora sendirian. Saya... saya pengen belajar dari Mba."

Jisoo terdiam sejenap. Pertanyaan itu menyentuh sisi yang dalam.

"Mba Jisoo, maaf kalau pertanyaan saya kelewatan," Mario buru-buru menambahkan. "Saya cuma..."

"Nggak apa-apa, Mas." Jisoo tersenyum. "Ini pertanyaan yang bagus. Dan jujur, nggak banyak orang yang nanya gini ke aku."

Mario menunggu dengan sabar.

Jisoo menarik napas. "Waktu hamil Amora, aku dan Dika—almarhum suamiku—sangat bersemangat. Kami baca buku bareng, rencanain masa depan, beli perlengkapan bayi berdua. Aku pikir, semuanya akan sempurna."

Mata Jisoo berkaca-kaca, tapi ia tetap tersenyum. "Tapi pas Dika pergi, aku sadar, nggak ada yang sempurna. Jadi ibu tunggal itu berat, Mas. Tapi juga indah."

"Beratnya gimana, Mba?"

"Beratnya... kamu harus jadi dua orang sekaligus. Jadi ibu yang lembut, tapi juga jadi ayah yang tegas. Jadi tempat anak bersandar, tapi kamu sendiri kadang nggak punya tempat bersandar."

Mario mengangguk pelan. "Tapi Mba kuat."

"Aku kuat karena Allah, dan karena mereka." Jisoo menunjuk ke arah rumah-rumah tetangga. "Irene, Jane, Soo Young, Chaeyoung, dan kalian para suami. Kalian semua jadi keluarga buat aku dan Amora."

Mario terharu. "Mba Jisoo, makasih udah mau berbagi."

"Makasih balik, Mas, udah mau denger. Satu pesan dari aku: hargai setiap momen sama Jane. Karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi hari ini, sekarang, sayangi dia sepenuh hati."

Mario mengangguk mantap. "Saya janji, Mba."

---

Sore harinya, Mario pulang dengan kepala penuh nasihat dan hati penuh rasa syukur. Ia duduk di teras rumah, memandangi buku-buku yang berserakan di ruang tamu.

Jane keluar, duduk di sampingnya. "Gimana harimu, Mas?"

Mario menarik napas panjang. "Hari yang panjang, tapi berharga."

"Cerita."

Mario bercerita tentang pertemuannya dengan Endy, Elgi, dan Jisoo. Tentang nasihat-nasihat yang ia terima. Tentang pelajaran-pelajaran yang tidak ada di buku.

"Mereka bilang, jadi ayah itu soal hadir," ucap Mario. "Soal konsisten. Soal sayangin kamu sepenuh hati."

Jane tersenyum. "Itu mah kamu udah lakuin dari dulu."

"Tapi aku pengen lebih." Mario meraih tangan Jane. "Aku pengen jadi ayah terbaik buat anak kita. Bukan ayah yang sempurna, tapi ayah yang selalu ada."

Jane memeluknya. "Mas, kamu udah jadi suami terbaik. Aku yakin, kamu juga bakal jadi ayah terbaik."

Mereka berpelukan di teras, menikmati sore yang tenang. Buku-buku di ruang tamu mungkin tetap ada, tapi Mario kini punya lebih dari sekadar teori. Ia punya guru-guru kehidupan di sekitarnya. Keluarga pilihannya.

Malam harinya, Mario menulis di buku catatannya: "Jadi ayah itu bukan tentang tahu segalanya. Tapi tentang mau belajar, tentang hadir, dan tentang mencintai tanpa syarat. Terima kasih Om Endy, Om Elgi, Mba Jisoo. Terima kasih keluarga."

Di sampingnya, Jane tidur dengan damai, tangan di atas perut yang semakin membesar. Mario mencium kening istrinya, lalu tangannya mengelus perut itu pelan.

"Nak, Ayah janji. Ayah akan selalu belajar. Untuk kamu. Untuk Bunda. Untuk kita semua."

Dari dalam perut, terasa satu tendangan kecil. Seperti jawaban. Seperti tanda bahwa calon buah hati itu mendengar dan percaya.

Mario tersenyum. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidur tanpa rasa cemas. Karena ia tahu, ia tidak sendirian. Ia punya keluarga.

Keluarga pilihan yang selalu siap membantunya menjadi ayah yang baik.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!