"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Tempat Persembunyian yang Pahit
Langkah kaki mereka terdengar sangat berat saat menyusuri gang-gang sempit di wilayah Shinjuku. Cahaya lampu neon yang berwarna-warni memantul pada genangan air hujan di jalanan aspal yang retak.
Hana Tanaka menarik tudung jaketnya lebih dalam untuk menutupi wajahnya yang masih terlihat sangat pucat. Dia merasakan dinginnya angin malam menembus hingga ke tulang sumsumnya yang paling dalam.
Kaito Fujiwara berjalan di barisan paling depan sambil terus memantau situasi di sekitar tikungan jalan. Mereka sedang menuju ke sebuah apartemen tua yang terletak di lantai empat sebuah gedung yang terlihat sangat kusam. Apartemen ini adalah milik kenalan lama Yuki Nakamura yang sudah lama tidak ditinggali oleh siapa pun.
Pintu apartemen tersebut berderit sangat nyaring saat Kaito membukanya menggunakan kunci cadangan yang disimpan di bawah keset. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat apek dan juga sangat lembap karena sudah terlalu lama tertutup rapat.
Bau debu dan juga bau kayu yang mulai lapuk segera menyapa indra penciuman mereka berlima dengan sangat tajam. Yuki segera menyalakan lampu ruangan yang cahayanya terlihat sangat redup dan juga sesekali berkedip.
Ruangan itu hanya berisi sebuah meja kayu kecil dan juga beberapa bantal duduk yang sudah mulai robek jahitannya. Mereka semua segera menjatuhkan tubuh mereka di atas lantai kayu yang terasa sangat dingin dan juga sangat keras.
Ren Ishida segera berjalan menuju jendela dan dia menutup tirai kain yang sudah berwarna kekuningan itu dengan sangat rapat. Dia tidak ingin ada cahaya dari dalam ruangan yang terlihat oleh orang-orang yang melintas di bawah sana.
Ren merasa otot kakinya sudah mulai kaku karena dia terus berlari sambil membawa beban tas yang sangat berat sejak tadi. Dia mengambil napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang masih terasa berdegup sangat kencang.
Akane Sato duduk bersandar di dinding sambil memeluk lututnya dengan tubuh yang masih terlihat sedikit gemetar. Rasa takut yang sangat luar biasa hebat masih menyelimuti pikiran Akane setelah aksi pelarian maut melalui pipa ventilasi tadi.
Hana melihat Akane yang terlihat sangat lemas dan dia segera mendekati sahabatnya itu untuk memberikan sebuah dukungan. Dia memegang tangan Akane yang terasa sangat dingin dan dia memberikan sebuah senyuman yang sangat tulus.
Hana menyadari bahwa mereka semua sedang berada di titik terendah dalam hidup mereka masing-masing saat ini. Kaito mengeluarkan beberapa botol air mineral dan juga beberapa bungkus roti lapis dari dalam tas ranselnya yang besar.
Dia membagikan makanan tersebut kepada teman-temannya agar mereka bisa segera memulihkan energi yang sudah terkuras habis. Mereka makan dalam kesunyian yang sangat dalam karena pikiran mereka masih tertuju pada kejadian mengerikan di sekolah tadi.
Rasa roti lapis itu terasa sangat hambar di mulut Hana namun dia tetap memaksakan dirinya untuk menelan makanan tersebut. Dia tahu bahwa dia membutuhkan tenaga yang sangat besar untuk menghadapi tantangan yang akan muncul di hari esok.
Yuki Nakamura tidak segera makan namun dia langsung membuka laptopnya di atas meja kayu yang berdebu itu. Dia segera menyambungkan cakram keras portabel yang berisi data rahasia tersebut ke dalam perangkat komputer miliknya.
Suara kipas laptop yang berputar kencang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam ruangan yang sangat sunyi itu. Semua mata kini tertuju pada layar monitor yang mulai menampilkan deretan folder dengan nama-nama yang sangat asing.
"Aku akan mulai membedah semua data ini sekarang juga," ujar Yuki dengan nada suara yang sangat serius dan tegas.
Jari-jari Yuki bergerak dengan sangat lincah di atas papan ketik laptopnya untuk menembus enkripsi data yang sangat rumit. Akane perlahan mulai bangkit dan dia duduk di samping Yuki untuk membantu memilah informasi yang bersifat sangat mendesak.
Dia mengeluarkan tablet miliknya dan mulai menyusun strategi komunikasi untuk menyebarkan informasi ini ke pihak media massa. Mereka berdua terlihat sangat kompak saat bekerja di bawah cahaya lampu ruangan yang sangat minim dan juga sangat redup.
Hana merasa sangat bersyukur karena memiliki teman-teman yang sangat ahli dalam bidangnya masing-masing seperti mereka. Persahabatan mereka telah menjadi sebuah tim yang sangat solid dan juga sangat sulit untuk dikalahkan oleh siapa pun.
Setelah beberapa saat, Yuki berhasil membuka sebuah folder yang berjudul Proyek Seleksi Nasional Generasi Emas. Folder tersebut berisi data statistik mengenai manipulasi nilai ujian masuk universitas yang dilakukan oleh yayasan sekolah mereka.
Hana melihat namanya sendiri berada di dalam daftar siswa yang nilainya sengaja diturunkan secara sistematis oleh algoritma gacha. Ada juga nama-nama siswa kaya yang nilainya sengaja dinaikkan meskipun kemampuan akademis mereka sebenarnya sangat rendah sekali.
Data ini menjadi bukti yang sangat nyata bahwa sistem pendidikan mereka telah dicurangi oleh para penguasa yang sangat serakah. Hana merasakan amarah yang sangat besar mulai membakar dadanya saat membaca detail kecurangan yang sangat tidak adil itu.
Kaito Fujiwara terdiam saat melihat nama ayahnya muncul sebagai salah satu donatur utama di dalam proyek manipulasi tersebut. Dia melihat catatan transaksi keuangan yang menunjukkan adanya aliran dana ilegal menuju rekening pribadi beberapa petinggi kementerian pendidikan.
Ayah Kaito ternyata menggunakan kekuasaannya untuk memastikan bahwa hanya anak-anak dari keluarga elit yang bisa mendapatkan posisi terbaik. Kaito merasa sangat terpukul dan dia merasa sangat malu memiliki hubungan darah dengan orang yang sangat kejam seperti itu.
Dia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya sambil mencoba menahan air mata yang mulai mendesak keluar dari pelupuk matanya. Hana mendekati Kaito dan dia merangkul bahu pemuda itu dengan sangat lembut untuk memberikan sebuah kekuatan batin.
"Ini bukan kesalahanmu dan kau tidak perlu menanggung beban dosa yang dilakukan oleh ayahmu," bisik Hana dengan nada sangat tenang.
Kaito menatap Hana dengan mata yang terlihat sangat sedih namun dia juga melihat ada sebuah ketegasan di sana. Dia menyadari bahwa dia harus berani melawan ayahnya sendiri demi menegakkan keadilan yang selama ini telah diinjak-hidup.
Kaito bersumpah di dalam hatinya bahwa dia akan menyerahkan semua data ini kepada pihak berwenang agar ayahnya segera dihukum. Dia tidak peduli jika dia harus kehilangan segala kemewahan dan juga kehilangan status sosialnya sebagai anak orang kaya.
Kebenaran jauh lebih berharga daripada semua harta benda yang dia miliki di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini. Mereka semua kembali fokus pada layar laptop Yuki untuk mencari bukti-bukti lain yang mungkin masih tersembunyi sangat dalam.
Akane Sato mulai menyusun draf surel yang akan dikirimkan kepada seorang jurnalis senior dari surat kabar nasional yang sangat terpercaya. Jurnalis tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat berani dalam mengungkap berbagai skandal korupsi yang dilakukan oleh para pejabat.
Akane melampirkan beberapa contoh dokumen hasil manipulasi nilai sebagai bukti awal agar jurnalis tersebut merasa sangat tertarik. Dia menggunakan koneksi internet yang sangat aman agar keberadaan mereka tidak mudah dilacak oleh tim kepolisian siber yayasan.
Akane tahu bahwa setelah surel ini terkirim maka perang yang sesungguhnya akan segera dimulai di hadapan publik secara luas. Dia menarik napas panjang sebelum menekan tombol kirim yang ada di layar tablet miliknya dengan jari yang mantap.
"Surel pertama sudah terkirim dan sekarang kita hanya perlu menunggu respon dari mereka," kata Akane sambil menyeka keringat di dahinya.
Ren Ishida terus berjaga di dekat pintu apartemen dengan sebuah tongkat besi yang dia temukan di pojok ruangan tadi. Dia tetap waspada terhadap setiap suara langkah kaki yang terdengar dari arah tangga di luar apartemen tua itu.
Ren tidak ingin kecolongan lagi seperti kejadian di sekolah tadi yang hampir saja mencelakai seluruh anggota tim mereka. Dia merasa bahwa tugasnya adalah menjadi perisai bagi teman-temannya agar mereka bisa bekerja dengan tenang dan juga aman.
Ren sesekali memijat otot tangannya yang masih terasa sangat pegal karena terus bersiaga dalam waktu yang sangat lama. Keberanian Ren memberikan rasa aman yang sangat besar bagi Hana dan juga bagi teman-teman yang lainnya di dalam ruangan itu.
Malam semakin larut dan suara kendaraan di jalanan Shinjuku mulai terdengar semakin jarang dan juga semakin sepi. Hana Tanaka duduk di dekat jendela sambil menatap ke arah luar melalui celah tirai kain yang sedikit terbuka itu.
Dia membayangkan wajah ibunya yang mungkin saat ini sedang tertidur lelap di bangsal rumah sakit yang sangat sunyi. Hana merasa sangat merindukan ibunya dan dia ingin segera memeluk ibunya setelah semua masalah ini berhasil diselesaikan.
Dia tahu bahwa perjuangan ini masih sangat panjang dan penuh dengan berbagai rintangan yang sangat sulit untuk dihadapi. Namun Hana tidak merasa takut sedikit pun karena dia memiliki sahabat-sahabat yang sangat luar biasa hebat di sampingnya.
Kaito berjalan mendekati Hana dan dia berdiri tepat di samping gadis itu sambil ikut menatap ke arah luar jendela. Dia bisa merasakan aroma sabun mandi yang sangat tipis dari tubuh Hana yang sedang berdiri sangat dekat dengannya.
Kaito merasa bahwa momen ini adalah momen yang sangat sakral bagi hubungan mereka yang baru saja mulai bersemi. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada Hana namun dia merasa lidahnya sangat kaku dan juga sangat sulit untuk digerakkan.
Hana menoleh ke arah Kaito dan dia melihat ada sebuah ketulusan yang sangat dalam di dalam sorot mata pemuda itu. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat sambil menikmati kesunyian malam yang terasa sangat menenangkan hati mereka berdua.
"Setelah semua ini berakhir, aku ingin mengajakmu pergi ke sebuah tempat yang sangat indah dan tenang," ujar Kaito dengan suara lembut.
Hana tersenyum kecil dan dia merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat daripada detak jantung yang normal biasanya. Dia merasa bahwa ajakan Kaito adalah sebuah harapan baru yang sangat indah bagi masa depan hidupnya nanti.
Hana mengangguk pelan sebagai tanda bahwa dia menyetujui ajakan tersebut dengan penuh rasa suka yang sangat mendalam. Dalam kegelapan ruangan itu, mereka berdua saling menggenggam tangan sebagai bentuk janji yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Romansa remaja ini menjadi oase yang sangat menyegarkan di tengah gurun masalah yang sedang mereka hadapi saat ini. Mereka merasa bahwa cinta mereka akan menjadi kekuatan yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh sistem apa pun.
Yuki Nakamura mendengus kecil saat melihat kemesraan Hana dan Kaito dari arah meja kerjanya yang berada di pojok ruangan. Dia merasa sedikit iri namun dia juga merasa sangat senang melihat teman-temannya bisa menemukan sedikit kebahagiaan sejati.
Yuki kembali fokus pada barisan kode di layarnya karena dia menemukan sebuah data yang sangat mengejutkan mengenai proyek rahasia lainnya. Data tersebut berkaitan dengan pengembangan sistem kecerdasan buatan yang bisa memprediksi masa depan seorang anak sejak lahir.
Sistem ini disebut sebagai Gacha Takdir yang akan menentukan seluruh jalan hidup seseorang tanpa ada celah untuk berubah. Yuki menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan sebuah konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar nilai ujian sekolah.
Mereka berlima memutuskan untuk beristirahat secara bergantian agar kondisi fisik mereka tetap terjaga dengan sangat baik pagi nanti. Ren Ishida tetap menjadi orang pertama yang berjaga di dekat pintu sementara yang lainnya mulai merebahkan diri di atas lantai.
Hana menggunakan tas ranselnya sebagai bantal dan dia mencoba untuk menutup matanya agar bisa segera tertidur lelap. Meskipun lantai kayu itu terasa sangat dingin, namun Hana merasa sangat hangat karena berada di dekat orang-orang yang dia sayangi.
Dia memikirkan tentang rencana yang akan mereka lakukan besok untuk menemui jurnalis senior yang sudah dihubungi oleh Akane. Hana berharap agar hari esok akan membawa sebuah kabar baik bagi perjuangan mereka yang sangat melelahkan ini.
Sebelum tertidur, Hana teringat kembali pada sebuah kutipan dari buku lama yang pernah dia baca di perpustakaan sekolahnya dulu. Kutipan itu mengatakan bahwa kegelapan yang paling pekat biasanya terjadi tepat sebelum matahari pagi mulai terbit di ufuk timur.
Hana merasa bahwa mereka saat ini sedang berada di dalam kegelapan yang paling pekat tersebut di dalam hidup mereka. Namun dia yakin bahwa cahaya keadilan akan segera datang untuk menghapus semua ketidakadilan yang ada di dunia ini.
Dengan keyakinan yang sangat kuat tersebut, Hana akhirnya mulai memasuki alam mimpinya yang penuh dengan kedamaian. Dia membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak sebelum menghadapi badai besar yang akan segera datang menerjang mereka semua.
Kaito Fujiwara tetap terjaga di samping Hana sambil terus memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat sangat tenang saat tertidur. Dia berjanji akan menjadi orang pertama yang akan melindungi Hana jika ada bahaya yang datang mengancam malam ini.
Kaito merasa bahwa hidupnya sekarang memiliki tujuan yang sangat jelas dan juga memiliki makna yang sangat mendalam. Dia bukan lagi Kaito yang dulu hanya peduli pada dirinya sendiri dan juga hanya peduli pada citra keluarganya.
Dia telah bertransformasi menjadi seorang pejuang yang berani berdiri di atas kakinya sendiri demi membela sebuah kebenaran. Kaito tersenyum tipis sambil mengusap poni rambut Hana dengan jari tangannya yang sangat lembut dan juga penuh rasa kasih.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍