NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Di rumah keluarga Hartawan, suasana kamar itu terasa penuh tekanan. Lestari duduk di depan meja rias, sementara Laras berdiri di belakangnya, memegang kuas make up dengan kesal yang nyaris meledak. Tangis Lestari tak kunjung berhenti, matanya merah dan bengkak, hidungnya memerah, dan air matanya terus menetes, membuat bedak dan foundation yang sudah susah payah diratakan jadi luntur kembali.

"Ya ampun, Lestari! Bisa nggak sih, kamu berhenti nangis dulu lima menit aja? Make up-nya nggak bakal jadi kalau tiap detik kamu mewek terus!" omel Laras, meletakkan kuas di meja dengan suara cukup keras.

Lestari mengusap air matanya dengan tisu. "Aku nggak mau ketemu Pak Yadris, aku nggak sanggup.

Aku takut... aku muak... aku-"

"Ya ampun, Lestari! Mau sampai kapan kamu begini? Ini acara penting, semua orang udah nunggu. Kalau kamu terus kayak gini, Mama bisa marah besar," kata Laras sambil memijit pelipisnya, berusaha menahan emosi.

Lestari terisak, bahunya berguncang. "Aku cuma pengen satu hari tanpa harus berpura-pura...satu hari aja tanpa harus senyum palsu di depan orang yang aku benci."

Baru saja Laras hendak menjawab, pintu kamar mereka terbuka dan Bu Rina masuk dengan langkah cepat dan wajah serius. Matanya langsung tertuju pada Lestari yang masih menangis.

"Apa-apaan ini? Kalian belum selesai juga? Kita harus berangkat sekarang!" kata Bu Rina tegas.

"Mama... aku-aku nggak bisa ikut. Tolong... jangan paksa aku ketemu dia," pinta Lestari dengan suara lirih, matanya masih basah.

"Cukup!" potong Bu Rina, nadanya meninggi. "Kamu pikir kamu bisa seenaknya? Acara ini untuk kehormatan keluarga kita! Kamu harus hadir dan kamu akan datang!"

Lestari menunduk, bibirnya bergetar, tapi ia tak sanggup membantah. Laras hanya bisa menghela napas panjang, lalu mengambil kembali kuas make up-nya.

Bu Rina menatap keduanya tajam. "Laras, selesaikan make up-nya. Dan kamu, Lestari, berhenti menangis! Kalau kamu bikin malu keluarga di depan semua tamu nanti, Mama sendiri yang akan kirim kamu ke luar kota!"

Setelah mengatakan itu, Bu Rina berbalik dan keluar dari kamar, membiarkan ketegangan menggantung di udara. Laras kembali memoles wajah Lestari, kali ini dengan lebih lembut.

"Udahlah, Tari... kamu kuat, kan? Kamu udah pernah lebih sakit dari ini," ucap Laras pelan, nada suaranya mulai melunak.

Lestari tak menjawab. Ia hanya menatap bayangannya di cermin wajah pucat dengan mata sembab. Dalam hati, ia berharap waktu bisa berhenti, atau seseorang menyelamatkannya dari kebohongan dan tekanan yang menyesakkan ini. Tapi ia tahu, hari ini dia harus kembali memainkan perannya... di hadapan semua orang... termasuk Pak Yadris. Orang yang selama ini menghantuinya.

Beberapa saat kemudian, setelah melalui proses panjang yang penuh isak tangis dan omelan, Lestari akhirnya selesai dirias. Wajahnya tampak cantik, namun matanya masih menyimpan luka yang tak bisa ditutupi bedak dan lipstik. Ia berdiri dari kursi rias, menatap dirinya di cermin. Di belakangnya, Laras menghela napas berat sambil memegangi perutnya.

"Duh... perutku sakit banget, tahu nggak sih, gara-gara kamu!" keluh Laras sambil mengusap perutnya pelan. "Stres nungguin kamu nangis dari tadi. Ganti rugi tuh, Lestari."

Lestari hanya diam, menunduk. Ia tahu semua orang kesal padanya hari ini.

Laras meliriknya sekilas lalu melanjutkan dengan nada menggoda, "Tapi ya udah lah... asal kamu bisa bikin semuanya berjalan lancar, dan kabar baik itu beneran datang."

"Kabar baik?" tanya Lestari pelan, menoleh dengan tatapan lelah.

Laras menyeringai kecil. "Pak Yandris katanya tinggal nunggu waktu buat tanda tangan surat kerjasama sama perusahaan kita. Kalau itu kejadian, perusahaan bisa masuk ke proyek besar yang dikelola keluarga Atmajaya. Kamu ngerti, kan, pentingnya ini?"

Lestari hanya mengangguk pelan. Tentu dia mengerti. Segalanya hari ini tentang kerja sama. Tentang bisnis. Tentang ambisi. Dan sekali lagi, dirinya menjadi bagian dari permainan itu.

Mereka pun keluar dari kamar, melangkah bersama menuju ruang tamu tempat Bu Rina dan Daffa sudah menunggu. Langkah Lestari terasa berat. Hatinya menolak, tapi kakinya terus melangkah. Seolah ia hanyalah pion dalam permainan catur keluarga besar ini.

Begitu sampai di bawah, Bu Rina menatap jam tangan lalu berseru, "Ayo cepat! Jangan sampai Pak Yandris menunggu terlalu lama. Ini momen penting."

Daffa menambahkan, "Dan kamu, Lestari, jaga sikap. Jangan kecewakan kami."

Lestari menatap Kakaknya dalam diam. Tidak ada yang peduli bagaimana perasaannya. Tidak ada yang bertanya apakah dia baik-baik saja. Semuanya hanya soal citra... dan keuntungan.

Dalam mobil menuju tempat pertemuan, Laras masih mengelus perutnya sambil bersungut-sungut kecil.

"Kamu tahu nggak, Lestari... kalau kerja sama ini gagal gara-gara sikap kamu nanti, aku sendiri yang bakal bikin kamu nangis tiap hari."

Lestari menatap keluar jendela, membiarkan larangan-larangan dan ancaman-ancaman itu berlalu bersama angin malam. Di dalam hatinya, ia berdoa. Bukan untuk keberhasilan kerja sama itu, tapi agar sua suatu saat... ada seseorang yang menyelamatkannya dari hidup yang penuh kepalsuan ini.

Mobil hitam mewah itu akhirnya berhenti tepat di depan sebuah restoran bintang lima yang sudah dikenal sebagai tempat pertemuan para pebisnis kelas atas. Daffa turun lebih dulu, membuka pintu untuk ibunya, Bu Rina, lalu diikuti oleh Laras dan terakhir Lestari.

Begitu Lestari keluar, Bu Rina langsung membetulkan bagian pundak bajunya dan berbisik tegas, "Senyum. Jangan sampai merusak suasana.

Kalau kamu bikin Pak Yandris ilfeel, habis kita semua."

Laras mendekat, menambahkan dengan bisikan ketus, "Jangan bikin makeup itu sia-sia. Kalau sampai gagal, kamu tahu kan akibatnya?"

Daffa, yang selama ini terlihat lebih tenang, juga ikut berkata, "Jaga sikapmu, Lestari. Malam ini penentu masa depan perusahaan."

Lestari hanya diam. Tak satu pun dari mereka menanyakan bagaimana perasaannya. Tapi tak apa. Ia sudah terbiasa. Tanpa kata, ia membetulkan rok panjangnya dan berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam restoran.

Di meja pojok dengan pencahayaan hangat dan tenang, Pak Yandris sudah duduk bersama dua orang asistennya. Begitu melihat keluarga Hartawan datang, ia sempat menoleh jam tangannya, tampak kesal karena menunggu. Tapi begitu matanya menangkap sosok Lestari, wajahnya melunak. Marah yang hendak disemburkan tertahan.

"Maaf kami sedikit terlambat, Pak Yandris," ucap Bu Rina dengan senyum manis. "Ada sedikit kendala tadi di rumah."

Pak Yandris hanya mengangguk. Tatapannya kini hanya terfokus pada Lestari. "Tak apa. Lestari... duduklah di sini." Ia menepuk kursi kosong di sampingnya.

Lestari menatapnya sejenak. Dalam hatinya berkecamuk, namun wajahnya tetap datar. Ia lalu melangkah dan duduk sesuai permintaan.

Sepanjang percakapan antara orangtuanya dan Pak Yandris, Lestari hanya menjadi pendengar. Ia menunduk, memainkan jari-jarinya, sesekali mencuri pandang ke arah pria paruh baya di sampingnya. Pak Yandris memang sudah cukup tua, mungkin setara usia ayahnya, tapi cara ia menatap Lestari... membuat gadis itu merasa memiliki kuasa.

Dan saat itulah ide itu muncul.

'Kalau aku berhasil menjadi nyonya Yandris...' pikirnya. 'Orang pertama yang akan kuangkat jadi pembantu rumah tangga adalah Laras'.

Senyum kecil tersungging di bibir Lestari.

Tidak tampak oleh siapa pun, tapi cukup untuk menandakan bahwa benih rencana balas dendam telah tumbuh dalam diamnya.

Ia mulai melirik Pak Yandris lebih sering.

Menyusun nada bicara, menyiapkan ekspresi. Jika ini yang diinginkan keluarganya memperalat dirinya demi kerja sama bisnis maka ia akan bermain lebih jauh.

Dan kali ini, permainannya tak hanya akan menguntungkan keluarga Hartawan. Tapi juga dirinya sendiri.

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!