NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 28 - OLAHRAGA GABUNGAN 2

Jumat datang dengan langit yang sangat cerah.

Bukan cerah biasa. Langitnya terlalu biru, anginnya pas, dan udara terasa seperti hari ini memang cocok untuk olahraga.

Seolah-olah cuaca tahu ada pertandingan hari ini.

Ara datang ke sekolah membawa dua tas—tas sekolah di bahu kanan, tas olahraga di kiri. Rambutnya sudah diikat tinggi sejak dari rumah. Ia tahu hari ini tidak akan punya waktu untuk merapikan rambut di tengah pelajaran.

Via berjalan di sampingnya sejak dari gerbang.

"Tidur nyenyak?" tanya Via.

"Cukup."

"Cukup yang benar-benar nyenyak, atau cukup yang artinya tidak terlalu buruk?"

"Cukup yang artinya aku tidur dan sekarang sudah bangun."

Via mengangguk.

"Oke."

Ia melirik Ara.

"Kamu gugup?"

"Tidak."

Via menatapnya.

"Ara."

Ara menghela napas kecil.

"Sedikit."

Via mengangguk lagi.

"Tapi bukan karena voli," tambah Ara.

Via tidak menanyakan bagian itu.

Sebagai gantinya, ia langsung mulai membahas strategi voli yang ia pikirkan sejak semalam.

Sangat Via.

Sistematis. Tenang. Tanpa drama.

Pelajaran olahraga gabungan dimulai pukul delapan.

Pak Rendra langsung membagi semua siswa.

Tim voli putri menuju aula olahraga indoor di gedung kanan.

Tim sepak bola menuju lapangan luar di sisi kiri.

Dua pertandingan berjalan bersamaan.

Ara berjalan menuju aula bersama tim volinya.

Sebelum masuk, ia sempat menoleh ke arah lapangan luar.

Dari sini hanya terlihat sekumpulan siswa yang bergerak menuju lapangan.

Ia tidak bisa mengenali siapa pun.

Tapi ia tahu Gill ada di sana.

"Ara."

Via sudah di dalam.

"Masuk."

Ara berbalik dan ikut masuk.

Set pertama berjalan buruk.

Bukan karena tim Ara lemah.

Tapi karena XI-C punya dua pemain yang sangat kuat—kembar dengan tubuh tinggi dan refleks cepat.

Serangan mereka cepat dan rapi.

Tim Ara kesulitan membaca arah bola.

Ara tetap menjalankan tugasnya sebagai setter.

Mengatur umpan. Membaca posisi teman-temannya. Mencoba mencari celah di pertahanan lawan.

Tapi set pertama tetap berakhir buruk.

XI-A kalah.

Di pinggir lapangan, Ara minum air sambil memikirkan apa yang salah.

Via berdiri di sampingnya.

"Blok kiri mereka lambat setelah lompat," kata Via tiba-tiba.

Ara menoleh.

"Kamu sadar itu?"

"Aku libero," jawab Via tenang. "Kalau tidak memperhatikan lawan, aku tidak berguna."

Ara mengangguk.

"Set kedua kita coba."

Set kedua langsung terasa berbeda.

Ara mengubah pola umpannya.

Ia mengarahkan bola ke sisi yang Via sebutkan.

Pelan-pelan ritme tim mereka mulai terbentuk.

Via bergerak cepat di belakang.

Beberapa kali ia menjatuhkan diri untuk menyelamatkan bola yang hampir jatuh.

Ara memberi umpan.

Spiker melompat.

Bola jatuh.

Poin.

Lalu poin lagi.

Set kedua akhirnya dimenangkan oleh XI-A.

Skor sekarang satu sama.

Semua ditentukan di set ketiga.

Set ketiga berjalan sangat ketat.

Skor terus kejar-kejaran.

XI-C unggul dua poin.

XI-A menyamakan.

XI-C unggul lagi.

XI-A mengejar lagi.

Via melakukan penyelamatan luar biasa yang membuat penonton berseru kaget.

Ara menerima bola dari Via.

Ia langsung tahu harus mengumpan ke mana.

Spiker melompat.

Bola dipukul keras.

Masuk.

Poin terakhir.

Peluit panjang berbunyi.

XI-A menang.

Beberapa pemain tim Ara langsung bersorak.

Ara berdiri di tengah lapangan dengan napas yang masih cepat.

Perasaan hangat memenuhi dadanya.

Via berjalan mendekat.

Ia mengangkat tangan.

Ara menepuknya.

"Bagus," kata Via.

"Kamu lebih bagus," kata Ara.

"Aku tahu."

Via mengambil tasnya.

"Sekarang kamu mau ke lapangan bola, kan?"

Ara berkedip.

"Aku mau ganti baju dulu."

"Kamu mau ke lapangan bola."

"Bukan begitu."

Via menatapnya.

"Aku cuma penasaran pertandingan."

Via diam satu detik.

"Lalu kipernya?"

Ara tidak menjawab.

Via tersenyum kecil.

Lapangan luar.

Ara tiba tepat ketika pertandingan sudah berjalan enam puluh menit.

Skor di papan kecil: 0–0.

Belum ada gol.

Ara berdiri di pinggir lapangan bersama beberapa penonton.

Hal pertama yang ia cari adalah gawang XI-C.

Dan Gill.

Gill berdiri di depan gawang.

Posisinya berbeda dari biasanya.

Lutut sedikit ditekuk. Tubuh condong ke depan. Tangan siap.

Tenang.

Tapi siap.

Marco berlari di tengah lapangan seperti orang yang tidak kehabisan energi.

Tim XI-A menyerang.

Operan cepat membawa bola mendekati gawang XI-C.

Seorang pemain XI-A mendapat kesempatan menendang.

Tembakan keras.

Gill bergerak.

Ia tidak melompat dramatis.

Ia hanya bergerak setengah detik lebih cepat dari bola.

Tangannya menepis bola keluar lapangan.

Corner.

Beberapa penonton bersorak.

Corner dilakukan.

Bola melambung tinggi ke depan gawang.

Seorang pemain XI-A meloncat untuk menyundul.

Sundulan keras menuju sudut atas gawang.

Gill melompat.

Dua tangan terangkat.

Bola tertangkap.

Tepuk tangan terdengar dari sisi XI-C.

Ara menatap itu semua dari pinggir lapangan.

Gill sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sudah tiga tahun tidak bermain.

Waktu normal berakhir.

Skor tetap 0–0.

Pak Rendra mengumumkan adu penalti.

Lima penendang tiap tim.

Ara berdiri lebih dekat ke lapangan sekarang.

Ia bisa melihat Gill dengan jelas.

Penalti pertama XI-A.

Gol.

1–0.

Penalti pertama XI-C.

Gol.

1–1.

Penalti kedua XI-A.

Gol.

2–1.

Penalti kedua XI-C.

Melenceng.

Masih 2–1.

Penalti ketiga XI-A.

Gill membaca arah bola.

Tangkap.

Penonton XI-C bersorak.

Penalti ketiga XI-C.

Gol.

2–2.

Penalti keempat XI-A.

Gol.

3–2.

Penalti keempat XI-C.

Gol.

3–3.

Penalti kelima XI-C.

Gol.

XI-C unggul.

Sekarang giliran penendang terakhir XI-A.

Jika masuk, pertandingan berlanjut.

Pemain XI-A berlari.

Menendang keras ke sudut kiri bawah.

Gill terjun.

Tangannya menyentuh bola.

Bola keluar dari garis gawang.

Peluit panjang berbunyi.

XI-C menang.

Marco langsung berlari ke arah Gill.

Ia memeluknya keras.

Gill terlihat sedikit kaget.

Dan sedikit tidak nyaman.

Tapi ia membiarkannya selama beberapa detik sebelum mendorong Marco pelan.

Ara berdiri di pinggir lapangan.

Menatap semua itu.

Lalu—

mata Gill bergerak.

Menemukan Ara.

Dan Gill tersenyum.

Hanya satu sudut bibirnya yang naik.

Bukan senyum ramah.

Bukan senyum hangat.

Ini senyum yang jelas mengatakan satu hal.

Aku tahu kamu menonton.

Dan tim kamu kalah.

Senyum kecil.

Sombong.

Dan sangat menyebalkan.

Ara menatapnya.

Rasa kesal muncul di dadanya.

Bukan kesal serius.

Tapi tetap kesal.

Selama ini Gill tidak pernah terlihat peduli soal menang atau kalah.

Tapi sekarang ia berdiri di sana dengan senyum seperti itu.

Ara memalingkan wajahnya.

Lalu berjalan menuju gedung.

Via menyusulnya di lorong menuju ruang ganti.

Mereka berjalan beberapa langkah dalam diam.

"Dia bagus," kata Via akhirnya.

"Iya."

"Kamu kesal."

"Aku tidak kesal."

Via meliriknya.

"Senyumnya?"

Ara diam sebentar.

"Senyumnya menyebalkan."

Via berpikir sejenak.

"Hm."

Mereka berjalan lagi.

"Lagipula," kata Via, "mungkin justru bukan menyebalkan."

Ara menoleh.

Via masih melihat lurus ke depan.

"Mungkin itu yang jadi masalah."

Ara menatapnya.

"Via—"

"Kita harus ganti baju sebelum pelajaran berikutnya," kata Via santai. "Ayo."

Ia berjalan lebih cepat.

Ara mengikuti di belakang.

Kalimat Via masih terngiang di kepalanya.

Mungkin itu yang jadi masalah.

Ara menatap punggung sahabatnya.

Via selalu tahu lebih banyak dari yang ia katakan.

Dan untuk sekarang…

Ara memutuskan lebih mudah tidak memikirkan itu dulu.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!