"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Yang menyedihkan
Pintu jati kamar VVIP itu perlahan tertutup, meninggalkan Aluna dalam kesunyian yang menyesakkan. Kini hanya ada mereka berdua. Aluna menggeser kursinya lebih dekat, lalu menggenggam jemari Azeus yang terasa dingin dan kaku. Hatinya perih menatap selang oksigen yang membantu pria itu bernapas.
Dengan gerakan penuh kasih, Aluna menunduk dan mencium pipi Azeus yang pucat. Air matanya menetes pelan, membasahi kulit pria itu. Di sela isakannya, bibir Aluna bergerak membisikkan doa yang tak henti, memohon pada Tuhan agar tidak mengambil nyawanya secepat ini. Ia rela memberikan kesempatan kedua, ketiga, atau sebanyak apa pun, asal Azeus kembali membuka mata.
Cklek.
Pintu terbuka pelan. Aluna menoleh dan mendapati Dion dan Raka sudah berdiri di ambang pintu. Tak ada lagi kekonyolan atau candaan "dodol" yang biasanya keluar dari mulut mereka. Wajah mereka pucat, mata mereka merah, dan langkah kaki mereka terasa sangat berat saat memasuki ruangan. Suasana terasa begitu sakral dan menyedihkan, melihat sang ketua geng motor yang biasanya paling gagah kini terbaring tak berdaya.
dr. Gathan mengekor di belakang mereka dengan jas putihnya. Ia berdiri di pojok ruangan, menyandarkan punggung di dinding sambil menatap monitor jantung dengan tatapan datar yang tetap menyimpan kecemasan.
"Gila... si Bos beneran kayak gini," bisik Dion parau, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mengepalkan tangan, menahan tangis yang hampir pecah melihat sahabatnya dipenuhi alat medis.
Raka hanya diam, ia berdiri di ujung ranjang dengan tatapan kosong. Untuk pertama kalinya, duo curut itu kehilangan kata-kata. Mereka semua berkumpul dalam keheningan, mengelilingi Azeus yang masih berjuang di alam bawah sadarnya, berharap kekuatan persahabatan dan cinta Aluna bisa menariknya kembali ke dunia.
^^^
Malam semakin larut di kamar VVIP RS Pendidikan, hanya menyisakan bunyi ritmis Monitor Jantung yang memecah kesunyian. Aluna tampak sangat kelelahan, ia terduduk lesu dengan kepala bersandar di pinggiran ranjang Azeus hingga tanpa sadar matanya terpejam.
Raka yang sedari tadi memperhatikan dari sofa merasa tidak tega. Ia mendekat dan menyentuh bahu Aluna pelan.
"Aluna, pulang dulu ya? Istirahat. Kamu sudah seharian di sini," bujuk Raka lembut.
Aluna menggeleng lemah, matanya yang sembab terbuka sedikit.
"Enggak, Kak. Aku mau nunggu Kak Azeus bangun."
Dion ikut berdiri, kali ini ia bersikap lebih tegas untuk kebaikan Aluna.
"Dengerin kita, Na. Kalau nanti Azeus bangun dan lihat kamu malah ikutan sakit, dia pasti bakal sedih banget. Malah makin parah nanti kondisinya karena mikirin kamu. Pulang ya? Biar Raka yang jaga di sini. Ada Gathan juga yang bolak-balik ngecek."
Mendengar alasan itu, Aluna akhirnya luluh. Ia bangkit berdiri dengan kaki yang terasa lemas. Sebelum pergi, ia membungkuk dan mencium kening Azeus sekali lagi, membisikkan janji untuk kembali esok pagi. Aluna kemudian melangkah gontai mengekori Dion keluar ruangan.
Sesampainya di parkiran luas rumah sakit yang mulai sepi, pertahanan Aluna runtuh lagi. Ia kembali meneteskan air mata saat menatap moge Dion yang terparkir membisu di sana. Dia teringat Azeus saat masih menaiki motor seperti itu dulu.
Dion berhenti di samping motornya. Melihat Aluna yang begitu rapuh, sisi konyolnya menguap, digantikan oleh kedewasaan seorang sahabat sejati. Ia berbalik, merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sehelai sapu tangan. Dengan gerakan canggung namun tulus, Dion mengusap air mata Aluna.
"Udah, jangan cengeng. Hapus nih air matanya," ucap Dion dengan nada bicara yang menenangkan. "Azeus itu keras kepala, dia nggak mungkin ninggalin kamu gitu aja. Dia terlalu obsesi sama kamu buat pergi ke surga sendirian."
Aluna menerima sapu tangan itu sambil sesenggukan. Dion kemudian mengambil helm full-face milik Raka yang sengaja dibawa.
"Nih, pakai helm Raka dulu biar aman.".
Aluna masih berusaha menghapus air matanya,
Dion dengan Cepat memakaikan helm itu ke kepala Aluna, memastikan talinya terkunci dengan benar. "Pegangan yang erat ya, kita jalan pelan-pelan."
Mereka pun membelah jalanan malam menuju Apartemen Elit tempat Aluna tinggal. Di atas motor, Aluna hanya bisa memeluk tasnya erat, berharap esok pagi ada keajaiban yang menunggunya di kamar VVIP itu..
.
Pagi itu, aroma antiseptik di koridor rumah sakit tak mampu meredam ketegangan yang mendadak memuncak di kamar VVIP nomor 001. Aluna melangkah masuk dengan perasaan berdebar, namun langkahnya terhenti kaku saat matanya menangkap sosok wanita yang paling tidak ia sukai.
Erena sudah duduk di sana, tampil sangat rapi dan elegan, kontras dengan wajah Aluna yang masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan semalam. Di pojok ruangan, Raka dan Dion hanya bisa berdiri kaku, terjebak di tengah aura persaingan dua wanita yang memperebutkan satu pria yang masih terlelap di balik masker oksigen.
Aluna cemberut seketika.
"Dia lagi..." gumamnya lirih namun tajam.
Tanpa basa-basi, Aluna melangkah maju dengan gerakan protektif. Ia sengaja berdiri tepat di samping ranjang Azeus, secara fisik membelah jarak antara Erena dan tubuh kekasihnya yang masih lemah. Bahunya ia tegakkan, menatap Erena dengan sorot mata yang tak lagi bisa ditindas.
"Ngapain lagi kamu ke sini?" tanya Aluna dingin.
Erena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat tenang namun mematikan.
"Kamu harus tahu posisiku. Selain sebagai sekretaris profesional di kantor, Azeus juga mantan pacar ku. Aku punya hak untuk memberinya perhatian lebih di saat dia seperti ini."
Aluna tidak diam membeku seperti dulu. Ia mendengus sinis, menatap Erena dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Mantan?" Aluna mengulangi kata itu dengan nada meremehkan.
"Setahu aku, kalau sudah jadi mantan, tempatnya itu di tempat sampah, bukan disini." Celetuk Aluna pedas
Mendengar ucapan menohok itu, Erena seketika terbungkam dengan wajah yang memerah padam. Sementara itu, di belakang mereka, Raka dan Dion saling lempar pandangan. Punggung mereka bergetar hebat karena menahan tawa yang nyaris meledak. Mereka tidak menyangka Aluna yang polos bisa mengeluarkan kalimat sepedas itu untuk mengusir si ular berbaju profesional.
"Udah, hapus tuh muka sombongmu. Keluar sekarang sebelum aku panggil perawat untuk sterilisasi ruangan ini dari gangguan nggak penting," pungkas Aluna sambil berbalik, kembali menggenggam tangan Azeus seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.
Prahara di kamar VVIP itu pecah seketika. Topeng profesional yang selama ini diagung-agungkan Erena hancur berkeping-keping. Merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gadis yang ia anggap remeh, Erena gelap mata.
PLAK!
Erena menampar Aluna kesetanan hingga wajah Aluna terlempar ke samping. Bunyi tamparan itu bergema nyaring di ruangan yang seharusnya tenang. Aluna memegangi pipinya yang panas, matanya membelalak tak percaya melihat kegilaan wanita di depannya.
"Erena! Apa-apaan lo?!" teriak Raka yang langsung sigap melompat dari sofa.
Dion tidak tinggal diam, ia segera menarik paksa lengan Erena sebelum wanita itu melayangkan pukulan kedua. Duo sahabat Azeus itu benar-benar terbelalak. mereka tidak menyangka Erena bisa sebrutal itu di depan Azeus yang sedang kritis.
"Lepasin gue! Dasar anak panti nggak tahu diri!" raung Erena sambil meronta-ronta di cengkeraman Dion dan Raka.
Saat diseret paksa menuju pintu, Erena yang ternyata sudah menyelidiki latar belakang Aluna lewat Informasi Internal Perusahaan, meluncurkan kata-kata pahit yang menyayat hati.
"Lo pikir lo siapa, Aluna?! Lo cuma sampah panti asuhan yang kebetulan dipungut sama keluarga ini karena belas kasihan! Lo nggak punya kelas buat dampingin CEO seperti Azeus! Sadar diri, lo itu cuma parasit yang numpang hidup!" teriak Erena tepat sebelum pintu jati itu tertutup rapat oleh bantingan tangan Raka.
BRAK!
Kesunyian mendadak menyergap. Aluna mematung di sisi ranjang, tangannya masih gemetar menyentuh pipinya yang mulai memar. Kata-kata Erena tentang "anak panti" dan "parasit" menghantam ulu hatinya lebih perih daripada tamparan tadi. Air matanya menetes, jatuh tepat di punggung tangan Azeus yang masih tak berdaya.
Aluna menunduk sedalam mungkin, merasa kerdil di tengah kemewahan Kamar VVIP Rumah Sakit ini. Namun, di tengah isakannya, ia merasakan jemari Azeus yang ia genggam bergerak halus—seolah pria itu mendengar setiap penghinaan yang baru saja ia terima..