NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Bayang-Bayang Kaisar Lucien (Perancis)

Senja merayap di ufuk timur kota pelabuhan kolonial, cahaya oranye redup menyapu atap-atap genteng dan menembus jendela-jendela besar rumah bangsawan. Melati berjalan di koridor yang panjang dan dingin, menahan napasnya dari hawa laut yang lembap dan aroma kayu jati yang dipoles mengilap. Kenjiro telah pergi ke medan perang di wilayah timur, meninggalkannya sendiri di istana dengan keamanan yang rapuh, karena meski para pengawal tetap berjaga, dunia di sekelilingnya terasa penuh bahaya yang tak tampak.

Di sudut yang remang, di balik tirai berat yang menutupi jendela menghadap taman kolonial, seorang pria tampak berdiri tegap. Tubuhnya tinggi, jas hitam berpotongan Eropa menempel rapi di pundaknya, dan wajahnya tersenyum halus, namun matanya memancarkan kilatan dingin yang mengancam. Kaisar Lucien dari Perancis—sosok licik yang terkenal di seluruh Eropa dengan kecerdikan dan kekejamannya—telah lama memandang Melati dari bayangan.

“Selamat sore, Nona Melati,” suara Lucien terdengar ringan, namun ada nada tertentu yang membuat udara di sekitarnya menjadi tegang. “Jangan takut, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu… selama kau mau sedikit… bekerja sama dengan kehendakku.”

Melati menoleh, tubuhnya menegang, tangan gemetar meski ia berusaha terlihat tenang. “Siapa… kau?” suaranya pelan namun jelas, nada penuh kewaspadaan.

Lucien melangkah mendekat, setiap gerakannya begitu tenang, seakan menari di atas lantai kayu tua. “Ah, maafkan jika kedatanganku mengejutkan. Aku hanya ingin berbicara, menawarkan perlindungan. Kau telah sendirian sejak Kenjiro pergi, dan dunia ini… dunia penuh bahaya bagi seorang gadis desa yang berada di tengah intrik para penguasa.” Ia tersenyum, dan senyum itu seperti racun halus yang mengalir di udara.

Melati menunduk, mencoba menenangkan diri. Hatinya berdebar kencang, tapi ia tetap tegak. “Aku tidak membutuhkan perlindungan dari seorang pria asing… apalagi dari Kaisar Perancis.”

Lucien mengerutkan alis tipis, tapi senyumnya tak hilang. “Oh, aku tidak asing, Nona. Aku menawarkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar perlindungan. Aku menawarkan Paris—kekuasaan, kemewahan, dan tempat di istana yang tak ada tandingannya. Kau hanya perlu menjadi… piala pribadiku.” Suaranya menekankan kata “piala” dengan nada yang membuat darah Melati berdesir tidak nyaman.

Melati menatapnya dengan mata berbinar. “Tidak. Aku tidak akan pernah menjadi perhiasan bagi seorang pria beristri lagi. Aku milik diriku sendiri, dan aku tunduk hanya kepada Tuhan.” Suaranya tegas, setiap kata diucapkan dengan keberanian yang lahir dari keteguhan hati dan iman yang dalam.

Lucien menatapnya, wajahnya berubah, senyum halusnya memudar dan berganti dengan kilatan kemarahan yang dingin. “Berani sekali kau menolak tawaran Kaisar Lucien,” katanya dengan nada rendah yang bergetar seperti badai yang tertahan. “Kau tidak menyadari bahwa penolakanmu bisa membawa akibat yang… tidak menyenangkan.”

Melati mengangkat dagunya, matanya tidak beralih, walau jantungnya terasa ditekan oleh aura kekuasaan yang menakutkan. “Aku tidak takut pada ancaman pria yang hanya mengandalkan kekuasaan. Aku tunduk hanya kepada Tuhan, dan tidak akan pernah rela menjadi alat kesombongan atau kesenanganmu.”

Lucien mendekat lebih dekat, tubuhnya seakan menutupi cahaya sore yang masuk melalui jendela. “Kau tampak begitu polos, Nona Melati. Tapi dunia ini… dunia ini tidak mengenal kepolosan. Kau harus belajar bahwa pria yang memiliki kekuasaan tidak bertanya; mereka menuntut. Aku bisa memberimu segala kenyamanan di Paris, mengenakan gaun sutra, makan makanan terbaik, ditemani oleh pelayan dan pengawal terbaik… asalkan kau mau menjadi milikku.”

Melati menggeleng, bibirnya tipis menahan kata-kata. “Tidak. Sekalipun Paris adalah kota paling indah di dunia, aku tidak akan rela menjadi perhiasan bagi pria yang memiliki istri. Aku tidak akan menukar kehormatanku untuk kenyamanan duniawi. Aku punya iman, dan iman itu lebih berharga daripada segalanya.”

Lucien menelan ludah, wajahnya berubah merah padam oleh kemarahan yang dipendam. Matanya menyipit, dan seketika aura hangat dan halus yang tadi menutupi kekejamannya lenyap, digantikan oleh aura dingin yang menusuk. “Kau tidak mengerti. Aku Kaisar Lucien. Aku tidak biasa ditolak. Semua yang kuinginkan akan diperoleh… dengan cara atau tanpa cara.”

Melati tetap diam, tubuhnya tegang, matanya tetap lurus menatap pria di hadapannya. Ia merasakan aura kemarahan itu, namun hatinya tidak goyah. Ia tahu bahwa kebenaran dan keteguhan iman adalah perlindungan yang tidak bisa diberikan dunia atau dicabut oleh seorang kaisar.

Lucien menepuk meja di dekatnya, membuat lilin bergetar. “Baiklah, jika kau menolak, berarti kau akan melihat sisi lain dariku. Sisi yang… lebih keras, lebih tegas, dan lebih… memaksa. Kau pikir penolakanmu akan dibiarkan begitu saja?” Suaranya rendah, dingin, dan memancarkan ancaman yang nyata.

Melati mundur sedikit, namun tetap tegak. “Aku tidak akan tunduk. Aku memilih jalan Tuhan, bukan jalanmu. Kau boleh mencoba memaksa, tapi aku tidak akan pernah rela menjadi alat kesombongan seorang pria beristri lagi. Aku menolak dengan tegas.”

Lucien mendekatkan wajahnya hingga jarak beberapa inci dari wajah Melati, matanya menyala seperti bara api yang tersembunyi. “Berani sekali kau menatapku dengan keberanian itu. Tapi keberanianmu akan menjadi… ujian yang menyakitkan. Kau akan melihat bahwa dunia ini tidak adil, Nona Melati. Bahwa penolakan seorang gadis desa terhadap seorang kaisar… memiliki konsekuensi.”

Melati menarik napas panjang, hatinya tetap teguh. “Aku tidak takut. Konsekuensi duniawi tidak bisa menyaingi kehormatan dan iman seorang wanita. Aku memilih jalan yang benar, walau harus menghadapi bahaya. Aku tidak akan menjadi perhiasan, dan aku tidak akan tunduk pada kesombonganmu.”

Lucien tertawa pelan, tawa yang dingin dan menusuk. Ia mundur satu langkah, wajahnya menebar aura kemarahan yang membara. “Begitu… keras kepala. Aku menyukai tantangan, tapi kau harus tahu, Nona Melati, bahwa kaisar tidak biasa ditolak. Dunia akan segera belajar bahwa penolakanmu adalah awal dari hukuman… dan aku, Kaisar Lucien, tidak akan berhenti hanya karena kata-kata manismu.”

Melati tetap menatapnya, wajahnya tegas, tubuhnya tidak goyah. Ia sadar bahwa ancaman ini nyata, bahwa kekuasaan seorang kaisar bisa menimbulkan bahaya, tapi ia juga sadar bahwa iman dan kehormatan adalah tameng yang tidak bisa diambil oleh siapapun.

Lucien menundukkan tubuhnya sedikit, matanya menatap Melati dengan campuran kemarahan dan kagum, suara rendahnya menembus udara. “Kau gadis desa yang luar biasa, Nona Melati. Tapi ingatlah, dunia ini keras. Paris bukan tempat untuk wanita seperti kau… tapi aku bisa membuatmu belajar, satu cara atau lain. Kau menolak, maka kau akan merasakan kekejamanku secara langsung.”

Melati mengangkat dagu, nada suaranya tetap tegas meski jantungnya berdebar. “Aku tidak akan tunduk. Aku menolak, dan tidak akan pernah berubah. Dunia boleh keras, pria boleh kejam, tapi hatiku tetap milik Tuhan. Aku tidak akan pernah menjadi piala atau alat kesombongan seorang pria beristri lagi.”

Lucien menatapnya sejenak, matanya menyipit, lalu perlahan senyum tipis muncul kembali, namun kali ini bukan senyum halus, melainkan senyum licik yang menandakan rencana dan ancaman yang lebih dalam. “Baiklah, Nona Melati… kau menolak saat ini. Tapi dunia ini penuh bayangan, dan aku akan menunggu… dan aku bisa menjadi kegelapan yang mengejarmu di setiap langkah.”

Melati menunduk, namun tatapannya tetap lurus, tidak mundur. Ia sadar bahwa ancaman Lucien nyata, bahwa Paris dan kekuasaan bisa menjadi alat untuk menekan, tapi ia tetap memilih kebenaran dan kehormatan di atas kemewahan dan perlindungan duniawi.

Lucien perlahan mundur, bayangannya membesar di dinding koridor saat cahaya senja memudar. Suara langkahnya berderap di lantai kayu tua, meninggalkan kesan dingin yang menempel di udara. “Ingat kata-kataku, Nona Melati,” bisiknya, hampir seperti angin malam. “Aku akan kembali. Dan dunia… akan belajar bagaimana seorang gadis desa menolak Kaisar Lucien.”

Melati tetap berdiri di koridor, tubuhnya tegang, matanya menatap ke arah jendela, melihat cahaya senja yang memudar. Ia tahu bahwa ancaman ini belum berakhir, bahwa kekejaman dan tipu daya Kaisar Lucien masih mengintai. Namun hatinya tetap teguh, iman tetap kuat, dan ia menolak menjadi alat kesombongan seorang pria beristri lagi.

Di balik bayang-bayang koridor kolonial itu, dunia tampak gelap dan penuh intrik. Paris, Kenjiro di medan perang, dan Kaisar Lucien yang licik—semuanya tampak menekan, namun Melati tetap berdiri, sosok kecil namun kuat, di tengah bayang-bayang kekuasaan dan ancaman yang mengelilinginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!