Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Bayang-Bayang Penyesalan dan Jejak yang Hilang
Malam di kediaman Danola terasa mencekam sejak kepergian Kathryn. Rumah besar itu kini terasa seperti gua yang dingin dan hampa. Sean sudah tertidur setelah menangis berjam-jam menanyakan tantenya, sementara Paul duduk meringkuk di sofa ruang tamu dengan botol minuman yang masih penuh, tidak sanggup menyentuh apa pun. Rasa bersalah mulai merayap pelan, melilit hatinya yang tadi siang begitu keras kepala.
Lelah yang luar biasa akhirnya membawa Paul ke dalam tidur yang gelisah. Namun, ketenangan tidak kunjung datang. Dalam alam bawah sadarnya, ia berdiri di sebuah taman bunga yang dulu sering dikunjungi keluarganya saat ia masih kecil. Di sana, di bawah pohon beringin tua, berdiri seorang wanita dengan gaun putih yang anggun.
"Ibu?" bisik Paul, tenggorokannya terasa tercekat.
Wanita itu berbalik. Wajahnya yang lembut kini tampak sangat sedih. Ia tidak tersenyum. Matanya menatap Paul dengan pandangan yang penuh dengan kekecewaan mendalam tatapan yang dulu hanya muncul jika Paul melakukan kesalahan fatal saat kecil.
"Paul... apa yang kau lakukan pada adikmu?" suara ibunya bergema, namun nadanya dingin seperti es. "Aku menitipkan Kathryn padamu bukan untuk kau sakiti. Mengapa kau menggunakan tangan yang seharusnya melindunginya untuk justru mengusirnya? Mengapa egomu lebih besar daripada kasih sayangmu?"
Paul mencoba mendekat, tangannya terulur. "Ibu, aku hanya ingin yang terbaik untuknya! Dimas pria yang baik, dia,"
"Kau menghancurkan hatinya, Paul," potong ibunya. Sosok itu mulai memudar, tertutup kabut putih. "Kau membelanya karena kau merasa berhutang budi, tapi kau mengabaikan luka di jiwa adikmu sendiri. Sekarang, kau telah memutuskan benang yang paling berharga dalam hidupmu. Selamat tinggal, anakku yang keras kepala."
"Ibu! Tunggu! Ibu!"
Paul tersentak bangun. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia duduk tegak dengan napas terengah-engah, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja berlari maraton. Suara ibunya masih terngiang jelas di telinganya. Penyesalan itu kini meledak, menghancurkan sisa-sisa amarahnya tadi siang.
Ia segera menyambar ponselnya. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Hal pertama yang ia lakukan adalah menghubungi Dimas.
"Halo, Dimas? Dimas, kau sudah menemukan dia?" suara Paul bergetar, hampir menangis.
Di seberang sana, suara Dimas terdengar sama lelahnya. "Belum, Paul. Adrian dan timnya sudah menyisir stasiun, terminal, bahkan kos-kosan di dekat kampusnya. Dia tidak ada di mana-mana. Seolah-olah dia lenyap ditelan bumi."
"Aku bermimpi tentang Ibu, Dim... aku merasa sangat berdosa," rintih Paul. "Cepat temukan dia. Aku akan melakukan apa saja agar dia kembali."
"Aku sedang berusaha, Paul. Aku tidak akan berhenti," sahut Dimas sebelum menutup telepon.
Dimas duduk di depan layar monitor di markas keamanan pribadinya. Adrian di sampingnya tampak frustrasi, memutar kembali rekaman CCTV dari terminal bus antarkota.
"Dia pintar, Dim. Benar-benar pintar," gumam Adrian. "Sepertinya dia sudah tahu kalau kita akan melacaknya. Lihat ini."
Adrian menunjuk ke sebuah rekaman. Terlihat Kathryn turun dari angkutan umum, namun alih-alih masuk ke terminal utama, ia justru berjalan kaki cukup jauh menuju sebuah pool bus kecil yang melayani rute ke daerah terpencil di kaki pegunungan. Ia mengenakan topi dan masker, bahkan mengganti jaketnya di sebuah toilet umum untuk mengelabui mata-mata yang mungkin membuntutinya.
"Dia mematikan ponselnya sejak naik bus itu," tambah Adrian. "Lalu dia membuang kartu SIM-nya di sebuah tempat sampah di pinggir jalan tol. Instingnya sangat tajam. Dia tahu kita punya teknologi untuk melacak sinyal."
Dimas mengepalkan tangannya. Rasa kagum sekaligus takut menyelimuti hatinya. Kathryn yang lembut ternyata memiliki kekuatan tekad yang luar biasa saat merasa harga dirinya diinjak.
"Ke mana bus itu pergi, Adrian?" tanya Dimas dengan suara rendah.
"Ke daerah perbatasan, Dim. Sebuah desa yang bahkan jarang terjamah sinyal ponsel. Daerah terpencil yang jauh dari kemewahan Medika Group atau kekuasaan Alvaro Holdings. Dia benar-benar ingin pergi ke tempat di mana 'Tuan Besar Alvaro' tidak bisa menjangkaunya."
Dimas berdiri, mengambil jaket kulitnya. "Siapkan tim kecil. Jangan gunakan mobil mewah. Gunakan mobil biasa yang bisa melewati medan berat. Aku akan mencarinya sendiri."
"Tapi Dim, operasional rumah sakit dan,"
"Persetan dengan rumah sakit!" bentak Dimas. "Jika aku tidak bisa menemukan Kathryn, semua kekayaan ini hanyalah tumpukan sampah yang tidak berguna. Aku yang membuatnya pergi, aku yang harus membawanya pulang."
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan selama hampir sepuluh jam yang melelahkan, Kathryn turun di sebuah perhentian bus yang hanya berupa gubuk kayu di pinggir jalan berbatu. Udara di sini sangat dingin dan segar, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta yang penuh kepalsuan.
Ia berjalan kaki sambil menggendong ransel beratnya menuju sebuah rumah panggung tua milik seorang nenek yang dulu pernah ia temui saat kegiatan sosial kampusnya. Kathryn memutuskan untuk menyewa kamar di sana. Sederhana, tanpa kasur empuk, tanpa pendingin ruangan. Hanya ada tikar pandan dan lampu minyak yang remang-remang.
Kathryn duduk di ambang pintu rumah panggung itu, menatap hutan pinus di hadapannya. Ia mengeluarkan ponselnya yang sudah mati, lalu menyimpannya jauh mampu di dasar tas. Di sini, ia bukan lagi adik seorang CEO kaya, bukan lagi gadis yang dikejar-kejar oleh miliarder. Ia hanya Kathryn.
"Di sini... Mas Dimas tidak akan pernah menemukan aku," bisiknya pada angin gunung.
Matanya berkaca-kaca saat teringat wajah kecewa kakaknya, tapi ia segera menghapusnya. Ia harus belajar berdiri di atas kakinya sendiri. Jika ketulusan tidak lagi dihargai di kota besar, maka ia akan memberikan ketulusannya pada alam dan orang-orang desa yang tidak butuh topeng untuk hidup.
Namun, yang Kathryn tidak tahu adalah bahwa meski ia telah membuang jejak digitalnya, cinta Dimas bukanlah sesuatu yang bekerja melalui sinyal satelit. Dimas mulai mengerahkan seluruh kemampuannya sebagai seorang dokter yang terbiasa menganalisis jejak penyakit untuk menganalisis jejak langkah Kathryn.
Malam itu, di bawah langit pegunungan yang bertabur bintang, Kathryn mencoba memejamkan mata. Sementara di jalanan berbatu yang terjal, sebuah mobil biasa dengan lampu depan yang temaram mulai merayap naik, membawa seorang pria yang bersumpah tidak akan kembali sebelum ia menemukan hatinya yang hilang.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰