NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangkitnya Tulang Asura

Serigala Beruang itu mengaum keras sampai daun-daun di pohon berjatuhan. Ia melompat maju dengan kecepatan luar biasa. Mulutnya yang penuh taring tajam terbuka lebar, siap menggigit putus leher Zian.

"Maju sini, monster bodoh!" tantang Zian. Dia sama sekali tidak bergeser dari posisinya.

Monster itu mengayunkan cakar kanannya yang sebesar batu gilingan. Zian tidak menghindar. Dia malah mengangkat lengan kirinya untuk menangkis.

Trang!

Bunyi benturan keras terdengar seperti besi beradu dengan baja. Cakar tajam Serigala Beruang itu menghantam lengan Zian, tapi anehnya, tidak ada setitik darah pun yang keluar. Kulit Zian hanya meninggalkan bekas goresan putih tipis. Tulang di balik lengannya menahan semua tekanan itu dengan sempurna.

Mata merah monster itu membulat bingung. Ia belum pernah memukul manusia sekeras ini.

"Kukumu tumpul sekali," ejek Zian. Dia menatap lurus ke mata monster itu dengan dingin. "Sekarang, giliranku mengajarimu cara memukul yang benar."

Zian menarik tangan kanannya ke belakang. Otot-otot di lengannya mengencang seperti tali busur yang ditarik maksimal. Tidak ada cahaya sihir. Tidak ada ledakan energi. Murni hanya kekuatan fisik dan kepadatan tulang.

Bugh!

Kepalan tangan Zian meluncur lurus menghantam rahang bawah Serigala Beruang itu.

KRAK!

Suara tulang hancur bergema ngeri di tengah hutan. Tubuh raksasa monster itu langsung terangkat dari tanah. Rahangnya amblas ke dalam menembus tengkorak kepalanya sendiri. Serigala Beruang itu terlempar ke belakang, menabrak tiga pohon besar berturut-turut sampai pohon-pohon itu tumbang.

Monster tingkat Perwira itu mati seketika. Bahkan ia tidak sempat mengeluarkan suara rintihan.

Zian menatap kepalan tangannya sendiri. Dia membuka dan menutup jarinya perlahan.

"Luar biasa," gumam Zian pelan. "Hanya dengan satu pukulan biasa, aku bisa meremukkan monster tingkat Perwira."

"Jangan sombong dulu, Bocah!" Tiba-tiba suara serak leluhurnya bergema lagi di dalam kepalanya. "Itu cuma monster rendahan. Otaknya sekecil kacang. Kau menang karena tulang barumu lebih keras dari tengkoraknya."

Zian mendengus pelan. "Berisik. Kau bilang kau mau tidur? Kenapa masih mengoceh di kepalaku?"

"Aku terbangun karena pukulanmu terlalu jelek!" balas suara kuno itu dengan nada mengejek. "Kau membuang banyak tenaga. Tarikan bahumu salah. Kalau kau bertemu kultivator manusia yang bisa terbang dan main sihir dari jarak jauh, pukulan lambatmu itu cuma memukul angin!"

"Kalau mereka terbang, aku akan melompat dan menarik kaki mereka ke bawah," jawab Zian santai. Dia berjalan mendekati bangkai monster itu. "Lalu aku akan mematahkan sayap sihir mereka dengan tangan kosong."

Leluhur itu tertawa keras. "Hahaha! Gila! Aku suka cara berpikirmu. Teruslah membunuh. Biasakan tubuhmu dengan bau darah. Aku mau tidur lagi."

Suara di kepala Zian menghilang. Zian berjongkok di sebelah bangkai Serigala Beruang. Dia merobek dada monster itu dengan tangan kosong, lalu menarik keluar sebuah batu kristal seukuran kepalan tangan yang bersinar redup. Itu adalah inti monster. Harganya lumayan mahal jika dijual di kota.

Sementara Zian sibuk memanen inti monster, suasana di sebuah penginapan mewah di pusat kota sedang memanas.

Prang!

Tian Ao melempar cangkir teh keramik mahalnya ke dinding sampai hancur berkeping-keping. Wajahnya merah padam menahan marah. Dia menunjuk ke arah penjaga yang sedang bersujud gemetar di lantai kamarnya.

"Kau bilang apa?!" bentak Tian Ao. "Coba ulangi sekali lagi! Jangan berani kau mengarang cerita di depanku!"

Penjaga itu berkeringat dingin. "A-ampun, Tuan Muda! Saya tidak bohong! Zian benar-benar hidup lagi. Dia membunuh Kakak Seperguruan hanya dengan satu pukulan tangan kosong. Tubuhnya sekeras besi. Dia mematahkan pedang baja murni hanya dengan dua jarinya!"

Lin Yue yang duduk anggun di kursi seberang meja hanya tertawa dingin. Dia menyesap tehnya pelan.

"Kau pasti salah lihat karena suasana sedang gelap dan hujan," kata Lin Yue santai. Dia menaruh cangkirnya di atas meja. "Zian itu cacat permanen. Aku sendiri yang memeriksa saluran energinya sejak kami masih anak-anak. Dia tidak bisa menampung setitik energi pun. Mematahkan pedang baja dengan jari? Itu mustahil."

Tian Ao menoleh ke arah Lin Yue. "Lalu siapa yang membunuh pengawalku? Mayatnya jelas-jelas hancur menabrak tembok!"

"Pasti ada ahli bela diri tingkat tinggi yang sedang lewat," tebak Lin Yue. Nada bicaranya sangat meremehkan. "Orang tua itu mungkin merasa kasihan melihat Zian yang sekarat, lalu dia membunuh pengawalmu. Zian hanya bersembunyi di belakang punggung ahli itu untuk menakut-nakuti anjing peliharaanmu ini."

Tian Ao mengangguk pelan. Amarahnya sedikit mereda mendengarkan penjelasan logis dari tunangannya. "Masuk akal. Tidak mungkin sampah cacat tiba-tiba menjadi dewa perang dalam hitungan jam."

Tian Ao kembali menatap tajam ke arah penjaga yang masih bersujud. "Hei, kau! Cepat berdiri!"

Penjaga itu buru-buru bangkit. "B-baik, Tuan Muda!"

"Kumpulkan lima orang Pasukan Elit dari sekte kita malam ini juga. Pergi ke sekitar pinggiran Hutan Kematian. Cari sampah cacat itu sampai dapat!" perintah Tian Ao. Matanya berkilat licik. "Kalau si ahli tua pelindungnya itu sudah pergi, langsung sergap Zian. Patahkan kedua kakinya dan bawa dia ke hadapanku hidup-hidup. Aku sendiri yang akan menginjak kepalanya sampai hancur."

"Siap laksanakan, Tuan Muda!" Penjaga itu membungkuk hormat lalu berlari keluar kamar secepat kilat.

Lin Yue tersenyum manis. "Kau terlalu membuang tenaga untuk mengurus lalat mati, Kakak Tian."

"Lalat yang berdengung terlalu lama membuat telingaku sakit, Yue-er. Aku suka melihat lalat itu merangkak memohon ampun," jawab Tian Ao sambil tertawa jahat.

Kembali ke dalam keheningan Hutan Kematian.

Zian sudah berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Pakaian robeknya kini penuh dengan cipratan darah segar. Tapi tak satu pun darah itu miliknya. Dia baru saja membantai tiga ekor monster tingkat Perwira berturut-turut tanpa menggunakan senjata sama sekali.

Zian melempar inti monster ketiga ke dalam kantong kain di pinggangnya. Dia bernapas panjang.

"Bahkan monster tingkat Perwira tidak bisa membuatku berkeringat," keluh Zian pelan. Dia mengepalkan tangannya. "Aku butuh lawan yang lebih kuat. Tulangku terasa gatal kalau tidak membentur sesuatu yang keras."

Srek. Srek.

Telinga Zian yang kini jauh lebih tajam menangkap suara langkah kaki manusia. Bukan hanya satu orang, tapi tiga orang. Mereka melompat turun dari dahan pohon besar dan mendarat ringan tepat sepuluh langkah di depan Zian.

Zian mengangkat wajahnya. Matanya langsung memicing tajam.

Tiga pemuda itu memakai jubah seragam berwarna biru tua. Di dada kiri mereka, terukir lambang kepingan salju bersinar. Itu adalah seragam kebanggaan murid Sekte Bintang Es. Sekte tempat Lin Yue bernaung.

Pemuda yang berdiri di tengah melangkah maju. Dia menatap Zian dari atas ke bawah dengan tatapan jijik.

"Wah, wah. Coba lihat siapa yang kita temukan di sini," kata pemuda itu sambil bersedekap dada. "Bukankah ini Zian? Tuan Muda Sampah dari Kota Daun? Kenapa kau ada di dalam hutan seberbahaya ini? Kau mau bunuh diri karena diputusin Nona Lin Yue ya?"

Dua temannya langsung tertawa keras.

"Hei, lihat kantong di pinggangnya," tunjuk pemuda di sebelah kanan. "Itu kantong isi inti monster kan? Wah, hebat juga kau memungut bangkai sisa buruan orang lain."

Zian sama sekali tidak marah mendengar hinaan mereka. Dia justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat udara malam terasa semakin dingin.

"Sekte Bintang Es," ucap Zian datar. "Kalian datang ke sini karena disuruh Lin Yue?"

"Cih! Jangan mimpi siang bolong, Cacat!" ludah pemuda di tengah. "Nona Lin Yue adalah calon murid inti sekte kami. Dia bahkan tidak sudi menyebut namamu lagi. Kami bertiga kebetulan sedang mencari bahan obat di sini."

Pemuda di sebelah kiri mencabut pedangnya perlahan. Bilah pedang itu memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. "Tapi, karena kami tidak sengaja bertemu denganmu, anggap saja ini hari sialmu. Serahkan kantong inti monster itu pada kami sekarang. Lalu bersujudlah tiga kali ke arah kakiku."

"Untuk apa aku bersujud padamu?" tanya Zian santai. Dia memiringkan kepalanya sedikit.

"Sebagai ucapan terima kasih karena kami berbaik hati tidak memotong lidahmu malam ini," jawab pemuda di tengah sambil tertawa sombong. "Setelah bersujud, kau boleh merangkak keluar dari hutan ini seperti anjing yang patuh."

Zian tertawa pelan. Tawanya sangat pelan, tapi entah kenapa membuat bulu kuduk ketiga murid Sekte Bintang Es itu merinding seketika.

"Kebetulan yang sangat bagus," bisik Zian. Dia merentangkan kedua tangannya. Otot-otot di lengannya mulai mengembang padat. Urat-urat halus muncul di balik kulitnya. "Aku baru saja mengeluh karena monster di hutan ini terlalu lemah. Dan sekarang, tiga ekor anjing peliharaan Sekte Bintang Es datang menawarkan diri untuk jadi samsak tinjuku."

Mata ketiga pemuda itu langsung melotot marah.

"Berani kau menghina kami?!" teriak pemuda di tengah. Dia langsung mencabut pedang esnya. Energi sihir berwarna biru muda meledak dari tubuhnya. "Bocah cacat ini benar-benar cari mati! Habisi dia! Jangan sisakan satu jari pun!"

Ketiga murid sekte itu serentak melesat maju. Mereka mengayunkan pedang es mereka dari tiga arah berbeda. Target mereka jelas: memotong kedua lengan dan leher Zian secara bersamaan. Hawa dingin dari sihir mereka membekukan rumput-rumput di sekitar kaki Zian.

Zian sama sekali tidak mundur selangkah pun. Dia menarik napas dalam-dalam. Matanya menyala dengan kebencian dan kebrutalan yang murni.

Tanpa senjata, tanpa sihir, Zian mengepalkan kedua tangannya dan langsung menerjang maju menyambut tebasan pedang mematikan mereka.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!