Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. membeli rumah dan sebidang tanah
“ Paman, aku ingin membeli sebidang tanah dan juga dengan tebal muka ingin meminta rumah kepada paman,” Fen Ran berkata dengan lantang, membuat kepala desa sedikit tertegun.
“ Kamu ingin membeli tanah? Lalu juga rumah? Apa kamu ingin tinggal sendirian?” pertanyaan kepala desa mengandung sedikit ketidaksetujuan. Ia menatap gadis belia berusia 15 an tahun ini.
Bukankah akan sangat berbahaya baginya untuk tinggal sendiri?
“ Benar, paman tetua. Tidak apa – apa. Aku harus tinggal sendiri, aku tidak akan bisa hidup dengan benar jika berkumpul dengan keluarga cabang pertama,” Fen Ran menunjukkan wajah memelas.
Kepala desa merenung sejenak sebelum akhirnya menghela nafas kasar. Ia menatap mata jernih Fen Ran dan mau tidak mau teringat dengan Fen Hou dan juga istrinya yang sudah meninggal. Sungguh malang benar nasib gadis ini.
“ Tuan, sebaiknya kau kabulkan saja permintaan bocah Ran’er ini,” bibi kepala desa menyela obrolan. Ia keluar membawa dua cangkir air gula dan singkong rebus yang mengepulkan asap harum.
“ Bibi, tidak usah repot – repot,” ucap Fen Ran dengan sedikit sungkan. Bibi kepala desa ini adalah segelintir orang yang baik dengan pemilik tubuh asli setelah ditinggal mati orang tuanya.
“ Tidak repot, kakakmu Dafu memanen sedikit singkong rebus dari kebun belakang rumah,” ramah Li sui.
“ Tuan, bukankah rumah diujung desa dekat dengan kaki gunung sana sudah kosong lama? Meskipun tidak besar, lokasinya dekat dengan pintu masuk desa dan juga dekat dengan ladang milik keluarga Chen. Mereka pasti bisa menjaga gadis Ran’er ini,” saran bibi kepala desa.
Fen Ran mengangguk bak genderang. Meskipun tujuannya adalah ingin hidup mandiri sekalian bebas, tetapi dengan dukungan dari bibi kepala desa, kepala desa pasti akan menyetujuinya.
“ Hah.. baiklah, jika kamu memang sudah memutuskan demikian. Tapi ingat, jika ada sesuatu apapun itu, kamu harus segera berteriak. Para penduduk desa pasti akan membantu,” ucap Kepala desa sambil beranjak menuju meja kerjanya.
Benar saja, bukan? Hati Fen Ran hangat seketika. Ia menoleh menatap bibi kepala desa dengan penuh terima kasih. Setidaknya masih ada orang baik didunia yang asing baginya.
Keluarga kepala desa ini, bisa dipercaya bukan?
“ Tenang saja, keluarga kami dulu menerima banyak bantuan dari mendiang ayahmu. Menjagamu, tentu saja akan menjadi tanggung jawab kami sekarang,” ucap Bibi kepala desa dengan senyum menenangkan. Fen Ran mengangguk.
Kepala desa kembali setelah 5 menit kemudian. Ditangannya ada sebuah gulungan yang Fen Ran tebak adalah sebuah peta.
Kepala desa duduk dan langsung membentangkan peta di meja. Disana, ada beberapa titik yang ditandai yang kepala desa jelaskan sebagai tanah milik kerajaan yang bisa dibeli.
“ Lihatlah, ini adalah rumah yang dikatakan oleh bibimu. Disekelilingnya ada lahan terbentang seluas kurang lebih 2 Mu. Ini adalah rumah dan ladang milik juragan Zhang yang sudah pergi meninggalkan desa karena ikut dengan anak pertamanya,” jelas kepala desa.
Fen Ran langsung menatap pada peta tersebut dan mengira – ira luas ladang tersebut.
“ Ini, ini berwarna kusam, apakah artinya ini ladang tandus?” tanya Fen Ran. Jari telunjuknya menunjuk pada bagian kosong lainnya di samping kiri Rumah.
“ Benar, tanah itu sebenarnya masuk kedalam wilayah hutan. Tetapi kerajaan memperbolehkan untuk diperjualbelikan dengan bebas,” jawab kepala desa.
“ Aku ingin mengambilnya juga,” tegas Fen Ran. Pikirnya, bukankah jika tidak bisa ditanami akan bisa digunakan untuk memelihara unggas dan hewan peliharaan lainnya?
“ Kamu benar – benar ingin mengambilnya?” alis kepala desa berkerut ringan.tetapi segera mengendur. Gadis ini sulit sekali ditebak.
“ Baiklah, baiklah. Paman tidak akan melarangmu. Kamu pasti memiliki pemikiran sendiri,” helaan nafas kembali terdengar di telinga Fen Ran. Ia hanya bisa tersenyum malu dan kikuk.
“ Sudahlah, Tuan. Gadis Ran’er pasti memiliki rencana,” sela Bibi kepala desa lagi.
“ He he, memang seperti itu. Jadi paman tetua, berapa harga yang harus aku keluarkan untuk semua ladang berikut rumahnya?” tanya Fen Ran begitu antusias.
“ Rumah ini memang tidak terlalu luas. Tetapi sebagian bangunan sangat kokoh. Hampir 50% bagian rusak karena termakan usia. Paman akan mencari bantuan penduduk desa untuk memperbaikinya sedikit,”
“ 2 Mu ladang subur ditambah 1 Mu ladang tandus, jadi totalnya 100.000. Jangan merasa mahal, paman sudah menggunakan harga batas tanpa mengambil keuntungan apapun,” ucap kepala desa. Fen Ran mengangguk setuju. Untuk rumah yang lebih luas daripada rumahnya sekarang, meskipun rusak harga ini sepadan.
Yang paling penting ia bisa terbebas dari keluarga tua Fen yang bagaikan lintah darat.
Dengan menyerahkan 100.000 ditambah 1000 untuk biaya administrasi, kepala desa segera berangkat menuju kantor pemerintahan terkait dan tanah serta rumah diujung desa resmi menjadi milik Fen Ran.
Fen Ran, bernafas lega. Ia berpamitan pulang dan menolak undangan makan malam dari bibi kepala desa dengan dalih ingin membereskan barang – barang untuk pindahan.
Keesokan harinya, berita tentang Fen Ran yang membeli rumah dan ladang bekas milik juragan Zhang sudah tersebar.
Keluarga Fen Tua,
“ Cuih, gadis itu merasa kaya, bukan? Langsung menghambur – hamburkan uang untuk membeli ladang! Macam bisa menggarapnya saja,” ejek Ma Liu, bibi besar Fen ran.
“ Hah, aku ingin tahu bagaimana gadis j*lang itu bertahan hidup! Bukannya berterima kasih karena dinikahkan dengan keluarga kaya, tetapi malah menuntut uang ganti rugi dan ingin memutuskan tali darah!” lanjut Fen Rui, sepupu kedua Fen Ran. Ia selalu iri dengan kecantikan Fen Ran.
Di Masa lalu, Fen Rui begitu tega menindas pemilik tubuh asli karena ia lemah. Siapa yang tahu jika bukan hanya melawan keluarga Tua, tetapi ia bahkan sudah memiliki rumah sendiri! Membuatnya kembali iri setengah ,ati.
“ DIAM! Jika tidak ingin makan, pergilah bekerja!” bentak nyonya tua Fen. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk dengan sikap Fen Ran yang berubah ini.
Kepala desa memimpin sejumlah penduduk desa yang tidak memiliki pekerjaan di ladang untuk memperbaiki atap dan juga membuat pagar melingkar.
Fen Ran, tentu saja dengan rela hati mengeluarkan uang sekitar 20.000 untuk mengganti bahan – bahan menjadi yang terbaik.
Ini akan menjadi tempat tinggalnya nanti, jadi ia tidak akan pelit.
Dengan ruang ajaib dan kemampuannya bertani, ia tidak percaya jika ia tidak bisa bertahan hidup!
Hari selanjutnya, adalah hari dimana kesepakatan antara Fen Ran dan keluarga Fen Tua tentang rumah kedua. Disana ada kepala desa dan penduduk desa Fen Tong yang ingin menyaksikan kegembiraan.
“ Heh, aku ingin melihat kemana kau akan pergi,” dengus Fen Rui mengejek Fen Ran yang membawa buntalan kecil di punggungnya.
Fen Ran santai dan tidak ingin repot menanggapi ocehan sepupunya yang bodoh.
“ Hei, aku bicara denganmu!” teriak Fen Rui yang berang karena tidak mendapatkan tanggapan.
Fen Ran melewati sepupunya yang sudah mencak – mencak. Menatap acuh kepada nyonya Tua fen yang juga menatapnya dengan pandangan rumit.
“ Paman tetua, di hadapan semua warga desa. Aku ingin kalian bersaksi, jika mulai hari ini aku secara resmi mengganti Marga menjadi SU...”