Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.Gosip hot
HAPPY READING!!!!
Vely turun dari mobilnya dengan langkah anggun. Ia ingat betul—hari ini adalah hari pertama Lora mulai bekerja di perusahaan.Dan Vely sama sekali tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun bagi perempuan itu untuk kembali mendekati Vino.
Ia membuka pintu mobil, lalu meraih beberapa kotak makanan yang telah ia siapkan. Sebenarnya makanan itu ia beli dari restoran, tetapi sebelumnya sudah ia pindahkan ke beberapa kotak makan siang agar terlihat seperti hasil masakannya sendiri.
Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.
“Baiklah, Vely… saatnya berakting sebagai istri yang baik.” ucapnya pelan pada dirinya sendiri.
Ia menutup pintu mobil, lalu berjalan masuk ke dalam gedung kantor dengan langkah berlenggok. Sikapnya dibuat anggun dan penuh percaya diri—seolah-olah ia benar-benar nyonya besar di tempat itu.
Namun begitu ia memasuki divisi pemasaran, tepat sebelum menuju ruangan Vino, suasana di sana terasa berbeda.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar.
Para karyawan yang sedang bekerja tiba-tiba melirik ke arahnya.
Tatapan mereka penuh rasa ingin tahu… sekaligus gunjingan.
“Hei… bukankah itu istri Tuan Vino?”
“Iya, dia adalah adik tiri dari Bu Lora… yang menikah dengan Pak Vino tepat saat hari pernikahan Pak Vino dengan Bu Lora.”
Seketika seorang gadis yang tadi pagi sempat menguping percakapan Lora dan Vino di lift langsung ikut menyela pembicaraan.
“Kalian tahu? Ternyata Tuan Vino menikahinya karena dia yang sudah hamil duluan.”
“Jadi perempuan itu berarti merebut Pak Vino dari Bu Lora secara paksa dengan dalih anak di kandungannya?”
“Iya… aku mendengarnya langsung dari Tuan Vino dan Ibu Lora di lift tadi pagi.”
“Jadi karena itu Bu Lora tidak jadi menikah dengan Vino, tapi malah menikah dengan Tuan Devon.”
“Astaga… benar-benar adik tiri yang kejam.”
Bisik-bisik itu semakin ramai.
Tanpa mereka sadari, Vely sudah berdiri tidak jauh dari sana.
Riuh suara yang sekilas menyebut namanya membuat langkah Vely berhenti mendadak, tepat sebelum ia sampai di ruangan suaminya.
Wajahnya langsung mengeras.
Ia perlahan berjalan mendekat dan berhenti di depan meja kerja salah satu karyawan wanita yang tadi ikut bergosip.
Semua orang langsung terdiam.
“Bukankah seharusnya kalian semua berdiri dan menunduk hormat kepadaku… bukannya bergosip membicarakan hal yang tidak benar seperti itu?” ucap Vely dengan suara dingin.
Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan dagu terangkat angkuh.
“Kecuali jika kalian ingin suamiku memecat satu per satu dari kalian karena sudah berlaku tidak sopan kepada istri dari atasan kalian sendiri.” lanjutnya tajam.
Ancaman itu membuat seluruh karyawan di ruangan tersebut langsung berdiri dengan gugup dan menundukkan kepala.
Vely berjalan mendekati salah satu karyawan wanita.
Tiba-tiba ia mencengkeram kuat rahang perempuan itu dan memaksanya mengangkat wajah.
“Cepat katakan dengan jelas apa yang baru saja kamu bicarakan tentangku di hadapanku sekarang juga!” ucap Vely dengan nada mengancam.
Namun yang mengejutkan, perempuan itu menatapnya tanpa rasa gentar sedikit pun.
“Maaf, Bu Vely. Tapi aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar.” ucapnya tenang.
“Aku mendengarnya langsung bagaimana Ibu Lora mengatakan jika Bu Vely hamil di luar nikah dengan Tuan Vino. Oleh karena itu Ibu Vely bisa menikah dengan Tuan Vino tepat di hari pernikahan yang seharusnya milik Ibu Lora.”
Wajah Vely langsung berubah pucat.
“Lora sialan… ternyata dia menyebarkan gosip murahan itu di sini.” gumam Vely geram.
Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari rahang karyawan tersebut dengan kasar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan menjauh dari ruangan Vino.
Niat awalnya untuk menemui suaminya seketika berubah.
Sekarang yang ia inginkan hanya satu—
Menemukan Lora.
Langkah Vely menjadi cepat, penuh amarah yang mendidih di dadanya.
Beberapa detik kemudian lift terbuka di lantai divisi keuangan.
Vely langsung melangkah keluar dengan tergesa.
Tanpa peduli tatapan orang-orang di sekitarnya, ia berjalan lurus menuju ruangan divisi keuangan.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan.
Mencari satu orang.
Lora.
BRAK!
Suara keras itu menggema di seluruh ruangan divisi keuangan.
Vely langsung mengebrak meja kerja Lora begitu ia menemukan perempuan itu duduk di sana.
Para karyawan yang sedang bekerja sontak terkejut. Beberapa dari mereka bahkan langsung menoleh, penasaran dengan keributan yang tiba-tiba terjadi.
“Ooh… jadi ini tujuanmu masuk ke perusahaan ini? Untuk menyebarkan rumor buruk tentangku kepada karyawan lainnya?” ucap Vely dengan suara tinggi.
Matanya menyala penuh amarah.
“Selain ingin menguasai harta keluarga Morrix, ternyata diam-diam kamu juga ingin merebut Vino dariku.” lanjutnya dengan nada sinis.
Keributan itu langsung menarik perhatian seluruh karyawan di ruangan tersebut.
Beberapa bahkan mulai berdiri dari kursi mereka untuk melihat lebih jelas.
Di sudut ruangan, Delia yang awalnya hendak menghampiri untuk menghentikan keributan itu justru menghentikan langkahnya.
Matanya menyipit ketika menyadari siapa perempuan yang sedang berteriak di depan Lora.
Adik tiri Lora.
Sekaligus istri Vino.
Senyum tipis muncul di bibir Delia.
“Cukup menarik… lebih baik aku biarkan saja. Ini adalah momen yang pas untuk menjalankan rencanaku.” gumamnya pelan.
Ia bahkan diam-diam mengirimkan sebuah pesan di ponselnya kepada seseorang.
Sementara itu, di meja kerjanya—
Lora sama sekali tidak langsung menanggapi.
Ia masih duduk dengan tenang, menatap layar komputernya, seolah-olah tidak terganggu sedikit pun oleh teriakan Vely.
Sikap itu justru membuat Vely semakin geram.
“Kenapa, Lora? Apa karena Devon yang cacat mental itu tidak bisa memuaskanmu?” ejek Vely dengan suara nyaring.
Beberapa karyawan langsung saling berpandangan mendengar ucapan itu.
“Pria idiot yang kemauannya harus selalu kamu turuti dan tidak bisa diandalkan sama sekali. Makanya kamu kembali mengincar Vino yang gagah, tampan, dan tentunya calon CEO di sini.”
Vely menyilangkan tangan di depan dada.
“Apa sekarang kamu sadar jika laki-laki idiot pilihanmu itu sama sekali tidak berguna? Padahal kamu sendiri yang menikahinya dan meninggalkan Vino begitu saja di altar karena kamu tahu jika dia adalah pewaris kekayaan Morrix.”
Ucapan Vely yang sengaja diputarbalikkan itu membuat semakin banyak orang dari divisi pemasaran datang dan berkumpul untuk menyaksikan keributan tersebut.
Lora akhirnya mengangkat kepalanya.
Tatapannya tajam menembus wajah Vely.
“Pergilah sebelum aku mempermalukanmu.” ucap Lora dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Ucapan itu justru membuat Vely tertawa keras.
“Lora… kamu tidak sadar siapa yang kamu usir.” ucapnya sambil menggeleng.
“Aku adalah istri dari Vino. Orang yang akan menjadi pemilik perusahaan ini. Kamu tidak punya hak menyuruhku sama sekali di sini.”
Vely kemudian mendekat sedikit.
“Atau jangan-jangan kamu menyuruhku pergi karena kamu malu?” lanjutnya dengan senyum mengejek.
“Kamu malu jika kedok busukmu itu terbuka di hadapan seluruh karyawan kantor ini?”
Lalu dengan sengaja ia mengelus lengan Lora dengan lembut, seolah-olah menunjukkan keakraban palsu.
“Sudahlah, Lora. Kita sudah bersaudara cukup lama. Aku tahu bagaimana sikap aslimu. Cepat atau lambat orang-orang di sini juga pasti akan tahu bagaimana dirimu sebenarnya.” ucap Vely manis namun penuh racun.
Kesabaran Lora akhirnya habis.
Ia langsung menepis tangan Vely dari lengannya.
Lalu berdiri dari kursinya dan menatap perempuan itu dengan tajam.
“Vely, sadarlah. Aku bukan Lora yang dulu yang bisa kamu injak-injak. Caramu ini tidak akan berlaku lagi untukku.” ucapnya tegas.
Ruangan menjadi sunyi.
Semua orang memperhatikan.
“Apa kamu tidak sadar di mana posisimu sekarang?” lanjut Lora dingin.
“Posisi suamimu yang kamu banggakan itu akan lenyap jika aku menarik 75 persen saham suamiku dari kantor ini.”
Beberapa orang langsung terkejut mendengar itu.
“Saham seupil milik suamimu itu tidak sebanding sama sekali dengan saham yang dimiliki Devon… pria cacat yang kamu katakan barusan.”
Wajah Vely mulai berubah.
Lora melangkah mendekat sedikit.
“Dan… apalagi?” lanjutnya.
“Kamu bilang aku ingin merebut suamimu dengan menyebar rumor murahan?”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Hidupku terlalu bahagia dengan harta yang dimiliki Devon. Jadi untuk apa aku menggoda suami kurus keringmu itu?”
Beberapa karyawan menahan tawa.
“Tampan? Cerdas? Dapat diandalkan kamu bilang? Waah… asal kamu tahu, dia sama bodohnya dengan kamu.”
Wajah Vely langsung memerah.
Namun Lora belum selesai.
“Dan… satu lagi.” ucapnya perlahan.
“Kamu bilang aku yang meninggalkan dia di altar dan beralih menikahi Devon demi harta kekayaannya.”
Lora menatapnya tajam.
“Apa kamu tidak salah bicara?”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Vely.
“Bukankah kamu yang mengirim foto telanjangmu bersama Vino di hotel kepadaku… hingga aku terpaksa menikahi Devon agar keluarga Morrix tidak malu?”
Kalimat itu jatuh seperti bom di tengah ruangan.
Seketika semua orang terdiam.
Lalu—
bisik-bisik kembali pecah.
Tatapan para karyawan yang sebelumnya penasaran kini berubah menjadi jijik saat memandang Vely.
Sementara Vely sendiri berdiri kaku.
Tersudut.
Wajahnya pucat, kehilangan kata-kata.
.
.
.
💐💐💐Bersambung.💐💐💐
Aduuhhh padahal niatnya mau mempermalukan eh malah malu sendiri si Vely🤭😂
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤