Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Cemburu di Balik Gelar Naga
Kabut pagi masih menggantung serupa kelambu tipis di lereng bukit saat dua sosok berpakaian hijau tua muncul di jalan setapak. Langkah mereka ringan namun mantap, menandakan penguasaan ilmu meringankan tubuh yang cukup mumpuni. Di dada mereka, terpampang lambang ular hitam yang melingkar—lambang kebesaran Perguruan Sungai Ular.
Sin Yin, yang tengah menuangkan teh ke dalam cawan porselen, menghentikan gerakannya. Uap panas mengepul di antara jemarinya yang lentik. Ia mengangkat alisnya yang sehitam sayap gagak, sorot matanya menajam.
"Sepertinya ular-ular itu masih memiliki sisa racun yang belum tuntas," sindir Sin Yin dingin, jemarinya secara refleks mendekat ke arah gagang pedang Bulan Senja.
Wang Long tetap duduk bersila dengan ketenangan seorang pertapa. Ia menyesap tehnya perlahan. "Tak perlu menghunus besi, Sin Yin. Mereka datang membawa rasa hormat, bukan niat membunuh."
"Kau bisa merasakannya?" tanya Sin Yin, sedikit takjub akan kepekaan indra rekannya.
Wang Long hanya mengangguk samar. Sesaat kemudian, ketukan lembut terdengar di pintu kayu penginapan. Tok... tok... tok...
Ketika pintu dibuka, dua murid senior Sungai Ular segera membungkuk dalam, hampir menyentuh tanah. "Salam takzim untuk Tuan Wang dan Nona Sin. Atas perintah Tetua He dan restu dari Tetua Besar kami, Tetua Tian Bao, kami memohon kesediaan Tuan dan Nona untuk kembali ke perguruan."
Sin Yin bersedekap, matanya menyipit penuh selidik. "Untuk apa? Menantang kami lagi?"
"Tidak, Nona! Kami datang untuk menyampaikan permintaan maaf resmi di hadapan seluruh murid," jawab salah satu utusan dengan suara gemetar.
Wang Long berdiri, jubah biru tuanya jatuh dengan rapi. "Kita pergi," ucapnya singkat.
Penghakiman di Aula Ular
Aula besar Perguruan Sungai Ular hari itu terasa begitu megah sekaligus mencekam. Ratusan murid berbaris rapi di sisi pilar-pilar batu berukir. Di tengah aula, seorang pemuda berlutut dengan kepala tertunduk—dialah murid yang tempo hari berani bersikap kurang ajar.
Di kursi utama, duduk seorang pria tua yang memancarkan aura luar biasa. Rambut putihnya terurai panjang, jubah hijaunya berhiaskan sulaman emas yang rumit. Dialah Tetua Tian Bao, pemegang otoritas tertinggi di wilayah itu.
Saat Wang Long dan Sin Yin melangkah masuk, suasana seketika senyap. Namun, di barisan murid perempuan, terdengar bisik-bisik yang tertahan.
"Lihatlah... betapa tegak punggungnya," bisik seorang murid perempuan dengan wajah bersemu merah.
"Tenangnya seperti gunung, namun matanya setajam elang," sahut yang lain sambil mencuri pandang.
Sin Yin, yang memiliki pendengaran tajam, seketika merasakan sesuatu yang panas menjalar di dadanya. Ia melirik tajam ke arah kerumunan gadis itu, membuat mereka seketika tertunduk ketakutan. Wajah Sin Yin tetap dingin seperti es, namun sudut bibirnya bergetar menahan kejengkelan yang tak beralasan.
Tetua Tian Bao bangkit dari kursinya. "Anak muda... namamu akan menjadi legenda baru di tempat ini," suaranya berat dan berwibawa. Ia kemudian menjatuhkan hukuman cambuk disiplin kepada muridnya yang bersalah.
Setelah urusan disiplin selesai, Tetua Tian Bao melangkah turun, mendekati Wang Long. "Aura naga sejati... selama hidupku, aku hanya pernah merasakannya sekali dari generasi Sembilan Master Naga."
Ia menarik napas panjang, lalu berseru lantang, "Mulai detik ini, Perguruan Sungai Ular mengakui Wang Long sebagai—Pendekar Naga!"
Gema suara itu membuat seluruh aula bergetar. Namun, Wang Long justru menangkupkan tangan dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya. "Tetua, aku berterima kasih. Namun, aku memohon satu hal: jangan sebarkan namaku."
Tetua Tian Bao menyipitkan mata. "Mengapa? Gelar ini adalah kunci menuju puncak dunia persilatan."
Wang Long menatap lantai batu dengan tatapan pedih. "Desaku dibantai, keluargaku musnah. Aku tidak ingin musuh tahu naga yang mereka coba jinakkan masih bernapas. Aku hanya ingin darah dibayar dengan darah, bukan dengan ketenaran."
Aula kembali senyap. Tekanan batin dari ucapan Wang Long membuat beberapa murid merasa sesak. Tetua Tian Bao akhirnya mengangguk paham. "Baik. Siapa pun yang membocorkan hal ini, akan dianggap pengkhianat!"
Getaran Hati di Balik Pohon Besar
Saat mereka berjalan menuju halaman belakang, Sin Yin tampak berjalan lebih cepat, meninggalkan Wang Long beberapa langkah di belakang.
"Kau marah?" tanya Wang Long, mencoba menyamai langkahnya.
"Tidak," jawab Sin Yin singkat, tanpa menoleh.
"Kau cemburu?"
Pertanyaan itu membuat Sin Yin berhenti mendadak. Ia berbalik, wajahnya memerah hingga ke pangkal leher. "Apa?! Aku, si Bidadari Maut, cemburu? Jangan mengigau di siang bolong!"
Wang Long menatapnya dengan pandangan polos yang menyebalkan. "Tapi aura membunuhmu tadi seolah ingin meratakan seluruh perguruan ini."
Sin Yin terdiam sesaat, lalu desahan napas panjang keluar dari bibirnya. Ia memandang kolam kecil di depannya. "Aku hanya tidak suka melihat mereka memandangmu seolah... seolah ingin mencuri pusakamu!"
Wang Long mengangguk-angguk kecil. "Kotak hitam ini memang antik, wajar jika menarik perhatian."
Sin Yin menepuk dahinya sendiri, gemas akan ketidaktahuan pemuda di depannya. "Aku tidak bicara soal kotak kayu itu, Bodoh!"
Wang Long melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal. Ia menatap Sin Yin dengan tatapan yang dalam dan lembut. "Kalau begitu, jangan khawatir. Aku tidak memiliki minat pada bunga-bunga di taman ini."
Jantung Sin Yin seolah berhenti berdetak. "Lalu... kau berminat pada siapa?"
Hening menyelimuti halaman itu. Angin meniup kelopak bunga yang jatuh di antara mereka. Wang Long mengangkat tangannya, dengan gerakan yang sangat lembut—selembut belaian angin—ia menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi mata Sin Yin.
"Menurutmu?" bisik Wang Long.
Sin Yin menunduk, tak sanggup menatap mata naga yang kini begitu hangat. "Aku... aku tidak bisa membaca pikiran seorang naga."
"Kalau begitu, belajarlah untuk membacanya," sahut Wang Long dengan senyum tipis yang jarang terlihat.
Di bawah naungan pohon besar itu, ketegangan gelar dan dendam seolah sirna sejenak. Namun, jauh di lubuk hatinya, Wang Long tahu—bayang-bayang para pembantai itu masih mengintai di kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk menerkam sang pewaris naga.
Bersambung...