Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Tidak Ada
Bibi Yuni nampak kelimbungan karena melihat Nyonya tidak ada di kamar, Bibi Yuni awalnya menunggu Sera untuk sarapan. Namun, sampai siang perempuan itu tak kunjung keluar dari kamarnya membuat Bibi Yuni menjadi khawatir dengan Sera karena sekarang Sera sedang hamil.
Bibi Yuni akhirnya memutuskan untuk mengecek langsung ke kamar Sera untuk memastikan keadaan perempuan itu dan mengajak untuk makan meskipun saat ini mungkin sangat kewalahan menangani mualnya.
"Nyonya, ada di dalam Nyonya, saya ingin mengajak Anda sarapan. Kasihan anak Anda jika tidak makan sesuap pun," panggil Bibi Yuni dari luar kamar Sera.
Bibi Yuni mencoba mengetuk pintu, ternyata pintu kamar Sera tidak di kunci membuat kepanikkan Bibi Yuni makin meningkat. Karena biasa Sera selalu mengunci pintu itu dan tak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
"Nyonya, apakah Anda di dalam?" tanya Bibi Yuni sembari membuka pintu dengan perlahan.
Dan benar saja apa yang dipikirkan Bibi Yuni saat ini, pemilik kamar itu tidak ada, meskipun terlihat rapi. Namun, ruangan itu terasa kosong dan dingin, "Kemana Nyonya?" gumam Bibi Yuni terlihat pucat dan khawatir.
Bibi Yuni langsung meninggalkan kamar itu selepas melihat barang-barang di ruangan itu telah menghilang ketakutannya makin nyata, dia menuruni tangga dengan cepat dan meminta pelayan yang berada di sekitar untuk berkumpul.
"Ada apa Bi Yuni meminta kami berkumpul?" tanya salah satu seorang maid.
"Nyonya, tidak ada di kamar, ada yang atau dia kemana? Tolong cari Nyonya secepatnya!" ucap Bibi Yuni panik.
"Untuk apa mencarinya bi, Nyonya itu sudah dewasa. Lagipula Tuan juga tidak mencintainya, untuk apa repot-repot, mungkin dia kabur karena tidak tahan lagi tinggal di rumah sumpek ini," bantah maid lainnya yang nampak meremehkan Sera.
"Aish... kau ini, tetap saja kan Nyonya istri Tuan, bagaimana jika Tuan bertanya," jawab Bibi Yuni nampak kesal dengan sikap maid itu.
"Ya bilang saja, Nyonya pergi atau kabur," sahut maid itu nampak memutar bola matanya jengah.
"Sudah lah Sasa, kita cari saja Nyonya, kalau terjadi apa-apa tidak baik juga. Sesama manusia harus saling perduli," celetuk maid yang berada di sebelah maid yang terus berkomentar buruk tentang Nyonya mereka itu.
"Ya... ya," terimanya dengan nada yang jengah.
Mereka akhirnya mencari Sera di sekitaran rumah hingga beberapa sudut telah mereka cari, termasuk tempat favorit Sera.
Selepas itu, mereka berkumpul kembali di tengah ruangan. Seluruh maid terlihat menggelengkan kepala dan menunduk lesu. Bibi Yuni menarik nafas kasar selepas melihat ekpresi para maid.
"Kan Bi, sudah ku bilang Nyonya itu pasti kabur karena tidak tahan lagi di rumah ini, sudah lah biar kan saja Nyonya bebas. Kalau itu aku, aku pasti akan minggat juga dari pada tersiksa tinggal dengan Tuan yang dingin dan belum habis dengan cinta sebelum nya itu," ujar maid yang bernama Sasa itu, meninggalkan kumpulan maid dan ingin kembali pada pekerjaan nya.
Kemudian, satu persatu maid lain pun meninggal tempat itu meninggalkan Bibi Yuni yang masih tertunduk lesu, 'Apa benar yang katakan Sasa? Nyonya di manapun Anda berada semoga Anda baik-baik saja," ucap Bibi Yuni dalam hati.
"Ceklek..."
Suara pintu yang terdengar sontak membuat Bibi Yuni pasalnya hanya pemilik rumah yang lewat pintu depan. Bibi berfikiran, 'Itu pasti Nyonya'.
Wajah Bibi Yuni berseri-seri berharap itu benar Sera, namun ternyata itu bukan Nyonya melainkan Tuan yang selalu pergi seperti bang Toyib itu. Raut muka Bibi Yuni menjadi kecut, meskipun dia tetap mendekati pria itu sebab itu tugas sebagai kepala pelayan.
"Tuan, Anda sudah pulang," sapa Bibi Yuni menggosok tangan nya ke celemek nya.
Dominic nampak memperhatikan Bibi Yuni yang tidak biasanya berada di ruang tengah, seketika dia menjadi bingung dengan raut wajah Bibi Yuni yang nampak berkerut serat akan perasaan panik yang membekas.
Dia tidak ingin memperhatikan Bibi Yuni cukup lama dan ingin menyangkal perasaan itu, sebab dia lelah karena baru saja menyelesaikan perjanjian proyek kerja sama di luar negeri, mulai dari presentasi dan pertemuan yang mejengkel, jujur saja dia tak suka bertemu orang banyak.
"Bibi, buatkan saja makanan," titah Dominic, merasa rindu akan makanan di rumah ini.
"Baik Tuan," jawab Bibi Yuni nampak menunduk agar Tuan nya tidak menyadari kepanikan nya.
"Aku akan pergi ke kamar dulu," kata Dominic, kemudian meninggalkan tempat itu dengan sesekali menoleh pada Bibi Yuni untuk memvalidasi perasaan bahwa Bibi Yuni baik-baik.
Namun, semua tersangkal ketika Dominic kembali ke meja makan selepas mandi dan menganti bajunya dengan kaus oblong.
Dia menatap Bibi Yuni yang terlihat melipir di sudut sembari terus menunduk, karena tidak biasanya Bibi Yuni hanya terdiam.
Biasanya Bibi Yuni akan banyak bicara, menanyakan keperluan Dominic atau keinginan Dominic yang harus di siapkan Bibi Yuni. Namun, tidak kali ini Bibi Yuni diam seribu bahasa.
Dominic mengedarkan padangannya, seperti ada sesuatu yang hilang. Namun, Dominic tidak tau apa itu, hingga sesuatu terlintas di pikiran nya.
"Dimana Sera, Bi?" tanya Dominic, meskipun Dominic tau ketika dia tiba Sera akan menghilang di balik kamarnya.
"A... Anu, Tuan. Nyonya menghilang," ujar Bibi Yuni terbata-bata, dan semakin menundukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa?! Bibi sudah mencarinya!" murka Dominic sembari menggebrak meja yang ada di hadapannya.
"Su-sudah Tuan, tapi tetap tidak ada, dan barang-barang Nyonya sudah menghilang," ungkap Bibi Yuni dengan gemetaran, karena tidak menyangka Tuan nya akan semarah itu.
Tanpa aba-aba Dominic langsung berdiri dari duduknya, membuat Bibi Yuni terkaget. Dominic dengan cepat menuju kearah kamar Sera yang berada di lantai dua, tepat di ujung lorong.
Dominic mendorong pintu kamar itu dengan kasar seolah menunjukkan kemarahannya. Dan ternyata pintu itu tidak terkunci membuat amarah Dominic makin memuncak.
Dia membuka pintu itu dan benar saja, kamar itu kosong dan rapi seperti memang tak berpenghuni, "Kemana perempuan itu pergi?!" geram Dominic.
Sedangkan Bib Yuni yang mengekorinya terlihat memilih tangannya, ingin mengungkap kejujuran, persetan dengan Dominic yang mungkin akan memecatnya sebab menyatakan kebenaran tentang perselisihan Celesta dan Sera beberapa tempo lalu.
"T- Tuan, mungkin Anda harus tau, Nona Celesta sering datang kesini saat Anda tak ada. Nona Celesta sering mengganggu Nyonya, mungkin Nyonya tidak tahan lagi dan memutuskan meninggalkan rumah ini," jelasnya pada Dominic.
Dominic menoleh pada Bibi Yuni yang berada di sebelah, matanya menajam seakan dia binatang buas yang siap menerkam, "Mengapa Bibi tidak bercerita?" sahut Dominic.
"Ya, karena saya pikir Tuan sudah tau, dan mungkin menghabiskan waktu bersama Nona Celesta, saya tak ingin mengganggu Anda," ujar Bibi Yuni menurunkan padangannya.
Mendengar penjelasan itu membuat Dominic sontak terdiam.