NovelToon NovelToon
Sistem Warisan Kedua

Sistem Warisan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nafas Terakhir

Ardi Wijaya selalu percaya bahwa hidup adalah perlombaan. Sejak muda ia sudah terbiasa berlari, mengejar sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak benar-benar pahami bentuknya. Ia lahir dari keluarga sederhana di kota kecil. Ayahnya seorang pegawai toko bangunan, ibunya membuka warung kecil di depan rumah. Uang selalu cukup, tetapi tidak pernah lebih. Sejak remaja, Ardi berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan mengubah nasib keluarganya.

Ia kuliah dengan beasiswa, bekerja paruh waktu, dan hampir tidak pernah menikmati masa muda seperti teman-temannya. Saat orang lain pergi berlibur, Ardi memilih mengikuti seminar bisnis murah atau membaca buku tentang strategi perusahaan. Ia percaya satu hal dengan sangat kuat yaitu kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Setelah lulus, ia sempat bekerja di beberapa perusahaan besar. Di sana ia belajar tentang sistem, jaringan, dan bagaimana kekuasaan bekerja di balik meja rapat. Namun ia tidak puas hanya menjadi karyawan. Dalam dirinya ada ambisi yang terus mendesak keluar. Di usia dua puluh lima tahun, dengan tabungan yang pas-pasan dan keberanian yang mungkin sedikit nekat, ia mendirikan perusahaan sendiri.

Awalnya hanya sebuah kantor kecil di ruko sewaan. Cat dindingnya mulai mengelupas, dan setiap hujan turun, air sering merembes dari sela jendela. Ia merekrut dua teman kuliah yang sama-sama belum punya banyak pilihan hidup. Mereka bekerja hampir tanpa mengenal waktu. Siang bertemu klien, malam menyusun proposal. Tidak jarang Ardi tidur di sofa kantor, hanya untuk bangun beberapa jam kemudian dan kembali bekerja.

Perlahan hasil mulai terlihat. Satu proyek berhasil diselesaikan dengan baik. Klien merekomendasikan ke klien lain. Kepercayaan tumbuh. Modal bertambah. Kantor pindah ke gedung yang lebih layak. Karyawan bertambah menjadi puluhan, lalu ratusan. Dalam waktu lebih dari satu dekade, perusahaan yang dulu dipandang sebelah mata berubah menjadi konglomerasi regional dengan berbagai anak usaha.

Di usia tiga puluh delapan tahun, Ardi Wijaya bukan lagi anak pemilik warung kecil. Ia adalah direktur utama dengan jadwal yang penuh hingga berbulan-bulan ke depan. Ia menghadiri forum bisnis internasional, berbicara di depan investor, dan sering dijadikan narasumber tentang kepemimpinan. Namanya disebut-sebut sebagai simbol kesuksesan generasi muda.

Namun di balik gemerlap itu, ada bagian hidupnya yang perlahan kosong.

Ia jarang pulang sebelum tengah malam. Bahkan ketika sudah berada di rumah, pikirannya tetap tertinggal di kantor. Laptop hampir selalu terbuka di meja makan. Panggilan konferensi sering menggantikan waktu makan malam. Orang tuanya yang tinggal di kota asal hanya ia kunjungi beberapa kali dalam setahun, itu pun dengan durasi singkat.

Ibunya sering menelepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan. Pertanyaan sederhana yang kadang membuatnya merasa sedikit kesal karena dianggap masih seperti anak kecil. Ayahnya jarang berbicara panjang di telepon, tetapi selalu menutup percakapan dengan kalimat yang sama, jaga kesehatan, Di. Ardi selalu menjawab singkat, iya, Yah, sambil matanya tetap menatap layar komputer.

Ia selalu punya alasan. Rapat penting. Negosiasi besar. Perjalanan dinas mendadak. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa semua ini demi masa depan yang lebih baik. Nanti, setelah perusahaan benar-benar stabil, ia akan punya waktu untuk keluarga. Nanti, setelah ekspansi selesai, ia akan lebih sering pulang.

Nanti ternyata menjadi kata yang terlalu mudah diucapkan dan terlalu sulit diwujudkan.

Malam itu menjadi salah satu malam paling penting dalam kariernya. Rapat besar yang telah dipersiapkan berbulan-bulan akhirnya terlaksana. Di ruang rapat utama, di lantai tertinggi gedung perusahaannya, para direktur dan investor duduk mengelilingi meja panjang dengan wajah tegang. Ardi mempresentasikan rencana ekspansi regional yang berisiko tinggi tetapi menjanjikan keuntungan besar.

Suaranya mantap, penuh keyakinan. Slide demi slide berganti, menampilkan proyeksi keuntungan dan strategi penetrasi pasar. Setelah sesi tanya jawab yang panjang dan perdebatan sengit, keputusan akhirnya diambil. Rencana itu disetujui.

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa rekan bisnis menyalaminya dengan bangga. Salah satu partner yang selama ini paling ia percaya menepuk bahunya dan berkata bahwa ini adalah langkah yang akan mengukuhkan nama mereka di tingkat regional. Ardi tersenyum puas. Ia merasa semua pengorbanan selama ini terbayar lunas.

Ketika ia meninggalkan gedung hampir tengah malam, kota masih dipenuhi cahaya. Lampu jalan memantul di aspal yang mulai basah oleh gerimis. Ia duduk di kursi belakang mobil, melepas dasinya sedikit agar lebih longgar. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya ringan.

Ponselnya bergetar beberapa kali. Ia melirik sekilas. Ada pesan dari manajer proyek, dari partner bisnis, dan satu pesan dari ibunya. Pesan itu sederhana, hanya beberapa kata.

IBU

Kapan pulang, Nak. Ibu masak sayur kesukaanmu.

Ardi menatap pesan itu lebih lama dari biasanya. Ia teringat rasa sayur buatan ibunya yang dulu selalu ia makan sepulang sekolah. Hangat, sederhana, dan penuh perhatian. Ia berniat membalas, tetapi pikirannya kembali melayang ke rencana ekspansi. Ia memutuskan akan membalas setelah sampai di apartemen.

Hujan tiba-tiba turun lebih deras. Wiper mobil bergerak cepat, berusaha menyingkirkan air yang mengaburkan pandangan. Jalanan menjadi licin dan sedikit lengang karena sudah larut malam.

Di sebuah persimpangan, dari arah berlawanan, sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi. Sopirnya tampak kehilangan kendali saat mencoba menghindari genangan air. Semua terjadi begitu cepat. Lampu sorot yang menyilaukan, suara klakson panjang, dan kemudian benturan keras yang mengguncang segalanya.

Mobil yang ditumpangi Ardi berputar dan terguling. Tubuhnya terlempar, sabuk pengaman menahan dengan keras. Kaca pecah berhamburan. Dunia terasa jungkir balik sebelum akhirnya berhenti dalam posisi miring. Bau bensin dan asap memenuhi udara. Hujan masuk melalui celah-celah yang retak.

Rasa sakit datang terlambat tetapi menghantam dengan kuat. Dada sesak, napas berat. Tangannya sulit digerakkan. Darah hangat mengalir di pelipisnya, membasahi pipi dan leher. Suara di luar terdengar samar, seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.

Di tengah rasa sakit itu, pikirannya justru terasa jernih.

Ia tidak memikirkan laporan keuangan. Tidak memikirkan saham yang akan melonjak. Tidak memikirkan rapat lanjutan yang sudah dijadwalkan minggu depan. Yang muncul di benaknya adalah wajah ibunya yang tersenyum saat menyambutnya pulang. Wajah ayahnya yang berusaha terlihat kuat meski rambutnya semakin memutih.

Ia teringat semua momen yang ia lewatkan. Ulang tahun ibunya yang ia wakilkan dengan transfer uang dan karangan bunga. Hari ketika ayahnya dirawat di rumah sakit dan ia hanya sempat datang sebentar sebelum kembali terbang untuk urusan bisnis. Semua alasan yang dulu terasa masuk akal kini terdengar kosong.

Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Ia ingin memutar waktu. Ingin kembali menjadi anak yang duduk di teras rumah sambil membantu ibunya menyiangi sayur. Ingin mendengarkan cerita ayahnya tentang masa muda tanpa tergesa-gesa melihat jam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kalah.Bukan kalah dalam bisnis. Bukan kalah dalam persaingan. Ia kalah oleh waktunya sendiri.

Napasnya semakin pendek. Pandangannya mulai kabur. Suara sirene samar terdengar di kejauhan, tetapi terasa terlalu jauh. Dalam detik-detik terakhir itu, Ardi hanya memejamkan mata dan memohon dalam hati, bukan pada siapa pun secara khusus, hanya pada takdir yang mungkin masih bisa berbelas kasih.

Jika saja ada kesempatan kedua. Jika saja ia bisa kembali dan memperbaiki semuanya. Bukan untuk membangun perusahaan yang lebih besar. Bukan untuk menjadi lebih kaya. Tetapi untuk menjadi anak yang lebih baik.

Kegelapan perlahan menelan pandangannya. Rasa sakit menghilang sedikit demi sedikit, digantikan oleh kehampaan yang sunyi. Suara hujan, sirene, dan hiruk pikuk kota memudar hingga tidak terdengar lagi.

Dan untuk sesaat yang terasa abadi, tidak ada apa-apa selain gelap.

1
Dirman Ha
in
Dirman Ha
ih mantap
fauzi ezi
gas tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!