NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Sederhana

"Duduk saja dulu, Nak," katanya ramah kepada tamunya.

"Bu, ada tamu?" Ayah Naya menuju kursi makan.

CEO itu duduk dengan tenang, sementara asistennya memilih duduk di kursi sebelah sedikit lebih kaku. Situasi yang jelas sangat jarang mereka alami.

"Iya, Pak. Ini teman Naya yang kemaren nolong ibu." jelasnya.

CEO itu tersenyum, asistennya hanya menatap atasannya itu tanpa tahu menolong apa maksud dari ibu Naya.

"Oh.... Terima kasih ya, Nak." ucap ayah Naya lembut.

"Sama-sama, Pak." ucapnya tersenyum.

Naya berdiri di dekat meja, masih merasa gugup akan kedatangan atasannya itu. Pakaiannya juga masih basah.

"Bu... aku mandi dulu sebentar, ya." ucapnya pelan.

Ibunya langsung mengangguk, "iya, cepat sana. Biar kita makan malam bersama."

Naya melirik sekilas ke arah CEO itu sebelum rasa canggung itu bertambah mulai perjalanan tadi.

"Kerja di kantor yang sama dengan Naya, ya?" tanya ayah Naya ramah.

"Iya, Pak."

Asistennya yang duduk di sampingnya sempat melirik ke arah atasannya, lalu kembali menatap meja.

"Posisi yang sama juga?" Lanjut tanya ayah Naya.

Asistennya itu hampir saja tersedak air minumnya, buru-buru menahan batuk kecil.

CEO itu tetap terlihat tenang, meskipun kata-kata itu membuatnya sedikit terdiam.

Ibu Naya datang membawa mangkuk sup hangat dan meletakkan di tengah meja.

"Naya itu jarang sekali bawa teman ke rumah," katanya sambil tersenyum.

Langkah kaki terdengar dari arah lorong, Naya kembali ke ruang makan dengan pakaian rumah dan rambut sedikit basah.

Ia berhenti sejenak ketika melihat semua sudah duduk di meja makan menunggunya.

"Maaf menunggu," ucapnya pelan.

Ibunya langsung tersenyum, "sudah, duduk. Kita makan sekarang, teman kamu nanti kelamaan."

Makan malam akhirnya selesai. Makan malam sederhana, pembahasan juga tak ada yang berlebihan. Piring-piring mulai dibereskan oleh ibu Naya. Suasana ruang makan perlahan kembali tenang.

"Terimakasih ya sudah mampir," Kata Ibu Naya ramah.

CEO itu mengangguk sopan, "Terima kasih juga, Bu. Makanannya sangat enak."

Ibu Naya tersenyum senang mendengarnya.

"Naya, antar temanmu sampai depan, Sayang,"

Mereka pun berjalan keluar bersama. Asistennya juga berdiri tak jauh dari mereka.

"Candra, kamu duluan saja ke mobil." Kata CEO itu.

Asistennya langsung mengangguk dan berjalan menuju mobil, meninggalkan mereka berdua di teras.

Kini hanya Naya dan CEO yang berdiri di sana. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Naya menunduk sedikit, tidak tahu harus mengatakan apa.

"Terima kasih atas makan malamnya, Naya." ucap CEO itu akhirnya.

Naya mengangkat wajah dan mengangguk.

"Pak..." panggil Naya.

"Iya?" tanya spontan CEO dan menatap mata Naya.

Naya menelan ludah pelan, "saya minta maaf, Pak. Harusnya saya nggak boleh bersikap berlebihan. Saya sudah bilang kalo Bapak adalah teman saya..." suaranya sedikit gemetar.

"Tidak masalah. Saya tak keberatan dan tidak merugikan juga." jawabnya.

Naya tak menyangka jawabannya akan semenenangkan itu. Tatapan mereka kembali bertemu, tatapan yang dalam.

CEO cepat memalingkan wajahnya, "Oh, ya. Besok malam kamu ada rencana?"

Naya mengernyit bingung, terkejut dengan pertanyaan itu.

"Tidak ada, Pak." jawabnya. "Ada apa, Pak?" tanyanya sangat pelan.

Pria itu menoleh kepadanya, "makan malam bersama saya."

Naya benar-benar terdiam sekarang.

CEO itu melanjutkan dengan nada yang tetap tenang.

"Sebagai ucapan terima kasih untuk lembur kemaren. Presentasi itu berjalan dengan baik."

Naya masih sedikit terkejut mendengar ajakan itu.

CEO itu melangkah turun dari teras rumah Naya, berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pagar.

Di belakangnya, Naya masih berdiri di teras, memperhatikannya pergi.

Sebelum membuka pintu mobil, CEO itu sempat menoleh sekilas ke belakang. Naya masih berdiri di sana. Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

CEO itu tersenyum, Naya membalasnya dengan wajah tertunduk.

Mobil itu mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah Naya.

"Besok malam saya ada jadwal?" tanya CEO itu dari kursi belakang.

Asistennya melirik sekilas ke kaca spion, lalu mengambil tablet kecil di sampingnya.

"Tidak ada, Pak. Setelah jam kantor kosong, Pak."

Ada jeda sejenak sebelum CEO itu kembali berbicara.

"Carikan restoran untuk makan malam."

Asistennya sedikit terdiam, beberapa saat. Mencoba memahami perintah itu.

"Untuk meeting, Pak?"

"Bukan."

Jawabannya singkat.

"Aturkan restoran yang tenang, nyaman untuk makan malam." Lanjutnya.

Asistennya mengangguk kecil sambil kembali fokus ke jalan.

"Baik, Pak."

Asistennya sudah bisa menebak untuk siapa makan malam itu.

Mobil itu terus melaju, jalan malam masih basah oleh sisa jalan. Di dalam mobil suasana kembali tenang.

Namun setelah beberapa saat, asistennya tanpa sengaja melirik ke kaca spion tengah. Ia sedikit mengernyit.

Dari pantulan kaca, Ia melihat atasannya sedang menatap keluar jendela, dengan sudut bibir yang terangkat tipis.

Senyum kecil.

Asistennya hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia kembali melirik sekilas, memastikan dirinya tidak salah lihat.

"Pak CEO tersenyum?" pikirnya.

Jarang sekali ekspresi wajah itu berganti yang biasanya tenang dan kaku itu.

Asistennya berdeham kecil, "Pak... "

CEO itu mengalihkan pandangannya dari jendela, "iya?"

"Tadi.... Ibu Naya sempat menyebut soal Bapak menolong beliau."

CEO itu tak langsung menjawab. Sementara asistennya menahan senyum kecil.

"Saya baru tau Bapak pernah melakukan hal seperti itu."

CEO itu kembali menatap keluar jendela, nada suaranya tetap tenang.

"Kebetulan kemaren."

Asistennya mengangguk pelan.

"Kapan, Pak? Bapak tidak pernah bilang ke saya." tanyanya sambil menoleh sedikit ke belakang.

"Sejak kapan saya harus melapor sama kamu?" tanyanya dengan datar.

Asistennya itu langsung kembali menghadap ke depan dengan lebih tegak, meskipun sudut bibirnya masih berusaha menahan senyum.

"Tidak, Pak. Saya hanya penasaran saja."

CEO itu tidak menanggapi lagi.

Dalam waktu yang sama, Naya duduk di tepi tempat tidurnya. Pikirannya kembali ke makan malam itu. Meja makan sederhana di rumahnya. Cara ibunya berbicara ramah kepadanya. Pria itu yang biasanya hanya dilihat di kantor, bisa duduk tenang di kursi ruang makan mereka.

Naya menunduk sedikit. Ia melihat tangannya, tangan yang digenggam seseorang, atasannya, orang yang sangat berwibawa, tegas dan dingin itu.

"Kenapa hal tadi bisa terjadi?" gumamnya.

Naya mengambil bingkai foto yang selalu ada di mejanya.

"Dam.... apa kamu marah? Aku tak berniat untuk itu. Aku memang tak menolak tadi, tapi itu karna gerakan spontan."

Naya menjelaskan seperti pada seseorang yang benar-benar ada di depannya untuk mendengarkan penjelasan itu.

Naya memeluk foto itu.

Namun sebelum pikirannya melayang lebih jauh, bayangan lain tiba-tiba muncul.

Perkataan Nadira di kantor. Naya menarik napas pelan, Kata-kata sahabatnya kembali terngiang.

Tepat saat itu, ponselnya yang tergeletak di sampingnya bergetar.

Sebuah pesan masuk, dari Nadira.

'Nay.... Maaf ya kalau aku ngomongnya tadi keterlaluan.'

Naya terdiam, membaca pesan itu perlahan. Tak membalasnya. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!