NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Tangisan Forensik

Lampu neon di lorong Unit Gawat Darurat (UGD) berkedip dengan ritme yang menyiksa, menciptakan suasana yang mencekam di tengah hiruk-pikuk malam itu. Sheril baru saja menyelesaikan laporan administratif di lantai atas ketika suara sirine ambulans yang meraung memecah kesunyian rumah sakit. Awalnya, itu hanya suara rutin bagi telinganya. Namun, saat pintu otomatis UGD terbuka lebar dengan dentuman keras, instingnya berteriak ada sesuatu yang salah.

"Pasien pria, luka tusuk di abdomen, pendarahan masif, trauma kepala!" teriak seorang petugas paramedis sambil mendorong brankar dengan kecepatan tinggi.

Sheril berdiri di ujung lorong, matanya mengikuti brankar yang meluncur melewatinya. Detik itu, dunia seolah berhenti berputar. Wajah yang tertutup masker oksigen itu, wajah yang pucat pasi dan bersimbah darah yang mengering di keningnya, adalah wajah yang paling ia kenali di dunia ini.

"Oppa? Jin Oppa!"

Suara Sheril pecah. Ia berlari mengejar brankar itu, kakinya terasa lemas seperti jelly. Paramedis mencoba menghalanginya, namun Sheril merangsek maju. Ia melihat tangan Jin terkulai lemas di sisi brankar, jemarinya dingin dan biru.

"Dokter Park sedang menangani kecelakaan beruntun di blok B! Kita kekurangan asisten di sini!" terawat seorang perawat senior dengan nada panik.

Situasi malam itu adalah kekacauan murni. Kurangnya tenaga medis karena keadaan darurat kota memaksa Sheril mengambil keputusan paling sulit dalam hidupnya. Ia bukan dokter bedah, ia adalah dokter forensik. Tangannya biasanya bekerja pada mereka yang sudah tidak bernapas, memberikan suara pada mereka yang sudah membisu. Namun kini, ia harus berjuang untuk detak jantung yang masih tersisa.

"Aku asistennya! Aku akan membantu!" Sheril berteriak sambil menyambar jubah operasi dan sarung tangan lateks.

Di dalam ruang tindakan yang sempit, bau besi dari darah memenuhi udara. Sheril berdiri di sisi kanan kakaknya. Tangannya yang biasanya sangat mantap saat memegang skalpel di meja autopsi, kini gemetar hebat. Ia harus menekan luka di perut Jin dengan kedua tangannya, mencoba menghalangi aliran darah yang terus merembes keluar seolah tak ada habisnya.

"Tekan lebih kuat, Dokter Sheril! Kita kehilangan tekanan darahnya!" teriak dokter jaga.

Sheril menekan dengan seluruh kekuatannya. Air mata jatuh tak terbendung, membasahi masker medisnya. Di sela isak tangisnya yang tertahan, Sheril dipaksa melihat luka itu dari jarak yang sangat dekat. Sebagai ahli forensik, matanya secara otomatis melakukan analisis—sebuah kutukan profesi yang tidak bisa ia matikan.

Ia melihat pola robekan pada jaringan kulit perut Jin. Luka itu bukan berasal dari belati biasa yang bergerigi atau pisau jalanan yang kasar. Luka itu bersih, sangat presisi, namun memiliki pola unik di bagian ujung masuknya—sebuah sudut kemiringan yang hanya bisa dihasilkan oleh pisau yang memiliki keseimbangan berat sempurna dan ketajaman setara laser.

Sheril membeku. Ingatannya melesat ke dapur apartemen mereka dua malam lalu. Ia melihat Jungkook sedang duduk di meja makan, dengan tenang mengasah koleksi pisau pribadinya menggunakan batu asah Jepang yang mahal. Jungkook selalu memegang pisau dengan sudut kemiringan yang sama, melakukan gerakan maju-mundur yang ritmis yang menghasilkan pola asahan mikro yang khas.

Pola ini... pola sayatan ini...

Sheril menatap luka itu dengan ngeri. Sudut tajam di ujung luka itu adalah hasil dari pisau yang dikikir secara manual dengan teknik tertentu—teknik yang sering Jungkook tunjukkan padanya sambil tersenyum bangga.

"Tidak mungkin..." bisik Sheril di balik maskernya. Darah Jin yang hangat kini meresap ke dalam sarung tangan lateksnya, terasa seperti api yang membakar kulitnya.

Pikirannya berkecamuk. Ia teringat pesan misterius yang membawanya ke gudang tua, teringat bagaimana Jungkook tiba-tiba muncul di sana dengan tas peralatannya yang rapi. Jika Jungkook adalah pelindungnya, kenapa luka di tubuh kakaknya berbicara bahasa yang sama dengan pisau-pisau di dapur mereka?

"Detak jantung melemah! Siapkan defibrillator!"

Suara mesin monitor yang berbunyi tit-tit-tit panjang membuat Sheril tersentak kembali ke kenyataan pahit. Ia terus menekan luka itu, membiarkan tangannya tenggelam dalam darah kakaknya sendiri. Dalam hatinya, ia menjerit, memohon agar dugaannya salah. Ia ingin percaya bahwa J-Hope yang melakukannya, atau Jimin, atau siapa pun kecuali pria yang ia peluk setiap malam.

Namun, bukti forensik di depan matanya tidak pernah berbohong. Pisau itu, tangan yang memegangnya, dan cara luka itu dibuat... semuanya menunjuk pada satu identitas estetika yang sangat ia kenal.

"Oppa, jangan tinggalkan aku... kumohon, jangan tinggalkan aku dengan kebenaran ini," isak Sheril, suaranya tenggelam di tengah hiruk-pikuk alat medis yang beradu.

Di luar ruang operasi, di balik kaca kecil pintu UGD, sesosok pria berdiri diam dalam kegelapan lorong. Jungkook menatap punggung Sheril yang bergetar karena tangis, tangannya mengepal di dalam saku jaketnya. Ia melihat darah Jin di tangan wanita yang ia cintai. Ia tahu Sheril adalah seorang jenius forensik; ia tahu Sheril akan menyadari tanda tangan pada luka itu.

Jungkook memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada dinding rumah sakit yang dingin. Ia telah melakukan segalanya untuk menjaga tangan Sheril tetap bersih dari kegelapan dunianya, namun malam ini, ia justru membuat Sheril harus memandikan tangannya sendiri dengan darah saudaranya demi menutupi jejak yang lebih besar.

Operasi berlangsung selama empat jam yang terasa seperti selamanya. Saat lampu "In Surgery" akhirnya padam, Sheril keluar dengan langkah yang terseret. Jubah hijaunya sudah berubah warna menjadi merah gelap. Ia melepas maskernya, menampakkan wajah yang hancur karena duka dan keraguan.

Ia berjalan menuju wastafel lorong, mulai mencuci tangannya. Ia menggosok dengan kasar, mencoba menghilangkan noda merah itu, namun yang ia lihat di air yang mengalir bukan hanya darah Jin, melainkan bayangan Jungkook yang sedang memegang pisau dengan senyum manisnya.

Seseorang mendekat dari belakang dan menyelimutkan jaket ke bahunya yang kedinginan.

"Sheril," suara itu lembut, penuh perhatian, dan sangat tenang.

Sheril membeku. Ia tidak menoleh. Ia menatap pantulan Jungkook di cermin wastafel. Jungkook berdiri di sana, matanya merah, tampak seperti pria yang hancur karena melihat kekasihnya menderita.

"Jin Hyung akan baik-baik saja. Dia kuat," ucap Jungkook, tangannya bergerak hendak menyentuh bahu Sheril.

Sheril berbalik dengan cepat, menjauh dari sentuhan itu. Matanya yang sembab menatap Jungkook dengan tatapan yang belum pernah ia berikan sebelumnya—tatapan seorang dokter forensik yang sedang menginterogasi sebuah bukti.

"Kook," suara Sheril terdengar sangat dingin, membuat Jungkook terdiam. "Bisa kau jelaskan padaku... kenapa luka di perut kakakku memiliki pola yang sama dengan pisau Wagyu yang kau asah kemarin malam?"

Hening menyergap lorong rumah sakit itu. Jungkook tidak mengalihkan pandangannya. Ia tidak terkejut, tidak juga menghindar. Ia hanya menatap Sheril dengan kesedihan yang begitu dalam, seolah-olah ia sudah menunggu pertanyaan ini sepanjang hidupnya.

"Sheril, ada hal-hal yang dilakukan demi keselamatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika luka," jawab Jungkook lirih.

Di ujung lorong, Suga muncul dengan napas terengah-engah, matanya beralih dari Sheril yang berdarah ke Jungkook yang berdiri tegak. Ketegangan itu hampir bisa dirasakan secara fisik. Rahasia itu tidak lagi terkubur di gudang tua atau di bawah dapur restoran; rahasia itu kini mengalir di sela-sela jemari Sheril, menuntut sebuah pengakuan yang mungkin akan menghancurkan mereka semua.

1
Sheril
baru baca
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!