Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memangnya boleh
Sudah setahun sejak Anisa jadi putri James dan ia juga sudah selesai belajar di tempat belajar mewah sekarang ia harus melanjutkan sekolah yang sesungguhnya tapi, karena tahu Anisa akan membuat keributan James menundanya dan memilih memanggil guru kerumah untuk melanjutkan sekolah Anisa.
Hari ini guru memberikan tugas lewat imail dan sudah di kerja semua, sekarang waktunya santai.
"Nona, selamat siang. " Sapa Nena yang Anisa lihat sedang menata pakaian di ruang binatu bersama pelayan lainnya.
"Siang Nena, oh yaa aku bosan ada ide untuk hari ini, tidak?"
Nena dan pelayan lainnya juga terdiam.
James yang barusan saja selesai rapat dengan para petinggi di bang Oceanus dan Pacificum tiba-tiba melihat Anisa disana dengan santainya berdiri menatap kedepan menunggu sambil memegang keranjang yang pastinya itu bukan keranjang biasa.
"Kenapa putriku menunggu di lobi?"
Silva membenarkan kaca matanya.
"Ah Nona, tidak ada yang memberi tahu kalo nona datang."
James menghampiri Anisa dan matanya terlihat senang melihat seseorang yang ia tunggu datang dengan wajah hampir membunuh semua orang di lobi.
"Ayah!" Semuanya diam bahkan semuanya membeku di tempat resepsionis.
"Tu-tuan, putrinya?" Bisik mereka bergetar takut.
"Kenapa tidak menunggu ayah di ruangan ayah, siapa yang menyuruhmu berdiri seperti pengemis disini?"
Tatapan James hampir membunuh resepsionis yang sudah sangat takut di tempatnya.
"Hahah ayah, ayah tidak perlu seperti itu, aku ini baru datang dan aku mau diantar ke ruangan ayah tapi, aku memilih menunggu ayah disini."
Semuanya langsung merasa lega karena Nona menyelamatkan karir dan nyawa mereka secara bersamaan.
Anila menoleh kebelakang saat berjalan bergandengan tangan dengan James menatap licik kearah para resepsionis yang malu sekali.
Dari luar lift dan sampai masuk lift.
"Ayah aku tidak tahu kalo kantor ini punya banyak peraturan, tadi banyak sekali yang di pecat dan ada polisi juga keluar masuk. "
James menatap Anisa.
"Ayah sedang membersihkan sampah."
Menoleh kesamping ternyata dinding lift bisa untuk berkaca.
"Oh jadi ayah itu suka kebersihan ya, kalo gitu aku mau ikutan boleh?"
"Tidak. " Jawabannya sangat cepat.
"Yaah ayah tidak seru bukannya membersihkan sampah dan menyingkirkan barang tak berguna itu keharusan ya. "
James menatap Silva dari belakang yang diam saja dan merasa keringat dingin.
"Kau seharusnya belajar kenapa kau kemari?"
Anisa yang menyadari kenapa ia kemari setelah di tanya James langsung diam nyering sampai semua giginya terlihat.
"Bosan, aku sudah selesai dengan tugasku dan aku minta ide pada para pelayan mau melakukan apa dan Mina Nena menyarankan membuat kueh kalo aku mau dan sebenarnya Nenek sol sudah membuat banyak kueh kering dan basah untukku."
James melihat keranjang kueh itu.
Anisa juga ikut menatap keranjang kueh yang Silva bawa.
"Ah itu, aku membuatkannya untuk ayah, aku mau tahu apa kuehku enak walaupun resepnya sama dengan yang koki di rumah buat tapi, semua kueh itu tangan ku sendiri yang bentuk."
James menganggukinya sambil mendehem.
Pintu lift terbuka, Silva yang didepan menahan pintu untuk Anisa keluar duluan lalu Tuannya.
Sampai didalam ruangan ayahnya. Anisa langsung duduk di sofa kulit yang empuk dan dingin.
"Ayah aku boleh sering datang tidak?"
"Tidak. "
Terkekeh misterius.
"Kau membuatku takut Anisa. "
"Tidak ayah aku ini sangat lucu, walaupun ayah melarangku aku akan melakukannya karena ayah menyayangi ku yaaakan ayah, yaa ya. "
Seperti ada bunga melayang disekitarnya bersamaan dengan bintang-bintang disana.
James melangkah duduk didamping Anisa, duduk Anisapun di benarkannya sendiri sampai rapi dan sopan.
"Aku merasa kasihan. " Melihat kueh kering ditangannya dan melirik Anisa.
"Ayah sangat menjengkelkan, jangan mengejekku dan segera makanlah aku mau tahu apa karena tanganku rasanya berubah."
Menatap penuh harap saat James membuka bungkusnya dan malas-malasan mau memakannya tapi, wajahnya geli tersenyum cerah.
"Kau yakin tak membuang banyak bahan masakan didapurku kan, apa kau sudah menumpahkan beberapa adonan. "
"Ayah! Makan lah dan katakan rasanya berhentilah perhitungan dengan berapa banyak bahan yang aku pakai, tinggal cicipi saya, harusnya tadi aku menaruh obat pencuci perut. "
James berhenti memasukkan kuehnya saat sudah sesenti lagi menyentuh bibir.
"Kau yaa..." Ucapan James sebelum memasukkan kueh kedalam mulutnya.
Memasukkan kueh kedalam mulutnya dan terlihat wajahnya biasanya saja bahkan saat mengunyah pun benar-benar tak ada ekspresi apapun yang keluar.
Kecewanya sampai benar-benar terlihat.
"Paman Silva!" Teriaknya semangat mengambil dua kantong bungkus berisi masing-masing lima kueh kering dan lima kueh basah.
"Ah, nona untuk saya, apa ini boleh?"
Melihat Tuannya yang matanya berkilat marah.
"Jangan terbebani dengan wajah ayah paman, ayah memang seperti itu, ini untuk Paman Silva dan cicipi satu yaa aku takut rasanya berubah, ayah tidak bisa di mintai pendapat tentang kueh buatan tanganku. "
Menyindir langsung di depan wajah Ayahnya sendiri. James merasa terhina sekarang.
"Ah baiklah Nona akan saya coba. "
Silva benar mencicipinya satu dan terlihat wajah Silva terlihat menikmatinya dan mengangguk dengan kedua ibu jari terangkat didepan mata Anisa.
"Wahhh ternyata tak berubah, terimakasih Paman."
Anisa benar-benar senang dengan tanggapan Silva yang jujur lalu menoleh tajam ke ayahnya yang membuang muka seolah tak lihat apapun.
Hari semakin sore dan matahari hampir tenggelam.
Anisa yang asik membaca buku yang tidak ia mengerti tapi, tetap ia baca bahkan James sampai beberapa kali memastikannya takut memang bosan dan muak dengan tempat atau bukannya.
Ternyata anak itu lebih tenang dan tetap membaca.
James langsung berdiri dan menjauh dari meja kerjanya.
"Ayo kita pulang, ayah sudah lelah. "
Anisa menoleh dan menutup bukunya.
Di tuntunnya keluar ruangannya bahkan menuruni lift melewati beberapa pegawai yang sudah waktunya pulang kecuali yang lembut.
Didalam mobilnya Anisa duduk tenang sampai James sendiri juga memilih diam saja.
Sampai dirumah.
James melihat Raze dan Theo berdiri didekat tangga teras di sana berdiri juga dua orang yang waktu itu memeriksa tempat kejadian kecelakaan Rosa.
"Kau harus masuk bersama Silva ya, ayah ada urusan." Perkataan James sebelum turun dari mobil.
Anisa mengangguk saja mengikuti tuntunan tangan Silva setelah turun dari mobil mengajaknya masuk rumah.
Melewati empat orang itu dengan santai salah satunya menyapanya.
Anisa juga tersenyum mengangguk.
Melihat mereka berempat Anisa sedih.
"Padahal aku kira ayah akan merayakan hari datangnya aku kerumah ini."
Silva menoleh melihat nya sambil berjalan.
"Oh iyaa nona belum merayakan ulang tahun ya?"
"Hah... Paman dengar gumamanku ya."
Murung tapi, berharap kalo Silva mendengarnya.
Silva menjerit dalam hati, gumaman dari mana kalo suaranya sejelas dan dan sekeras itu, suara hatinya memaksa keluar gitu?
"Anda tidak bilang pada Tuan kalo ingin merayakan ulang tahun tentu sangat boleh Nona, jangan diam saja... Atau minta pada Sol untuk membuat acara kecil sederhana atau acara yang nona mau."
"Emang boleh?"
Masih bingung karena melihat wajah Tuan James tadi serius, Silva menduganya kalo anak ini takut membuat Tuannya kesal atau sebaliknya ia hanya mau memastikan sesuatu.
Ah, Nona tanpa anda bicara wajah anda sudah mengatakannya dengan jelas.