Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Bakar
"Ayo pulang," ajak Ronand pada Rachel, Susan, dan Mika.
Baru beberapa menit berada di rumah itu, tampaknya istri dan anak Paman Ory sudah stress. Namun stressnya bahagia karena tingkah konyol ketiganya dan langsung nyaman karena dianggap sebagai keluarga. Setelah mengurus dua orang cecunguk yang ingin mencari tahu tentang Rachel dan Susan, Ronand memutar mobilnya untuk menjemput mereka di rumah Paman Ory. Raut wajahnya tampak biasa saja, seakan tidak pernah ada masalah sebelumnya. Mika pun berlari dan masuk ke dalam mobil Ronand.
"Paman Ory, mobilnya dibawa besok aja ke rumah sekalian antar Achel dan Ucan ke kampus." ucap Ronand agar Paman Ory tidak perlu mengantarkan mobil itu ke rumah hari ini.
"Nanti kalau mobilnya mau dipakai gimana, Den Ronand? Saya juga takut rusak kalau ditinggal di sini," tanya Paman Ory yang sebenarnya khawatir jika meletakkan mobil di rumahnya. Khawatir jika mobil ini rusak atau hilang.
"Di lumah masih banyak mobil, Om oli. Hilang satu, tinggal beli lagi. Lusak satu, jual saja. Ganti yang balu," ucap Mika menanggapi dengan santai.
"Dasar boros. Kalau hilang ya dicari dong. Terus mobil rusak, diperbaiki di bengkel." ucap Rachel yang sudah duduk di samping Mika.
"Itu omongannya nenet dayung ya, Onty boncel. Salahkan itu nenet dayung yang selalu ajali Mika aneh-aneh. Sebagai cicit yang baik, Mika halus menulut dong." ucap Mika yang tak mau disalahkan. Justru Mika langsung mengkambinghitamkan Mama Martha.
"Udah tahu aneh lho, masih diikutin ajarannya." sindir Rachel namun tak dipedulikan oleh Mika.
Ronand dan Susan memilih diam daripada ikut campur perdebatan itu. Baru mendengar perdebatan mereka saja sudah membuat kepala pusing. Apalagi terlibat langsung dalam perdebatan tak berfaedah itu. Ronand segera berpamitan pada Paman Ory dan mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga keluarganya. Susan yang duduk di depan dan samping Ronand memilih menyandarkan kepalanya ke kursi.
"Kenapa? Kepalanya pusing?" tanya Ronand sambil mengelus rambut Susan. Padahal di belakang mereka ada Rachel dan Mika yang melihat pemandangan itu. Namun Ronand seakan tak menganggap keduanya ada.
"Enggak, cuma lelah aja. Belum kuliah, udah harus menghadapi lalat-lalat di kampus." ucap Susan dengan lirih.
"Lalat? Onty dikelubungi lalat kaya makanan sisa di tempat sampah?" tanya Mika yang langsung masuk dalam pembicaraan.
Kurcaci cadel, jijik tahu. Pakai ngomongin sampah segala,
Belsisik Onty boncel ini,
Dikira ini ikan, masa bersisik.
Kenapa kalian jadi ribut? Diam dan istirahat,
Iya, Uncle Onand. Galak mamat itu mukanya,
***
"Sorry, Jun. Kita nggak mau lagi ada urusan sama Rachel dan kembarannya itu. Mereka, terutama kembaran Rachel itu kaya monster." ucap Vito dengan cepat.
Vito dan Kio langsung ke rumah sakit setelah kejadian ponsel meledak hingga terbakar. Telapak tangan Vito melepuh dan masih tampak memerah, walaupun sudah diobati. Hal itu membuat seseorang yang dipanggil "Jun" itu tampak bingung. Apalagi keduanya sampai menyebut kembaran Rachel. Dia adalah Arjuna, mahasiswa yang dibully oleh Yudha kemudian ditolong Rachel dan Susan.
"Sebenarnya ada apa? Kembaran siapa sih ini maksudnya? Terus tanganmu ini kenapa? Coba jelaskan yang detail," tanya Arjuna dengan tatapan bingungnya.
"Rachel itu punya kembaran. Laki-laki dan dia mirip seperti monster. Mending kamu menjauh aja dari mereka biar nggak terluka,"
"Cari cewek lain atau mahasiswa baru lainnya yang bisa kamu jadikan kekasih. Ini baru ambil foto lho, dan ponselku meledak. Tanganku jadi korbannya, entah bagaimana itu orang bisa meledakkan ponselku. Gimana kalau sampai mendekatinya terang-terangan? Mungkin badanku udah dikubur di dalam tanah," ucap Vito sambil bergidik ngeri.
"Benar kata Vito, Jun. Rachel dan Susan itu orang kaya. Mobil yang jemput aja harganya milyaran, walaupun tadi lihat mereka masuk area perumahan sederhana. Mobil kembarannya apalagi. Ngeri berurusan dengan keluarga konglomerat," ucap Kio menambahkan dengan berbagai peringatan.
"Masa sih?" Tampak sekali jika Arjuna belum percaya dengan ucapan Vito dan Kio. Walaupun mereka sudah menunjukkan buktinya.
Yeee... Dibilang nggak percaya padahal udah ada buktinya,
Kita udah nggak mau ikut-ikutan lagi,
Kalau emang kamu mau mendekati Rachel, silahkan aja. Resiko ditanggung sendiri,
Apa benar kembarannya sangat mengerikan? Tapi itu luka bakar benar adanya, bukan drama. Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan yang katanya kembaran Rachel,
***
"Ronand, Opa ingin bicara sebentar. Turun lah dulu," ucap Papa Fabio yang juga baru pulang dari kegiatan "memancing".
Ronand yang hendak ingin langsung pulang, hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia ingin segera istirahat, malah Opanya akan berbicara padanya. Ronand pun turun dari mobil setelah memastikan Susan masuk ke dalam rumah. Pasti pembicaraan ini sangat serius, sehingga butuh waktu lama. Jadi Ronand meminta Susan untuk menunggu di kamarnya yang ada di rumah Oma dan Opanya.
"Ada apa, Opa?" tanya Ronand to the point.
"Siapa yang menguntit cucu dan cicitku? Opa tidak akan menanyakan tentang caramu memberi pelajaran orang-orang itu. Opa tahu kalau kamu pasti bisa menyelesaikan mereka dengan cara anehmu itu," tanya Papa Fabio mengetahui tentang seseorang yang ingin mencari tahu tentang Rachel dan Susan.
"Hanya orang kepo, Opa. Ini orang suruhan saja. Tapi tenang saja, Ronand sudah tahu siapa orang di balik ini. Aku pastikan dia tidak akan pernah bisa mendekati apalagi menyentuh Achel dan Ucan," ucap Ronand dengan tatapan datarnya.
Huh...
"Baik lah, terserah kamu saja. Yang jelas Opa hanya minta, jaga mereka bertiga."
"Terus satu lagi, kamu dan Lucky itu jangan suka bereksperimen di tempat memancing Opa. Mana eksperimennya aneh-aneh pula. Masa bikin obat biar kentut terus. Itu obat buat penyembuh orang atau untuk menjahili?" ucap Papa Fabio memperingatkan Ronand.
Papa Fabio selalu kesal dengan Ronand dan Lucky yang seringkali membuat campuran zat-zat tertentu di tempat "memancing" miliknya. Padahal ia selalu mengunci pintu itu, namun anehnya dua orang ini selalu bisa masuk. Sampai ia memergoki Lucky yang berada di sana sendirian. Dia asal mencampurkan beberapa bahan yang diminta oleh Ronand. Entah untuk apa, namun racikannya sangat aneh.
"Senjata baru, Opa. Daripada buat nuklir, mending kan bikin obat kentut." ucap Ronand menanggapinya dengan santai.
"Mau kamu uji coba sama siapa itu? Ngaku nggak," desak Papa Fabio yang seakan tahu bahwa Ronand akan melakukan uji coba obatnya pada seseorang.
Anakmu, si Julian itu.
Heh... Dia Papamu, jangan sembarangan kamu ya.
Aman, Opa. Biar kuat tahan banting dia kalau menghadapi penjahat,
Tapi nggak yang dikasih obat biar kentut juga dong,
Hahaha...
Ronand, kok malah ketawa? Opa serius ini,
Iya,
Astaga... Bocah gemblung,