Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Salah Arah
Hari Keenam
Dewa tidak dapat tidur. Roby akhirnya menginap di kamarnya—di lantai, dengan bantal bekas—karena "gak tega melihat sahabatnya sendiri bisa bunuh diri gara-gara cincin.
"Gue gak mau bunuh diri," kata Dewa, tapi suaranya tidak meyakinkan.
"Lo mau lari?"
"Ke mana?"
"Bisa pulang Ke rumah, ke keluarga Lo, melupakan cincin, melupakan Sasha, Ibu dosen dan memulai hidup baru."
" Rumah gue disini, By, bukan pulang."
" Tapi gue heran melihat lo, apa Lo gak kangen dengan kedua orang tua Lo? Gak kangen dengan ayah dan ibu?"
Dewa terdiam, wajahnya terlihat gugup." Gue kangen, By, tapi ada masalah yang belum selesai dalam kehidupan gue." Ia menatap langit-langit kamar kosan 2x3 meter. "Gue sudah berjanji dengan diri sendiri, gue harus berhasil."
" Maksud Lo?"
" Gue gak ingin ketergantungan dengan Papa.'
" Dengan menjadi penjual bubur ayam? model seni? Dan tukang angkat ?"
Dewa menatapnya lamat, ia tidak mau memberitahu rahasia keluarganya, cukup konsumsi ini untuk dirinya sendiri, " Gue masih kontak dengan Papa," katanya rintih, "tapi untuk saat sekarang gue masih mencari kehidupan."
Roby diam tidak punya jawaban." Gue gak ngerti cara pandang hidup Lo, disaat orang mencari koneksi Lo malah memutus."
Dewa tersenyum tipis, " Masalah cincin belom selesai, By, jangan Lo tambah lagi dengan urusan keluarga."
---
Jam 9 pagi, kampus.
Dewa berjalan dengan satu misi melihat perempuan cantik memakai blazer dan rok panjang, memastikan dia tidak memakai cincin, dan semua ini hanya kecelakaan yang dapat dijelaskan nanti.
Roby berjalan lima meter di belakangnya berpura-pura membaca brosur beasiswa.
Makul Statistik Lanjut jam 10 pagi. Dewa masuk dengan hati berdebar tidak pernah dia rasakan sebelumnya—bahkan saat ujian akhir kelulusan.
Perempuan itu sudah ada di sana berdiri di depan kelas dengan postur tegak. Wajahnya datar sama persis seperti 5 kali pertemuan sebelumnya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda sarung tangan hitam panjang menutupi kedua tangan sampai pergelangan.
Dewa membeku di ambang pintu, alergi, pikirnya, luka, apa pun itu bukan cincin.
Tapi matanya—matanya tidak bisa berbohong—menatap jari manis kiri. Sarung tangan itu sedikit menggembung seolah ada sesuatu di bawahnya, bulat dan Dewa yakin—tidak ada di tangan kanannya.
"Dewa." Suaranya dingin profesional. "Duduk, mata kuliah akan kita mulai."
Dewa bergerak otomatis. Duduk paling depan—kebiasaan tidak dia sadari. Dari sini, dia bisa melihat lebih jelas perempuan itu menulis di papan tulis rumus regresi linear, tangan kanannya gesit, lincah, normal.
Tangan kirinya—terbungkus sarung tangan hitam—bergerak sedikit lebih kaku seolah-olah melindungi takut kehilangan.
Dewa menatapnya tidak berkedip, hampir tidak mendengarkan penjelasannya. Apakah Itu cincin gue? pikirnya. Itu pasti cincin gue, Tapi kenapa dia pakai?Apakah dia tidak tahu siapa pengirimnya. Dia... suka dengan cincin murah milik orang asing?
Pikiran liarnya berputar cepat. Ibu Dian—Dosen Killer jomblo wati—menyukai cincin murah hasil kerja serabutan? Ibu Dian—yang ditakuti seluruh kampus—memakai hadiah dari pengirim tidak dikenal?
Tidak masuk akal.
Tapi kenapa jika dilihat dari dekat pipinya sedikit merah? Kenapa suaranya—yang selalu datar—sedikit lebih tinggi dari biasanya?
"Jadi, variabel X dan Y..." Ia berhenti menoleh ke arah Dewa. "Ada masalah mu Dewa?"
Laki laki itu hanya diam masih menatap tangan kirinya.
"Dewa."
"Eh— iya, Bu?" Ia tergagap
"Saya bicara anda menatap, apakah ada yang lebih menarik dari regresi linear?"
Seluruh kelas menoleh ke arahnya, Roby—yang duduk barisan paling belakang—menyembunyikan tawa dengan batuk palsu.
Wajah Dewa merah padam, bibirnya bergetar menjawab "Mm...Maaf, Bu. Saya... saya..."
"Perhatikan, Dewa, saya perhatikan kamu dari tadi menghayal, atau kamu rindu dengan pacarmu?'
Anak anak tertawa kecil, menahannya, takut dosen Killer itu berubah menjadi paus orca.
" Sekarang perhatikan," Ia kembali ke papan tulis, tangan kirinya—yang terbungkus—bergerak sedikit lebih cepat gugup.
Dewa melihat kegugupan di tubuh kakunya takut bercampur geli karena dia—hanya seorang mahasiswa miskin, absurd, tidak penting—dan geli karena bisa mengubah Dosen Killer menjadi wanita pemalu gugupan
sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan cara statistik
---
Dewa diseret Roby ke sudut koridor setelah kuliah selesai "Bro. Lo lihat?"
Dewa mengangguk hampa.
"Dia pakai, kan? Cincin lo?"
"Sarung tangan," katanya sambil menghela napas. "Dia tutupi. Tapi... gue yakin itu cincin gue."
"Yakin atau ngira-ngira?"
Dewa berhenti yakin atau ngira-ngira? Dia tidak melihat cincin hanya melihat tangan yang menggembung di jari manis tangan kiri.
"Gue... hanya ngira-ngira," akhirnya dia mengakui. "Tapi feeling gue kuat."
Roby menghela napas panjang. "Oke lah kalau begitu. Plan selanjutnya lo deketin Ibu Dian mencari bukti dan berpikir bagaimana caranya mengambil balik."
"Gimana caranya deketin Ibu Dian?! Dia Dosen Killer!"
Roby tersenyum senyuman yang tidak pernah meyakinkan. "Lo sudah deket. Lo duduk paling depan. Lo ditatap tadi. Lo... spesial, bro. Dia perhatikan lo."
Dewa ingin menginjak kakinya tapi Roby benar adanya. Perempuan itu —untuk pertama kali—menatapnya lebih lama dari pada biasanya Tapi karena... karena apa? Dia bukan ke ge eran, bisa jadi wajahnya memang tampan atau karena kasihan sering kali terlambat dan tidak nyambung materi.
---
Jam 3 sore, ruang dosen.
Perempuan berwajah tegas itu duduk sendiri di kursi ruangan kantornya. Cincin di bawah sarung tangan terasa panas di jari.
Dia tidak mengerti kenapa dia terus memakainya, gugup saat melihat mahasiswa bernama Dewa lebih lama dari pada 37 lainnya?.
Dewa, gumamnya. Nama yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, sering bolos, duduk paling depan dengan ekspresi bingung, yang hari ini—dia yakin—menatap tangan kiri dengan intensitas mengganggu.
Dian membuka laptop. Mengetik namanya mencari data nilai: 60, 58, 62. Kehadiran: 40%. Tidak ada keistimewaan, Tidak ada alasan untuk diperhatikan,
Tapi kenapa ia menatap seolah-olah tahu?
Tahu apa?
Ia menggeleng tidak mungkin. Dewa tidak tahu apa-apa, tidak ada yang tahu. Pengirim tidak meninggalkan nama. Alamat A-12B hampir tidak ada yang tahu.
Tapi kemudian, dia ingat, bagaimana laki laki berkulit putih, berwajah baby face itu membeku di ambang pintu, wajahnya memerah saat ditanya, bagaiman ia menatap tangan kiri—bukan wajah, bukan papan tulis, tapi tangan kiri.
Ia merasakan sesuatu bukan ketakutan, . marah, tapi... penasaran.
Untuk pertama kali dalam usia 38 tahun, dalam kesendiriannya, dalam rasa kekecewaan berat selama bertahun-tahun ia ingin mengajak seseorang bicara normal, tidak interogasi, tidak perintah hanya ngobrol.
Dia mengetik pesan singkat menghapus, mengetik lagi ke admin jurusan: "Panggil Dewa untuk konsultasi tugas. Besok. Jam 4 sore."
---
Dewa menerima panggilan dari admin saat istirahat di kantin
"Dewa? Bu Dian panggil kamu konsultasi tugas besok jam 4."
Darah nya membeku, tubuhnya sedikit limbung, Ibu Dian memanggil, Dosen Killer jomblo, perawan tua yang siap menelannya hidup hidup
Untuk apa? Untuk interogasi? Untuk Mata kuliah? Atau...
Dewa tidak berani memikirkan "atau."
Tapi malam ini dia tidak dapat tidur merasa ada sedikit harapan, harapan yang salah arah, berbahaya. Tapi tetap harapan.