NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Viola Berteriak di Kamar Mandi

🌹 Puisi: Mawar Palsu di Taman Lilin

Dulu kukira kau bayangku, saudara dalam cermin

Ternyata kau ular yang belajar tersenyum sejak kecil

Kau pinjam namaku, kau kencingi tamanku

Kau rebahkan tubuhku lalu kau berdiri di atasnya

Sekarang, lihat—

Mawar palsumu layu di taman lilin

Dan apinya, sayang, apinya baru mulai menyala.

---

Pintu kamar mandi membanting keras, menggetarkan lukisan pemandangan di dinding lorong. Di dalam, Viola membuka keran air dingin, tapi tangannya gemetar terlalu hebat untuk sekadar membasuh muka. Ia menatap cermin—dan membenci apa yang dilihatnya.

Mata itu. Mata yang sama yang selama ini ia gunakan untuk tersenyum manis pada Alana, untuk menatap Richard dengan hasrat, untuk menipu dunia. Sekarang, di balik bulu mata palsu yang mulai rontok, mata itu kosong. Atau mungkin, pikirnya, selama ini memang kosong, dan baru sekarang aku lihat.

"Hhhhh—" Napasnya keluar patah-patah. Lalu tiba-tiba, lengannya menyapu bersih seluruh botol parfum di wastafel.

Bruak!

Kaca pecah. Wangi mahal memenuhi ruangan sempit itu—campuran mawar Perancis, amber, dan sesuatu yang manis. Viola dulu suka wewangian ini. Katanya, ini "wangi wanita kelas atas". Sekarang, baunya memuakkan.

Ia membuka lemari kecil di samping wastafel. Di dalamnya, tersusun rapi perawatan kulit Alana—produk-produk impor yang bahkan Viola tak mampu beli sendiri. Dengan liar, ia mengambil satu per satu, meremas isinya ke wastafel, ke cermin, ke rambutnya sendiri.

"Ini salahmu... ini salahmu..." gumamnya berulang, entah pada Alana, pada Richard, atau pada bayangannya sendiri.

Krim malam seratus gram seharga mobil bekas itu ia lemparkan ke dinding. Pelembab dengan kandungan emas 24 karat tumpah di lantai, bercampur serum vitamin C dan toner dari Swiss. Viola berlutut di genangan cairan mahal itu, menekuk punggung, dan berteriak.

Bukan teriakan marah biasa. Ini lolongan panjang, dalam, dari dasar perut yang paling hitam—suara perempuan yang sadar bahwa semua pilihannya selama ini ternyata jalan buntu.

"VIOLA!"

Richard membuka pintu kamar mandi paksa. Ia berdiri di ambang pintu, jas masih rapi tapi wajahnya abu-abu seperti mayat hidup. Rapat tadi menghancurkannya. Pemegang saham memecatnya. Perusahaan yang ia rampas tiga tahun lalu, direbut kembali oleh Alana dalam waktu kurang dari dua jam.

Ia melihat Viola berlutut di antara pecahan kaca dan cairan krim, gaun sutranya basah, maskara luntur membentuk dua sungai hitam di pipi. Dulu, kekacauan seperti ini akan membuat Richard iba. Atau setidaknya, merasa bertanggung jawab.

Sekarang? Ia hanya lelah.

"Berhenti." Suaranya datar.

Viola menengadah. Matanya merah, bibirnya bergetar. "Berhenti? Kau suruh aku berhenti? Kau lihat apa yang terjadi?! Kita kehilangan segalanya, Richard! Dan kau diam saja! Kenapa kau diam saja?!"

Richard tidak menjawab. Ia bersandar pada kusen pintu, menatap langit-langit. Di luar, hujan mulai turun. Suara rintiknya bercampur dengan suara Viola yang semakin histeris.

"KAU BILANG KITA AMAN! Kau bilang semua dokumen sudah di tangan kita! Kau bilang perempuan bodoh itu nggak akan pernah tahu apa-apa!" Viola berdiri, terhuyung karena lantai licin. Ia menuding Richard dengan jari gemetar. "Tapi lihat! Lihat sekarang! Dia tahu SEGALANYA! Dia tahu kita tidur di ranjangnya, di rumahnya, di bawah atapnya! Dia tahu uang yang kau transfer ke rekeningku! Dia tahu, Richard! DIA TAHU DARI AWAL!"

Richard menghela napas panjang. "Kita belum kehilangan segalanya."

"BELUM?!" Viola tertawa, keras dan tajam. "Kau lihat rapat tadi? Semua orang, SEMUA orang itu tepuk tangan untuknya! Investor-investor besar yang selama ini kau rayu, mereka kontak langsung dengannya! Bahkan Nathan Pramana, yang katanya nggak bisa didekati siapa pun—dia tersenyum pada Alana! Senyum, Richard! Pria dingin itu senyum!"

"DIAM!"

Untuk pertama kalinya, Richard membentak. Viola membeku. Richard mendekat, menatapnya tajam. "Kau pikir aku nggak lihat? Kau pikir aku buta? Tapi teriak-teriak di sini, merusak barang, apa gunanya? Itu cuma bikin kita makin terlihat lemah."

Viola menatapnya, dan untuk pertama kalinya pula, ia melihat sesuatu di mata Richard yang belum pernah ia lihat sebelumnya: keraguan.

Bukan pada rencana. Bukan pada masa depan. Tapi pada dirinya—pada Viola.

"Kau... kau lihat aku apa?" bisik Viola.

Richard mengalihkan pandangan. "Nggak penting."

"Katakan."

Richard diam. Viola meraih lengannya, memaksanya menatap. "Katakan, Richard. Setelah tiga tahun kau tidur di sampingku, setelah semua yang aku korbankan—keluargaku, sahabatku, harga diriku—kau lihat aku apa sekarang?"

Richard menarik lengannya perlahan. Suaranya lirih. "Aku lihat perempuan yang kehilangan kendali."

Viola tersenyum getir. "Perempuan yang kehilangan kendali. Dulu, kau bilang aku perempuan paling tenang yang kau kenal. Paling sabar. Paling bisa diandalkan. Ingat? Di mobil, malam hujan, kau bilang kau lelah dengan Alana yang terlalu sempurna. Dan aku—aku adalah angin segar."

"Iya."

"Sekarang?"

Richard menggeleng pelan. "Sekarang kau... kau beda."

Viola mundur selangkah. Kaki telanjangnya menginjak pecahan kaca. Ia merasa sakit, tapi tak peduli. Darah mengalir di lantai marmer, bercampur dengan krim mahal yang tumpah. Pemandangan itu anehnya indah—kekayaan dan kehancuran, dalam satu bingkai.

"Aku beda," ulangnya lirih. "Atau aku mulai terlihat seperti asliku? Dan kau nggak suka?"

Richard tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

Viola tertawa lagi, kali lebih pelan. "Kau tahu, Richard? Selama tiga tahun ini, aku selalu berpikir, suatu hari nanti, setelah semua beres, kita akan hidup bahagia. Kau jadi CEO, aku jadi istrimu yang sah. Kita punya anak, punya rumah di luar negeri, punya segalanya. Aku rela menunggu, karena aku pikir kau berharga."

Ia berhenti, menatap Richard dengan mata berkaca-kaca. "Tapi sekarang aku sadar. Aku bukan menunggu. Aku cuma... terperangkap. Dalam mimpi yang kau jual. Dan Alana—" suaranya serak, "Alana, sebenarnya, dia nggak salah apa-apa, kan? Dia cuma perempuan yang menikahimu karena cinta. Dan kau—kita—menghancurkannya."

Richard menegang. "Jangan mulai menyalahkanku. Kau sama bersalahnya."

"Aku tahu." Viola mengangguk. "Makanya ini sakit."

Ia berjalan ke wastafel, membuka keran, membasuh wajah. Air dingin bercampur maskara dan darah dari telapak kakinya mengalir ke lubang pembuangan. Viola menatap pusaran air itu dan bertanya-tanya, apa aku juga akan hilang begitu saja?

"Ada satu hal yang aku nggak ngerti," katanya tanpa menoleh. "Kenapa kau kawin dengannya kalau cuma ingin hartanya? Kenapa nggak cari perempuan kaya lain? Kenapa harus dia?"

Richard duduk di tutup kloset, menunduk. "Karena... dia beda."

Viola menoleh cepat. "Beda?"

"Dia... nggak seperti yang lain. Waktu pertama ketemu, dia lihat aku bukan sebagai pria tampan atau calon menantu kaya. Dia lihat aku... sebagai manusia. Dan aku pikir, mungkin, entahlah—" Richard mengusap wajahnya kasar. "Aku pikir mungkin aku bisa bahagia dengannya. Tapi kemudian aku lihat hartanya, lihat posisinya, lihat peluangnya... dan ambisiku menang."

Viola terdiam. Untuk pertama kalinya, Richard bicara jujur.

"Tiga tahun pernikahan kami," lanjut Richard, "dia selalu baik. Terlalu baik. Dan itu membuatku... merasa bersalah. Makanya aku cari kau. Karena dengan kau, aku nggak perlu merasa bersalah. Kau juga jahat."

Viola tersenyum pahit. "Terima kasih, Sayang. Pujian terindah yang pernah kau beri."

Mereka terdiam cukup lama. Hujan di luar makin deras. Lampu kamar mandi berkedip sekali, pertanda listrik mulai tidak stabil.

"Aku takut," bisik Viola tiba-tiba.

Richard menatapnya.

"Aku takut dia nggak akan berhenti di sini." Viola memeluk dirinya sendiri. "Kau lihat matanya di ruang rapat? Itu bukan mata korban. Itu mata... algojo. Dia ingin kita merasakan sakit yang dia rasa. Dan aku nggak tahu seberapa jauh dia akan pergi."

Richard bangkit, menghampirinya. Ia meletakkan tangan di bahu Viola—gerakan yang dulu terasa hangat, sekarang hanya mekanis. "Kita lawan."

"Kita kalah."

"Belum tentu."

Viola menatapnya lama. "Kau benar-benar percaya kita bisa menang?"

Richard menelan ludah. "Aku harus percaya."

Viola tersenyum, lalu menggeleng. "Aku nggak tahu lagi, Richard. Aku nggak tahu lagi siapa aku, siapa kau, mana yang nyata mana yang palsu. Aku bahkan nggak tahu, saat kau bilang 'aku harus percaya', itu karena kau yakin, atau karena kau takut kehilangan satu-satunya sekutu yang tersisa?"

Richard tak menjawab.

Viola melepas tangannya dari bahunya. "Pergilah. Aku mau mandi."

"Vi—"

"Pergi."

Richard keluar. Pintu tertutup pelan. Viola menyalakan shower, membiarkan air panas mengucur deras. Ia berdiri di bawahnya, gaun masih lengket di tubuh, darah dari telapak kaki terus mengalir. Air panas menyiram wajahnya, tapi air mata tetap tak terbendung.

Alana.

Nama itu bergema di kepala.

Dulu kita sahabat. Kau bagi rahasia, aku dengar. Kau bagi mimpi, aku tepuk tangan. Kau bagi hati, aku... aku tusuk dari belakang.

Viola menekan dinding ubin dengan kedua tangan, kening menempel di permukaan dingin.

Kenapa?

Pertanyaan itu terus berulang. Kenapa ia menginginkan hidup Alana? Kenapa ia tidak cukup puas dengan hidupnya sendiri? Kenapa melihat Alana bahagia membuatnya sakit, bukan ikut bahagia?

Karena aku kosong, jawabnya dalam hati. Dan dia penuh. Aku pikir, kalau aku ambil semua miliknya, aku akan penuh. Tapi ternyata... aku tetap kosong. Malah lebih kosong.

Di ruang tengah, Richard duduk di sofa, menatap gelapnya televisi mati. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal:

"Selamat menikmati malam pertama sebagai pecundang. Besok akan lebih seru. - Mawar Berduri"

Richard membaca pesan itu berulang kali. Lalu ia menutup mata.

---

Di luar, hujan makin deras. Di dalam kamar mandi, Viola tenggelam dalam air dan air mata. Malam itu, dua orang yang selama tiga tahun merasa menang, untuk pertama kalinya tidur dalam ruang yang sama—dengan jarak yang tak terlihat tapi terasa seperti lautan.

Dan di puncak gedung pencakar langit, di ruang kerja pribadinya, Alana menuang wine merah ke gelas kristal. Ia menatap hujan dari balik kaca, bibirnya melengkung tipis.

"Babak pertama selesai," bisiknya pada angin.

🌹 Penutup Bab:

Mawar palsu mulai layu

Di taman yang dulu ia rampas

Kini ia belajar:

Mencuri tak membuat kaya

Hanya membuat lapar

Dan lapar yang tak pernah terpuaskan

Adalah neraka yang paling sunyi.

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

1
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
Roma Biskuit
Jadilah Mawar ,Indah dilihat jika salah orang durinya akan menusuk daging mu. mantaaaap👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!