sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERAGUAN YANG KEMBALI BERTAMU
Suasana di butik pengantin ternama di kawasan Menteng itu seharusnya penuh dengan tawa dan decak kagum. Gaun putih tulang dengan detail payet mutiara yang dirancang khusus untuk Kira sudah terpasang sempurna di tubuhnya. Arlan berdiri di sampingnya, mengenakan tuxedo hitam yang membuatnya tampak seperti pangeran dari buku dongeng.
Namun, di sudut ruangan, Bu Rahmi duduk dengan tangan terlipat di dada. Matanya tidak menatap keindahan gaun itu, melainkan menatap pantulan Kira di cermin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ra, coba putar badannya sedikit," pinta Arlan, matanya berbinar bangga.
Kira memutar tubuhnya perlahan, kain sutra itu berdesir halus di lantai. "Bagaimana, Lan? Nggak terlalu berlebihan, kan?"
"Sempurna. Kamu cantik sekali," bisik Arlan.
"Ehem," Bu Rahmi berdeham cukup keras, memecah suasana romantis itu. "Arlan, Kira, bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang mengganjal di hati Ibu sejak kejadian di Bali kemarin."
Arlan menghela napas, ia sudah menduga ini akan terjadi. "Ibu, kalau soal Maura, semuanya sudah selesai. Arlan sudah jelaskan semalam."
Bu Rahmi berdiri, mendekati Kira dan menyentuh bahu gaunnya. "Ini bukan cuma soal Maura, Lan. Ini soal kesiapan kalian. Ibu melihat unggahan Kira di media sosial kemarin. Kira, Tante—maksud Ibu—paham kamu marah. Tapi apa harus membalasnya secara terbuka seperti itu? Itu terlihat... kurang berkelas bagi calon menantu keluarga Dirgantara."
Kira tertegun. Senyumnya perlahan pudar. "Ibu, Kira hanya membela diri. Maura mencoba merusak reputasi Arlan dan hubungan kami."
"Ibu tahu. Tapi dengan membalasnya begitu, kamu menyeret nama keluarga kita ke dalam drama murahan di internet. Ibu jadi berpikir, apa kamu cukup dewasa untuk mendampingi Arlan yang dunianya penuh dengan persaingan bisnis yang kotor? Arlan butuh istri yang bisa meredam badai dengan keanggunan, bukan dengan ikut berteriak di keramaian."
Arlan melangkah maju, berdiri di depan Kira seolah menjadi perisai. "Ibu, Kira tidak berteriak. Dia justru menunjukkan kelasnya. Dia menunjukkan bahwa dia tidak bisa diinjak-injak. Bukankah itu kualitas yang Ibu inginkan dari seorang istri arsitek besar?"
"Ada batas antara ketegasan dan impulsifitas, Arlan," suara Bu Rahmi merendah namun tajam. "Ibu khawatir, emosi Kira yang masih meledak-ledak ini akan menjadi beban bagi kariermu nanti. Pernikahan bukan cuma soal cinta sebelas tahun, tapi soal kecocokan profil sosial."
Suasana di butik itu mendadak menjadi sangat dingin. Para pegawai butik mulai menyingkir, membiarkan drama keluarga itu berlangsung di balik tirai beludru.
Setelah sesi fitting yang berakhir kaku, Arlan dan Kira duduk di sebuah taman tersembunyi di belakang butik. Kira masih terdiam, jarinya memainkan cincin tunangannya dengan gelisah.
"Ra, jangan dengerin Ibu. Dia cuma lagi stres karena persiapan pernikahan ini terlalu besar," ucap Arlan, mencoba menghibur.
Kira menoleh, matanya berkaca-kaca. "Lan, apa menurutmu aku terlalu kekanak-kanakan kemarin? Apa aku benar-benar mempermalukan keluargamu?"
"Nggak, Ra. Sama sekali nggak. Kamu itu berani, dan itu yang bikin aku makin cinta sama kamu. Ibu itu produk generasi lama, dia pikir diam itu emas. Tapi di duniaku sekarang, diam itu berarti setuju untuk dihancurkan."
"Tapi kalau Ibu terus meragukanku... apa kita bisa benar-benar bahagia? Aku nggak mau jadi duri di antara kamu dan ibumu, Lan."
Arlan menggenggam kedua tangan Kira, mengangkatnya ke wajahnya. "Dengerin aku, Kiranara. Yang menikah itu aku dan kamu. Bukan Ibu dan kamu. Aku sudah pilih kamu sejak sebelas tahun lalu karena kamu adalah kamu. Bukan karena kamu bisa jadi boneka sosialita yang diinginkan Ibu."
Tiba-tiba, ponsel Kira berdering. Sebuah nomor tidak dikenal. Kira ragu sejenak, namun akhirnya mengangkatnya.
"Halo?"
"Mbak Kira? Ini Sinta, sekretaris Pak Arlan." Suara di seberang sana terdengar panik.
"Iya, Sinta? Ada apa?"
"Mbak, tolong... Pak Arlan harus segera ke kantor. Ada perwakilan dari dewan etik asosiasi arsitek. Maura... maksud saya, pihak Anastasia Group melaporkan Pak Arlan atas tuduhan pencemaran nama baik dan ancaman pemutusan kontrak secara sepihak yang tidak profesional."
Kira memucat. Ia menatap Arlan dengan tatapan horor. "Lan... Maura beneran nekat. Dia laporin kamu ke asosiasi."
Di kantor firma arsitek Arlan, suasananya seperti di ruang sidang. Dua pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu duduk di hadapan Arlan. Di samping mereka, pengacara keluarga Anastasia berdiri dengan tumpukan dokumen. Maura tidak ada di sana, ia rupanya lebih memilih mengirim "pasukannya" daripada menghadapi Arlan secara langsung.
"Pak Arlan, tuduhan ini cukup serius," ucap salah satu anggota dewan etik. "Ancaman yang Anda berikan dalam addendum kontrak dianggap sebagai bentuk intimidasi terhadap klien."
Arlan tertawa sinis, melempar ponselnya ke meja. "Intimidasi? Bagaimana dengan foto-foto manipulatif yang klien Anda unggah untuk merusak kehidupan pribadi saya? Apakah itu dianggap profesional oleh dewan etik?"
"Itu urusan pribadi, Pak Arlan. Tapi kontrak bisnis adalah urusan publik dan profesional," sela pengacara Maura dengan nada datar.
Kira yang berdiri di pojok ruangan bersama Sinta merasa dadanya sesak. Ia melihat bagaimana Arlan, pria yang selalu membangun segalanya dengan kejujuran, kini dipojokkan oleh kekuatan uang.
Tiba-tiba, Kira melangkah maju. "Boleh saya bicara?"
Semua mata tertuju padanya. Arlan menggeleng pelan, memberi isyarat agar Kira jangan ikut campur, namun Kira mengabaikannya.
"Saya Kiranara, tunangan Pak Arlan sekaligus desainer interior yang bekerja sama dalam proyek ini," ucap Kira dengan suara tenang namun berwibawa. "Jika Bapak-bapak menganggap urusan pribadi tidak ada hubungannya dengan profesionalisme, maka Bapak harus melihat data ini."
Kira mengeluarkan tabletnya, menunjukkan data log komunikasi yang ia minta dari Sinta tadi. "Ini adalah catatan revisi desain yang dikirimkan Maura Anastasia secara pribadi kepada Arlan di luar jam kerja. Isinya bukan soal struktur bangunan, tapi soal permintaan untuk mengubah ruang tidur utama menjadi sesuatu yang... sangat personal dan tidak sesuai dengan konsep hotel awal."
Dewan etik itu saling pandang, mulai tertarik.
"Maura mencoba menggunakan proyek ini untuk melakukan pelecehan emosional terhadap kepala arsitek Anda," lanjut Kira. "Addendum yang diajukan Arlan bukan intimidasi, tapi perlindungan terhadap integritas desain. Jika Arlan dipaksa bekerja di bawah tekanan personal seperti itu, maka kualitas bangunan itulah yang terancam. Apakah dewan etik ingin bertanggung jawab jika resort itu runtuh—baik secara struktur maupun reputasi—karena arsiteknya dipaksa melayani keinginan pribadi klien?"
Ruangan itu hening. Argumen Kira masuk akal secara teknis maupun etis.
Setelah diskusi panjang, dewan etik akhirnya memutuskan bahwa laporan Anastasia Group tidak memiliki dasar yang kuat untuk dilanjutkan ke sanksi profesional. Namun, mereka menyarankan agar komunikasi dilakukan lewat pihak ketiga.
Malam harinya, di depan kantor Arlan yang sudah sepi, Arlan bersandar di mobilnya, menatap Kira dengan tatapan takjub.
"Kamu tadi... luar biasa, Ra," bisik Arlan.
Kira tersenyum lelah, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Ternyata benar kata Ibu, Lan. Aku memang impulsif. Bedanya, kali ini impulsifku buat nyelamatin karier kamu."
"Itu bukan impulsif, itu jenius," Arlan memeluk Kira erat. "Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi harus berurusan sama orang-orang kayak gitu."
"Nggak apa-apa. Sebelas tahun aku nemenin kamu lembur, masa nemenin kamu 'perang' aja aku nggak bisa?"
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, mobil Bu Rahmi terparkir di pinggir jalan. Beliau melihat adegan itu. Beliau melihat bagaimana Kira tidak hanya menjadi "pendamping", tapi menjadi "kekuatan" bagi Arlan. Beliau menyadari bahwa keanggunan yang ia cari bukan pada diamnya seseorang, tapi pada cara seseorang berdiri tegak di tengah badai.
Bu Rahmi mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan untuk Kira.
Ibu Arlan: Kira, Ibu tadi melihatmu di kantor. Besok pagi, datanglah ke rumah. Ibu ingin kita memasak bersama untuk menu lamaran di Jakarta nanti. Maafkan Ibu atas ucapan di butik tadi.
Kira membaca pesan itu dan tersenyum lebar. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Arlan.
"Lihat, Lan. Restu jilid dua akhirnya datang."
Arlan tertawa, mencium kening Kira di bawah lampu jalan yang temaram. "Struktur kita memang nggak terkalahkan, Ra. Baja paling kuat di dunia."
Malam itu, mereka pulang dengan hati yang jauh lebih ringan. Badai Maura mungkin belum sepenuhnya reda, namun fondasi mereka kini sudah teruji secara publik, profesional, dan keluarga. Sebelas tahun persahabatan mereka telah resmi berubah menjadi kemitraan hidup yang tak terpatahkan.