"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIPLOMASI ES CEKEK
Ghava baru saja hendak melangkah menuju mobil saat Nana tiba-tiba menahan lengannya. "Eits, bentar! Ada yang kurang," ucap Nana setengah berlari menuju gerobak kecil di samping penjual telur gulung.
Di sana, terlihat tumpukan plastik bening dan tumpukan es batu besar. Itu adalah lapak Es Teh Cekek—es teh yang dibungkus plastik dan diikat kencang dengan karet hingga menyerupai leher yang dicekek.
"Pak, dua ya!" seru Nana antusias.
Ghava hanya bisa berdiri mematung di pinggir jalan, memperhatikan pemandangan yang sangat tidak estetis bagi seorang produser musik papan atas. Ia melihat abang penjualnya menuangkan teh dari teko plastik besar, menambahkannya dengan gula cair yang warnanya sangat mencolok, lalu mengocoknya dengan potongan es batu yang diambil menggunakan tangan.
Nana kembali dengan dua plastik es teh yang embun dinginnya sudah membasahi tangannya. Ia menyodorkan satu ke depan dada Ghava. "Masa makan nggak minum yang seger?" ucap Nana sambil menyengir. "Tenang, yang ini aku yang traktir!"
Ghava menerima plastik dingin itu dengan dua jari, seolah takut plastik itu akan pecah. Ia menatap Nana dengan tatapan meremehkan yang jenaka. "Dih, cuma sepuluh ribu juga," ucap Ghava, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh sejak duduk di trotoar tadi.
Nana tidak terima. Ia berkacak pinggang, sambil menyedot es tehnya dengan bunyi seruputan yang keras. "Mas juga tadi traktir telur gulung cuma sepuluh ribu udah sombong banget!" balasnya telak. "Bukannya terima kasih malah menghina nominal. Ingat Mas, di mata es teh ini, kita semua sama derajatnya!"
Ghava tertegun, lalu menahan tawa yang hampir meledak. Ia melihat plastik di tangannya—minuman seharga lima ribu perak yang diikat karet merah. Benar-benar sangat jauh dari standar hidupnya yang biasanya hanya menyentuh gelas keramik atau tumbler bermerek.
"Ayo, diminum! Jangan dilihatin doang, nanti esnya keburu cair kayak hati Mas pas denger suara mantannya tadi," goda Nana lagi, kali ini lebih berani.
Ghava akhirnya menyerah. Ia menggigit sedotan plastiknya dan menyesap teh itu. Rasa manis yang berlebihan dan rasa sepat teh murah langsung menyerbu tenggorokannya. Dinginnya membuat otaknya yang tadi panas karena telepon Selya mendadak terasa segar.
"Gimana? Enak kan?" tanya Nana, menanti reaksi.
"Manis banget. Kebanyakan gula," komentar Ghava, namun ia tetap menyesapnya lagi. "Tapi... iya, seger."
"Nah gitu dong! Manisnya es teh ini buat nutupin pahitnya hidup Mas hari ini," ucap Nana riang sambil berjalan mendahului Ghava menuju studio. "Ayo Mas Kulkas, jalannya cepetan! Nanti esnya habis duluan sebelum sampai kantor!"
Ghava menatap punggung Nana yang berjalan sambil mengayun-ayunkan plastik es tehnya. Ia sadar, gadis ini tidak hanya memberikan es teh seharga lima ribu perak, tapi dia baru saja membelikan Ghava "ketenangan" yang harganya tidak bisa dinilai dengan uang.
Mbak Yane hampir saja menjatuhkan map yang ia pegang ketika pintu depan terbuka. Pemandangan di depannya benar-benar terasa seperti glitch dalam simulasi kenyataan. Di sana, Ghava—pria yang biasanya hanya menyentuh cangkir porselen berisi kopi artisan—berjalan dengan santai sambil menenteng plastik berisi cairan cokelat yang diikat karet.
"Ghav? Es teh?" Mbak Yane bertanya dengan nada tidak percaya, matanya mengikuti pergerakan tangan Ghava yang sedang menyedot es dari plastik itu.
Ghava berhenti sejenak, menatap plastik di tangannya seolah itu adalah benda paling normal di dunia. "Suasana baru," jawabnya singkat dengan wajah datar andalannya, lalu kembali melangkah menuju ruangannya dengan aura yang... anehnya terlihat lebih ringan.
Mbak Yane hanya bisa mengerjipkan mata. Pandangannya langsung beralih ke arah pintu masuk, menunggu "biang kerok" dari semua keanehan ini muncul. Benar saja, Nana masuk dengan gaya penuh kemenangan, menyeruput es teh yang identik dengan milik Ghava.
"Na, ulah kamu lagi?" tanya Mbak Yane sambil menunjuk plastik es teh Nana.
Nana menyengir lebar, pipinya menggembung karena es batu. "Yup! Plus telur gulung," ucapnya bangga setelah menelan esnya dengan bunyi keriuk.
"Hah, serius? Ghava makan telur gulung di pinggir jalan?" Mbak Yane memastikan, suaranya naik satu oktav karena syok. Membayangkan Ghava berdiri di samping gerobak kaki lima itu sudah cukup gila, apalagi memakannya.
"Lebay banget sih, Mbak. Kayak Mas Ghava habis makan emas aja," sahut Nana santai, mengayun-ayunkan plastik es tehnya. "Besok menunya cilok, tadi nggak sempat karena abangnya lagi dikerubungi anak SD. Dahhh Mbak Yane!"
Tanpa menunggu balasan, Nana melenggang masuk menyusul Ghava ke dalam ruangan, meninggalkan Mbak Yane yang masih berdiri melongo di tengah koridor.
Begitu masuk ke dalam studio, Nana mendapati Ghava sudah duduk di kursi kebesarannya. Namun, kali ini monitornya tidak langsung menampilkan grafik suara. Ghava justru sedang meletakkan plastik es tehnya dengan hati-hati di atas meja kontrol—sesuatu yang biasanya sangat ia larang karena takut tumpah ke alat mahal.
"Mas, cilok besok beneran ya?" tanya Nana sambil kembali ke posisi favoritnya: selonjoran di karpet.
Ghava menoleh, menatap Nana yang tampak sangat puas telah merusak citranya di depan Mbak Yane. "Jangan tuman, Nadin. Satu hari satu micin saja sudah cukup merusak selera makan saya."
"Dih, tapi tadi habis juga kan es tehnya?" Nana meledek sambil menunjuk plastik Ghava yang tinggal separuh. "Ngomong-ngomong, Mas... makasih ya."
Ghava terdiam, tangannya yang tadi hendak meraih mouse terhenti. "Buat apa?"
"Buat mau diajak aneh-aneh. Aku tahu Mas lagi capek gara-gara telepon tadi. Tapi makasih udah mau keluar bentar buat makan telur gulung," ucap Nana tulus.
Ghava tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya berdehem, lalu menyalakan speaker studionya. Tapi alih-alih memutar lagu Elvario, ia membuka sebuah file mentah berisi denting piano yang terdengar sangat melankolis namun indah.
"Duduk di sini," perintah Ghava sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya. "Jangan di karpet terus. Saya mau kamu dengerin ini. Ini 'nada tanpa jiwa' yang tadi Selya bilang."
Nana bangkit dengan semangat, duduk di samping Ghava dengan mata berbinar. Saat melodi itu mengalun, ruangan yang tadinya penuh tawa mendadak hening. Melodi itu murni, dalam, dan sangat menyentuh.
"Mas... ini cantik banget," bisik Nana.
"Ini belum ada liriknya," sahut Ghava, matanya menatap tajam ke arah Nana. "Dan karena kamu bilang kamu suka ngarang lagu di kamar mandi... saya mau kamu coba tulis sesuatu buat melodi ini. Bukan soal mi instan, tapi soal sesuatu yang... nyata."
Nana menelan ludah. "Mas serius? Aku kan cuma asisten, Mas."
"Asisten yang sudah bikin saya minum es teh plastik hari ini," sela Ghava dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Tulis saja. Saya mau dengar kejujuran kamu lagi."
Nana berdehem keras, mengatur posisi duduknya di kursi putar agar terlihat seperti komposer profesional, meski di tangannya masih ada plastik es teh yang sudah tinggal es batu saja. Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan sosok pria di sampingnya ini—pria yang membangun tembok es setinggi langit hanya untuk melindungi luka yang belum sembuh.
"Saya mau bikin lagu nih, perhatiin. Ini tentang bos galak yang patah hati, yang menutup hatinya dari keindahan di sekitar," ucap Nana dengan nada bicara yang dibuat dramatis, seolah-olah sedang membacakan narasi film dokumenter.
Ghava tertegun. Jarinya yang tadi berada di atas tuts keyboard membeku. Kalimat Nana barusan seperti sebuah proyektor yang memutar ulang film hidupnya dalam satu kalimat singkat. Menutup hati dari keindahan? Itulah yang ia lakukan selama tiga tahun ini: menciptakan musik-musik indah untuk orang lain, tapi menolak merasakan keindahan itu untuk dirinya sendiri karena takut akan rasa sakit yang menyertainya.
Ia merenung. Apakah sedalam itu dia bisa membaca saya? batin Ghava.
"Coba, mana... saya mau lihat seberapa 'ngawur' lirik kamu kali ini," ucap Ghava, suaranya sedikit serak. Ia mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan gaya bosnya yang biasa, meski sebenarnya jantungnya berdegup lebih kencang menanti apa yang ditulis gadis itu.
Nana mengambil secarik kertas coret-coretan dan sebuah bolpoin yang tutupnya sudah hilang. Ia menulis dengan cepat, sesekali menggumamkan nada piano yang tadi diputar Ghava. Setelah beberapa menit, ia menyodorkan kertas itu ke depan wajah Ghava.
Di sana, tertulis lirik yang masih kasar namun terasa sangat tajam:
Di ruang kedap, kau bangun istana dari gema Memahat nada agar dunia tak dengar luka Kau bilang kopi hitam itu jujur, Padahal kau hanya takut rasa manis akan membuatmu hancur.
Tembokmu tinggi, dirajut dari melodi yang mati Kau sebut itu privasi, bagiku itu isolasi. Wahai Bos yang kedinginan di musim panas, Bolehkah aku bawa segelas es teh untuk mencairkan hatimu yang keras?
Ghava membaca lirik itu berulang kali. Baris tentang "kopi hitam yang jujur" benar-benar menamparnya. Selama ini ia memang bersembunyi di balik kepahitan karena merasa kebahagiaan (rasa manis) adalah hal yang rapuh dan bisa hilang kapan saja.
"Bagian terakhirnya... agak merusak suasana," gumam Ghava, mencoba mencari celah untuk protes agar ia tidak terlihat terlalu tersentuh. "Es teh plastik nggak cocok masuk ke lagu balada, Nadin."
Nana tertawa kecil, ia menopang dagu sambil menatap Ghava dengan tatapan yang sulit dihindari. "Justru itu kuncinya, Mas. Hidup itu nggak harus puitis terus. Kadang, obat buat hati yang beku itu bukan puisi cinta, tapi hal-hal konyol kayak es teh plastik atau telur gulung di pinggir jalan."
Ghava meletakkan kertas itu di atas meja. Ia menatap Nana cukup lama, membuat suasana studio yang kedap itu terasa semakin intens.
"Lirik ini..." Ghava menjeda kalimatnya. "Jangan kamu kasih tahu siapa pun kalau ini tentang saya. Terutama Mbak Yane."
"Kenapa? Takut harga diri Mas Bos Kulkas jatuh karena ketahuan aslinya melankolis?" goda Nana sambil mengedipkan sebelah mata.
"Bukan," jawab Ghava pelan sambil kembali menyentuh piano, jemarinya mulai memainkan melodi yang lebih hangat menyesuaikan lirik Nana. "Takut saya nggak bisa berhenti mikirin lirik ini."
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰