Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabtu Ceria
Hari Sabtu termasuk hari operasional AIC. Tidak ada kelas terapi seperti biasanya.
Waktu dialokasikan untuk orang tua yang ingin konsultasi, evaluasi program atau persiapan untuk kelas terapi seminggu ke depan. Waktunya hanya setengah hari.
Aditi menutup mulutnya yang menguap. Ia menghela napas, kemudian membuka tutup matanya.
Gara-gara Miss Jutek, gue jadi begadang! Bikin tugas kagetan. Untung tadi kerjaan gue di-acc. Anak Pak Januar emang pinter, hihihi...
Aditi terduduk di atas matras di salah satu ruang terapi. Ia sedang mempelajari media yang akan ia gunakan untuk terapi Senin esok. Sesuai dengan rencana pembelajaran individu yang membuatnya begadang itu.
Sagara menggandeng tangan Kavi. Matanya mencari keberadaan gadis ceroboh yang pernah menjebaknya di toilet. Tatapannya menajam ketika melihat salah satu ruang terapi yang pintunya agak terbuka.
Si ceroboh namun ajaib itu sedang terduduk di atas matras. Nampak serius memandangi media terapi. Ada lembaran kertas di hadapannya.
Sagara tahu hari Sabtu bukanlah jadwal terapi Kavi. Kedatangannya hari ini untuk memastikan apakah respons Kavi benar-benar konsisten dengan terapi yang diberikan Aditi. Atau jangan-jangan kemarin itu hanyalah keajaiban yang tak bisa terulang?
Sagara membuka lebar pintu ruang terapi itu. Kavi tidak menunjukkan tanda-tanda kebingungan. Begitu pintu terbuka, ia langsung berjalan menuju matras biru tempat Aditi duduk bersimpuh sambil menunduk.
Aditi mengangkat wajahnya. Ia terkesiap namun dengan cepat raut itu ternetralisir.
Kavi duduk di hadapan Aditi dengan tenang. Jemarinya mengetuk-ngetuk matras secara ritmis.
Kavi seperti sedang memanggil kembali suara yang ia dengar kemarin. Ia menatap Aditi, menunggu "sambungan" itu terjalin lagi. Kavi benar-benar hadir seutuhnya.
Aditi menyambut tatapan Kavi. Ia mulai berbicara. Bukan dengan nada bicara biasa, tapi dengan pola da-DUM, da-DUM yang stabil. Bicara dengan kalimat yang terdiri dari 10 suku kata.
"Ha-lo... Ka-vi... gan-teng... ma-u... ma-in?"
Kavi menatap Aditi kemudian meremas celana sang terapis. Sagara terperangah. Respons Kavi konsisten. Suara Aditi kembali terdengar.
"Ka-vi... bi-sa... am-bil... bo-la... me-rah?"
Aditi menekan suaranya jatuh di setiap suku kata yang penting, membuat Kavi lebih mudah memproses perintah tanpa merasa diburu-buru. Kavi patuh, ia ambil bola merah.
Sagara melipat bibirnya. Kedua tangannya yang semula bersedekap berganti posisi. Tangan kanannya menyentuh area mulut kemudian tertempel di sana.
"Co-ba... am-bil... bo-la... war-na... bi-ru."
Kavi kembali mematuhi Aditi. Ia ambil bola biru dan menyerahkannya pada Aditi. Aditi tersenyum.
"Sim-pan... bo-la... ke... da-lam... ke-ran-jang."
Kavi dengan tenang mengambil keranjang di depannya dan mulai memasukkan bola-bola yang bertebaran di dekat keranjang. Aditi kembali tersenyum.
"Kamu belajar itu dari mana?" Sagara bicara dengan nada rendah. Bertanya dengan wajah datar, membuat Aditi malas menjawab sebenarnya.
"Kuliah. Sastra Inggris," jawab Aditi. Ia memilih memandangi Kavi daripada Sagara dengan muka tak bersahabat itu.
Pandangan Sagara tak putus pada gadis yang ia anggap ceroboh itu. Tak menyangka ilmu dari disiplin yang mungkin dianggap tak bersinggungan bisa efektif pada Kavi. Baskara tak salah telah merekrutnya.
Mata Sagara kembali pada putranya. Hal tak terduga terjadi. Pupil mata Sagara membesar melihatnya.
Kavi meremas celana Aditi kemudian mendorong keranjang bolanya. Kavi ingin memberi tahu Aditi kalau ia sudah selesai dengan tugasnya.
Aditi menyentuh keranjang itu. Senyum ia berikan pada Kavi.
"Ka-vi... pin-ter... u-dah... sim-pan... bo-la."
Kavi merogoh celananya lalu tertunduk memainkan robot kecilnya. Kembali tertarik ke dalam dunia sendirinya.
Aditi membiarkannya. Respons Kavi tadi sudah sangat progresif. Yang terpenting Kavi dalam kondisi tenang, seperti saat ini.
Baskara memasuki ruang terapi. "Diti, aku cariin, taunya ada di sini." Sagara mengangkat alis mendengar ucapan Baskara.
"Iya Mas, lagi pastiin RPI buat Senin," jawab Aditi. Ia melihat ke arah Kavi. Memastikan anak itu tetap tenang.
"Gar, tumben..." sapa Baskara.
"Gue mau cek konsistensi Kavi. Konsisten Bas, tadi Kavi responsif." Nada antusias yang dijaga dalam nada rendah terdengar dari Sagara.
"Oh ya? Wah, ketinggalan gue. Tadi ada sesi konseling. Hebat kamu Diti." Baskara menatap Aditi, yang dibalas senyuman oleh gadis itu.
Seluruh adegan itu terpindai oleh Sagara. Ia mencebikkan bibir, sedikit, nyaris tak terlihat.
"Bas, hhhmm... Sabtu setengah hari kan? Gue mau ajak Diti makan sama Kavi, boleh? Biar bondingnya buat Senin makin kenceng."
Dahi Baskara berkerut. "Ya... Lo tanya aja ama orangnya lah. Emang gue bapaknya?"
Dih, apaan sih si tukang intip?! Ngadi-ngadi banget gue kudu makan siang ama anaknya. Anaknya anteng gitu juga.
"Kamu bisa ikut?" tanya Sagara.
Aditi tak bergeming. "Diti?" Suara Sagara kembali terdengar.
"Hah? Oh, Bapak nanya ama saya. Kirain bukan. Tadi nggak pake nama soalnya. Maaf saya nggak nyadar," Aditi menjawab sambil menunduk.
Bodo ah! Gue mau ngerjain tugas resume si Miss Jutek. Tukang intip ganggu aja! Ini udah di luar jam kerja kali. Mas Bas pasti bela gue.
Baskara terkekeh mendengar jawaban Aditi. Ia menggelengkan kepala. Sagara menatap tajam Aditi.
"Kamu bisa ikut makan siang sama Kavi, Diti?" ulang Sagara.
"Mas Bas, ikut kan?"
Aditi memberi kode pada Baskara berupa deheman dan sedikit mendelikkan mata pada bosnya itu. Hanya sedikit, kalau kebanyakan Aditi takut bosnya yang baik itu tersinggung.
Sagara menggelengkan kepala melihat kelakuan Aditi. Masih percaya tak percaya gadis ini yang berhasil menaklukkan Kavi.
Baskara tersenyum. "Aku masih ada kerjaan sedikit lagi. Kecuali Gara nggak buru-buru."
"Bentar lagi jam makan siang Kavi. Takut tantrum kalau lapar," ucap Sagara.
Aditi menipiskan bibirnya, ia menunduk. Baskara melihat itu.
"Nanti aku jemput. Sekarang kamu ikut sama Gara aja dulu, Diti." Aditi menatap Baskara, dibalas senyuman oleh sang bos.
"Gue anter dia ampe rumahnya, Bas," ujar Sagara. Aditi melirik sinis sambil cemberut.
Aditi memberikan tatapan memohon pertolongan pada Baskara. Berharap Baskara menyusul atau semacamnya.
"Nggak apa-apa. Aman kok sama Gara." Baskara kembali tersenyum pada Aditi.
"Kenapa kalian kayak bikin gue itu penjahat? Kalo gue jahat, abis itu si Diti kemaren," tukas Sagara.
"Nggak Gar, lo jangan mikir jelek. Dia kan baru kenal ama lo. Wajar kan dia belum nyaman pergi sama laki-laki yang baru dikenal." Baskara memandang sahabatnya.
Sagara menatap Aditi malas. "Buat Kavi sih. Kalau nggak, gue juga nggak pengen."
Tukang intip sombong! Ih, males banget!!
"Cepet Diti, nanti Kavi tantrum, kasian. Cuma makan siang, bukan dilamar!"
Baskara menggelengkan kepala mendengar ucapan Sagara. Ia hafal pahitnya lidah sang sahabat.
"Iya... Iya!" Aditi langsung menoleh ke arah Kavi. Khawatir suaranya yang meninggi mengganggu anak itu. Sagara melihat itu.
"Saya ambil tas sama rapiin ini dulu." Aditi merapikan beberapa media yang tercecer kembali ke wadahnya.
Aditi kembali memastikan Kavi tenang. Baik Sagara dan Baskara menyadari apa yang dilakukan Aditi.
Aditi berjalan keluar menuju ruangan Baskara. Sang atasan menyusulnya.
"Mas, duh aku males banget. Emang kayak gini kerja jadi terapis?" Aditi langsung protes pada atasannya saat tiba di ruangan.
"Ya nggak sih sebenernya. Cuma karena ini Kavi, anak yang udah aku anggep kayak keponakan sendiri, nggak apa-apa Diti.
Semakin baik bonding kamu sama Kavi akan semakin progresif hasil terapinya nanti. Dia akan semakin merasa aman dan patuh sama instruksi kamu.
Kalau kamu bener-bener nggak nyaman, hubungin aja aku. Nanti aku jemput. OK?"
Aditi menghela napas. Semua memang demi Kavi, ia menyadari itu.
"Nggak usah Mas. Aku nggak enak, takut ngerepotin kamu. Aku nanti pake ojol aja. Atau telpon Damkar," cetus Aditi. Baskara tertawa mendengar ucapan Aditi.
Sagara menunggu di depan ruangan Baskara sambil menggandeng Kavi. Ia bisa mendengar suara tawa Baskara. Pintu ruangan itu tak tertutup rapat.
"Ya udah, aku berangkat, Mas. Doain aku selamet." Baskara tersenyum mendengarnya.
Sagara mendengar ucapan Aditi. Ia tak peduli. Yang penting Kavi bisa semakin responsif.
Sagara, Kavi dan Aditi berjalan keluar lobi. Kavi masuk ke dalam mobil. Duduk di atas car seat di kursi belakang.
Sagara dengan cekatan mengunci Kavi yang tetap tenang di atas kursi khusus itu. Ia kemudian memasang alat penutup di telinga Kavi agar tidak terstimulus oleh bisingnya jalan raya.
Aditi memperhatikan itu. Cukup terkesan dengan ketelatenan si tukang intip sombong.
Setelah Sagara menyelesaikan tugasnya, Aditi berjalan ke belakang, memutari sebagian badan mobil. Ia membuka pintu belakang.
"Kamu mau bikin saya kayak sopir buat kamu? Duduk di depan, enak aja!" ketus Sagara.
Aditi mengerutkan alis. "Kan biar saya deket Kavi."
"Kavi aman. Cepet Diti, duduk di depan!"
Ya Allah, gini amat jadi terapis eksklusif. Kavi, bapak kamu rese banget!