Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jenazah Seno
"Sekarang jatuh lagi satu korban. Kata bahkan tidak tahu kenapa mereka meninggal." Ujar salah satu warga yang memancing anggukan San setuju dari warga lainnya.
"Iya, benar. Kita harus cari tahu penyebab kematian mereka. Kalau kita tinggal diam saja, takutnya akan semakin banyak korbannya." Ucap yang lainnya.
"Tenang dulu, sebaiknya kita menyingkapi ini dengan kepala dingin. Kita sama-sama cari solusinya." Kata Pak Warsito mencoba menenangkan warga yang lain.
"Lehernya terpelintir semua," ujar Pak Yuda pelan.
"Sapri begitu, Herman juga, sekarang Seno." Suasana kembali hening sesaat. Angin malam berhembus pelan melewati halaman rumah Pak Sugeng yang mulai dipenuhi warga.
Pak Warsito menghela napas panjang.
"Kita memang harus mencari tahu," katanya.
"Tapi jangan sampai kita membuat keadaan semakin panik."
Seorang warga tua yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Pak RT, kalau boleh saya bilang, ini bukan kejadian biasa."
Beberapa orang langsung menoleh kepadanya.
"Maksudmu apa, Pak?" tanya Jaka.
Orang tua itu menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Dulu… puluhan tahun lalu… pernah ada kejadian seperti ini di desa orang tua saya."
Kerumunan langsung semakin memperhatikan.
"Pemuda-pemuda meninggal satu per satu, dengan cara yang aneh."
"Lalu bagaimana berhentinya?" tanya yang lain dengan cepat.
Orang tua itu menggeleng pelan.
"Katanya… setelah seorang dukun dipanggil."
Beberapa warga langsung saling berpandangan.
Pak Warsito segera mengangkat tangan.
"Jangan dulu berpikir ke arah sana," katanya tegas.
"Besok pagi kita kumpulkan semua warga di balai desa. Kita bicarakan dengan lebih jelas."
"Yang penting sekarang kita urus dulu jenazah Seno. Selebihnya… kita pikirkan bersama." Lanjut pak Warsito.
Beberapa warga mengangguk setuju, meski kegelisahan masih jelas terlihat di wajah mereka. Bisik-bisik pelan kembali terdengar di antara kerumunan yang memenuhi halaman rumah Pak Sugeng.
Ustadz Sakari melangkah maju mendekati Pak Warsito.
"Pak RT benar," ujarnya tenang. "Sekarang kita fokus dulu mengurus jenazah. Kita doakan almarhum Seno."
Jaka menoleh ke arah Udin dan Daud.
"Din, Dud… tolong siapkan air di belakang. Kita perlu untuk memandikan jenazah," katanya pelan.
Udin langsung mengangguk.
"Iya, Jak."
Beberapa pemuda lain juga ikut membantu. Ada yang mengambil ember, ada yang menyiapkan lampu tambahan di halaman, sementara yang lain mulai menggelar tikar untuk warga yang datang melayat.
Di dalam rumah, beberapa ibu-ibu berusaha menenangkan Bu Ranti yang masih menangis sambil memegang tangan anaknya.
Di luar, Pak Yuda mendekat kepada Pak Warsito.
"Pak, jujur saja, saya tidak enak hati." bisiknya.
"Tiga pemuda sudah meninggal. Semuanya masih muda."
Pak Warsito menatap halaman yang dipenuhi warga.
"Saya juga merasa begitu." jawabnya pelan.
"Pak.. Menurut saya, sebaiknya kita juga minta saran Pak Kades." kata Pak Yuda lagi dengan suara lebih pelan.
Pak Warsito menoleh kepadanya.
"Pak Kades?" ulangnya.
Pak Yuda mengangguk.
"Iya. Kejadian seperti ini sudah tiga kali. Ini bukan perkara kecil lagi. Kalau dibiarkan, warga bisa semakin takut."
Pak Warsito terdiam sejenak, memikirkan ucapan itu.
"Benar juga itu." sahut seorang warga.
Pak Warsito menghela napas panjang.
"Iya… Pak Yuda benar," katanya akhirnya.
"Nanti kalau pak kades datang saya akan bertanya padanya bagaimana sebaiknya."
"Biar beliau juga ikut memikirkan jalan keluarnya."
Pak Yuda mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih tampak khawatir.
Sementara itu di dalam rumah, beberapa pemuda mulai membawa ember berisi air dari belakang. Udin dan Daud ikut membantu menyiapkan keperluan untuk memandikan jenazah.
"Airnya sudah siap, Jak." kata Udin pelan.
Jaka mengangguk. Ia lalu menoleh ke arah Ustadz Sakari.
"Ustadz, kalau sudah siap, mungkin kita bisa mulai memandikan Seno."
Ustadz Sakari mengangguk pelan.
"Iya. Kita lakukan dengan pelan dan baik."
Beberapa pemuda lain segera membantu menyiapkan kain dan peralatan yang diperlukan. Mereka bekerja dengan hati-hati, sesekali saling berpandangan dengan wajah tegang.
Di sudut ruangan, Bu Ranti masih terduduk lemah. Beberapa ibu-ibu memeluk dan menenangkannya.
"Sudah, Bu.. ikhlaskan Seno." Ucap salah satu dari mereka.
Namun tangis Bu Ranti kembali pecah.
Di luar rumah, warga masih berkerumun di halaman. Beberapa duduk di tikar, sebagian lagi berdiri sambil berbisik-bisik membicarakan kematian yang semakin membuat desa itu diliputi ketakutan.
Pak Warsito masih berdiri di dekat pagar bambu bersama Pak Yuda dan beberapa warga lain. Sesekali ia melirik ke arah pintu rumah, mendengarkan suara orang-orang di dalam yang sedang bersiap memandikan jenazah.
Tiba-tiba, lampu di ruang tamu berkedip sekali.
Beberapa warga langsung menoleh ke arah rumah.
"Lho… lampunya kenapa itu?" gumam seseorang.
Belum sempat ada yang menjawab.
Blap!
Seluruh lampu di rumah Pak Sugeng tiba-tiba padam.
Halaman yang tadi masih diterangi cahaya dari dalam rumah mendadak gelap gulita.
"Eh… listriknya mati!" seru seorang warga.
Seketika suasana menjadi riuh. Beberapa orang buru-buru menyalakan senter dari ponsel mereka, sementara yang lain mencoba menyalakan lampu minyak.
Di dalam rumah terdengar suara kaget para pemuda.
"Jak! Lampunya mati!" Teriak Udin.
Suasana langsung menjadi kacau. Beberapa warga di halaman saling memanggil, sementara cahaya dari senter ponsel mulai menyapu-nyapu kegelapan.
Pak Warsito segera melangkah mendekati pintu rumah.
"Tenang… tenang dulu!" serunya mencoba menenangkan warga.
Di dalam ruang tamu, Jaka berdiri kaku di dekat jenazah Seno. Ruangan yang tadi terang kini hanya diterangi cahaya samar dari senter Udin.
"Din, cari lampu minyak!" kata Jaka cepat.
"Iya, Jak!"
Salah satu ibu yang berada di dapur segera menjawab.
"Ada… sebentar!"
Tak lama kemudian dua buah lampu minyak tanah dibawa ke ruang tamu. Salah satu warga menyalakan sumbunya dengan korek api.
Api kecil menyala, lalu perlahan membesar. Cahaya kekuningan dari lampu minyak itu mulai menerangi ruangan.
Bayangan orang-orang di dalam rumah kembali muncul di dinding papan.
"Taruh di sini," kata Jaka pelan.
Lampu minyak diletakkan di dekat jenazah Seno, sementara satu lagi digantung di paku dinding.
Kini ruang tamu hanya diterangi cahaya temaram yang bergoyang pelan.
Ustadz Sakari menarik napas panjang.
"Baik… kita lanjutkan saja." Katanya dengan suara tenang.
Para pemuda kembali mendekat ke arah tubuh Seno.
Jaka menarik napas panjang.
"Ayo… kita angkat pelan-pelan." katanya, karena mereka harus tetap memandikan jenazah Seno.
Udin, Daud, dan dua pemuda lain segera mengambil posisi. Jaka kembali memegang bahu dan kepala Seno yang patah. Udin menopang punggungnya, sementara Daud dan pemuda lain bersiap mengangkat bagian kaki.
"Bismillah…" gumam Ustadz Sakari pelan.
Mereka mulai mengangkat.
Namun anehnya, tubuh Seno tidak bergerak sedikit pun.
Jaka mengerutkan kening.
"Angkat… Din." katanya lagi.
Udin mengerahkan tenaganya. Daud juga ikut mengangkat lebih kuat. Otot-otot tangan mereka menegang.
Tapi tubuh Seno tetap tidak terangkat.
Seolah-olah ada sesuatu yang menahan tubuh itu dari bawah.
"Lho… kok berat sekali?" gumam Daud dengan napas memburu.
"Coba lagi." kata Jaka.
Mereka mencoba sekali lagi, kali ini dengan tenaga lebih kuat. Wajah-wajah mereka mulai memerah karena menahan beban.
Namun hasilnya sama.
Tubuh Seno tetap tak bergerak, bahkan sedikit pun tidak. Seperti mereka sedang mencoba mengangkat batu besar yang tertanam di tanah.
Udin perlahan melepaskan tangannya, napasnya terengah.