Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sekar duduk di lantai kamar menghabiskan sisa air mata, tapi tidak juga tiris. Permintaan Ilham untuk rujuk membuka luka lama yang sedikit demi sedikit akan dia lupakan mulai muncul kembali. Bisa-bisanya mengatakan itu, Ilham masih sendiri pun Sekar berpikir seribu kali untuk menerima apa lagi saat ini sudah beristri.
Tok tok tok.
Pintu kamar diketuk perlahan, Sekar tidak tertarik untuk membuka, dia pikir Ilham mengikutinya.
"Suster... Ini aku... boleh masuk?" Tanya seorang wanita ternyata Rini.
Sekar tidak bersuara khawatir mengganggu tidur Arka, membuka pintu yang dia kunci, begitu terbuka menyuruh Rini masuk. "Ada apa, Mbak?" Tanya Sekar serak sambil berjalan diikuti Rini. Rini hanya diam entah mau memulai dari mana. Padahal ia ingin menanyakan masalah pribadi Sekar.
Tahu jika ada yang ingin Rini bicarakan, Sekar mengajaknya ke tempat tidur yang biasanya Sekar tiduri.
"Maaf Suster, saya tadi tidak sengaja mendengar pertengkaran Suster dengan Tuan Ilham," jujur Rini, ia menunduk karena tahu yang ia lakukan tidak sopan. "Ternyata Suster Sekar mantan istri Tuan Ilham, dan Arka itu anak kandung Sekar?"
Sekar menoleh Rini yang duduk di pinggir ranjang, tidak menyangka jika pertengkaran tadi ada yang mendengar. Sekar pun menyenderkan kepala di tembok dengan mata terpejam. "Begitulah nasib saya, Mbak," jawabnya tidak bermaksud berbagi masa lalunya yang pahit, tapi Rini justru mendengar sendiri.
"Yang sabar, Suster," Rini menatap Sekar berkaca-kaca. Di balik wajah tenangnya, ternyata Suster Sekar menyimpan kenangan pahit dengan majikannya.
Sekar hanya mengangguk, menatap kosong ke tembok kamar yang di cat putih bersih.
"Tadi saya dengar, Suster mau membawa Arka pergi dari rumah ini?" Tanya Rini dengan raut wajah sedih.
"Iya, tapi saya menunggu nyonya Pratiwi pulang dulu, Mbak," Sekar masih harus bersabar. Jika bukan karena wanita baik itu, Sekar sudah angkat kaki saat ini juga. "Itupun jika beliau berada di pihak saya, Mbak. Jika tidak, entah bagaimana nasib kami," Sekar kembali meneteskan air mata..
"Aku yakin Nyonya Pratiwi ingin cucunya bahagia Suster, karena kebahagiaan Den Arka hanya satu, selalu dekat dengan Suster," Rini menatap Arka yang sudah pulas dari kejauhan.
"Semoga seperti itu," jawab Sekar. Malam itu mereka ngobrol di kamar, bahkan Rini pun tidur satu ranjang dengan Sekar.
**********
Matahari sore yang sudah mulai meredup menyinari halaman rumah mewah di komplek perumahan elite. Suster Sekar baru saja meletakkan sepatunya di atas rak, napasnya masih sedikit terengah-engah setelah pulang kerja dari rumah sakit. Badan yang sudah capek seharian bekerja merawat pasien, tapi tiba-tiba terasa segar kembali ketika disambut Arka yang merangkulnya manja.
"Mama kecil sudah pulang," ucapnya mendongak menatap Sekar, kedua tangannya merangkul pinggang Sekar.
"Duuh... Anak Mama sudah wangi," Sekar harus tahan mencium pipi Arka, karena belum mandi khawatir wajahnya kotor. Ia berjongkok di depan Arka, senyumnya mengembang dibibir, meraih tangan kecil itu lalu mencium punggungnya.
"Arka lagi main ya?" Sekar melirik mobil-mobilan di lantai.
"Main obin balap," jawab Arka.
"Ya sudah, lanjut main ya, Mama mandi dulu," Sekar menurunkan pandangannya membetulkan celana Arka yang sedikit merosot. "Sebentar sayang..." Lanjut Sekar menahan tangan Arka yang hendak lanjut main. Mata Sekar menyadari ada yang tidak beres pada bagian paha Arka yang tampak kemerahan dengan bekas lekukan yang jelas seperti bekas terkena benda runcing.
"Paha kamu kenapa, Nak? Kok merah begini?" tanya Sekar dengan nada yang mulai meninggi, meskipun masih berusaha menahan emosi untuk tidak menakuti anaknya.
Arka menengadah, matanya mulai berkaca-kaca. "Di cubit Mommy Luna, Sakit, Mama. Telus, Alka nangis," ucapnya pelan sambil menggosok bagian paha yang merah.
"Aduh Ya Allah!" teriak Sekar dalam hati. Wajahnya yang biasanya tenang kini memerah karena marah. Dia mengangkat Arka dengan lembut ke dalam pelukan, tapi tatapannya sudah penuh api. "Sekarang Mommy Luna kemana?!" tanya Sekar, menahan kesal.
"Pelgi," Arka menggeleng. Sekar mengusap kepala Arka lalu beranjak.
Kaki Sekar tergesa-gesa menuju dapur di mana Rini sedang memasak untuk Arka. "Mbak Rini, kenapa paha Arka?" Sekar memastikan, tidak menelan mentah-mentah cerita Arka, walau ia yakin anaknya tidak mungkin berbohong.
"Saya tidak tahu pasti, Suster," Rini tahu paha Arka merah ketika sedang memandikan satu jam yang lalu.
"Arka tadi sama Luna nggak?"
"Iya Sus, tapi tidak lama kok," Rini menceritakan ketika sedang setrika pakaian Arka, mendengar Arka menangis dari kamar Luna.
Sekar menjauh dari dapur setelah memberi tahu Rini agar lain kali mengawasi Arka ketika sedang bersama Luna. Untuk memastikan bahwa yang dikatakan Arka benar, ia mengecek cctv. Walaupun samar, tapi masih terlihat ketika Luna marah-marah dan mencubit paha Arka entah apa masalahnya.
"Kurang ajar sekali artis itu!" Sekar mengepalkan tangan.
"ILHAM!" Sekar berjalan cepat menunju ruang kerja Ilham yang tidak dikunci. Ia dorong pintu sekuat tenaga hingga berbunyi 'brak' karena membentur tembok.
"Ada apa Sekar?" Tanya Dokter Ilham yang masih sibuk di depan komputer kaget mendengar suara pintu, ia pikir Luna sudah pulang, tapi ternyata Sekar.
"Apa yang dilakukan istrimu pada Arka?!" Sekar melotot tajam, sama sekali tidak ada rasa takut.
"Luna tidak ada di rumah, memang apa yang Luna lakukan?" Ilham meninggalkan komputer dengan wajah panik. Lalu mengikuti Sekar yang berjalan ke mana Arka sedang bermain.
"Lihat apa yang istri kamu lakukan pada anak saya!" ucap Sekar dengan nada pelan walau sebenarnya emosi karena sikapnya tidak boleh ditiru oleh Arka. Sekar mengangkat sedikit paha Arka agar Ilham bisa melihat bekas cubitan yang jelas bahkan ada lekukan kecil bekas kuku.
"Sayang... ini kenapa?" Ilham rupanya tidak yakin apa yang Sekar katakan. Yang ia tahu, sejak bayi Luna sayang kepada Arka.
"Tadi minyak wangi Mommy tumpah, Pa, tapi Alka nggak sengaja," Arka mengangkat dua jari. "Telus, paha Alka dicubit Mommy," jawab Arka takut jika sang Papa pun marah kepadanya.
Ilham terdiam sejenak, matanya penuh kecewa dan rasa bersalah. "Sekar, maaf ya. Aku pasti akan bicara dengan Luna."
Sekar melengos berjalan cepat ke arah kamar hendak mandi, tapi ketika tiba di depan pintu kamar, Ilham minta Sekar berhenti.
"Sekar, aku tidak tahu kalau Luna suka galak sama anak kita."
"Bukan anak kamu, tapi anak saya!" Sekar memotong, Ilham mengakui Arka anaknya tapi tidak ada waktu untuk Arka. Sejak pagi Ilham di rumah, tapi Arka dicubit istrinya pun tidak tahu. "Satu lagi, punya istri itu diajari supaya ada fungsinya kamu sebagai kepala rumah tangga!" Ketus Sekar.
"Sudah bukan pertama kalinya Arka ngadu dicubit Luna, tapi kamu tidak tahu. Bagaimana Allah mau memberi kalian keturunan? Sedangkan sama anak yang baru tiga tahun saja galak? Ternyata kalian itu sudah satu paket, pantas saja cocok. Bayi di dalam kandungan saja kamu abaikan kok, sok mau mengasuh Arka!" Lanjut Sekar dengan suara tenang tapi menyentil hati Ilham bertubi-tubi hingga wajah pria itu pucat.
"Sudah Sekar, jangan ungkit lagi masa lalu," Ilham merasa Sekar selalu memojokkan.
"Kenapa, kamu takut? Segeralah taubat Tuan Ilham," Sekar memberondong Ilham dengan kata-kata pedas.
"Baiklah Sekar, mulai sekarang aku akan menasehati Luna," Ilham menyadari bahwa kata-kata mantan istrinya benar. "Aku juga janji, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Luna harus memahami bahwa Arka masih anak kecil yang tidak boleh disakiti."
"Bukan hanya anak kecil saja yang tidak boleh Anda sakiti Tual Ilham!" Tandas Sekar lalu masuk ke kamar menguncinya dari dalam.
"Salaaah... lagi," ucap dokter Ilham menatap pintu kamar Sekar.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....