NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Di Antara Harapan dan Bayangan

Pagi itu udara rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya.

Yura berjalan menyusuri trotoar kecil di depan rumah sakit, membawa kantong kertas berisi bubur hangat dan susu untuk ayahnya. Langkahnya pelan, seolah takut pikirannya bergerak terlalu cepat.

Dokter semalam berkata dengan suara hati-hati

bahwa pengobatan sudah tidak lagi memberi harapan besar.

Kanker itu terlalu jauh.

Namun Yura menolak menyerah.

Selama ayahnya masih bernapas, ia akan berada di sisinya. Membacakan hal-hal sepele. Menyuapi makanan. Menggenggam tangan yang semakin kurus itu sampai detik terakhir.

Ayah tidak sendirian, batinnya.

Aku di sini.

Langkah Yura terhenti sesaat di depan toko kecil. Ia menatap etalase tanpa benar-benar melihat apa pun.

Pikirannya melayang.

Ke malam sebelumnya.

Arkan berdiri di seberang meja kaca, pena masih di tangannya. Kontrak itu sudah ditandatangani rapi, tanpa ragu.

“Besok,” ucap Arkan sambil menutup map.

“Jam delapan malam.”

Yura mengangguk, walau dadanya terasa sesak.

“Jangan terlambat,” lanjutnya, menatap Yura dengan cara yang membuatnya tidak nyaman. “Saya tidak suka menunggu.”

Tatapan itu…bukan ancaman terang-terangan,

tapi cukup untuk membuatnya mengerti:

ini bukan pertemuan yang bisa ia tolak.

Yura tersentak kembali ke pagi.

Ia menarik napas dalam-dalam, menggenggam kantong sarapan lebih erat.

Kenapa harus dia?

Kenapa justru sekarang, ketika Ayah seperti ini?

Arkan bukan orang biasa.

Dan pertemuan berikutnya jelas bukan sekadar formalitas.

Risikonya terlalu besar.

Namun Yura juga tahu keputusan itu sudah ia buat sejak kontrak itu ditandatangani.

Ia melangkah kembali ke rumah sakit, membawa dua hal di dadanya: harapan yang rapuh…

dan bayangan seorang pria yang mulai mengambil terlalu banyak ruang dalam hidupnya.

Malam ini, jam delapan, ia akan bertemu Arkan lagi. Dan Yura tidak tahu… apakah ia sedang melangkah menuju solusi atau justru menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Yura mendorong pintu kamar rawat inap pelan.

Aroma obat dan desinfektan menyambutnya aroma yang sejak kemarin terasa semakin akrab. Ayahnya terbaring dengan mata terpejam, napasnya teratur meski dangkal.

Yura meletakkan sarapan di meja kecil, lalu duduk di kursi di samping ranjang.

Tangannya meraih tangan ayahnya yang dingin.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Jam delapan malam.

Ruangan sunyi.

Tatapan Arkan yang terasa seperti mengunci.

Yura menunduk, menahan gelisah yang mengendap di dadanya.

“Yura…”

Suara itu pelan, tapi cukup membuatnya tersentak.

Ayahnya membuka mata, menatapnya dengan senyum lemah senyum yang selalu bisa membaca isi hatinya sejak kecil.

“Kamu lagi mikir berat,” ucap ayahnya lirih. “Dari tadi wajahmu tegang.”

Yura menggeleng cepat. “Enggak, Yah. Yura cuma capek.”

Ayahnya menghela napas pelan. “Kamu kalau bohong, matanya nggak bisa diam.”

Yura terdiam.

Ia menggenggam tangan ayahnya lebih erat. “Cuma urusan kerja.”

Ayahnya menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Kerja yang bikin kamu nggak tenang itu… jangan dipikul sendirian.”

Kalimat itu menusuk tepat di dada Yura.

Sebelum ia sempat menjawab, ponselnya bergetar di genggaman. Nama atasannya muncul di layar. Yura menatap layar itu beberapa detik ragu.

Lalu ia menjawab.

“Yura,” suara di seberang terdengar tegas. “Kamu harus ke kantor sekarang.”

Yura menegakkan punggung. “Sekarang, Pak?”

“Iya. Ada yang perlu kita bicarakan. Penting.”

Telepon terputus tanpa memberi ruang untuk menolak.

Yura menurunkan ponselnya perlahan.

Ayahnya menatapnya penuh pengertian. “Pergilah kalau memang harus.”

Yura menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Yura nggak mau ninggalin Ayah.”

Ayahnya tersenyum lemah, lalu menepuk tangan Yura pelan. “Aku di sini. Dan kamu… harus tetap berdiri.”

Yura menarik napas panjang.

Di antara ayah yang semakin rapuh

dan dunia kerja yang semakin menekan,

ia tahu hari ini, ia akan kembali dipaksa memilih.

Yura tiba di kantor dengan langkah tergesa.

Suasana lantai itu terasa berbeda. Terlalu tegang. Beberapa karyawan meliriknya sekilas, lalu kembali menunduk ke layar masing-masing.

Ia mengetuk pintu ruang atasan.

“Masuk.”

Yura melangkah masuk dan langsung berdiri tegak di depan meja besar itu.

Belum sempat ia bicara, atasannya sudah lebih dulu bersandar di kursi, menghela napas panjang.

“Kamu tahu kenapa saya panggil kamu ke sini?” tanyanya.

Yura menggeleng pelan. “Belum, Pak.”

Atasannya mengusap wajahnya, jelas terlihat lelah.

“Pak Arkan menelepon saya pagi ini.”

Jantung Yura langsung menegang.

“Dia sangat… spesifik,” lanjut atasannya. “Dan sangat tidak memberi ruang tawar-menawar.”

Yura menelan ludah. “Maksud Bapak?”

Atasannya menatap Yura lurus-lurus.

“Dia ingin kamu,” katanya tegas, “menjadi satu-satunya penghubung antara perusahaan kita dan perusahaannya.”

Yura terdiam.

“Dan kalau saya menolak?” lanjut sang atasan dengan nada pahit. “Kontrak itu batal. Tanpa diskusi.”

Ruangan itu mendadak terasa sempit.

Yura mengepalkan tangannya. “Itu… terlalu berlebihan, Pak. Biasanya”

“Biasanya iya,” potong atasannya. “Tapi ini Arkan.” Ia berdiri, berjalan mendekat ke jendela.

“Nilai kontrak itu cukup untuk menyelamatkan divisi kita setahun ke depan,” lanjutnya. “Dan dia menjadikan kamu syaratnya.”

Yura merasa perutnya melilit.

Jadi ini bukan pilihanku lagi.

“Kenapa saya?” tanyanya lirih.

Atasannya menoleh. “Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan sampai membuat dia seperti itu.”

Yura terdiam.

“Kamu punya dua pilihan,” lanjutnya akhirnya. “Terima posisi itu. Atau… saya kehilangan kontrak terbesar perusahaan ini.”

Ia kembali duduk. “Dan kamu tahu, keputusan itu akan jatuh ke siapa.”

Hening.

Yura menarik napas panjang.

Di kepalanya terbayang ayahnya di ranjang rumah sakit.

Tagihan.

Waktu yang semakin sedikit.

“Baik, Pak,” ucap Yura akhirnya, suaranya tertahan tapi tegas. “Saya akan jalani.”

Atasannya mengangguk lega, tapi juga bersalah.

“Kamu resmi jadi penghubung mulai hari ini.”

Yura berbalik menuju pintu.

Tangannya gemetar saat menggenggam gagang.

Karena kini ia tahu kerja sama ini bukan sekadar bisnis. Ini adalah kendali yang perlahan menutup pintu di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!