Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan Naura
Dua minggu berlalu sejak ulang tahun Naura yang dilupakan Nathan. Dua minggu Naura jalani dengan perasaan aneh di badan, mual setiap pagi, pusing yang dateng tiba tiba, napsu makan yang hilang sampe bi Ijah khawatir liat Naura makin kurus aja.
Awalnya Naura pikir ini cuma efek stress, cuma efek dari semua tekanan mental yang dia tanggung sendirian, tapi pas mualnya makin parah sampe Naura muntah muntah tiap pagi, Bi Ijah yang maksa dia ke dokter.
"Nyonya harus periksa, ini ga normal," Bi Ijah ngomong dengan nada ga bisa ditolak lagi.
Jadi pagi ini Naura duduk di ruang praktek Dr. Arman, dokter keluarga Erlangga yang udah ngerawat keluarga ini puluhan tahun, ruangannya bersih dengan bau antiseptik yang khas, ada poster poster anatomi tubuh manusia di dinding.
Dr. Arman pria paruh baya dengan kacamata tebal dan senyum ramah yang bikin pasien tenang, dia udah periksa Naura dari tadi, ngecek tekanan darah, nanya nanya gejala yang Naura rasain.
"Nyonya, kapan terakhir kali mens?" Dr. Arman nanya sambil nulis sesuatu di notes.
Naura mikir sebentar, dahi berkerut. "Eh.. aku gak inget Dok, mungkin udah dua bulan lalu ya?"
Dua bulan Naura baru sadar, dia gak mens udah lama banget.
Dr. Arman menatap Naura dengan pandangan yang berubah, ada sesuatu di matanya. "Nyonya, saya mau cek darah ya, sebentar aja."
Lima belas menit kemudian Naura duduk lagi di kursi sambil nunggu hasil lab keluar, jantungnya berdegup ga karuan, ada perasaan aneh yang dia ga bisa jelasin.
Dr. Arman masuk lagi dengan selembar kertas di tangan, ekspresinya tersenyum.
"Selamat Nyonya Erlangga." Dia duduk di kursinya sambil menatap Naura "Anda hamil enam minggu."
Hamil.
Kata itu masuk ke telinga Naura tapi otaknya ga langsung nyambung.
Hamil?
"A-apa?" suara Naura keluar pelan hampir ga kedengeran.
"Anda sedang mengandung Nyonya, enam minggu usia kehamilannya, semua hasil lab menunjukkan kehamilan yang sehat." Dr. Arman masih senyum, ga sadar kalo Naura lagi shock berat.
Naura duduk membeku di kursi. Tangan di pangkuan gemetar. Napas terasa berat.
Hamil.
Dia hamil.
Gimana bisa?
Nathan bahkan gak pernah sentuh dia kecuali... Naura inget, sebulan setengah yang lalu. Malam yang Naura coba keras lupain tapi tetap terus muncul di mimpi buruknya.
Malam dimana Nathan pulang dalam keadaan mabuk berat sampe ga bisa jalan sendiri, Naura bantuin dia naik ke kamar, tapi Nathan malah narik Naura, memeluknya erat, menciumnya dengan napas yang bau alkohol.
Naura coba nolak tapi Nathan kuat, dia terus bilang. "Mahira aku kangen."
Nama Mahira.
Terus menerus nama Mahira yang keluar dari bibir Nathan saat tangannya menyentuh tubuh Naura, saat bibirnya mencium Naura, saat dia.
Naura nangis sepanjang malam itu. Nangis dalam diam sambil Nathan peluk dia sambil tidur, masih nyebut nama Mahira dalam tidurnya.
Pagi harinya Nathan bangun dan ga inget apa apa, dia bahkan ga tau dia udah sama Naura.
"Nyonya?" suara Dr. Arman membuyarkan pikiran Naura. "Nyonya tidak apa apa?"
Naura ngangkat muka, matanya udah berkaca kaca. "Dok aku beneran hamil?"
"Iya Nyonya, ini hasil labnya." Dr. Arman ngasih kertas itu ke Naura.
Naura ngeliat angka angka di kertas itu yang ga dia ngerti, tapi ada tulisan jelas: POSITIF HAMIL.
Air matanya jatuh.
Jatuh ke kertas itu.
Bikin tintanya sedikit luntur.
"Kita perlu USG untuk mastiin kondisi janin ya Nyonya, ini masih awal tapi lebih baik kita cek." Dr. Arman berdiri dan membuka pintu ke ruangan sebelah yang ada mesin USG.
Naura ngikutin dengan kaki lemes, rasanya kayak jalan di atas awan, ga nyata, ga percaya semua ini terjadi.
Di ruang USG, Naura berbaring di bed sambil Dr. Arman nyalain mesin, layar monitor menyala, ada suara suara beep beep.
Dr. Arman mengoleskan gel dingin di perut Naura yang masih rata, belum ada tanda tanda kehamilannya dari luar. Probe USG digerakkan pelan di perut Naura
Layar monitor nunjukin gambar hitam putih yang kabur. Dr. Arman fokus ke layar, matanya menyipit dibalik kacamata.
"Nah, ini dia." Dia menunjuk satu titik kecil di layar. "Ini janin Nyonya, masih sangat kecil tapi jantungnya sudah berdetak."
Jantung berdetak. Naura ngeliatin layar dengan mata yang penuh air mata. Ada titik kecil yang berkedip kedip.
Berdetak.
Hidup.
Kehidupan kecil di dalam tubuhnya.
"Ini..." Naura berbisik dengan suara bergetar "Ini anakku?"
"Iya Nyonya, ini calon bayi Nyonya." Dr. Arman senyum hangat. "Sehat dan berkembang dengan baik."
Naura ga bisa nahan tangisnya lagi. Nangis sambil ngeliatin layar monitor. Nangis untuk bayi kecil yang ga tau apa apa tentang dunia yang kejam ini.
Bayi yang tumbuh dari malam yang menyakitkan. Bayi yang ayahnya bahkan ga sadar dia ada. Bayi yang dikandung oleh ibu yang patah hati.
"Nyonya kenapa menangis? ada yang sakit?" Dr. Arman khawatir.
Naura menggeleng sambil ngusap air mata. "Ga Dok, aku cuma ga nyangka aja."
Dr. Arman print hasil USG, ngasih foto hitam putih kecil itu ke Naura. "Ini untuk Nyonya, foto pertama calon bayi Nyonya."
Naura nerima foto itu dengan tangan gemetar. Menatapnya lama, titik kecil di tengah foto.
Bayinya.
Anaknya.
Anak Nathan.
"Tuan Nathan pasti senang sekali ya mendengar kabar ini." Dr. Arman bilang sambil beresin alatnya.
Nathan, Naura belum mikirin Nathan. Belum mikirin gimana dia harus bilang ke Nathan.
Apa Nathan bakal seneng? apa dia bakal marah? apa dia bakal bilang ini kesalahan?
"Nyonya harus jaga kesehatan ya, makan teratur, istirahat cukup, hindari stress." Dr. Arman ngasih resep vitamin. "Ini vitamin untuk ibu hamil, diminum setiap hari."
Naura cuma ngangguk.
Otaknya masih blur.
Masih ga bisa mencerna semua ini.
***
Di mobil pulang ke mansion, Naura duduk di kursi belakang sambil menggenggam foto USG erat erat. Sopir nyetir pelan, ga tau kalo penumpangnya lagi ngerasain ribuan emosi sekaligus.
Hamil.
Naura hamil.
Ada bayi di perutnya.
Bayi Nathan.
Tapi Nathan ga cinta sama Naura, Nathan cinta sama Mahira, Nathan bahkan ga tau dia pernah sama Naura malam itu.
Gimana Naura harus bilang?
Gimana Nathan bakal reaksi?
Apa dia bakal seneng punya anak?
Atau dia bakal marah karena ini bikin kontrak pernikahan jadi complicated?
Naura menatap foto USG lagi. Titik kecil itu, jantung yang berdetak. Kehidupan yang innocent. Yang ga tau apa apa tentang drama orang tuanya.
"Hai sayang," Naura berbisik pelan sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Mama ga tau kamu bakal lahir di situasi kayak gini."
Air matanya jatuh lagi.
"Mama ga tau papa kamu bakal seneng atau ga tau kamu ada."
Isakan keluar tanpa bisa ditahan.
"Tapi mama janji." Naura mengelus perutnya lembut. "Mama akan melindungimu, mama ga akan biarin siapapun sakiti kamu, mama akan sayang sama kamu, meski papa kamu ga sayang sama mama."
Tangisannya makin keras, sopir ngelirik dari kaca spion tapi ga berani nanya.
"Kamu ga salah sayang." Naura terus ngomong sambil nangis. "Kamu dateng mungkin di waktu yang salah, di kondisi yang salah, tapi kamu ga salah, kamu hadiah buat mama satu-satunya hadiah yang mama dapet dari pernikahan ini."
Mobil sampe di mansion, Naura turun dengan mata bengkak, foto USG disimpen di dalam tas, dipegang erat.
Bi Ijah udah nunggu di depan dengan wajah khawatir. "Nyonya gimana? dokter bilang apa?"
Naura menatap Bi Ijah lama. Mulutnya terbuka mau ngomong tapi ga ada suara keluar. Bi Ijah makin deket. "Nyonya sakit apa?"
"Bi." akhirnya Naura bisa ngomong dengan suara bergetar "Aku hamil."
Bi Ijah membeku, matanya melebar. Mulutnya terbuka.
Lalu tiba tiba dia peluk Naura erat sambil nangis, "Alhamdulillah Nyonya! alhamdulillah! ini kabar baik! ini berkah!"
Kehidupan baru yang tumbuh di tengah kehancuran Naura. Satu satunya hal yang bikin Naura ngerasa masih ada harapan. Masih ada alasan buat bertahan. Masih ada cinta yang bisa Naura kasih meski ga dapet cinta dari Nathan.
"Tuan Nathan pasti seneng Nyonya!" Bi Ijah bilang sambil melepas pelukannya, matanya berbinar.
"Aku belum bilang ke dia Bi."
"Loh kenapa? ini kan kabar baik!"
"Aku ga tau gimana caranya bilang." Naura duduk di sofa sambil menggenggam tas. "Aku takut bi, takut dia marah, takut dia bilang ini kesalahan."
Bi Ijah duduk di samping Naura, tangan menggenggam tangan Naura yang dingin. "Nyonya jangan mikir gitu, ini anak dia, pasti dia seneng."
Tapi Naura ga yakin.
Ga yakin sama sekali.
***
Malem itu Naura sendirian di kamar, Nathan ga pulang lagi. Udah jadi kebiasaan dia ga pulang tanpa kabar. Naura berbaring di ranjang sambil mengelus perutnya pelan pelan. Belum ada apa-apa di sana, tapi Naura tau ada kehidupan kecil yang tumbuh.
"Mama harus kuat ya sayang," Naura berbisik di kegelapan kamar. "Mama harus sehat buat kamu.. mama ga boleh nangis terus karena kamu butuh mama yang kuat."
Tapi air matanya tetap keluar, keluar karena bahagia atau sedih.
"Papa kamu," Naura terus ngomong. "Papa kamu orang yang baik sebenernya sayang, cuma dia lagi sakit hati. Dia ga bisa cinta sama mama, karena hatinya masih sama orang lain."
Naura ngebayangin Nathan tau soal kehamilan ini. Ngebayangin ekspresi Nathan.
Apa dia bakal senyum? apa dia bakal peluk Naura? apa dia bakal bilang terima kasih?
Atau dia bakal marah? bilang ini ganggu rencana? bilang Naura harusnya lebih hati hati?
Naura ga tau, dan itu yang bikin dia takut. Foto USG di meja samping tempat tidur, Naura menatapnya lama. Mungkin nanti bayinya bakal mirip Nathan, ganteng dengan mata tajam. Atau mungkin mirip Naura, dengan mata lembut dan senyum manis.
Yang pasti Naura udah cinta sama bayi itu, cinta yang instant dan tulus. Cinta yang ga peduli siapa ayahnya atau gimana bayinya dibuat, yang penting itu anaknya. Darah dagingnya.
"Mama cinta kamu sayang," Naura berbisik terakhir kali sebelum matanya mulai berat. "Mama akan selalu cinta kamu, apapun yang terjadi."
Dan Naura tertidur dengan tangan masih di perut, melindungi, memeluk bayi yang bahkan belum sebesar kacang. Tapi udah jadi segalanya buat Naura.
Satu-satunya alasan dia masih bertahan di pernikahan yang menyiksa ini. Satu-satunya harapan di tengah kegelapan. Satu-satunya cinta yang bisa dia rasain di rumah besar yang dingin ini. Dan diluar jendela hujan turun pelan. Seperti air mata Naura yang membersihkan luka lama dan bawa harapan baru.
Harapan kecil bernama bayi yang tumbuh di rahimnya. Bayi yang belum tau betapa rumitnya dunia.Bayi yang masih innocent. Bayi yang Naura akan lindungi dengan seluruh hidupnya, apapun yang terjadi.