Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebimbangan
David, pria yang selalu menjadi tangan kanan William dalam mengurus masalah-masalah paling kelam, menghela napas dalam-dalam. Ia memperhatikan sahabatnya itu dengan saksama. Perintah untuk "menyingkirkan" Cyntia bukan sekadar gertakan terlihat dari sorot mata William bahwa kesabarannya telah mencapai titik nol.
"Baik, Pak. Akan segera saya lakukan," jawab David tenang, suaranya hampir tenggelam oleh gema di ruangan beton itu.
"Saya akan pastikan Cyntia tidak akan menganggu anda lagi."
William tidak menyahut. Ia hanya mengangguk samar, sebuah isyarat dingin bahwa ia tidak butuh penjelasan, ia hanya butuh hasil.
DOR! DOR! DOR!
Dentuman suara peluru kembali memenuhi basement, jauh lebih intens dari sebelumnya. Setiap tarikan pelatuk seolah menjadi penyalur bagi amarah yang mendidih di dalam dada William.
Bidikan demi bidikan menghantam sasaran dengan presisi yang mengerikan. William tidak berhenti sampai magasinnya kosong.
"Setelah ini selesai, jangan pernah sebut nama Cyntia lagi di depanku," ucap William pelan sembari meletakkan senjatanya yang masih terasa panas ke atas meja lalu pergi.
.
.
Sementara itu, di Bandung.
Di sebuah ruang perawatan di Bandung, suasana yang semula tenang mendadak terasa panas bagi Vira. Ia baru saja membaca laporan dari Chika melalui pesan singkat. Kabar bahwa Cyntia dengan berani mengenakan pakaian miliknya membuat amarah Vira membuncah seketika. Ia meremas kain roknya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dasar ular! Lihat saja, begitu aku kembali ke Jakarta, akan kuhadapi dia terang-terangan," desis Vira dengan tatapan mata yang tajam dan penuh amarah.
Aina, yang sedang bersandar di ranjang rumah sakit, mengamati perubahan drastis pada wajah putrinya. Dahinya berkerut cemas melihat kegelisahan Vira yang tak tertutupi.
"Ada apa, Vira?" tanya Aina dengan suara yang masih agak lemah.
Vira segera tersentak. Ia menarik napas dalam, mencoba mengubah raut wajahnya menjadi lebih tenang. Ia memaksakan sebuah senyum lalu menatap ibunya dengan lembut. "Tidak ada apa-apa, Bu," jawabnya sembari kembali menyendokkan makanan untuk menyuapi ibunya.
"Katakan, jangan berbohong pada Ibu," ucap Aina tegas. Ia menolak suapan Vira, bersikeras ingin tahu kebenaran di balik keresahan putrinya.
Vira mengembuskan napas berat. Ia sadar tak bisa menyembunyikan apa pun dari wanita yang melahirkannya itu. "Seorang wanita datang ke rumah, dia menjadi tutor Chika," tutur Vira akhirnya.
"Lalu? Apa yang membuatmu semarah itu?"
"Dia adalah mantan tunangan William saat masih di Aussie. Dia terus-menerus menghasut Chika. Kami sudah mengusirnya, tapi sekarang ... sepertinya dia mulai mendekati Ibu mertuaku, Mama Inneke," lanjut Vira dengan nada pasrah bercampur geram.
Aina terdiam sejenak, lalu mengusap lembut bahu putrinya. Sebagai seorang ibu, ia tahu betapa berat beban Vira yang baru saja memulai kehidupan sebagai ibu sambung namun sudah harus menghadapi gangguan dari masa lalu suaminya.
"Pulanglah ke Jakarta, Vira. Jaga rumah tanggamu. Jangan biarkan ada celah sedikit pun bagi orang asing untuk merusak pernikahanmu," ucap Aina dengan nada serius.
Vira terpaku. Sejujurnya, ia pun merasa gelisah jika harus berlama-lama di Bandung sementara "ular" itu berkeliaran di rumahnya. Namun, melihat kondisi orang tuanya, hati Vira teriris. "Tapi Ibu masih butuh dijaga, Ayah juga belum pulih benar..."
"Pulanglah, nanti biar Bibimu yang menjaga Ibu di sini. Kondisi Ibu sudah stabil," bujuk Aina lagi.
"Jaga rumah tanggamu, Vira. Sebagai wanita dan istri, kau harus menjadi penguasa di rumahmu sendiri. Jika kau membiarkan rumahmu kosong terlalu lama, orang lain akan merasa berhak menempatinya."
Vira mengusap punggung tangan ibunya lalu mengecupnya lama. "Aku akan memikirkannya, Bu. William juga sudah berjanji akan membereskannya."
"Ingat, Nak. Tak selamanya baik tinggal satu atap dengan mertua. Dua kepala keluarga dalam satu rumah sering kali menimbulkan badai. Ibu tahu benar rasanya dulu," ungkap Aina dengan mata menerawang, teringat masa lalunya.
Vira mengangguk paham. "Iya, Bu. William sudah berencana untuk kami pindah ke rumah baru setelah semua ini membaik. Kami akan mulai hidup mandiri."
Aina tersenyum tipis, meski tatapannya tetap menyimpan peringatan. "Jaga bahteramu, Vira. Meskipun suami adalah nahkodanya, kau adalah kompasnya. Pastikan nakhodamu tidak tersesat karena kau terlalu jauh untuk mengarahkannya."
Bersambung...
Maaf, ya. Untuk hari ini Bab nya sedikit karena othor lagi nggak enak body.
Terimakasih untuk dukungannya, semoga kalian senantiasa sehat selalu. Jangan lupa jaga kesehatan. 💕💕
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭