Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Gang Sempit dan Hukum Termodinamika
Mobil Rolls-Royce hitam itu tampak sangat kontras saat berhenti di pinggir jalan raya yang berbatasan langsung dengan gang sempit yang becek. Antares menatap pintu masuk gang itu dengan pandangan ngeri, seolah sedang melihat gerbang menuju dimensi lain yang penuh kuman. "Zea, saya butuh instruksi spesifik. Apa lagi yang harus saya bawa selain batagor itu?" tanya Antares sambil memperbaiki letak kacamatanya, mencoba tetap terlihat berwibawa meski hatinya sangat enggan untuk turun.
"Jangan lupa es teh manis yang 'dicekek', Mas! Ingat ya, bungkusnya pakai plastik terus tengahnya diikat karet sampai kencang, jangan beli yang pakai gelas plastik kafe, rasanya nggak akan sama!" seru Zea dari balik kaca mobil sambil melambaikan tangannya dengan semangat.
Antares menghentikan gerakannya saat membuka pintu mobil, ia menoleh ke arah Zea dengan ekspresi luar biasa bingung. "Dicekek? Zea, tolong gunakan terminologi yang manusiawi, apakah kamu baru saja meminta saya melakukan tindakan kriminal pada sebuah minuman?" tanya Antares dengan nada serius yang membuat Zea tertawa terpingkal-pingkal di dalam mobil.
Setelah mendapat penjelasan singkat bahwa itu hanyalah istilah teknis untuk ikatan plastik, Antares akhirnya turun dan melangkah masuk ke dalam gang. Ia harus melewati jemuran pakaian warga, genangan air yang tidak jelas asalnya, hingga kucing-kucing liar yang menatapnya seolah ia adalah alien. "Permisi, di mana letak gerai makanan bernama Mang Dadang?" tanya Antares pada seorang bapak yang sedang merokok, suaranya yang berat dan penampilannya yang terlalu klimis membuat bapak itu tertegun lama sebelum menunjuk ke arah pojok gang yang dipenuhi asap penggorengan.
Butuh waktu hampir tiga puluh menit bagi Antares untuk mengantre di tengah polusi micin dan aroma minyak goreng panas. Begitu ia kembali ke mobil dengan satu kantong batagor dan plastik es teh yang 'dicekek', ia justru menemukan Zea sudah tertidur pulas dengan posisi kepala bersandar di jendela. Antares terdiam di kursi kemudi, menatap plastik teh di tangannya yang perlahan mulai mengeluarkan embun dan es batunya mulai mencair karena panasnya suhu Jakarta. "Saya baru saja bertaruh nyawa di tengah labirin kuman hanya untuk melihat kamu mengabaikan es teh yang sudah kehilangan integritas temperaturnya ini?" gumam Antares dengan napas lelah.
Sepuluh menit kemudian, Zea terbangun karena aroma bumbu kacang yang sangat kuat. Ia segera menyambar plastik es teh itu, namun sedetik kemudian ia menjauhkan plastik itu dengan wajah kecewa. "Mas! Kok esnya udah mencair semua? Ini namanya bukan es teh manis lagi, tapi teh manis anget sisa kondangan!" protes Zea dengan suara serak, menatap Antares dengan pandangan menuduh seolah suaminya sengaja mencairkan es itu.
Antares membelalakkan matanya, kesabarannya benar-benar diuji sampai ke titik nadir. "Zea, saya tidak bisa memerintah hukum termodinamika untuk berhenti bekerja hanya karena kamu sedang tidur! Saya menghabiskan tiga puluh menit di gang itu untuk mendapatkan minuman 'tercekik' ini!" balas Antares dengan nada yang sedikit meninggi namun tetap terkontrol.
"Pokoknya aku udah nggak mau, tehnya udah nggak segar, rasanya udah hambar!" Zea mendorong plastik teh dan batagor dingin itu ke pangkuan Antares. "Mas aja yang habisin semuanya sekarang juga sebagai denda karena Mas kelamaan nyarinya! Sekarang aku maunya martabak unyil yang warna-warni di ujung jalan, tapi Mas nggak boleh lama, kalau martabaknya dingin dikit aja, Mas harus makan itu juga!"
Antares menatap batagor berminyak di pangkuannya dan plastik teh cair itu dengan pandangan kosong, merasa hidupnya yang sempurna kini telah berubah menjadi tempat pengolahan limbah jajanan kampus. "Zea, apakah kamu sedang mencoba menguji kapasitas lambung saya atau kamu benar-benar ingin melihat saya jatuh sakit?" tanya Antares lelah, namun tangannya tetap bergerak menyalakan mesin mobil untuk mencari martabak unyil yang diminta sang istri demi menghindari drama air mata berikutnya.
semoga ngak bikin kecewa 🙂