Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Positif Antara Dua Geng
Sesampainya di rumah, dia langsung scrolling foto-foto di Facebook Mauren satu-satu. Kebanyakan foto dia berpose atau pakai baju karate dan tinju. Tapi wait, ada satu foto dia sama mama dan papanya dan cowok itu, fotonya itu diberi judul “My Family”, dan ada namanya yang ditag “Andre Korompis”.
Dia coba klik nama itu ternyata dikunci alias tidak bisa dilihat oleh orang yang bukan temanan sama dia di Facebook. Nama belakangnya “Korompis” juga.
“Berarti dia kakaknya, bukan cowoknya?” kata Rommy dalam hati. Hati Rommy bahagia mendapatkan informasi ini.
Tapi dia tetap penasaran, dan dia scrolling nama Andre Korompis di Facebook. Yang dia dapatkan artikel lawas di koran: “Andre Korompis Sabet Emas Cabor Tinju di SEA Games 2023 di Kamboja.”
“Busyet, kemarin yang jemput Mauren itu, ternyata itu kakaknya yang seorang petinju top,” gumam Rommy sendiri.
Rommy melanjutkan stalkingnya di Facebook Mauren, dia klik Facebook ayah Mauren yang bernama Logan K, tidak banyak yang dia unggah di Facebook-nya, hanya beberapa foto keluarga dan beberapa foto teman dan saudara yang ditag.
Lalu Rommy klik profil ayah Mauren, ada link Wikipedia yang informasinya:
Nama Logan Korompis
Ayah: Stanley Korompis
Ibu: Inge de Boer
Lahir: 28 Februari 1980
Mantan petinju profesional Indonesia yang menjadi juara tinju profesional Indonesia kelas welter dari tahun 2000–2007.
“Hm, rupanya dia keluarga atlet,” kata Rommy dalam hati, “Aku tidak boleh minder!”
Di tengah perasaan minder yang mulai menggelayutinya, tiba-tiba HP-nya bergetar yang memaksanya berhenti stalking Facebook Mauren. Ada pesan WhatsApp masuk, dari Axel, ketua geng The Executioners. Mau apa dia?
Dia baca pesannya, isinya cuma video dia diledek oleh Erick yang diedit menjadi seorang kakek-kakek yang nyinyir. Belum lagi komennya yang berbunyi: “Kakek Sugiono yang sok ngatur.”
Darah Rommy sangat mendidih, dia mencengkeram HP-nya dengan sangat kuat, pertanda emosinya sudah di ubun-ubun. Segera dia berkemas hendak berangkat mau mengajak Axel duel one on one. Tapi dibatalkannya. Kalau dia melawan The Executioners dengan cara kekerasan seperti itu, artinya Geng Kelelawar Hitam sama derajatnya dengan Geng The Executioners yang sering buat onar itu dong?
Hari berganti, dan seperti kemarin-kemarin Rommy berangkat sekolah lari, mandi, dan makan nasi kotak yang dipersiapkannya dari rumah. Murid pertama yang tiba setelah Rommy adalah Ario.
“Yo, apa kabar?” sapa Rommy. “Kok nggak pernah ikut latihan tinju?”
“Tangan gua seminggu ini lagi terkilir, Rom,” jawab Ario. Padahal dia bohong soal tangannya yang terkilir itu. Alasan sebenarnya dia sedang galau apakah terus jadi member Kelelawar Hitam atau loncat bergabung ke kubu The Executioners. Tapi itu artinya berkhianat dong.
“Emang kenapa?” tanya Rommy prihatin.
“Sebulan lalu jatuh,” Ario semakin berbohong.
“Sudah ke dokter?”
Ario menggeleng. “Gak terlalu sakit, rutin urut aja.”
Percakapan terhenti karena teman makin banyak yang berdatangan dan Rommy menyiapkan buku untuk jam pelajaran pertama.
Erick yang sedang ngobrol dengan Axel melihat itu, dan mereka mendatangi Ario.
“Apa kabar, Yo?” sapa Erick ramah dan menepuk bahu Ario.
“Ba.. baik,” Ario kaget dan tergagap karena tidak menyangka akan didekati oleh para pentolan geng musuhnya, Erick dan Axel.
“Gue salut sama lo. Bisa sabar dihina dan tetap loyal sama bos lu, meski bos lu dihina dina terus,” kata Erick sambil tersenyum.
“Maksud lu?” tanya Ario lagi yang belum pulih dari kagetnya.
“Elu pasti pahamlah apa yang gua maksud. Kita lanjutkan via WhatsApp ya, gua tunggu,” kata Axel terus meninggalkan Ario yang semakin galau.
Ketika istirahat, Ario mengirim pesan WhatsApp kepada Axel, isinya:
“Bro, melanjutkan percakapan tadi, yang lu inginkan apa?”
Axel menjawab pesan WhatsApp itu,
“Terus terang The Executioners sedang memerlukan anggota-anggota seperti lu. Pintar dan berani. Lu tahu sendiri kan, The Executioners sedang naik daun?”
Ario tidak menjawab pesan itu dan lama berpikir. Di kelas Erick menyunggingkan senyum kepada Ario yang membuat Ario semakin membulatkan tekad menyeberang ke kubu The Executioners.
Sorenya dia menulis pesan WhatsApp ke Axel yang berbunyi:
“Bro, melanjutkan percakapan tadi di sekolah, gua sudah berpikir buat gabung The Executioners.”
Jawaban dari Axel:
“Keren. Kita sedang merencanakan sesuatu. Geng zaman now sudah bukan lagi mempertontonkan kekerasan, tapi otak. Kita akan buktikan The Executioners adalah geng yang mengedepankan otak, bukan cuma kekerasan.”
“Mantap, bro,” jawab Axel.
Malam minggu semua anggota geng The Executioners berkumpul di rumah Axel, menyambut anggota baru, Ario.
Rommy sudah mendengar itu, dan dia mendiskusikan hal itu di telepon dengan Sonny.
“Son, lu dah denger si Ario berkhianat?” tanya Rommy di telepon.
“Iya, udah, barusan,” jawab Sonny di ujung telepon. “Lu ada ide apa?”
“Gua mau kumpulkan anak-anak, tapi jangan di sekolah. Sekolah lagi sensitif belakangan ini soal geng sekolah, ntar malah bisa dibubarin,” terang Rommy. “Namun secara pribadi, gua punya beberapa jalan, tapi terus terang gua belum siap.”
“Maksud lu?” Sonny penasaran apa yang dipikirkan Ario.
“Misalnya pertandingan tinju atau cerdas cermat Kelelawar Hitam vs The Executioners,” kata Rommy.
“Wah, tinju kita baru beberapa hari, dan kalau cerdas cermat mereka punya Erick, semuanya berat, bro,” kata Sonny.
“Memang berat, tapi nggak ada pilihan, Son. Kita harus mengembalikan kejayaan Geng Kelelawar Hitam,” sahut Rommy. “Atau elu ada usulan lain?”
“Bagaimana kalau Kelelawar Hitam ngadain donasi ke sebuah panti jompo?” usul Sonny.
“Joss! Otak lu encer juga, Son. Kita buktikan Geng Kelelawar Hitam bukan geng preman pasar yang mengandalkan kekerasan saja,” jawab Rommy. “Kita bisa sekalian menghibur opa-oma yang ada di panti itu.”
Esoknya sepulang sekolah, hampir semua anggota geng Kelelawar Hitam berkumpul di warung bakso dekat sekolah, Rommy mau mengumumkan gerakan positif untuk mengadakan kunjungan ke sebuah panti jompo.
Warung bakso itu terasa begitu kecil ketika para anggota Kelelawar Hitam berkumpul dan terdengar bising karena celoteh ramai dari mereka.
“Siapa pun boleh ikut dalam kegiatan ini, bukan hanya anggota Kelelawar Hitam,” jelas Rommy sambil menyantap semangkuk bakso pesanannya. “Asal didaftar dan mau mengenakan name tag yang kita bikin, untuk meminimalisir ada orang-orang yang mau mendompleng kita untuk berbuat onar.”
Setelah itu anak-anak makin ramai memberikan usulan masing-masing.
“Satu-satu, jangan berebut ngomongnya,” kata Sonny. “Elu dulu, Ric.”
Ricardo lalu usul, agar kunjungan ke panti jompo itu diadakan pas weekend, jadi nggak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
“Gua setuju usul Ricardo. Bagaimana kalau kita buat kaos seragam untuk acara itu? Supaya teratur saja,” kata Narjo.
“Terima kasih semua. Semua usulan yang baik akan kita tampung,” ujar Rommy. “Selanjutnya tim kecil gua, Sonny dan beberapa member lain akan membicarakan ini sampai matang.”
“Kalau sudah tidak ada usulan lagi saya mau lanjutkan, harap tenang, ini sesuatu yang penting,” ujar Rommy serius.
Semua pada tenang, tidak ada yang bicara sepatah kata pun. Warung bakso yang barusan ramai itu mendadak sepi.
“Semua pasti sudah mendengar kawan kita Ario membelot ke kubu sebelah,” Rommy masih berbicara dengan mimik serius.
“Pada kesempatan ini jika ada anggota Kelelawar Hitam yang lain akan mengikuti jejak Ario, saya persilakan, saya nggak akan menahan-nahan,” kata Rommy dingin.
David yang tadinya agak kecewa dengan Rommy juga terdiam, ternyata Rommy nyatanya bisa memimpin dengan baik. Selain itu, rencana kunjungan ke panti jompo sangat membuatnya antusias.
“Saya kira nggak ada, Rom,” ujar David akhirnya.
Lalu Rommy menutup pertemuan di warung bakso itu dan semuanya pulang ke rumah masing-masing.
Dan dengan segera, rencana kunjungan geng Kelelawar Hitam ke panti jompo sampai ke telinga Axel sang ketua.
“Hm. Rommy dan Kelelawar Hitam mulai bergerak. Ini serius, aku harus bertindak sesuatu, sebelum mereka menjadi lebih besar,” ujar Axel.