Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Alessandra De Medici-Xander Alexandra
Kematian Arkan bukan hanya membunuh sisi kemanusiaan Alessandra, tetapi juga memicu perang saudara yang selama ini ditakuti oleh Adrian Alistair. Jakarta kini bukan lagi sekadar pusat bisnis, melainkan papan catur raksasa di mana setiap langkah berarti nyawa.
Di tengah kekacauan ini, muncullah Xander Alexandra, putra tunggal dari Nathan Alexandra (saudara kembar ibu Natalie ).
Nathan Alexandra, Saudara kembar Nathalie Alexandra juga menikah Muda, Dia menikah di usia 20 tahun.
Selisih Umur Leonardo Dan Xander Tiga Tahun. Jika Leonardo De Medici (29th)adalah perpaduan hukum dan taktik, maka Xander Alexandra (26th) adalah cerminan ayahnya, seorang eksekutor lapangan yang tak kenal ampun, pemimpin unit paramiliter rahasia keluarga Alexandra yang bertugas membersihkan masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh hukum.
Nathan Alexandra, yang melihat adiknya (Natalie Alexandra) menderita karena teror Alessandra, akhirnya memberikan perintah kepada Xander. "Bawa sepupumu pulang, Xander. Hidup atau mati. Dia sudah melampaui batas dengan membunuh detektif itu dan mengancam stabilitas keluarga kita."
Xander Alexandra, pria 26th dengan tubuh atletis yang penuh bekas luka tempur, memiliki mata tajam yang identik dengan kakeknya, Alexandra. Ia tidak mengenal rasa takut, dan ia belum pernah bertemu Alessandra sejak mereka masih balita sejak gadis itu diasingkan.
Xander melacak jejak Alessandra melalui serangkaian pembunuhan artistik di pelabuhan Tanjung Priok. Ia tahu, Alessandra tidak bersembunyi di hotel mewah, ia bersembunyi di tempat di mana ia bisa mencium aroma karat dan darah.
Malam itu, hujan badai kembali mengguyur Jakarta. Xander masuk ke sebuah pabrik pengolahan besi yang sudah terbengkalai. Di sana, di tengah remang lampu natrium yang berkedip, ia melihat seorang wanita duduk di atas tumpukan pipa besi, sedang membersihkan pisau bedah peraknya dengan sapu tangan putih.
"Kakek bilang kau cantik, tapi dia lupa bilang kalau kau terlihat seperti iblis," suara Xander menggema, ia menggenggam senjata taktisnya, namun tidak menodongkannya.
Alessandra menoleh perlahan. Ia menatap Xander dengan tatapan menilai. "Xander Alexandra. Sepupuku yang pemberani. Ayahmu, Nathan, pasti sangat bangga mengirim putranya ke kandang singa."
"Aku tidak datang untuk menangkapmu sebagai polisi, Sandra," ucap Xander sambil melangkah maju. "Aku datang sebagai keluarga. Hentikan kegilaan ini sebelum aku terpaksa menguburmu di bawah beton pabrik ini."
Alessandra melompat turun dengan sangat ringan, mendarat tepat di depan Xander. "Menguburku? Kau bahkan tidak bisa melihat bayanganku jika aku tidak menginginkannya, Xander."
Tanpa peringatan, Alessandra menyerang. Gerakannya secepat kilat, mengincar titik vital di leher Xander. Namun, Xander bukan Arkan, ia adalah petarung terlatih. Ia menangkap pergelangan tangan Alessandra dan membantingnya ke dinding.
Bukannya meringis kesakitan, Alessandra justru tertawa-tawa yang membuat bulu kuduk Xander berdiri. Ia memutar tubuhnya dengan kelenturan yang tidak manusiawi, melepaskan diri dari kuncian Xander, dan kembali menyerang dengan tendangan yang mengincar rahang.
Mereka bertarung dalam keheningan yang mematikan di tengah hujan yang masuk melalui atap yang bocor. Xander menyadari bahwa Alessandra tidak bertarung untuk menang, dia bertarung untuk menikmati rasa sakit. Setiap kali Xander berhasil mendaratkan pukulan, Alessandra justru tersenyum lebih lebar.
"Kau punya api yang sama denganku, Xander," bisik Alessandra di tengah pergulatan mereka. "Ayahmu dan Ibuku Natalie, mungkin kembar yang sempurna. Tapi kita? Kita adalah sisa-sisa kegelapan yang mereka coba buang."
Xander mengunci tubuh Alessandra di lantai, menekan lengan gadis itu ke belakang. "Aku bukan kau! Aku memiliki prinsip!"
"Prinsipmu adalah rantai yang membuatmu lemah," Alessandra membalas, matanya berkilat gila. "Arkan mati karena dia punya prinsip. Apakah kau ingin berakhir seperti dia? Hancur di atas beton karena mencoba menjadi pahlawan?"
Di tengah pertarungan mereka, sekelompok tentara bayaran suruhan sisa-sisa kelompok Justin Moretti mengepung pabrik tersebut. Ternyata, Xander diikuti. Mereka ingin menghabisi dua pewaris Medici-Alexandra sekaligus.
"Sepertinya musuh kita lebih tidak sabar darimu, Sepupuku," ucap Alessandra, melepaskan diri dari cengkeraman Xander dan mengambil posisi tempur.
Xander mendengus, mengeluarkan pistolnya dan memberikan satu pisau taktis cadangan kepada Alessandra. "Kita selesaikan ini, lalu kau ikut denganku menemui Kakek Adrian."
"Kita lihat saja nanti," jawab Alessandra.
Malam itu menjadi pembantaian yang sesungguhnya. Xander dengan efisiensi militernya dan Alessandra dengan kekejaman psikopatnya bekerja sama seperti mesin pembunuh yang sempurna. Mereka bergerak sinkron, seolah-olah darah kembar orang tua mereka bereaksi di dalam nadi mereka. Xander terperangah melihat bagaimana Alessandra menghabisi musuh tanpa keraguan sedikit pun, seolah-olah ia sedang menari.
Setelah semua musuh tewas, Xander berbalik menghadap Alessandra. "Sekarang, ikut aku."
Alessandra menatap Xander, wajahnya berlumuran darah musuh. Ia mendekati Xander, seolah hendak memeluknya sebagai saudara. Namun, saat jarak mereka hanya beberapa sentimeter, Alessandra menusukkan sebuah jarum bius kecil ke leher Xander.
Xander terhuyung, pandangannya mengabur. "Kau... Sandra..."
"Maaf, Xander. Aku menyukai gaya bertarungmu, tapi aku tidak suka diperintah," bisik Alessandra. Ia menangkap tubuh Xander yang jatuh pingsan agar tidak menghantam lantai dengan keras. "Katakan pada Ayahmu dan Ibuku... Ratu mereka tidak akan pernah kembali ke sangkar."
Dirumah sakit..
Ketika Xander terbangun di rumah sakit keluarga Alistair dan Alexandra, ia menemukan Natalie dan Nathan berdiri di sampingnya.
"Dia tidak bisa dibawa pulang, Ayah," ucap Xander pada Nathan.
Kini, keluarga Alistair-Medici-Alexandra tahu bahwa mereka menghadapi ancaman terbesar dalam sejarah mereka. Alessandra bukan lagi sekadar rahasia yang disembunyikan, ia adalah entitas yang siap menelan seluruh kerajaan bisnis mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading😍😍