Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pencarian Subuh di Pinggir Hutan
Subuh menjelang di Desa Durian Berduri seperti mimpi buruk yang tak mau berakhir. Langit masih gelap gulita, hanya sedikit cahaya tipis dari timur yang menyusup melalui awan tebal yang menggantung rendah. Adzan subuh bergema dari masjid kecil di tengah desa, suaranya melengking panjang, seolah memanggil bukan hanya untuk shalat, tapi juga untuk menghadapi kegelapan yang lebih dalam. Udara dingin menusuk tulang, bercampur bau tanah basah setelah hujan semalaman, dan sesuatu yang lebih mengerikan—aroma kemenyan yang samar, seperti napas hantu yang mengintai dari pinggir hutan.
Di lapangan depan masjid, sekitar dua puluh warga sudah berkumpul. Wajah-wajah mereka pucat di bawah cahaya obor yang berkedip-kedip, mata merah karena kurang tidur dan ketakutan. Ada yang membawa golok, parang, atau tombak bambu runcing; yang lain hanya tasbih dan doa di hati. Pak Kades berdiri di depan, tubuh rentanya dibungkus sarung tebal, golok besar tergantung di pinggang. Di sampingnya, Kang Asep memegang obor tinggi, wajahnya keras tapi matanya penuh konflik—bayang godaan malam tadi masih menghantui pikirannya, membuatnya merasa kotor di hadapan Tuhan dan desa.
Siti Aisyah—Mbak Neneng—berdiri di belakang suaminya, tubuhnya gemetar di balik kain jarik lusuh. Rambutnya terurai basah, matanya tak bisa lepas dari arah hutan yang gelap di kejauhan. Dalam hatinya, perang sedang berkecamuk hebat: kenangan masa kecil yang terkubur kini bangkit seperti mayat hidup. Ia ingat tangan Mbah Saroh yang dingin menyentuh pipinya saat kecil, suara serak itu berbisik janji gelap. "Kenapa aku harus ikut?" bisik hati Siti Aisyah. "Aku sudah lolos sekali. Kalau aku masuk hutan lagi, apa dia akan ambil aku untuk selamanya? Apa anak-anakku aman di rumah nenek?" Tapi di sisi lain, rasa bersalah membakar: "Ini karena aku. Kalau bukan karena aku diselamatkan dulu, mungkin dendam ini tak pernah bangkit. Aku harus akhiri ini... demi Lilis, demi desa."
Kang Ujang berdiri di pinggir rombongan, tangannya menggenggam tongkat kayu dengan erat. Wajah mudanya penuh semangat palsu, tapi dalam hati, ia bertanya-tanya: "Apa saya siap? Malam tadi aja saya hampir jatuh ke godaan murahan. Kalau di hutan nanti ada ilusi lagi... apa saya bisa tahan?"
Pak Kades mengangkat tangan, suaranya tegas mengatasi hembusan angin dingin. "Saudara-saudara! Kita nggak bisa diam aja. Malam tadi, Nenek Gerandong ambil bayi Lilis. Ini bukan cerita lama lagi. Ini nyata. Kita masuk hutan, ikuti jejak bau kemenyan itu. Tapi ingat: jangan pisah-pisah. Doa terus. Allah bersama kita."
Warga bergumam setuju, tapi suara mereka pelan, penuh keraguan. Seorang warga tua, Mbok Jum, berbisik ke tetangganya: "Pak Kades... apa ini bijak? Hutan itu tempatnya jin dan setan. Tiga puluh tahun lalu, kita bakar gubuknya, tapi dia tak mati. Sekarang kita masuk lagi... apa nggak tambah marah?"
Pak Kades mendengar, tapi tak menjawab langsung. Ia menoleh ke Siti Aisyah. "Nen... kau yang paling tahu. Kau rasain arahnya kemana?"
Siti Aisyah menelan ludah. Hatinya berdegup kencang, seperti drum perang di dada. "Pak... aku... aku rasain ke arah timur hutan. Bau kemenyan dari sana. Tapi... aku takut. Kalau dia panggil nama aku lagi..."
Kang Asep memegang tangan istrinya erat. "Nen, kita bareng. Aku nggak biarin kau sendirian." Tapi dalam hati Kang Asep, konflik batinnya sendiri sedang membara: "Aku yang seharusnya lindungi dia. Tapi malam tadi, aku hampir khianati semuanya. Apa ini hukuman? Kalau Nen hilang di hutan, itu salahku."
Rombongan mulai bergerak, langkah mereka pelan menyusuri jalan setapak yang licin oleh lumpur. Obor-obor menyala redup, menerangi pohon durian liar yang duri-durinya seperti jari-jari kerangka yang menjulur. Semakin dekat ke hutan, bau kemenyan semakin kuat—amis, hangus, seperti api yang tak pernah padam.
Tak lama, mereka memasuki pinggir hutan. Daun-daun basah meneteskan air ke bahu mereka, angin berhembus pelan membawa bisik-bisik samar. Kang Ujang maju ke depan, tombaknya siap. "Pak! Lihat ini!" Ia menunjuk tanah di depan: sebuah lingkaran batu kecil, di tengahnya ada bekas darah kering yang membentuk simbol aneh—seperti goresan darah di telapak tangan Siti Aisyah dulu.
Siti Aisyah mundur, napasnya tersengal. "Itu... itu simbol janji. Darah... darah orang tua yang ingkar." Kenangan masa kecilnya menyerbu seperti banjir: ia ingat Mbah Saroh menggores telapak tangannya kecil dulu, berbisik, "Kau milikku sekarang." Air mata jatuh di pipinya. "Pak... dia deket. Aku rasain dia nunggu. Tapi... apa dia mau kembalikan Lilis? Atau ini jebakan buat ambil aku lagi?"
Pak Kades berlutut, menyentuh darah kering itu dengan ujung golok. "Ini darah segar. Baru semalam. Kita lanjut. Tapi hati-hati. Nen, kalau kau rasain apa-apa, bilang langsung."
Kang Asep memeluk istrinya dari samping. "Nen... kau kuat. Ingat anak-anak kita di rumah. Kita lakuin ini buat mereka." Tapi dalam hati, ia berdoa diam-diam: "Ya Allah, ampuni dosaku malam tadi. Jangan biarin itu bawa malapetaka ke keluarga kami."
Rombongan melanjutkan, tapi tiba-tiba angin menderu kencang. Daun-daun berjatuhan seperti hujan, dan dari kedalaman hutan, terdengar tangisan bayi lagi—tangisan Lilis yang lemah, tapi semakin dekat. Siti Aisyah berhenti, matanya melebar. "Dia panggil aku... dia bilang 'datanglah, anakku... selesaikan janji'."
Konflik di hati Siti Aisyah semakin rumit: bagian dirinya ingin lari, tapi bagian lain tahu bahwa melarikan diri berarti membiarkan dendam itu menelan desa selamanya. "Aku... aku harus maju," gumamnya pada diri sendiri. Tapi langkahnya goyah, dan rombongan tahu: pencarian ini baru dimulai, tapi bayang masa lalu sudah siap menelan mereka semua.