"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalalahan Ara terlalu banyak
Ara meremat perut bagian bawahnya yang terasa mulas ekstrim, setiap denyut rasa sakit seolah menusuk hingga ke dalam tulang punggungnya. Wajahnya yang dulu selalu berseri-seti dengan kecantikan alaminya, kini sudah berubah jadi pucat sempurna, bahkan bibirnya tampak mengering. Di sudut kamar yang terisolasi itu, Ara mencoba untuk duduk tegak meskipun tubuhnya terus ngilu.
"Dokter Jacob tidak boleh melihatku dalam keadaan jelek seperti ini." Gumam Ara seraya memandangi pantulan dirinya di depan cermin kecil. Meskipun tahu bahwa hubungan mereka telah merusak banyak hal, termasuk kehidupan rumah tangga Dokter Jacob dan Dokter Yasmin, tapi harapan kecil untuk dilihat dengan baik oleh pria yang dicintainya masih tetap ada di dalam hati Ara.
Di tengah rasa sakit yang menyiksanya hingga membuat pandangannya kabur, Ara berusaha meraih sebuah lipstik yang Ia sembunyikan di bawah bantal. Tangannya gemetar parah saat membuka tutup lipstik berwarna merah muda tersebut, dan Ia harus mengulang beberapa kali sebelum berhasil mengoleskannya ke atas bibir dengan gerakan yang tidak rata.
Suara langkah kaki keras namun teratur mulai terdengar dari koridor luar kamar, setiap langkah terasa seolah menghantam jantung Ara. Atensi Ara teralihkan sepenuhnya, wajahnya yang tadinya penuh kesakitan tiba-tiba berbinar dengan harapan. Ara mengangkat kepala dengan susah payah, matanya berkaca-kaca saat mengira yang datang adalah Dokter Jacob yang telah ia tunggu-tunggu sejak ia dibawa ke ruangan ini.
Namun senyum yang mulai terbentuk di bibirnya segera meremang dan menghilang tanpa sisa kala pintu kamar terbuka lebar. Orang yang masuk bukanlah sosok pria tinggi dengan senyum hangat yang selalu membuat hatinya berdebar, melainkan dokter Yasmin dengan wajah datar yang tak terbaca emosinya. Rambut hitamnya yang selalu rapi terikat rapat di belakang kepala, dan jas putihnya terlihat sangat bersih di bawah cahaya kamar yang redup.
"Siapa yang ingin kau rayu dalam keadaan seperti ini Ara?" sindir Dokter Yasmin secara halus kala matanya melihat ada sebuah lipstik di tangan wanita itu. Suara Dokter Yasmin terdengar tenang, namun ada nada tajam yang menyelinap di dalamnya.
Melihat dokter Yasmin berjalan semakin mendekat ke arah ranjangnya, refleks Ara mundur ke belakang hingga punggungnya dengan keras membentur sandaran ranjang. Tubuhnya gemetar, bukan hanya karena rasa sakit tapi juga karena ketakutan yang melanda. Ara menggeleng kuat-kuat, dahinya sudah dipenuhi oleh keringat dingin yang mengalir deras, membasahi leher dan bagian atas bajunya.
"Kau tahu tidak, semua orang bilang nasibmu ada di tanganku sekarang?" Yasmin berhenti tepat di sisi ranjang, matanya menyelami wajah Ara dengan tatapan yang menusuk.
"Jika aku terlambat mengambil tindakan sedikit saja, kau bisa kehilangan anakmu, bahkan kau akan sulit untuk hamil lagi nantinya. Kamu tahu itu bukan omong kosong, kan Ara?" Ucap Yasmin dengan nada yang terkesan santai dan acuh tak acuh. Tapi tidak dengan sorot matanya yang memancarkan aura kemarahan dan rasa sakit yang telah terkubur lama.
"Tidak Dokter, tolong selamatkan aku, tolong selamatkan anak dalam kandunganku." Ara mengeluarkan suara dengan penuh kesusahan, setiap kata keluar bersama dengan hembusan napas yang terengah-engah.
"Aku tahu sikapku padamu sebelumnya sudah keterlaluan, aku sungguh minta maaf dokter. Aku terpaksa melakukan semua ini karena aku tidak mau anakku terlahir ke dunia ini tanpa status yang jelas." Lirih Ara dengan air mata yang berderai, mengalir melewati pipinya yang pucat lalu menghilang di dalam selimut yang menutupi tubuhnya. Di tengah mules ekstrim yang kembali Ia rasakan hingga membuatnya hampir tidak bisa bernapas, Ara tetap berpikir tentang masa depan dirinya dan juga anak yang sedang tumbuh di dalam perutnya.
"Menyelamatkan anakmu? Kau benar-benar berani meminta itu padaku?" Yasmin mengangkat alisnya dengan penuh rasa tidak percaya, kemudian Ia tertawa keras hingga suara itu bergema di dalam kamar yang sunyi. Tawa itu terdengar menusuk dan penuh dengan rasa sakit yang tersembunyi.
"Bukankah kau bilang pada semua orang kalau aku akan melenyapkan anakmu? Kamu berdiri di depan semua dokter dan perawat di rumah sakit ini, mengatakan bahwa aku sengaja akan membunuh anak di dalam kandunganmu hanya karena aku iri dan ingin membalas dendam." Yasmin mengambil sebuah tabung kecil berwarna hitam dari saku dalam jasnya, memegangnya di depan wajah Ara.
"Bagaimana kalau aku mewujudkan kata-katamu itu? Di dalam tabung kecil ini, terdapat obat peluruh kandungan yang sangat efektif. Obat ini dibuat dengan teknologi terkini, sangat bagus hingga tidak akan meninggalkan jejak sama sekali di dalam tubuhmu. Bagaimana kalau kau mencobanya sedikit?" Tanya dokter Yasmin dengan senyumnya yang menyeringai.
"Tidak Dokter, tolong jangan lakukan itu!" Ara menangis semakin keras, tubuhnya menggeliat karena rasa sakit dan ketakutan yang tak tertahankan.
"Aku akui aku salah karena telah jatuh cinta pada suamimu. Aku tahu itu adalah hal yang sangat salah dan tidak bisa dimaafkan. Tapi kesalahanku tidak ada hubungannya dengan anak ini, dia tidak bersalah. Dia hanya sebuah mimpi yang ingin aku wujudkan. Tolong maafkan aku Dokter, tolong jangan menyakiti anakku." Mohon Ara, air matanya semakin tak terkendali, membuat lipstik yang baru saja ia oleskan luntur dan menyebar di sekitar bibirnya.
Yasmin terdiam sejenak, matanya menatap wajah Ara yang penuh dengan kesedihan dan ketakutan. Kemudian ia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara lagi.
"Minta maaf untuk kesalahanmu yang mana? Kesalahanmu terlalu banyak soalnya, Ara." Suara Dokter Yasmin terdengar pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya penuh dengan tekanan yang membuat Ara merasa semakin tertekan.
"Karena kau telah tidur dengan suamiku? Atau karena kau telah memfitnahku mendorongmu dari tangga?"
Ara menggeleng pelan, bibirnya yang gemetar tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Semua tuduhan yang keluar dari mulut Dokter Yasmin adalah kebenaran yang Ia coba sembunyikan selama ini. Ara tak sanggup menjawab pertanyaan dokter Yasmin hingga akhirnya kehilangan kesadarannya, tubuhnya terjengkang ke belakang dengan kepala yang menyentuh bantal.
"Payah! padahal aku belum melakukan apapun tapi dia sudah pingsan." Yasmin menjerit dengan suara penuh kemarahan, kemudian Ia melemparkan tabung obat ke atas meja dengan keras hingga terdengar bunyi dentuman yang keras.
Tubuh Yasmin sedikit gemetar, tapi bukan karena rasa takut, melainkan karena emosi yang terus meluap di dalam dirinya.
Bersambung...