Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Untukmu
#19
“Baiklah, kita akhiri pertemuan hari ini. Terima kasih semua yang sudah menyempatkan waktu untuk hadir.” Rayyan menutup pertemuan online tersebut dengan kalimat salam.
Malam mulai larut, jam dinding sudah menunjuk ke angka 11, Nanang sudah ketiduran di sebelahnya setelah menemaninya memimpin rapat. Rapat memang sengaja Rayyan lakukan di rumah Nanang, karena Rayyan belum bisa berterus terang pada Lilis tentang siapa dirinya.
Laptop serta peralatan kerjanya tetap ia titipkan di rumah Nanang, dan yang Rayyan bawa ke rumah Lilis hanya beberapa potong pakaian yang ia bawa dari Ibu Kota.
Zoom meeting baru saja berakhir, layar komputer masih menyala, laporan neraca keuangan pabrik terbentang di hadapannya, ada sedikit penurunan keuntungan. Namun, tidak signifikan. Dan kabar baiknya, masih banyak customer yang menantikan produk sambal basah yang di buat di pabrik milik Rayyan.
Begitulah gambaran singkat laporan dari anak buahnya yang masih bekerja keras di lapangan. Rayyan juga memeriksa CCTV pabrik, karena tadi ada laporan yang mengatakan bahwa Mitha mengamuk gara-gara dihalangi saat hendak masuk ke pabrik.
Hampir 3 minggu Rayyan menyepi di Desa Kembang Turi, tak pernah terlintas sedikitpun pikirannya pada Mitha, tidak pernah sekalipun. Baru hari ini ia ingat bahwa pernah ada wanita bernama Paramitha Amanda Sasmito di hidupnya. Wanita yang ia cintai, bahkan ia perjuangkan, namun, kenyataannya semua tak sesuai harapan.
Hatinya sakit ketika semua pengorbanannya di balas pengkhianatan, hingga tak sedikitpun tersisa rasa cinta tersebut untuk Mitha. Dan Rayyan tak berminat memohon, sekali bohong dan selingkuh, maka selamanya akan ia beri gelar orang tersebut dengan sebutan pengkhianat.
Memang siapa Mitha selain putri dari Tuan Sasmito? Dia hanya gadis yang kebetulan beruntung karena menjadi putri tunggal konglomerat di Ibu Kota. Sayangnya keluarga Mitha meremehkan Rayyan yang hanya pemilik pabrik skala kecil di tengah hiruk pikuk Ibu Kota
Karena itulah, dengan kejam Tuan Sasmito memberinya tantangan, agar Rayyan juga ikut mensupport finansial Mitha yang tinggal di luar negeri untuk melanjutkan kuliah. Demi sebuah pembuktian Rayyan pun setuju melakukannya, tapi sayang, pengorbanan Rayyan berujung sia-sia.
Rayyan menjatuhkan punggungnya ke karpet yang menjadi alas duduknya saat ini, kedua matanya terpejam, namun senyum di bibirnya mengembang karena wajah polos tanpa make up Lilis, kini nampak jelas di pelupuk matanya.
Lilis Nurina, wanita desa biasa berstatus janda, siapa sangka Rayyan si pemuda dari Ibu Kota yang akhirnya menikahinya. Kadang Rayyan sendiri bingung, perasaannya yang egois menolak kenyataan bahwa yang ia nikahi adalah seorang janda. Tapi kadang, Rayyan tak bisa mengelak bahwa hati kecilnya pun merasakan bahwa Lilis bukan wanita biasa.
Setelah dikhianati wanita dari kalangan atas, kini pokok utama dalam menentukan kriteria istri versi Rayyan pun ikut berubah. Yang jelas, cantik saja tak bisa lagi menjadi acuan, dia harus pekerja keras, taat beribadah, berakhlak mulia, santun, serta bisa menjaga martabat. Soal lain, bisa dipikirkan kemudian. Itu semua bisa Rayyan temukan dalam diri Lilis, si janda yang tersembunyi di sebuah desa.
•••
Pukul 05.00 pagi.
Setelah sholat subuh, Rayyan buru-buru pulang, karena semalam ia ketiduran di rumah Nanang.
“Assalamualaikum.”
Lilis buru-buru membuka pintu setelah mendengar ucapan salam dari suaminya. “Waalaikumsalam,” jawab wanita itu.
“Maaf, semalam aku ketiduran di rumah Nanang.”
Lilis tersenyum lega, kekhawatirannya hilang, setelah melihat suaminya kembali pulang. Semalam ia sempat berburuk sangka, karena hingga larut malam Rayyan belum juga pulang. Padahal dia yang ingin pernikahan mereka sebatas kontrak, tapi dia sendiri yang gelisah ketika Rayyan pamit pergi seperti kemarin pagi hingga siang berlalu.
Lilis pikir, kali ini pun Rayyan izin ke rumah Nanang hanya sekedar beralasan, tapi ternyata, Rayyan masih kembali pulang.
“Kok menatapku begitu?”
Namun, Lilis menggeleng, “Tidak apa-apa, Mas.” Lilis menutupi rasa bahagianya dengan membuka pintu lebar-lebar, agar udara pagi masuk ke dalam rumah.
“Apa kamu mengkhawatirkan aku?” tebak Rayyan. Dan anggukan Lilis membuat Rayyan tersenyum senang.
Lilis kembali melangkah ke dapur, ia hendak melanjutkan apa yang sudah dimulainya sejak pagi, yaitu menyiapkan sarapan. “Lis, mmm— mungkin beberapa hari kedepan, aku akan dikota untuk suatu urusan.”
“Urusan? Urusan apa, Mas?”
Rayyan garuk-garuk kepala, bingung menjelaskan. “Pak Bos butuh bantuan,” dustanya, mulai merancang cerita, semoga Lilis percaya.
“Oohh,” sahut Lilis dengan wajahnya yang muram. Kekhawatiran itu kembali datang.
“Tapi, ada tapinya.” Rayyan mendudukkan tubuh Lilis di kursi meja makan. “Dan nanti juga ada seseorang yang ingin tinggal di desa ini selama beberapa hari. Kalau kamu tak keberatan beliau akan menginap di rumah ini. Boleh, kan?”
“Siapa dia?”
“Istri dari pemilik tanah peternakan.”
“Oohh.” Wajah Lilis kembali sumringah. “Boleh, Mas. Silahkan saja.”
Belum sempat Rayyan tersenyum setelah mendengar jawaban Lilis, Bu Saidah tiba-tiba keluar dari kamarnya.
“Apa-apaan ini, silahkan apa? Apa kamu mau bawa pengungsi lain ke rumah ini?” celetuk Bu Saodah setelah sepintas mendengar obrolan Lilis dan Rayyan.
“Bukan pengungsi, Bu. Tapi istri dari bos pemilik peternakan.”
“Bos?! Paling hanya alasan, ujungnya juga cuma numpang makan,” ejek Bu Saodah.
Rayyan merasa kembali merasa disentil dengan ucapan Bu Saodah, maka pria itu pun mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu sengaja menghitungnya di depan Bu Saodah. “Ini uang untukmu, belilah bahan makanan selama istri Pak Bos menginap disini. Kalau bisa, jangan dulu buka warung, ya?”
"T-tapi, Mas—"
“Tidak ada tapi, karena ini larangan mutlak dari suamimu. Dan ingat, uang ini hanya untukmu, belanja lah sesuka hatimu, tapi jangan kau berikan pada siapapun tanpa izin dariku. Mengerti!” sindir Rayyan tajam, tanpa basa basi, tapi langsung nonjok hingga ke ulu hati.
lihat saja, apa setelah ini Bu Saodah akan tetap menganggap menantunya sebagai orang miskin?
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭