Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zahrin sakit
Semakin histeris saat ini Dini dan pak Gundono melihat darah pada nadi Nina. Keduanya membawa Nina ke rumah sakit dan Nina segera ditangani.
Sedangkan ibu Dini, menemui Akhyar dan menampar Akhyar di depan sekolah Arsyad dan Arsyla.
Zahrin, Arsyad dan Arsyla sangat terkejut, mengapa Akhyar tiba-tiba ditampar oleh seorang ibu-ibu yang baru saja datang.
"Ada apa ini, bu?" Tanya Akhyar yang masih menyentuh pipinya karena sakit seusai ditampar.
"Ada apa kamu bilang?!" Ibu Dini terlihat marah sekali. "Siapa lagi yang buat Nina sedih kalau bukan kamu?!" Tambahnya sembari menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya ke wajah Akhyar.
Akhyar terkejut. "Maksud ibu, apa? Akhyar lama sekali tidak komunikasi dengan Nina. Tadi bertemu di depan toko dan Nina terlihat sakit. Hanya itu." Akhyar berusaha memberi penjelasan kepada ibu Dini.
"Sudah kamu jangan banyak alasan, Akhyar! Sampai-sampai Nina bunuh diri dan sekarang dirawat di rumah sakit. Apa yang kamu lakukan?!" Teriak ibu Dini kepada Akhyar.
Akhyar tercengang mendengar Nina bunuh diri. Begitu pula Zahrin yang kemudian merapatkan tubuh anak-anaknya padanya, untuk tidak melihat pertengkaran orang dewasa.
"Sekali lagi saya minta maaf, bu. Saya memang membatalkan semuanya. Saya memang membatalkan melamar Nina, menikahi Nina. Tapi itu sudah lama, saya bicarakan dengan Nina dan Nina terima. Lalu apalagi masalahnya? Tadi pagi kami tidak sengaja bertemu dan hubungan kami baik-baik saja yang hanya sekedar bertanya kabar. Nina tidak ada masalah dengan saya, bu." Akhyar masih berusaha menjelaskan semuanya seolah baik-baik saja.
Namun sayangnya, ibu Dini sudah terlanjur emosi lalu pergi naik taxi. Meninggalkan Akhyar begitu saja tanpa permisi.
Sedangkan Zahrin, Arsyad dan Arsyla cukup terkejut ternyata Akhyar memiliki niatan melamar Nina dan hampir menikahinya.
Akhyar masih memandangi ibu Dini yang pergi menaiki mobil nya. Masih pula memegangi pipi kirinya yang terasa kebas habis ditampar oleh ibu Nina.
Arsyad dan Arsyla berpindah memeluk papa A. Setelah ketiga nya saling bertukar tatap tanpa ada kata-kata. "Arsyla ambilkan kotak obat, ya." Arsyla yang berlari ke mobil mommy nya dan mengambil kotak obat.
"Nggak apa-apa, sayang. Nggak usah!" Akhyar berusaha mencegah Arsyla, namun Arsyla tetap mengambil kotak obat dan menarik tangan Akhyar untuk duduk di bawah pohon asam Jawa.
Arsyla juga sibuk membeli tumbukan es kristal di abang-abang sekolahan supaya bisa mengobati pipi Akhyar yang lebam. "Awh." Akhyar meringis kesakitan dan ngilu karena es nya dingin sekali ternyata.
"Harus ditahan, nanti akan cepat sembuh." Arsyla yang menempelkan tumbukan es kristal itu dekat bibir Akhyar yang sedikit berdarah.
Zahrin tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat Arsyla yang lebih heboh mengobati luka Akhyar.
"Pinter sekali begini cara obatin orang, tahu dari mana, sih?" Ledek Akhyar sambil tersenyum karena Arsyla begitu berlebihan mengkhawatirkan nya.
"Aku lihat mommy kalau obatin Daddy." Arsyla yang juga sambil tertawa kecil. Menahan apa yang ingin dia sampaikan kepada Akhyar terkait pertanyaan nya tentang tante Nina.
Zahrin juga cukup terusik dengan kata-kata mama Nina. Ternyata Akhyar punya rencana menikahi Nina, namun dibatalkan nya. Ingin bertanya pada Akhyar, alasan nya mengapa? namun Zahrin tak memiliki keberanian untuk menelisik percintaan Akhyar dan Nina sejauh mana. "Kita pulang duluan ya, mas." Zahrin yang mengajak anak-anak nya pulang terlebih dahulu, setelah Arsyla mengobati lebam-lebam dipipi Akhyar.
Akhyar mengangguk.
Namun sepertinya Zahrin ada ganjalan di hatinya. Tapi tetap saja dia melangkah menuju mobil nya dengan Arsyad dan Arsyla yang berjalan pula di samping kanan dan kiri nya. Arsyla yang membawa kotak obat di tangan nya, kemudian berlari kembali dan duduk di sebelah Akhyar karena ingin bicara.
"Tadi Arsyla dengar, papa A mau menikahi Tante Nina?" Wajah Arsyla yang terlihat sekali tidak rela. "Papa A kesepian sendirian di rumah?" Air mata Arsyla yang tertahan. "Aku akan bujuk mommy untuk menikah dengan papa A, tapi papa A janji sama Arsyla jangan menikah dengan tante Nina." Arsyla mulai terdengar isak tangisnya. Akhyar yang tidak tega, menarik pelan anak itu dari hadapan nya lalu memeluknya. "Arsyla, maunya papa A menikah sama mommy." Tangisnya bertambah dalam dekapan Akhyar yang membuat Akhyar ikut merasakan kesedihan Arsyla siang itu. Benar hati kecilnya bicara. Ikatan cinta nya kepada Arsyad dan Arsyla tak semudah itu dilepas begitu saja.
"Sudah ya, menangisnya." Akhyar mengusap-usap jejak basah air mata Arsyla dengan ibu jari kanannya.
"Kata papa A, Arsyla disuruh bersabar. Dan papa A yakin, kalau mommy akan kembali menikah dengan papa A. Terus kenapa papa A mau menikahi tante Nina?" Lanjut dengan pertanyaan Arsyla.
"Itu dulu, sayang. Sebelum Daddy Regi pergi meninggalkan kita semua." Jawab Akhyar.
Arsyla manggut-manggut mengerti. "Tapi kalau sekarang, apa papa A mau berjanji untuk setia menunggu mommy Zahrin?" Arsyla yang memberikan kelingkingnya untuk Akhyar tautkan dengan kelingkingnya.
"Oh, tentu. Kan kemarin papa A sudah katakan. Ya, mommy kamu yang susah sekali dibujuk nya." Janji antar keduanya pun ditangguhkan. Kelingking Akhyar tautkan dengan kelingking Arsyla.
"Mulai sekarang, Arsyla janji akan lebih sering merayu mommy buat menikah dengan papa A." Arsyla kembali ceria wajahnya.
Sementara Akhyar dengan acungan dua jempol nya di depan Arsyla.
Karena cukup lama Arsyla berbincang dengan Akhyar, sampai-sampai Zahrin menghampirinya kembali. "Belum selesai bicaranya?" Tanya Zahrin mengarah ke Akhyar dan Arsyla.
Arsyla yang da-da da-da ke Akhyar menuju mobil. Zahrin masih dengan pertanyaan keduanya. "Kamu mau menjenguk Nina, mas?" Tanya Zahrin karena sejak tadi jujur nama Nina agaknya mengusik kepala Zahrin.
"Masih belum tahu, Rin. Sepertinya iya untuk meluruskan kesalahpahaman." Jawab Akhyar.
"Oh, ya udah." Zahrin yang pamit duluan biarpun hatinya berkecamuk tak tenang setelah mendengar rencana Akhyar yang ingin menikahi Nina. Entah bagaimana dengan perasaan nya saat ini? Kembali ke Akhyar dan melupakan segala luka-lukanya, susah sekali. Namun mendengar rencana Akhyar dan Nina, mengapa guratan tidak rela mulai hadir di hati Zahrin? Apa yang sebenarnya terjadi? Harusnya Zahrin senang, Akhyar tidak mengusik hari-harinya lagi. Menjauh dari hidup Arsyad dan Arsyla yang dulu-dulu dia upayakan. Entah mengapa dada Zahrin tiba-tiba nyeri. Keringat dingin dan tidak lama tubuhnya ambruk jatuh di atas trotoar.
"Zahrin." Panggil Akhyar yang kemudian berlari mendekat. Mengguncang-guncang tubuh Zahrin namun Zahrin sepertinya pingsan.
"Mommy..." Panggil Arsyad dan Arsyla bercampur panik dan tangisnya karena takut mommy nya kenapa-napa.
Akhyar segera membawa ke rumah sakit. Zahrin masuk ruang Unit Gawat Darurat dan dokter segera memeriksa Zahrin.
Tidak berselang lama dokter keluar, meminta perawat memindahkan pasien ke ruang perawatan supaya ada pemeriksaan lanjutan. Karena sepertinya serius, Akhyar mencoba menghubungi ibu Olivia untuk datang ke rumah sakit.
"Apa anda suaminya?" Tanya dokter kepada Akhyar.
Bersambung